Thursday, October 30, 2014

Menara Suar Sembilangan, Gagah Berdiri dalam Pengabaian

Perjalanan ke Madura saya dua minggu yang lalu membawa saya ke Menara Suar Sembilangan. Letaknya di  Desa Sembilangan, bangkalan Madura. Dari arah kota Bangkalan kami menuju arah Socah, melewati Makam Kyai terkemuka Syaichonah Cholil. Lurus terus sampai akhirnya terlihat menara mercu suar yang menjulang tinggi.

Menara ini didirikan oleh Pemerintah Belanda di tahun 1879. Sekarang dikelola oleh Badan Navigasi Dirjen Perhubungan. Seperti umumnya tempat-tempat bersejarah lainnya di tanah air tercinta, tempat ini tidak terurus dengan baik. Di musim kemarau air laut surut dan hawa panas langsung menyambut saya dan teman-teman. DI depan menara da tembok nama. Masuk ke halaman menara suar ada satu pohon besar dan di kiri dan kanan ada bangunan nampak seperti rumah dinas. Mungkin milik Departemen Perhubungan.

Saya kurang tahu apakah sampai sekarang menara masih difungsikan atau tidak. Tidak ada keterangan dan juga loket karcis. Tapi ketika Anda ingin naik ke puncak menara maka ada penduduk, usia sekitar 27 tahuna yang akan memungut biaya sebesar Rp. 4000 tanpa karcis. Jika hanya ingin masuk ke dalam dan mendingak ke atas Anda tidak perlu bayar. Tapi tentunya penasaran ya?



Bau pesing khas mamalia kaki dua akan menyambut Anda di pintu masuk. Sampai lantai 2 seingat saya bau-bauan aneh ini masih ada. Menara suar berlantai 16 ini masing-masing beranak tangga 15. Jadi..ya ada sekitar 240 anak tangga yang harus didaki sampai ke puncak menara. Tangganya kuat dan kokoh kecuali di lantai pertama dan lantai 13 seingat saya. Tangganya ringkih dan kecil di lantai 13 ini. Semua bangunan terbuat dari baja tebal bercat putih yang bagian dalamnya ternoda oleh coretan para vandalist. Jendela besar terbuka lebar membawa masuk angin kencang dari laut di setiap lantainya.

Alsi vandalisme para vandalist. Semoga yang bersangkutan
mendapat balasan dari Tuhan YME atas perilakunya yang tidak
bertanggung jawab


Jendela besar di tiap lantai menara. Sekelilingnya adalah
hamparan daratan kering karena laut surut


Tentunya luas lantai akan mengecil semakin ke puncak. Sampai di puncak Anda bisa menyaksikan lautan terhampar di depan. Ada panel surya di atas dan bagian pilarnya antik dan cantik, tapi sekelilingnya banyak coretan.

Dua teman saya berfoto di puncak menara


Bagi saya menara suar ini indah dan kokoh, tapi bagian dalamnya kotor tak terawat. Buat pecinta sejarah tentunya kunjungan ke menara ini cukup menarik. tetapi untuk Anda yang merindukan keindahan sebuah onjek wisata, saya tidak menyarankan tempat ini. Mungkin dengan perhatian yang lebih dari pihak berwenang, menara ini bisa diperbaiki lebih cantik, tamannya tidak dibiarkan gersang, dan tersedia brosur informasi tentang sejarah menara. Selamat berkunjung ke Madura!

Soto Mata, Nikmat Tak Terkira

Nama makanan yang akan saya ceritakan ini memang unik, Soto Mata alias Somat. Lumayan seram ya namanya, mata! Ya yang dipakai memang mata sapi dan saya termasuk yang kurang bernyali untuk mencicipi kuah soto dengan mata sapi mengapung di atasnya. Saya memilih makan soto mata tanpa mata :)

Warung soto mata ini adalah salah satu yang ppopuler di kota Bangkalan, Madura. Jika Anda ingin melihat indahnya Jembatan Suramadu sudilah kiranya melaju terus ke arah barat memasuki kota Bangkalan. Setelah menemui minimarket Indomaret di kiri jalan Anda perlu melaju lurus lagi dan tidak jauh akan ditemui Depot Anda. Tepat di seberangnya ada jalan kecil (gang) dan Anda tinggal masuk saja mengikuti jalan kampung dan di tengah-tengah rumah penduduk akan Anda temui rumah sederhana seorang warga dengan tiga kursi anyaman bambu lebar tanpa meja. Inilah warung Somat.

Warung Somat
Jika Anda bingung dengan arahan saya maka tinggal tanyakan pada warga sekitar lokasi Somat di kampung Burneh ini. Tidak ada penanda di pinggir jalan dan saya pun terkejut karena bayangan saya tentang warung soto dengan bangunan warung permanen yang dikunjungi puluhan pengunjung ternyata salah besar. Warungnya bersahaja, tidak kelihatan "serius" seperti warung makan lainnya, bahkan tidak ada papan nama warung. Saya seperti berkunjung ke rumah tetangga dan ikut makan di sana. Selain itu, tidak ada kursi dan meja layaknya warung makan pada umumnya. Yang ada meja penjual dan kursi lebar anyaman bambu tempat pengunjung duduk bersila sambil makan. Justru inilah menurut saya kesan menarik yang saya dapatkan. Saya merasa nyaman dan makan lebih santai. Serasa makan di depan rumah tetangga dihembus sepoi angin pagi diiringi celotehan suara itik dan entog yang hilir mudik.

Penjual akan mengajukan pertanyaan dasar bagi Anda,"Matanya utuh atau diiris?" Kontan saya dan teman-teman yang baru pertama datang berseru histeris sambil tertawa. Wah...wah...seram nian ha ha. Jika Anda merasa mata sapi dalam kuah sotyo terlalu ekstrim, maka Anda bisa memilih level di bawahnya yaitu soto dengan usus sapi, jika itupun masih ekstrim bisa memilih soto daging biasa. Soto ini disajikan dengan topak. Topak seperti lontong tapi tidak dibungkus dengan daun pisang melainkan daun kelapa. Ya, topak adalah ketupat dalam Bahasa Madura. Setelah topak disajikan maka giliran soto datang.

Topak
Soto ini berbeda dengan soto di Jawa timur pada umumnya. Kuah soto coklat kemerahan tapi encer, potongan daging besar ditambah kecambah rebus di dalamnya. Ada juga taburan jagung goreng (marning), kacang goreng, dan daun bawang. Rasanya? Nikmat dan segar. Saya teringat Sup Konro, mirip-mirip tapi Sup Konro lebih berempah. Hal lain yang unik adalah sambal pelengkap bukanlah sambal uleg cabai melainkan sambal kacang yang warnanya kecoklatan seperti ditambah petis. Hebatnya rasanya masuk merasuk klop dengan kuah soto.

Somat dan Topak


Makan bersama, si kecil yang lebih "bernyali"
 makan mata sapi dariapda saya he he
Walaupun saat saya berkunjung sekitar pukul 9 pagi rombongan saya adalah satu-satunya yang makan tapi jangan salah, seringkali sebelum pukul 12 siang soto sudah ludes terjual. Semakin pagi semakin baik apalagi jika Anda berkenan membantu penjual menata dagangan mungkin ada ekstra semangkuk somat untuk Anda ha ha. Saya sangat merekomendasikan Somat ini yang mungkin belum banyak dikenal dibanding Bebek Sinjay yang antriannya luar biasa gila! Selamat berwisata kuliner.

Wednesday, October 29, 2014

Nonton Bola di Stadion Gelora Bung Karno

Posting ini telat sekali baru saya tulis. Kejadiannya sudah sejak 2 Juni yang lalu, ah tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Bagi saya ini pengalaman menarik karena tidak pernah terpikir jika saya bisa nonton pertandingan bola di Stadion GBK. Jika melihat berbagai pertandingan besar dan kehebohan suporter di stadion ini maka cukuplah untuk menciutkan nyali saya nonton bola secara langsung. Ah tapi saya kan bukan lagi penggemar sepak bola. Lantas mengapa saya tetap nekad nonton bola di sana?

Jadi ceritanya saya adalah penggemar variety show Korea bernama Running Man. Acaranya seru karena berisi aneka games lucu dan menarik. Para pemain variety show ini diundang oleh pemain bola legendaris Korea, Park Ji Sung untuk bermain bersama pemain-pemain bintang dunia lainnya termasuk Zambrotta melawan tim all stars Indonesia. Laga amal yang keuntungannya akan disumbangkan bagi pendidikan sepak bola anak-anak di tanah air ini sebenarnya juga disiarkan oleh salah satu stasiun TV nasional, tetapi karena saya adalah penggemar variety show ini maka wajib bagi saya untuk nonton. Hitung-hitung ini bisa jadi pengalaman sekali seumur hidup.

Saya merencanakan rencana kepergian bersama salah satu siswa perempuan di tempat saya bekerja. Shinta namanya. Dia juga yang terkena virus Running Man. Saya melontarkan ide untuk nonton, walaupun duit cekak karena waktu itu saya berencana berlebaran ke rumah bibi saya di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. "Untungnya" rencana gagal sehingga dari yang awalnya nonton di tribun saya rubah menjadi nonton di kelas VIP tribun barat. Tiket ini saya beli online setelah hampir 2 bulan menunggu tiket dijual secara resmi oleh penyelenggara acara. Tiketnya Rp. 750.000 belum termasuk pajak, biaya administrasi, dan biaya transfer. E-tiket yang saya dapat segera saya print dan saya simpan rapi di laci.

Sebelum hari pertandingan saya sempat berjalan-jalan dengan teman baik saya yang tinggal di seberang kampus Binus. Dari perjalanan itu paling tidak saya siudah mendapat gambaran tentang bentuk stadion Senayan. Saya salah besar ha ha. Stadionnya jauh masuk ke dalam dari jalan raya. Tapi paling tidak rasa penasaran sedikit terjawab. Acara dijadwalkan dimulai pukul 17:00 dan saya sudah menduga pasti baru disiarkan di TV sekitar pukul 18:30 layaknya pertandingan bola pada umumnya. Tapi karena tiket saya tidak bernomor alias penonton harus berebut mencari kursi yang paling strategis maka saya berencana datang pagi-pagi toh diinfokan di Twitter bahwa gerbang dalam akan dibuka pukul 14:00.

Dengan semangat saya bangun pagi, sarapan, dan langsung naik ojek dari komplek perumahan untuk menumpang bus AC Bianglala jurusan Ciledug - Pasar Senen. Dengan modal kenekatan dan sedikit kebodohan saya naik tanpa tahu jelas seberapa lama dan seberapa jauh perjalanan untuk mencapai stadion. Saya berangkat kira-kira pukul 9 pagi. Seperti biasa lalu lintas macet. Bus penuh sesak sehingga saya tidak bisa melihat ke luar, jendela pun dicat dengan warna body luar bus. Akhirnya saya memakai GPS yang sinyalnya ternyata kembang-kempis. Saya kurang ingat seberapa lama persisnya sampai ibu di sebelah saya mengingatkan bahwa Senayan sudah dekat. Terima kasih Ibu!! Saya turun menyeruak penuh sesaknya penumpang Senin pagi itu.

Para penonton yang berajalan di depan
saya menuju stadion yang sudah nampak
dari kejauhan
Setelah turun saya dan Shinta menepi dan berjalan ke arah halte bus untuk duduk dan mengamati keadaan. Saya tidak tahu kami turun di sisi mana stadion dan saya juga tidak tahu di mana pintu stadion. Ynag saya lihat cuma lapangan softball di kanan saya. Saya jalan saja lurus mengikuti naluri sampai kemudian berbelok dan kemudian melihat Hotel Atlet Century. Ah paling tidak sudah benar saya masuk wilayah Senayan itu pkir saya. Ada beberapa orang yang lalu lalalng tapi tidak nampak mereka akan nonton bola. Ada juga tukang ojek tapi saya pikir kami masih punya waktu dan saya benar-benar tidak ingin bertanya karena ingin "bertualang". Dari depan hotel saya berbelok kanan dan berjalan lurus sampai kemudian saya melihat ada gerbang pintu masuk dan kemudian ada lebih banyak orang berjalan dengan arah yang sama. Saya pikir pasti mereka akan menuju stadion. Dugaan saya tepat. Saya ternyata tidak masuk dari gerbang depan tapi toh sama saja saya melihat gagahnya stadion dari kejauhan. Yes...sudah tepat!
Belum banyak orang yang datang di luar dugaan saya. Kemungkinan masih banyak yang sekolah atau kuliah mengingat saat itu Senin pagi. Tenda-tenda promosi dari pihak sponsor juga masih baru dipasang. Saya sudah mencari gerbang masuk saya sesuai dengan kelas tiket yang saya pegang. Setelah puas mengamati satu sisi stadion saja saya melihat sekitar 4 orang duduk di ja;an di depan gerbang dalam. Mereka menunggu dari arah luar stadion. Setelah mendengar cerita ternyata mereka adalah yang berpengalaman nonton konser K-Pop Korea dan berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya penonton yang berada di dalam halaman di dalam gerbang dalam stadion akan diusir keluar. Mereka diminta mengantri lagi sebelum masuk rapi satu-satu ke dalam pintu stadion. Saya ikut saja mengantri. Semakin siang semakin banyak penonton datang. Mereka berseliweran di halaman dalam stadion sementara saya duduk bersila di tanah. Saya sudah mencium gelagat aneh, ah harusnya saya percaya insting saya. Area halaman penuh dan tidak ada petugas keamanan yang mengusir mereka keluar untuk mengantri.

Saya berpose di depan gerbang tempat saya harus masuk nantinya



Stadion yang masih sepi dan tenda sponsor yang baru dipasang.
Ini yang saya sebut halaman sisi dalam

Duduk mengantri untuk masuk ke sisi dalam stadion setelah sebelumnya
saya sudah dari sana. Laki-laki berpakaian hitam adalah
panitia acara
Waktu berjalan cukup lambat. Menunggu memang "menyakitkan". Para calon penonton ulai berteriak heboh ingin masuk ke halaman stadion sementara yang didalam diteriaki diminta untuk keluar dan mengantri. Hampir pukul 3 gerbang pagar dengan hanya 2 orang penjaga berbaju hitam membuka pintu dan mulailah antrian diserobot kiri kanan dan berebut lari masuk. Wuiiih..ributnya...untung cuma satu pintu. Saya antri lagi di pintu masuk stadion sesuai kelas saya, VIP Barat. Dan...saya di antrian tengah. Saya emngantri lagi berdiri dan duduk hampir 2 jam. Bedanya di antrian ini tidak ada yang berteriak-teriak heboh minta masuk. Tiket-tiket mulai disiapkan dan bahkan ada yang menyimpannya dalam map (e-tiket) karena dari infor pihak penyelenggara tiket tidak boleh sobek dan harus terbaca dengan jelas.  Tiketnya ber-barcode. Tetapi apa yang terjadi? Saya pikir tiket bakal discan satu-satu ternyata cuma disobek ujungnya saja. Infonya tidak boleh bawa makan dan minum di dalam stadion dan tas akan diperiksa tapi nyatanya tas plastik berisi makanan ringan milik Shinta saya juga tidak diperiksa. Tapi karena isinya tinggal 1 kue maka ditinggal. Penonton masuk bergerombol, bukan satu-satu.

Masuk ke dalam stadion tampak bangunan yang kurang terawat. Saya menaiki beberapa tangga dan dari awal sudah berikrar untuk tidak akan ke kamar kecil. Saya tidak tega melihat penampakannya walaupun ini asumsi saja setelah membaca beberapa cerita teman-teman yang menulis di blog. Setelah itu saya sampai di tempat duduk saya dan berusaha mencari yang pas. Tidak bisa mendapat barisan depan tapi buat saya cukuplah di barisan tempat saya duduk itu. Kursi stadion hanya papan kayu bercat yang diberi sekat kecil untuk memastikan pantat kita menempati bagiannya ha ha. Saya pikir untuk yang VIP paling tidak berkursi dengan sandaran ha ha...mimpi!!!

Ini adalah penanda yang ada di sekitar stadion. Rupanya satu sektor di
VIP Timur khusus untuk siswa dan staf sekolah Jakarta International Korea School


Saya dengan balon tepuk gratis yang disediakan oleh panitia.
Saya datang lumayan awal di dalam stadion karena sisi lain stadion masih sepi.
Bahkan beberapa deret kursi di belakang saya masih sepi  

Senangnya sih lapangan terlihat seperti permadani hijau dan terlihat kecil. Tidak seluas seperti jika nonton di TV. Sambil menunggu acara berlangsung diputar lagu-lagu Korea yang hebatnya bisa dinyanyikan oleh semua penonton yang mayoritas perempuan. Saya menunggu sembari berpeluh hebat karena tepat saya menghadap ke barat di mana matahari terik sedang mulai tenggelam. Penjual minuman datang menjajakan dagangan yang langsung diserbu. Sebotol iar mineral yang biasanya Rp.3000 dijual Rp.10,000. Dan hari itu saya menghabiskan Rp. 40,000 hanya untuk minuman!

Stadion tidak terisi penuh  terutama di bagian tribun. Tetapi di kelas VVIP, VIP, Kelas I dan II tampak penuh. Saya bersama ribuan penonton lainnya bersorak sorai dan menyemangati tim Park Ji Sung cs dan tim Indonesia. Dari tim Indonesia tidak banyak pemain yang saya tahu. Layar besar stadion tidak menayangkan secara real time jadi saya membelalakkan mata ikut bersorak sorai. Mungkin karena bukan penonton bola profesional yang bisa menyanyikan mars klub jadi gemuruh suara pendukung tidak seheboh yang saya bayangkan. Menurut beberapa artikel yang saya baca nonton langsung bisa bikin merinding karena suara pendukung dan sorakan ketika gol dibuat benar-benar tiada bandingan. Sekali lagi saya salah. Karena ketika sampai di rumah saya langsung cek di YouTube dan pertandingan yang disiarkan di TV ini diupload. Ternyata stadion riuh ramai oleh teriakan, sorakan, dukungan, dan histeria penonton yang umumnya wanita ini. Saya baru sadar ternyata salah satu penyumbang kehebohan itu suara saya ha ha.










Saya berteriak-teriak puas selama pertandingan. Bahkan menyanyi bersama saat istirahat turun minum dan saat pertandingan berakhir. Setelah pertandingan berakhir ada hiburan 2 lagu dari band perempuan Korea - Crayon Pop sebagai bintang tamu. Saya ikut menyanyi dan berjoget bersama. Senang sekali karena satu stadion isinya penggemar K-pop ha ha. Tidak ada yang pro satu tim. Semua mendukung kedua tim. Apapun hasilnya semua puas karena ini pertandingan persahabatan, pertandingan hip hip hura. Andai saja pertandingan sepak bola yang sebenarnya juga se-bersahabat seperti yang satu ini mungkin saya akan dengan senang hati nonton secara langsung di stadion walaupun saya bukan penggemar berat sepak bola. Di tempat saya tinggal di Surabaya stadion Bung Tomo letaknya tidak terlalu jauh. Dan saat Park Ji Sung melakukan laga persahabatan bersama timnya Queen Park Rangers melawan Persebaya di tahun 2012 tidak ada keinginan saya untuk nonton karena takut dengan "gilang" bonek dan suporter lainnya. Padahal itu juga laga persahabatan dan saya yakin harganya lebih bersahabat di kantong.

Lampu stadion yang mulai nyala tanda malam menyapa.


Hiburan penuup grup Crayon Pop yang kecil terlihat di tengah lapangan
dan memunggungi sektor tempat saya duduk


Semoga menonton sepak bola tim-tim Indonesia bisa senyaman nonton Running Man Members versus Tim Indonesia :)

Tuesday, October 7, 2014

It's Okay That's Love, A Reflection

Satu lagi drama Korea berhasil saya tonton sampai selesai. Judulnmya It’s Okay That’s Love. Pemeran utama prianya Jo In Sung, sangat amat menempel di ingatan saya. Teringat karena apanya ya? Karena acting dan filmnya yang menghebohkan macam Frozen Flower. Yang saya tahu Jo In Sung adalah actor handal. Banyak pujian karena aktingnya walaupun di drama romantisnya yang berjudul The Winter that Wind Blows gagal membuat saya tersentuh.

Drama seri It’s Okay That’s Love menceritakan tentang kisah cinta psikiater wanita dengan seorang penulis terkenal (diperankan Jo In Sung) yang ternyata seorang psizofrenia tanpa disadarinya. Saya sangat menyukai film ini. Tidak cheesy seperti drama percintaan lain dan memberikan pelajaran bagi penonton awam seperti saya tentang penyakit jiwa / gangguan mental.

Diceritakan dalam drama ini beberapa kasus gangguan jiwa. Walaupun sifatnya didramatisir untuk membumbui drama tetapi kasus-kasus seperti itu saya percaya ada. Setelah nonton beberapa episode dari drama ini bahkan saya berpikir bahwa saya mungkin juga mengalami gangguan kejiwaan. Saya rasa sih belum sampai taraf berbahaya tapi saya merasa bahwa jiwa saya terganggu. Kecanduan berinternet ria sebelum tidur dan efeknya susah tidur karena pikiran tidak tenang. Bahkan berusaha untuk tidur saja saya malas melakukannya. Wah wah…

Jika di dalam drama ini digambarkan otak manusia seperti puzzle yang tersusun dengan baik dan ketika satu kepingnya saja hilang bisa menyebabkan gangguan baik yang ringan sampai yang berat. Gangguan jiwa sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah lainnya. Hanya saja gangguan  jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa cemas, takut hingga yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau kita kenal sebagai gila.

Melalui drama ini saya belajar banyak. Pertama, belajar untuk paham bahwa penyakit kejiwaan sama dengan penyakit fisik lainnya. Orang yang sakit jiwa adalah pasien yang statusnya sama dengan pasien penyakit lain. Mereka bisa disembuhkan dan berhak diperlakukan sama dengan pasien penyakit lain apapun penyakitnya. Semua orang bisa terkena gangguan jiwa sampai sakit jiwa. Semua orang juga bisa terkena stroke dan penyakit jantung juga kan?

Yang kedua, orang gila di jalanan yang ngomong sendiri itu sepertinya penderita skizofrenia. Dugaan saya begitu. Dulu saya tidak tahu mengapa mereka bicara sendiri, tapi setelah nonton drama ini saya tahu bahwa mereka sebenarnya berhalusinasi. Tampaknya benar-benar ada seseorang yang berbicara dengan mereka padahal sebenarnya tidak. Perbedaan antara yang nyata dan tidak sangat absurd bagi mereka. Ah…sekarang saya tahu.

Pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya kemudian adalah, bisakah saya menerima seseorang dengan gangguan jiwa dalam hidup saya? Jika pacar berpenyakit jantung apakah kemudian saya jauhi? Jika tidak maka jika pacar punya gangguan jiwa apakah kemudian saya jauhi? Jika iya maka saya termasuk orang yang diskriminatif. Oh…saya tidak suka itu. Di drama ini si psikiater akhirnya menikah dengan penulis yang akhirnya sembuh dari skizofrenia. Pengobatan dan terapi rutin serta dukungan sekitar membuat penuli s sembuh dan tetap berkarya walau pernah berskizofrenia. Jadi harusnya saya dan Anda juga yakin bahwa penyakit jiwa juga bisa disembuhkan dan orang dengan penyakit jiwa juga berhak disayangi kan?

Stigma pada dengan penyakit kejiwaan mungkin lebih parah daripada orang dengan penyakit berbahaya lainnya. Penderita penyakit ini bisa hidup normal dan beraktivitas seperti biasa. Kadang bisa juga kumat, sama seperti penyakit lainnya. Berulang kali saya mengajarkan pada diri saya sendiri bahwa penyakit itu sama saja. Mau di badan mau di jiwa semuanya sama. Bisa diobati, bisa sembuh, bisa tidak. Asal diobati pasti tidak akan semakin parah. Asal dibantu maka penderita pasti akan merasa lebih baik.

Dulu saya pernah dekat dengan seseorang yang sebenarnya juga harus mendapat perawatan khusus dari psikiater dan secara rutin ia mengikuti diskusi dengan support groupnya. Ibunya penderita bipolar. Saat itu saya berpikir bahwa sakit yang dideritanya adalah penyakit turunan, dan saya sempat cemas dengan "masa depan" kami. Tapi sekarang saya paham lebih dari sekedar masalah genetik gangguan jiwa dan penyakit jiwa bisa menyerang semua orang.


Walaupun cerita dalam drama sedikit banyak dibuat mengharu biru, tetapi saya belajar bahwa cinta kasih dan dukungan sangat diperlukan untuk membuat orang dengan penyakit jiwa bisa hidup bahagia seperti orang lain. Toh life's a drama kan? Mari belajar dari drama ini untuk lebih menghargai, menyayangi, dan memberikan dukungan bagi teman-teman dengan gangguan dan penyakit kejiwaan di luar sana. Semoga Tuhan selalu merahmati dan melindungi kita semua...amin.

Friday, August 1, 2014

Jakarta

Seringkali ketika akan membuat posting baru saya bingung harus diberi judul apa tulisan saya. Saya ingin bercerita tentang Jakarta, tentang apanya? Ehm...apa ya? Ini tentang perjalanan awal bulan Juni saya di Jakarta. Bagi yang sudah mengenal baik kota ini bisa jadi postingan saya hambar rasanya. Bagi yang belum, ya lumayanlah, semoga bisa jadi referensi.

Saya tiba di Jakarta tgl 1 Juni dan tinggal 2 malam di rumah Pakdhe di Ciledug. Tiba di Stasiun Jakarta Kota pagi dini hari dengan beberapa rencana yang pupus sirna. Saya berencana menunggu matahari muncul di seputaran kota tua yang hanya selemparan batu dari Stasiun Jakarta Kota. Di kawasan ini ada Taman Fatahillah yang dikelilingi beberapa museum dan gedung bersejarah. Di pagi hari ada persewaan sepeda kuno dan saya amat sangat ingin menimati Jakarta tempo dulu di kawasan ini. Sayang seribu sayang, saya datang di pagi buta sekitar jam 2.30 pagi dan dijemput sepupu saya yang sayangnya kebetulan sedang tidak ada mobil jadi saya yang masih kagok Jakarta memanggul tas ransel dan menjinjing oleh-oleh nongkrong di Taman Fatahillah.

Shock mendapati tamannya yang luas penuh dengan muda-mudi berbagai perangai dan gaya. Seperti Taman Bungkul versi seenak gue. Tamannya kotor dan bau pesing menyeruak. Tidak ada petugas taman dan polisi yang saya lihat. Beda dengan di Taman Bungkul yang aman dan nyaman. Eh, tetapi anehnya jam 02.30 pagi orang masih ratusan berkumpul. Saya belum pernah coba duduk-duduk di Taman Bungkul tapi sepertinya kok ya sudah diusir petugas jika lewat tengah malam di Taman Bungkul. Sepupu saya yang hilir mudik Tangerang - Jakarta dan kota-kota lain rupanya juga baru pertama kali ke Taman Fatahillah. Ha ha...kami seperti 3 anak ayam kehilangan induk. Saya makan dan ngobrol cukup lama di salah satu warung yang buka 24 jam di sekitaran Taman Fatahillah. Wanita muda berpakaian super seksi bersliweran. Ah...inilah ibu kota di malam hari.


BUSWAY Pertama

Rupanya saya sedikit lebih "Jakarta" dibanding sepupu saya. Saya sebenarnya tahu ada busway yang menghubungkan langsung stasiun dengan beberapa tempat di Jakarta, hanya saya tidak tahu mana jalur yang diambil untuk ke Ciledug he he.  Sepupu menelepon Pakdhe menanyakan cara menuju Ciledug dari Stasiun Jakarta Kota. Caranya, naik busway turun ke Blok M. Dari Blok M naik metromini jurusan Ciledug. Bagi Anda yang belum pernah ke Jakarta atau pernah tapi ke mana-mana diantar saudara pastinya bingung juga kan? Apalagi suasana sepi gelap gulita. Buta arah rasanya. Terakhir saya naik kendaraan umum di Jakarta, naik Kopaja dengan ayah saya sekitar tahun 2009. 2 Tahun sebelumnya saya ke Jakarta dari bandara menuju stasiun Gambir sewa mobil. Dan saya tidak pernah singgah lama di Jakarta, hanya transit saja. Jadi pengalaman 3 malam 2 hari naik kendaraan umum di Jakarta benar-benar berharga buat saya.

Sepupu saya tidak pernah naik busway dan tidak tahu sama sekali bagaimana, berapa, dan menuju ke mana Bu Trans Jakarta itu melaju. Kami menuju halte busway yang sepi dan tidak mendapat penjelasan dari petugasnya ketika kami bertanya bagaimana caranya mencapai ke halte busway yang tingginya hampir sedada orang dewasa dari pinggir jalan raya. Tragis! Petugasnya saja enggan membantu. Untung masih ada orang baik, seorang bapak yang berdiri dekat halte bus. Padahal pelajaran pertama yang ditanamkan oleh kakak dan orang tua saya ketika ke Jakarta selalu,"Bertanyalah pada petugas, jangan asal bertanya pada sembarang orang." Dari penjelasan si Bapak kami harus menyeberang jalan, turun ke bawah jalan raya, dan menemui pintu masuk menuju halte busway yang bercabang dengan jalan menuju Stasiun Jakarta Kota. Loket baru dibuka jam 5 pagi dan saat itu masih sekitar pukul 4.30 pagi. Saya mengobrol sambil memperhatikan muda-mudi yang juga mengantri naik busway. Mukanya segar bugar tidak ada yang mengantuk padahal saya yakin mereka begadang bermalam-minggu.

Ketika pintu mulai dibuka, kebingungan kedua adalah bagaimana caranya naik TJ ini. Saya mengantri di loket untuk membeli tiket. Rupanya ada penumpang lain yang juga belum tahu caranya. Caranya kita melakukan pembelian pra-bayar sebesar 30,000 dan mendapat satu kartu transaksi yang dikeluarkan dari sebuah bank, yang bisa dipakai berkali-kali. Saya membayar, mendapat kartu dan kemudian ditempel pada palng pintu otomatis yang dijaga satpam. Kartu ini bisa dipakai untuk beberapa orang asal saldo masih cukup. Murid saya yang mengantri di belakang saya menerima kartu ini dari saya yang telah menempelkan kartu ke palang pintu dan dia melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu pasti berapa tarif busway dari halte tersebut. Mungkin 2500 rupiah atau 3000 rupiah. Murah! Saya masih sedikit terheran-heran dengan halte busway-nya dan berniat berfoto sebelum kemudian menyadari ada satu busway menunggu dan siap berangkat. Melihat orang-orang lain di depan saya berlari saya juga ikut berlari dan masuk ke dalam busway.

Saya heran karena banyak laki-laki muda yang berdiri di bagian belakang busway padahal di bagian depannya masih banyak kursi kosong. Saya langsung berjalan ke depan, duduk manis, sambil terkagum-kagum dengan modernnya bus ini. Ada penjaga pintu yang meneriakkan nama-nama halte tempat bus berhenti, ada papan tulisan digital yang berganti otomatis tiap bus melewati halte, kursi bus yang modern, dan badan bus bagian depan dan belakang yang terhubung dengan plastik atau apalah itu namanya mirip pianika. AC bus dingin, penumpang wanita hanya 3 orang termasuk saya. Baru saya tahu jika bagian depan bus dikhususkan untuk wanita dan laki-laki duduk di belakang. Bagian depan dekat dengan penjaga pintu, jadi aman bagi wanita. Ada pasangan muda-mudi yang harus berpisah kursi di dalam busway. Ok, pelecehan berarti benar-benar serius di kendaraan umum sampai pembagiannya seperti ini.

Saya beruntung naik busway tersebut, karena bus melwati jantung kota. Mulai gedung Polri sampai Stadion Gelora Bung Karno alias Senayan yang menjadi jujukan saya esok harinya, kawasan Bundaran Hotel Indonesia yang selalu saya lihat di TV tempat orang berdemo, Daerah Thamrin dan Bendungan Hilir (Benhil) yang hanya saya dengar namanya, dan daerah lain. Bus terakhir berhenti di Terminal Blok M, dan saya turun dari depan sisi kiri sopir karena halte berada di sebelah kiri, bukan di kanan ketika berangkat sebelumnya. Aha! Udik sekali saya ini ha ha. Maklumlah di Surabaya angkutan paling top adalah bus DAMRI ber-AC.

Sampai di Blok M, petunjuk selanjutnya adalah naik metromini jurusan Ciledug. Metromini yang saya tahu mirip bus ijo mini jurusan Mojokerto - Surabaya. Saya tidak tahu naik yang warna apa dan seperti apa penampakan sebenarnya karena pagi masih gelap. Ternyata semua metromini warnanya oranye kecoklatan. Saya sengaja duduk di belakang sopir dan memintanya menurunkan saya di Perempatan Ciledug yang saya juga tidak tahu seperti apa tempatnya dan berapa lama saya akan sampai. Saya benar-beanr buta arah karena saya tidak pernah ke rumah Pakdhe sendirian sebelumnya. Seperti petugas halte busway, sopir tidak menjawab permintaan saya. Jika di Surabaya sopir angkutan umum dengan sabar dan komunikatif akan memberitahukan tempat kita berhenti, paling tidak mengiyakan jika kita minta diturunkan di suatu tempat. "Dinginnya" Jakarta!!!

Saya memberikan uang 20,000 an pada kondektur dan sudah pasrah jika tertipu tarif metromini yang sengaja dinaikkan jika tahu saya pendatang. Untunglah tidak, saya membayar 6000 rupiah untuk 2 orang. Murah! Di Surabaya tidak ada lagi tarif angkot seharga 3000 Rupiah. Tapi apesnya, saya dioper di tengah jalan. Saya melanjutkan naik angkot mikrolet warna putih, entah nomer berapa. Saya duduk di samping sopir berharap mendapat kejelasan kapan saya turun. Saya mengulangi permintaan saya agar diturunkan di Perempatan Ciledug, sopir diam saja. Angkot berjalan cukup cepat dan setelah sibuk bertukar pesan dengan sepupu saya karena saya buta arah, angkot mulai kosong penumpang. Yang saya ingat saya turun di perempatan Ciledug, tepat di flyover. Nah...yang mana pula flyovernya? Tak seberapa lama angkot berhenti di perempatan, penumpang di belakang turun dan saya melihat fly over. Sopir bertanya saya turun di mana, saya bilang di perempatan dan saya ganti bertanya, "turun sini ya Pak?" Sopir hanya mengangguk. Saya keluar dan beberapa ojek mendekat. Saya menjauh dan mulai menganalisis keadaan sekitar. Mengingat tempat angkot berhenti dan menyadarkan diri bahwa saya berada di Indonesia bagian lain.

Siangnya teman saya datang menjemput. Dengan kendaraan pribadi kawannya kami berjalan-jalan ke jantung ibu kota. Saya melewati perumahan elit yang iklannya berulang kali diputar di salah satu stasiun TV nasional dan masih saya belum sadar diri saya berada di Jakarta. Murid saya belum pernah ke Jakarta sebelumnya jadi kami memutuskan ke Monas. Kami melewati jalan-jalan yang namanya banyak disebut di TV dan saya serasa berada di dalam dunia lain dalam cengkeraman gedung-gedung pencakar langit seperti para Decepticons siap melumat penduduk bumi. Benar-benar Jakarta kota Megapolitan. Saya merasa kecil dan canggung di tengah kota ini walaupun bukan kali pertama saya ke Jakarta. Dalam 5 tahun terakhir sudah 3 kali saya mengunjungi kota ini, toh tampaknya saya dan ibu kota saling berjauhan. Angker dan angkuh kesannya untuk pendatang.

Keesokan harinya pengalaman menggunakan kendaraan umum bertambah ketika saya harus ke Stadion Senayan naik Bianglala. Dari namanya sungguh drama ha ha. Bianglala atau Bus Kota Patas AC yang saya naiki dari Ciledug sampai Pasar Senen. Saya lupa nomor berapa busnya. Saya berangkat pagi-pagi sekitar pukul 8 padahal acara di stadion baru jam 5 sore. Tidak mau kehilangan tempat duduk strategis dan bersiap menghadapi macet saya bersiap-siap. Dari dalam perumahan  saya naik ojek. Ojek juga transportasi yang jarang saya gunakan di Surabaya. Terakhir saya menggunakan ojek mungkin setahun yang lalu. Ojek mengantar saya sampai prempatan Ciledug (lagi). Malamnya saya sudah browsing tentang angutan menuju stadion dan juga mencari tahu tentang si Bianglala Ciledug - Pasar Senen ini.

Bus masih kosong ketika saya naik, dan jika tidak salah saya membayar 7000 rupiah untuk satu penumpang. Sekali lagi saya kebingungan kapan saya harus bersiap turun karena saya di tengah-tengah bus dan penumpang berjubel penuh sesak. Saya sudah bilang ke kondektur untuk menurunkan saya di Senayan, tapi selama perjalanan kondektur tenang-tenag saja, tidak meneriakkan tempat-tempat pemberhentian yang dilewati seperti layaknya kondektur bus yang biasa saya tumpangi di Surabaya. Dengan mengandalkan peta di ponsel saya yang sinyalnya ada tiada saya kebingungan di dalam bus sementara murid saya tidur pulas. Kaca bus yang gelap juga menyusahkan saya melihat nama jalan di sisi kanan bus untuk mengtahui sampai di mana saya. Untungnya ibu yang duduk di sebelah saya bertanya di mana saya turun, mungkin karena dia mendengar saya akan turun di Senayan. Dia bilang saya harus bersiap karena Senayan sudah dekat. Saya menerobos ke belakang. Di pintu belakang kondektur baru berteriak dengan suara pelan saja sebenarnya, "Senayan Senayan!"

Kami berdua turun dan bingung lagi mencari pintu masuk ke dalam stadion. Saya berjalan saya mengikuti insting dan sampai juga di stadion. Mengapa saya pergi ke Stadion Senayan? Ceritanya di posting saya yang lain :) Dari stadion saya pulang malam sekitar pukul 10 malam dan saya berjalan mencari jalan keluar dari stadion yang cukup jauh. Setelah bertanya pada polisi di mana tempat menunggu Bianglala saya menunggu sampai sekitar pukul 22:30. Saya mulai cemas karena tidak ada orang yang tahu angkutan menuju ke Ciledug di malam hari. Saya bertanya pada Pakdhe dan disarankan naik angkot yang biasanya mencuri trayek melewati Senayan di malam hari. Angkot putih 01 jika tidak salah. Segera setelah bertukar pesan angkot putih datang dan berteriak-teriak, "Ciledug! Ciledug!" Saya langsung naik dan duduk di sebelah sopir. Karena sudah hafal tempat berhenti saya turun pas di perempatan dan disambut para penggemar, para tukang ojek. Sedikit menjauh saya mencari ojek lain yang tidak "agresif" dan langsung menuju rumah Pakdhe. Capek sudah badan saya seharian di stadion dan baru saya tahu cerita seram angkot 01 yang memperkosa penumpang wanitanya. Tidaaaaaak...untung saya tidak apa-apa.

Yang jelas esok harinya saya harus kembali ke Surabaya. Saya akan ke Stasiun Pasar Senen. Seperti hari sebelumnya, saya harus naik Bianglala lagi. Sekitar jam 8 saya masih malas-malsan dan jam 9 pagi mulai mandi. Jam 10 saya mulai makan dan sekitar jam 10:30 saya siap berangkat. Mengingat hari sbeelumnya dari rumah Pakdhe ke stadion hanya sekitar 1 - 1,5 jam saya pikir saya bisa sampai di stasiun jam 1 siang atau paling lambat jam 13:30 karena jadwal kereta saya jam 14:10. Saya mulai panik ketika menunggu Bianglala lama datangnya. Ketika bus datang sopir juga malas-malasan berjalan. Saya sempat membaca salah satu pengalaman penumpang Bianglala jurusan yang sama yang mengeluhkan lamanya naik bus AC ini. Karena pengetahuan minim saya tentang jarak tempuh dan keteledoran saya maka mulailah saya bertukar pesan dengan Pakdhe saya. Sebagai informasi dari hari pertama saya tiba di Jakarta saya hanya bertemu beliau di pagi hari dan tidak bertemu lagi sampai hari saya pulang. Budhe juga sibuk jadi tidak banyak cerita soal tips naik angkutan umum yang dibagi.

Kenangan bersama monas :)
Pakdhe menyarankan saya turun dari Bianglala, dan saat itu Bianglala baru berjalan sekitar 10 menit dari tempat saya naik. Saya disarankan naik ojek bukan taksi untuk mengejar waktu. Ojek? Pengalaman baru lagi. Ojek sebelumnya yang saya tumpangi hanya yang nangkring di sekitar perumahan. Sekarang dengan modal muka pasrah saya memanggil ojek yang mangkal di seberang perempatan jalan. Awalnya pak ojek memberikan harga 50,000 yang langsung saya sanggupi karena perkiraan Pakdhe harganya sekitar 60,000. Rupanya pak ojek ini bingung juga dan bicaranya kurang jelas. Dia memanggil kawannya yang tahu jalan dan tahu harga. Dipatoklah harga 100,000 dan saya menawar 75,000. Dengan argumen jauhnya jarak tempuh maka disepakati harga 80,000 per orang per motor. Dua motor berarti 160,000. Saya sanggupi karena tidak opsi lain.

Untunglah saya naik ojek dan di akhir perjalanan ke Jakarta saat itu saya temukan dua bapak ojek yang baik hati.  Salah satunya yang membonceng murid saya menceritakan tentang banyak tempat yang kami lewati. Pak ojek mencarikan jalan-jalan alternatif anti macet. Membayar 80,000 sangat sebanding dengan jauhnya perjalanan dan juga waktu tempuh yang pas. Sekitar 75 menit saya berhasil mencapai stasiun tepat 40 menit sebelum kereta berangkat. Jarak yang saya tempuh mungkin seperti Tandes sampai Mojokerto. Jauh sekali dan saya melihat sisi lain Jakarta, Jika hari sebelumnya yang saya lihat gedung-gedung tinggi dan mall-mall termasuk Masjid Istiqlal dan Istana Negara, maka kali ini yang saya lihat daerah Jakarta Timur sampai ke Pasar Senen. Entah lewat mana saja hehe.

Lengkap sudah petualangan saya menggunakan aneka moda transportasi Jakarta. Ada busway, metromini, bianglala, dan ojek yang menutup perjalanan saya di Jakarta. Saya cukup senang dengan pengalaman berkendaraan umum di ibu kota. Harganya murah walaupun masih was was dengan keamanannya. Lain kali tidak akan naik taxi, angkutan kota saja :)

Kereta Ekonomi "Pertama"ku

Sengaja kata pertama saya letakkan di antara tanda kutip karen pengalaman naik kereta api ekonomi bukan yang pertama kali saya lakukan sepanjang hidup saya tapi benar terjadi yang pertama kali selama PT. Kereta Api Indonesia di bawah pimpinan direkturnya Pak Jonan. Mungkin dulu ketika saya SMP saya pernah naik KA ekonomi ke Jakarta bersama keluarga saya. Saya tidak ingat pasti apa benar waktu itu kereta ekonomi, seingat saya sih begitu. Penumpang bisa tidur di bawah kursi penumpang lain, itu yang saya ingat dengan pasti. Seingat saya, saya semalaman tidak ke toilet sama sekali. Jadi saya tidak tahu penampakan toilet KA ekonomi jaman dulu seperti apa. Jika membaca blog kawan-kawan yang lain tentang KA ekonomi jaman dulu sih sangat memprihatinkan.

Dari nama dan cerita tentang KA Ekonomi sejujurnya saya takut membayangkan. Boleh percaya boleh tidak, mungkin Anda pikir saya "lebay" tapi itulah nyatanya. Kereta bukan moda transportasi yang familiar untuk saya. Angkot dan bus lebih familiar buat saya. Jadi sampai usia saya yang 31 tahun ini, saya naik kereta hanya tujuan Jawa Timur - Jakarta. Pernah bernagkat dari Mojokerto, Kediri, dan Surabaya. Tidak pernah naik kereta ke tujuan lain. Eh tunggu, saya pernah naik kereta dari Malang tujuan Surabaya. Itupun "ilegal". Saya ingat pergi dengan teman-teman di masa kuliah dulu dari stasiun kereta di Malang. Tiket kami hanya sampai Pasuruan karena tiket Malang - Surabaya sudah habis. Dengan bimbingan teman saya yang dedengkotnya kereta api, dia bilang beli tiket sampai Pasuruan tidak masalah. Jika nanti ada pemeriksaan lagi tinggal bilang pada kondektur "lama (penumpang lama) Pak". Badan saya capek sekali tapi tidak bisa tidur karena gugup luar biasa. Saya ingat tiketnya kartu kecil keras sepanjang jempol jari yang kemudian dilubangi oleh kondektur.

Itu dulu. Sekarang naik kereta api kelas ekonomi nyamannya luar biasa. Sudilah Anda tetap baca postingan saya ini yang mungkin isinya pujaan dan pujian bagi PT. KAI. Demi pengematan budget maka saya membulatkan tekad untuk pergi pulang Surabaya - Jakarta dan sebaliknya naik kereta api ekonomi. Berhar-hari saya browse tentang cerita-cerita bloggers yang sudah pengalaman naik kereta api ekonomi. Berulang kali saya yakinkan diri saya "everything will be okay". Bayangan saya tentang buruknya pelayanan, toilet tak memadai, kereta berhenti lama karena bergantian dengan kereta lain melewati satu rel, serta bayangan penumpang penuh sesak seperti ketika saya SMP dulu sedikit-sedikit terkikis setelah membaca beberapa pengalaman blogger yang menyatakan kereta ekonomi yang baru jauh lebih nyaman.

Saya pergi dengan murid saya, anak kuliahan yang belum pernah ke Jakarta. Pengalaman berkeretanya juga tidak banyak. Nah..bertambah satu lagi kekhawatiran saya. Saya booking kursi kereta di minimarket. Di minimarket saya mendapat struk pembelian, bukan tiket asli. Struk pembelian kemudian ditukarkan dengan tiket asli. Murid saya menukarkan tiket tersebut di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Murid saya tersenyum puas sambil bercerita bahwa menukarkan tiket di stasiun menyenangkan buatnya. Tempatnya adem dan petugasnya ganteng-ganteng. Wah...harusnya saya yang pergi ha ha. Bagaimanapun juga citra yang dibangun PT. KAI sudah nampak di sini. Petugas pelayanan masyarakat ganteng-ganteng. Calon penumpang kan juga butuh "pemandangan" bagus ha ha. Ini pencitraan namanya, dan citra memang penting kawan!

Ini kali kedua saya membeli tiket kereta. 2 tahun yang lalu saya membeli tiket KA eksekutif di minimarket juga. Sepert biasa KTP sudah saya siapkan karena sistem boarding yang diberlakukan PT. KAI yang hanya mengijinkan penumpang beridentitas sama dengan yang tercetak di tiket. Saya pikir tiket KA ekonomi berbeda dengan yang eksekutif. Sama saja loh penampakannya. Bahkan yang sekarang ada QR Codenya juga, biarpun kelas ekonomi. Whaaaaa...keren. Tiket keberangkatan saya dari Stasiun Gubeng Surabaya hari Sabtu sekitar pukul 1 siang. Murah loh...tiket saya hanya 55,000 rupiah.

Tiket telah lolos pemeriksaan boarding
Saya berangkat dengan hati berdebar-debar. Ini jadi pengalaman pertama saya ke Jakarta tanpa orang tua pertama kali dan naik KA ekonomi pula. Lebih dari itu saya sangat antusias dan penasaran membuktikan ucapan Pak Jonan dan cerita-cerita blogger lain tentang bagaimana kereta api dan PT. KAI sekarang telah berubah. Bahwa kereta ekonomi ber-AC dan nyaman dan bahwa berkereta sekarang aman.

Siang itu stasiun ramai tapi tertib. Saya masuk dengan menunjukkan tiket dan KTP. Petugas ramah dan ruangan tunggu berpendingin ruangan ditambah dengan kipas angin. Maksud hati saya ingin mengambil beberapa gambar tapi saya malu dengan calon penumpang lain yang tampaknya lebih "profesional" Ha ha. Demi alasan keamanan juga saya tidak melakukannya. Semakin terlihat canggung semakin mudah ditipu.

Dulu sebelum ada sistem boarding, semua orang bisa masuk dan duduk menunggu di dekat rel jalur kedatangan kereta. Sekarang, dengan sistem boarding saya menunggu dulu di ruang tunggu sebelum kemudian masuk ke ruang boarding, yaitu tempat berdiri tepat di dekat jalur kedatangan kereta. Petugas dengan sigap memberitahukan di mana saya harus menunggu sesuai dengan nomor gerbong kereta. Untuk penumpang yang cupu seperti saya hal ini sangat membantu.

Colokan listrik di bawah meja
di tiap kursi penumpang. Tidak ada lagi khawatir
kehabisan baterai ponsel.
Saya duduk di deretan bangku belakang. Udara dingin mulai menerpa walaupun tidak terlalu dingin juga karena di luar cuaca sangat terik. Gerbong kereta sangat bersih dan ada colokan listrik di bawah meja kecil bawah jendela. Saya menuju Jakarta menumpang KA Gaya Baru Malam Selatan melewati Jogjakarta. bersama rombongan pendaki gunung yang tiinggi tas ranselnya hampir setinggi saya, saya mulai menikmati perjalanan KA. Berulangkali ada petugas mondar-mandir dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Baru saya tahu petugas ini bertanggung jawab membersihkan bagian dalam gerbong kereta. Beberapa kali petugas ini mengucapkan nama-nama stasiun yang akan disinggahi kereta.

Kursi saya cukup empuk, hanya sandarannya saja yang tegak menjulang jadi kepala langsung pusing. Mau sewa bantal bisa, harganya 5000 rupiah. Bangku saya berhadapan dengan bangku penumpang lain dan saat penumpang penuh lutut saya hampir mepet dengan lutut penumpang di depan saya. Ini saja hal yang tidak nyaman di kereta api. Sepanjang perjalanan Surabaya-Jakarta kereta jarang berhenti dan jikalau berhenti pun tidak lebih dari 5 menit seingat saya. Hanya 2 kali pedagang asongan masuk ke dalam gerbong. Rombongan pedagang lain masuk dengan rompi paguyuban pedangang asongan dengan nomor pengenal di dada mereka. Bagaimana jika lapar? Petugas restorasi kereta menjajakan makanan seperti nasi goreng atau mi instan gelas hampir 40 menit sekali. Jangan khawatir di malam hari mereka tidak lagi berkeliaran he he.

Walaupun harga makanan tidak semurah dan macamnya tidak sebanyak yang dijual pedagang asongan, saya lebih suka yang begini. Lebih nyaman tanpa pedagang asongan. Toh membawa makanan dari luar juga diijinkan. Jikalau saya lebih kreatif saya pasti bawa rantang nasi lengkap dengan lauk pauknya. Karena malas saya hanya membawa nasi dan nori sebagai lauknya. Murid saya membawa dua bungkus nasi krawu. Cukup sudah untuk makan sore dan malam.

Pendingin udara yang membuat berkereta api
jadi adem dan nyaman
Untuk masalah keamanan, KA ekonomi aman ditumpangi. Ada polisi khusus KA dan petugas berseragam hilir mudik juga. Saya lihat di stasiun-stasiun juga hanya ada calon penumpang, porter, dan petugas. Mereka yang masuk ke kereta benar-benar calon penumpang bukan abal-abal. Saya teringat dulu ketika kecil saya menyaksikan penumpang sebelah dicopet tasnya dan saya melihatnya. Peristiwanya sangat cepat dan saya cuma melongo. Semua orang dalam gerbong heboh saat itu tapi segera duduk manis juga, hal yang seperti itu sudah biasa katanya. Alhamdulillah perjalanan pertama saya naik KA ekonomi kali ini sangat menyenangkan. Murah tapi nyaman.

Stasiun-stasiun yang saya lewati juga sangat bersih dan rapi. Yang tidak saya lupakan adalah sapaan hangat petugas stasiun Purwokerto di malam hari yang kurang lebih bunyinya seperti ini "Selamat malam para penumpang KA Gaya Baru Malam Selatan Surabaya Gubeng tujuan Stasiun Jakarta Kota. Saat ini Anda berada di Stasiun Purwokerto dan Anda akan diperkirakan tiba di Stasiun Jakarta Kota pada pukul 2 dini hari. Semoga perjalanan Anda menyenangkan kami dari DAOP xxx mengucapkan selamat jalan semoga selamat sampai di tujuan." Ternyata yang kereta ekonomi pun dapat sambutan seperti ini. Yang jelas di stasiun-stasiun lain tidak ada sambutan yang sama sehangat dari Stasiun Purwokerto.

Stasiun Purwokerto yang informatif. Baru saya sadar saya sudah sampai di lebih separo perjalanan dan masih ada 350km yang harus saya lalui dengan duduk bosan di kereta :) Sebagai informasi semua kawasan stasiun kereta adalah kawasan dilarang merokok, tapi jika ada kesempatan kereta berhenti penumpang selalu keluar berlomba merokok sebelum kereta berjalan. Mungkin sebagian besar stres karena perjalanan panjang ha ha

Selepas Jogjakarta KA makin penuh. Gerbong kereta mendadak menjadi menyeramkan ketika semua penumpang di gerbong saya turun, kecuali saya berdua. Semua turun di Stasiun Pasar Senen. Sempat panik juga tapi beberapa petugas yang mulai membersihkan lantai gerbong kereta meredakan kepanikan saya. Saat malam hari dinginnya AC mulai menusuk tulang. Biarpun ada satu dua penumpang yang duduk di lantai agar bisa meluruskan kaki, penumpang tetap tertib. Semua duduk sesuai nomor yang tercetak di dalam tiket dan saling memahami ketika penumpang lain membutuhkan sedikit ruang untuk meluruskan kaki.

Saya sampai di Stasiun Jakarta Kota sekitar pukul 02.15. Sekali lagi saya masih takjub dengan stasiun yang besar tersebut. Jauh lebih besar dari Stasiun Gubeng dan Pasar Turi. Itu kali pertama saya menjejakkan kaki ke Stasiun Jakarta Kota, sebelumnya saya selalu sampai dan berangkat dari Stasiun Gambir. Saat berjalan di dalam ruangan stasiun saya mengenali arsitekturnya. Persis seperti background foto Pak Jonan, direktur KAI.

Senangnya saya sampai dengan selamat di Jakarta pagi dini hari.  Perjalanan dengan KA Ekonomi sangat nyaman. Oh ya saya lupa bercerita, toiletnya juga bersih. Ada sabun untuk mencuci tangan, pewangi ruangan, bahkan tisu toilet. Setengah tidak percaya saya. Walaupun masih bau karena mungkin penumpang ada yang tidak menyiram dengan bersih tapi toilet ini benar-benar seperti toilet. Ha ha. Di beberapa pusat perbelanjaan di Surabaya saja pernah saya dapati toiletnya lebih jorok dan bau daripada di kereta. Ayo jangan ragu naik KA Ekonomi lagi. Tetap waspada dan hati-hati. Terima kasih PT. KAI :)

Friday, January 31, 2014

Wajib Militer di Korea Selatan (Bagian Kedua)

Tepat tanggal 26 Desember 2013, sehari setelah Natal, seorang kawan saya di Korea masuk wajib militer. Foto terakhir yang diuploadnya di Facebook menunjukkan potongan rambut barunya. Cepak! He he. Saya ingin tahu lebih lanjut tentang wajib militer (wamil) ini dan mungkin Anda juga perlu tahu. Saya tuliskan seluk-beluk wamil di Korea yang terbagi dalam beberapa bagian berikut:


1. Pekrjaan, Gaji dan Wajib Militer
Jika wamil diterapkan di Indonesia mungkin banyak sekali orang yang sukarela mendaftar. Jika perlu lulus SMP langsung masuk militer. Mengapa? Karena masuk wamil Anda akan digajposting pertama gajinya sekitar $90 atau sekitar satu juta rupiah per bulan. Lumayan kan? Makan dan tidur gratis pula. Tapi di Korea jumlah itu tentunya kecil sekali karena rata-rata pendapatan mereka sekitar $3000 per bulan. Tidak heran banyak yang menghindari tugas ini. Tapi, tahukah Anda bahwa dulu ketika wamil diterapkan hampir selama 3 tahun lamanya, keikutsertaan dalam wamil bisa dijadikan referensi untuk bekerja bagi yang belum dapat pekerjaan? Bagi yang sudah bekerja keikutsertaan dalam wamil menjadi penghargaan tersendiri berupa insentif khusus terhitung 3 tahun pengalaman kerja. Tapi peraturan ini tidak berlaku setelah Menteri Kesetaraan Gender dan Urusan Keluarga menganggap peraturan ini tidak adil bagi wanita. Wanita yang tidak ikut wajib militer tidak akan mendapatkan promosi dan bonus lain semudah laki-laki yang ikut wamil. Saya rasa ini keputusan yang adil. Tentunya imbasnya adalah makin sulit posisi laki-laki dalam wamil. Gaji berkurang, pekerjaan dan urusan lainnya pun terhentikan sementara. Tak mengherankan banyak yang stres dan tertekan selama mengikuti wamil. Bagaimanapun juga beratnya, hal yang unik adalah di korea perusahaan-perusahaan besar mensyaratkan pegawai laki-lakinya sudah mengikuti wamil.
i, tidak banyak, seperti tulisan saya di

2. Jangan Jadi Orang Korea Selesai Perkara?
Bukan hanya para artis dan orang terkenal saja yang ingin lepas dari kewajiban mereka sebagai warga negara Korea dewasa, tapi orang-orang biasa juga malas ikut wajib militer. Tentunya, siapa yang ingin mengabiskan minimal 21 bulan di kemp pelatihan dan terputus dari dunia luar. Menghentiak segala rutinitas sehari-hari bertemu teman dan harus memaytuhi perintah atasan dan hidup disiplin 24 jam penuh seperti lazimnya para anggota militer lainnya. Untuk yang senang dengan kehidupan militer, yang bercita-cita masuk ketentaraan, atau yang punya rasa cinta tanah air sedemikian besarnya sih mungkin akan senang-seang saja. Tapi pada umunya rakyat sipil biasa pasti akan mengeluh.

Banyak orang yang berusaha menghindari wajib militer ini. Cara pertama yang dilakukan adalah melepaskan kewarganegaraan. Tentunya ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang, tapi orang-orang Korea yang lahir dan besar di luar negeri punya dua kewarganegaraan Yang memilih mempertahankan kewarganegaraannya tentunya harus pulang ke Korea untuk menjalani wamil, walaupun dia bermukim di luar negeri. Masalahnya, ternyata banyak yang sengaja melepaskan kewarganegaraan Korea-nya. Orang-orang yang memilih jalur ini tidak dikenai kewajiban wamil. Enak kan? Tapi perkara tidak selesai di sini.

Bagi mereka yang melepaskan kewarganegaraan Korea karena ingin menghindari wamil akan mengalami kesulitan di masa depan jika mereka kembali ke Korea. Yang pertama, hampir tidak mungkin bagi mereka untuk mendapatkan kewarganegaraan Koreanya kembali. Yang kedua, jika mereka ingin berkarir di Korea, mereka harus siap menerima tekanan kultural. Masyarakat menganggap rendah dan mencibir anak-anak dari keluarga yang sengaja melepaskan kewarganegaaraan untuk menghindari wamil. Di Korea, laki-laki belum dianggap sebagai laki-laki sepenuhnya jika mereka belum masuk wamil. Saya ingat adegan di drama Coffee Prince saat pemeran wanita yang berpura-pura jadi laki-laki di film ini diragukan kapabilitasnya oleh atasan. Atasan menanyakan apa dia sudah ikut wamil. laki-laki dewasa 20 - 30 tahun yang belum ikut wamil harus siap melayani dan menuruti seniornya. Walaupun posisi di pekerjaannya lebih tinggi, orang yang belum masuk wamil akan tetap kurang dihormati dan tidak disegani. Orang-orang yang sudah menyelesaikan wamil menganggap masa-masa yang mereka habiskan dalam wamil sebagai sebuah kebanggan dan sebuah proses menjadi laki-laki sejati. Hal ini dikarenakan mereka telah melepaskan semua posisi, pekerjaan, pendidikan, dan kenikmatan lain untuk mengabdi pada negara. Inilah yang dianggap sebagai hidup baru laki-laki sejati di Korea.

Sengaja menato tubuh akhirnya masuk penjara

3. Dengan Tato Masalah Hilang
Sesuai peraturan wamil, laki-laki dengan tato banyak dan besar tidak wajib ikut wamil. Walaupun tidak ada larangan bertato di Korea, tetapi jumlah tato banyak dan besar seperti tato para Yakuza dan anggota gangster lain dianggap tidak baik. akibat dari peraturan ini banyak laki-laki yang sengaja menato tubuhnya untuk menghindari wajib militer. Entah bagaimana negara melacaknya, sepertinya rumah tato dan artis tato di Korea juga berhati-hati dalam kasus ini jika tidak ingin bisnis mereka bermasalah dengan pemerintah.

4. Demi Kebebasan Semua Dilakukan
 Tahukah Anda selain tato hal apa yang dilakukan laki-laki Korea untuk menghindari wamil? Ada beberapa yang menurut saya aneh tapi juga cerdik (walaupun akhirnya terbongkar juga). Umumnya semua hal unik dan nekad yang dilakukan ini berkaitan dengan kesehatan. Ini  dikarenakan ketentuan peraturan wamil yang mewajibkan semua yang ikut dalam wamil berbadan sehat.
- Ada yang sengaja makan sangat banyak (overeating)
- Ada yang sengaja puasa sehingga lemah dan tak berdaya.
- Ada yang sengaja mematahkan tulang belikat
- Ada yang sengaja meremukkan tulang rawan
- Ini yang paling ekstrim, pura-pura gila!!!

5. Saya Percaya Karenanya Saya Dipenjara
Bagian terakhir yang saya ulas ini tentang orang-orang yang harus menjalani hukuman mulai 18 bulan penjara karena menolak wamil. Bukan menghindari tapi ada orang-orang yang menolak wajib militer. Alasannya? Ada yang karena alasan moral dan ada juga dengan alasan kepercayaan. Orang-orang dari kelompok Jehovah's Witness (Saksi-Saksi Yehuwa adalah suatu denominasi Kristen, milenarian, restorasionis yang dahulu bernama Siswa-Siswa Alkitab hingga pada tahun 1931. Agama ini diorganisasi secara internasional, , yang mencoba mewujudkan pemulihan dari gerakan Kekristenan abad pertama yang dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus -wikipedia), misalnya menolak wamil yang tidak sesuai dengan kepercayaan mereka. Akibatnya mereka harus mendekam di penjara. Setidaknya sampai Agustus 2013, ada 669 orang dari Jehovah Witness yang mendekam di penjara karena menolak ikut wamil. 

Sumber:
http://www.brownpoliticalreview.org (Stella Kim, A Dreaded Rite of Passage: Korea’s Mandatory Military Service, Dec 2013)
http://www.cbsnews.com (Bootie Cosgrove-Mather, Draft Dodging South Korean Style, June 24, 2003)
http://www.scmp.com(Paying the price for refusing military service in South Korea, Aug 2013)
http://wikipedia.org


Thursday, January 30, 2014

Museum Mpu Tantular Si Harta Tersembunyi

Apakah museum itu? Dulu ketika saya bersekolah jawaban atas pertanyaan ini sangat mudah, "tempat untuk menyimpan barang-barang kuno". Nah dari definisi sederhana inilah akhirnya terbentuk pemikiran awal saya bahwa museum isinya barang dari jaman prasejaah sampai sejarah yang disimpan di dalam kaca dan dipamerkan. Padahal museum bukan sekedar ruang pamer penyimpanan barang kuno loh. Menurut Edaward Potter Alexander dan Mary Alexander dalam buku  Museum in motion:an introduction to the history and functions of museums yang dikutip oleh Wikipedia, museum adalah institusi yang tugasnya merawat, menjaga (mengkonservasi) koleksi artefak dan objek / benda ilmiah, artistik (benda seni), objek yang bernilai budaya, atau yang bernilai historis untuk dipertontonkan kepada masyarakat melalui sebuah pameran baik yang sifatnya tetap atau sementara (1). Sedangkan menurut International Council of Museum - ICOM (Dewan Museum International), definisi museum telah mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan zaman.  Berdasarkan Statuta ICOM, yang ditetapkan di Konferensi Umum tahun 2007 di Wina, Austria museum didefinisikan sebagai sebuah institusi nirlaba yang sifatnya permanen yang tugasnya melayani masyarakat dan perkembangannya; dibuka untuk umum; yang memperoleh, mengkonservasi, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan warisan manusia dan lingkungannya baik yang terlihat dan tidak terlihat untuk tujuan pendidikan, studi, dan hiburan (2).

Definisi yang saya kutip di atas menunjukkan bahwa museum bukan sekedar tempat untuk menyimpan artefak kuno, tetapi barang-barang modern pun juga bisa menjadi koleksi museum. Jadi kesan bahwa museum berisi barang kuno jelas salah, karena tidak semuanya begitu. Yang paling penting adalah bahwa museum sifatnya nirlaba, tidak dikomersilkan. Karenanya kebanyakan masuk museum gratis, kalaupun berbayar pasti tidak mahal. Di Museum Mpu Tantular yang saya kunjungi tarif masuknya Rp. 4000. per orang. Murah bukan? Ini tarif dewasa, tarif anak-anak Rp. 3000 per anak.

Saya sudah lama ingin mengunjungi Museum Mpu Tantular. Setelah lebih dari 10 tahun tinggal di Surabaya akhirnya bisa juga mengnjungi museum ini di Sidoarjo. Lho? Iya, dulunya museum ini letaknya di Surabaya dekat dengan Kebun Binatang Surabaya. Kemudian berpindah lokasi ke Kecamatan Buduran, Sidoarjo di tahun 2004. Bangunan bekas museum di Surabaya yang merupakan bangunan cagar budaya sekarang menjadi Perpustakaan Bank Indonesia. Sayang museum pindah ke lokasi yang "tersembunyi" di bawah jembatan layang Buduran, padahal dulunya di Surabaya lokasinya sangat terlihat di gedung kuno yang cantik. Lahan Museum Mpu Tantular di Sidoarjo memang lebih luas, rupanya pengelola museum membutuhkan area untuk pagelaran yang sering dipertontonkan secara gratis. Saya rasa tujuan utamanya untuk mengajak masyarakat lebih mengenal budaya dan cinta museum. Sayang, dari jalan utama museum ini tidak terlihat. Jika tidak ada papan penunjuk jalan pasti masyarakat luar Sidoarjo tidak tahu. Inilah mengapa saya sebut museum ini sebagai harta yang tersembunyi. Nilai budaya yang terkandung dalam benda koleksinya sangat agung tapi tersembunyi di bawah jembatan layang dan berada di tepi jalan kecil yang tidak ramai dilintasi orang.


Area museum
Saya berkunjung di hari Selasa. Untung tidak datang di hari Senin karena museum tutup di hari itu. Senangnya museum buka di hari Minggu. Dulu seingat saya ketika berkunjung ke Museum Trowulan di hari Minggu museum tutup. Dari depan gerbang kita membeli tiket. Baiknya ada semacam buklet gratis yang dibagikan pada pengunjung tentang penjelasan museum dan koleksi unggulannya, sama seperti ketika saya mengunjungi Kebun Raya Purwodadi. Dari bagian depan saya dan teman agak bingung mencari lokasi parkir dan yang jelas dari tempat parkir yang sunyi sepi itu saya bingung museumnya di mana karena ada beberapa bangunan dan denah lokasi ada sebelum tempat parkir mobil. Di dekat lokasi parkir ada gedung pamer tuna netra. Keren ya? Selanjutnya, berjalan dari parkiran saya masuk ke gedung dengan banyak arca berjajar. Saya mengambil foto beberapa arca ini. Ternyata saya masuk dari sisi samping museum he he.



Benda-benda koleksi museum tersusun berdasarkan zaman. Andai saya masuk dari pintu yang tepat dan berjalan sesuai arah maka saya bisa melihat koleksi dari zaman purba sampai masa perjuangan kemerdekaan (jaman kolonial). karena saya masuk dari pintu samping maka secara acak saya melihat koleksi. Untuk pertama kalinya saya melihat fosil gading gajah purba, mammoth mungkin ya namanya. Saya lupa secara pasti apa nama hewannya. Ada juga beberapa batu berharga yang masih berupa bongkahan. Koleksi arca dan prasasti banyak sekali dan favorit saya sebenarnya koleksi kitab bertuliskan aksara Jawadi lembaran daun lontar . Wow..menakjubkan bagaimana sejarah suatu negeri ditulis kecil-kecil di lembaran daun. Sedangkan koleksi modern masuk ke era awal tahun 1800-an. Ada koleksi telepon meja juga dan yang manrik ada simphonion. Bentuknya seperti jam kayu berdiri yang besar, tapi sebenarnya Simphonion adalah kotak musik buatan Jerman, dibuat di abad 18. Cara kerjanya bisa Anda baca di museum he he. Koleksi mata uang yang dipakai di republik tercinta ini juga ada.

Pintu samping ruang pamer utama. Berteralis rapat.
Prasasti bertuliskan aksara kuno. Seperti membaca kode Bangsa Decepticon di Transformer he he.

Gedung lain di kawasan museum. Dinamakan Von Faber untuk menghormati pendiri museum.
Bapak Von faber

Hiasan Garudaya
Tahukah Anda apa koleksi paling menakjubkan yang belum pernah saya lihat di museum lain? Di tengah bangunan utama museum ada brankas raksasa berjeruji. Ya benar, pintu brankas sangat besar dan sengaja dibuka agar pengunjung bisa melihat isi brankas. Tentunya ada jeruji yang mengamankan segala isi di dalam brankas. Jadi kita cuma bisa melongok saja bukan masuk ke dalam brankas. Brankasnya berukuran sekitar 5 x 7 m mungkin, isinya? Perhiasan! Ya benar, perhiasan jaman kerajaan. Ada banyak sekali kalung dan gelang dari emas, perak, dan logam berharga lainnya yang disimpan di dalam kotak kaca di dalam brankas. Yang paling wow, adalah hiasan dada garudeya. Objek ini ditemukan saudara Seger pada tahun 1989, di Desa Plaosan, Kec. Wates, Kab. Kediri. Hiasan ini dibuat dari emas 22 karat dengan berat keseluruhan 1.163.09 gram. Dilihat dari reliefnya, kemungkinan hiasan ini merupakan peninggalan dari abad XII-XIII M. Benda ini merupakan cindera mata dari Raja Siam kepada Raja Airlangga (3). Hm...bayangkan berapa nilai barang ini? Mungkin setara 20 mobil Ferrari?

Di bagian paling depan museum ada 5 arca Budha yang menghadap ke 4 penjuru mata angin dan 1 arca di tengah saya lupa apa fungsinya. Dan di bagian depan pula saya membaca tulisan dilarang mengambil gambar di dalam museum he he. Karena saya masuk dari pintu yang berbeda saya tidak membaca larangan ini. Jadi di posting saya yang saya masukkan adalah gambar-gambar yang saya ambil di luar bangunan museum (semoga posting saya tidak kena cekal). Gambar lain saya peroleh dari website resmi Museum Mpu Tantular.

Secara keseluruhan saya kurang puas karena koleksi tiap zaman kurang banyak. Mungkin karena tidak mengkhususkan diri pada satu koleksi dan satu zaman maka tidak banyak barangnya. Untuk ukuran museum provinsi saya mengharapkan koleksi yang lebih banyak, harapan saya sih. Koleksi batu berharga misalnya, seingat saya hanya satu etalase dengan kurang dari 10 jenis batuan. Paling tidak separo jumlah koleksi di ruang pamer batu berharga objeck wisata Goa Maharani ada di Museum Mpu Tantular.  Koleksi batik juga tidak banyak. Padahal jenis batik di Jawa Timur luar biasa banyaknya. Mungkin bisa jadi satu lantai museum khusus untuk batik dan bertingkat di lantai lain koleksi lain. Demikian halnya dengan koleksi zaman kerajaan. Saya puas ketika berkunjung ke Museum Trowulan, koleksi arca, prasasti dan lainnya banyak sekali, sebaliknya di Museum Mpu Tantular saya melihat sedikit benda koleksi di zaman ini.

Semoga koleksi bisa bertambah. Tentunya dana yang dibutuhkan untuk proses eskavasi dan konservasinya tidak murah. Saya yakin masih banyak benda purba dan bersejarah lainnya di tangan kolektor yang mudah-mudahan bisa menjadi milik pemerintah kembali dan dipamerkan di museum-museum. Warisan budaya sunguh tak ternilai jika memang tidak ada keseriusan dan niat dari pemerintah saya rasa museum dan koleksinya kurang berkembang.

Cerita pendiri museum
Bolehlah kiranya Anda berwisata ke Museum Mpu Tantular. Melihat sejarah bangsa dan menikmati keagungan hasil budaya masyarakat Indonesia dan dunia tempo dulu. Sebagai orang modern saya terkesima dengan kerja keras pembuat prasasti, bukti pencatatan masa lalu. Di masa sekarang saja orang menulis di buku harian sudah langka, padahal itu juga suatu catatan sejarah kehidupan. Bukan begitu? Dan blog ini juga jadi catatan sejarah saya, bukan di atas batu karena ini era baru. Selamat berkunjung di Museum Mpu Tantular :)

Sumber:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Museum
2. http://icom.museum/the-organisation
3. http://www.museum-mputantular.com





Tuesday, December 31, 2013

Lucky Number.....(G-DRAGON Coup D'etat CD)

Alhamdulillah banyak keberuntungan datang, Baru 2 minggu lalu saya memenangkan sayembara berhadiah CD album solo terbaru G-Dragon, pemimpin idol group BIGBANG. Sejujurnya dari awal CD ini dilempar ke pasaran saya tidak terlalu tertarik. Saya lebih tertarik membeli CD album solo personil BIGBANG lainnya, Seungri. Musik GD tidak terlalu saya suka. Herannya lagi, saya selalu kena "kutukan" BIGBANG. Ketika saya bilang tidak, maka pada akhirnya akan jadi ya, bahkan ya yang teramat sangat.

G-Dragon adalah personil BIGBANG yang mengeluarkan album keduanya di tahun 2013. Setelah saya mendengar beberaPa lagunya saya langsung jatuh hati. Saya suka sekali lagu-lagunya. Lebih dari itu semua, saya sangat mengagumi kemampuan bermusiknya. Ia adalah rapper, penyanyi, pengarang lagu, dan sekaligus produser  bagi lagu-lagunya dan banyak lagu lain yang dinyanyikan oleh para artis di bawah manajemen yang sama. Banyak lagu hits BIGBANG yang juga diciptakan olehnya.

Manajemen BIGBANG, YG Entertainment punya banyak fanbase di dunia. Salah satunya di Indonesia. Perwakilan YG yang dinamakan YGI Indonesia, adalah salah satu yang saya ikuti (follow) kicauannya di Twitter. pada tanggal 16 Desember 2013 lalu, pihak YG Indonesia sedang merayakan hari jadinya yang kedua. Sebuah sayembara berhadiah 2 CD (1 CD G-Dragon dan 1 CD Seungri) pun digelar. Batas waktunya tanggal 16 - 18 Desember 2013. Dasar saya orang yang kurang teliti, saya baca tanggal 16 adalah batas akhir sayembara.

Aturan sayembara sangat mudah. Saya hanya perlu membuat ucapan selamat ulang tahun pada YG Indonesia dengan media apapun dan hasilnya diunggah ke Twitter YG Indonesia. Saya memutuskan minta bantuan salah satu teman saya yang kreatif. Saya minta ia membuat plakat dari karton bertuliskan "Happy 2nd Anniversary YG Indonesia" yang terpisah tiap kata. Plakat ini nantinya dipegang oleh murid-murid saya yang imut dan saya dengan salah satu teman akan berpose di belakang mengenakan jaket BIGBANG. Malamnya setelah merayu murid saya dan minta tolong pada satu murid remaja untuk mengambil gambar, saya berpose. Setelah berganti beberapa gaya,  akhirnya saya memilih satu gambar yang menunjukkan senyum ceria saya dan murid-murid di foto tersebut. Sayangnya jaket BIGBANG yang awalnya diniatkan jadi penanda malah tak terlihat.

Hasil pose yang saya kirim ke YG Indonesia
Saya unggah foto tersebut keesokan harinya. 2 hari sesudahnya, saya teringat untuk mengecek pemenang lomba. Saya sempat ciut harapan karena sehari sebelumnya saya lihat peserta lain mengunggah hasil karya lukisan 3dimensinya. Bagus sekali. Setelah jari saya menggeser mouse ke bawah dan melihat beberapa nama pemenang saya mulai pesimis. Saya tetap menggeser cursor ke bawah. Berharap masih ada pemenang lainnya. Ada perubahan dari pihak YG Indonesia yang menambah hadiah menjadi 5 pemenang. 2 pemenang pertama mendapat CD G-Dragon, 2 lainnya CD Seungri, dan 1 jadi pemenang dengan hadiah khusus.

Tiba-tiba saya menjerit girang. Di posting paling bawah ada nama saya dan hasil foto saya. Say aberhak mendapat 1 CD G-Dragon. entah jadi pemenang pertama atau yang kedua, yang jelas saya senang bukan kepalang. Hadiah sampai di hari Sabtu keesokan minggunya karena banyak hari libur di akhir tahun. Saya berterimakasih pada teman dan murid saya yang telah membantu saya.




Semoga makin banyak keberuntungan dataang di tahun 2014. Siapa tahu saya bisa memenangkan tiket nonton konser mereka. Semoga!

Saturday, December 28, 2013

Lucky Number.... (BIGBANG Alive Galaxy Tour Varsity Jacket)

Keberuntungan lain saya yang kesekian kalinya adalah ketika saya mendapatkan jaket BIGBANG dari Cristian Espinoza pemilik akun Google Plus, BIGBANG is VIP. Penggemar mana yang tidak ngiler mendapatkan jaket BIGBANG? Tentu semua mau. Saya sebenarnya sudah membeli jaket BIGBANG dari sebuah toko online seharga 160,000. Kualitas jaketnya bagus, bahannya juga bagus, sedikit kebesaran saja. Karena bahannya yang tebal saya hanya memakainya ketika cuaca sedikit dingin dan mendung.

ketika membeli jaket tiruan yang desainnya keren ini saya sempat mengecek jaket asli yang dijual di toko resmi YG Entertainment, perusahaan rekamannya BIGBANg. Harganya? Hm..tidak masuk akal...hampir 2 juta rupiah jika saya tidak salah mengkonversikan harganya ke rupiah. Ada juga jaket aspalnya, dijual oleh perwakilan YG Entertainment Indonesia yang dibanderol 550,000. Yang ini buatan Cina. Yah...sama saja terlalu mahal.

Apa dikata, sesuai pepatah pucuk dicinta ulam tiba, tanpa sengaja saya menemukan akun Cristian di Google plus yang memamerkan jaket BIGBANG aspalnya. Saya beri komentar (saya benar-benar iri padanya). Tak lama saya menjadi pengikut fanpage BIGBANG miliknya. Kemudian suatu saat dia memposting gambar jaket terbarunya, kali ini jaket asli BIGBANG yang dibeli dari YGshop. Dia menulis akan memberikan jaket BIGBANG aspalnya (yang baru dipakai sekali jika tidak salah) kepada siapa saja yang menjadi pengikut situsnya yang lain (japandaman.com).

Saya semangat, tapi kemudian surut semangat juga ketika saya tidak terlalu suka situs Jepangnya yang berisi anime, manga, game dll. Wah..bagaimana caranya saya bisa mendapat jaket tersebut ya? It's all about timing. Di kesempatan lainnya Cristian membuka "lowongan" bagi mereka yang ingin menjadi admin fanpage BIGBANG. Saya mengajukan diri (satu-satunya) dan akhirnya saya mendapat kabar bagus bahwa Cristian akan mengirimkan jaket BIGBANG aspalnya pada saya. Ia bilang sangat sulit membedakan yang asli dan palsu karena yang buatan Cina mirip dengan aslinya.

Setelah berkoar-koar pada beberapa teman saya bahwa saya akan mendapatkan jaket BIGBANG, saya cemas juga karena hampir 2 bulan sesudahnya Cristian baru memberi kabar dan meminta maaf atas keterlambatannya mengirim jaket tersebut untuk saya.

Dan...hari yang dinanti tiba. jaket datang dalam keadaan mulus dikirim dari Australia. bayar 7000 lagi untuk ongkos bungkus ulang paket. Ukuran jaket pas, lengan seidkit kebesaran. Kualitas bahan bagus dan model super keren. Saya gemetaran dan senang tak terkira. Oh senangnya....thank you so much Cristian.
 

Penampakan Jaket Varsity BIGBANg ketika dipakai manggung

maaf ya..tempat tidur saya berantakan he he..ini penampakan jaket BIGBANG milik saya



Bagian lengan terbuat dari bahan mirip kulit dengan emblem yang bisa dilepas, kecuali gambar tengkorak dan lambang huruf B yang menempel. Di lengan kiri nama anggota BIGBANG dibordir tepat di bawah emblem

Nama personil BIGBANG ditambah VIP (julukan penggemar BIGBANG) dibordir di sisi kiri lengan
Emblem bordir ditempel di bagian lengan yang bisa dilepas dan ditempel sesuai selera
Bagian belakang dengan tambahan aksesoris manis :D



Diapaki ngantor pun keren bukan?




Berminat? Silakan browse dan pilih sesuai dengan budget Anda. Mulai dari yang asli, KW super, KW 1 dan lainnya tersedia. Untuk official merchandise bisa dicek di :
http://www.ygeshop.com