Thursday, March 19, 2015

Ke Jakarta Aku Datang, Taeyang! (Bagian ketiga)

“Berbulan-bulan menanti, berhari-hari teracuni, berjam-jam duduk dan berdiri, dua jam menari, sebulan kemudian terdokumentasi.”

Hai, Anda berada di posting ketiga saya tentang konser Taeyang di Jakarta. Ini cerita saya dari Surabaya menuju ke Jakarta. Tepat sebelum konser Taeyang saya harus lembur dan benar-benar bekerja ekstra keras. Ada pekerjaan penting yang harus selesai sebelum hari Jumat. Konser di hari Sabtu dan di hari Kamis dari pagi sampai malam saya masih harus pergi ke sana kemari mengurus pekerjaan dan hal lain.

Oh ya ada yang saya lupa ceritakan, sekiranya di Jakarta saya akan bertemu teman baik saya. Saya sudah memberitahukan kepadanya tentang rencana kedatangan saya. Dan karena tidak ada kabar berita darinya menjelang konser saya memberanikan diri untuk bertanya kembali. Dulu dia dan pacarnya yang membantu saya di Jakarta ketika saya nonton pertandingan amal sepakbola tim Park Ji Sung dan Running Man melawan tim Indonesia all stars. Karena murid saya yang akan ikut tidak mungkin saya tinggalkan seorang diri ketika saya nonton konser jadi saya harus mencari “baby sitter” untuknya haha.

Baru saya tahu kemudian bahwa teman baik saya ini sedang ada masalah dengan pacarnya (sekarang mantan pacar). Dia patah hati. Waduh..”tepat sekali” momennya. Saya cemas dan sangat berharap paling tidak dia bisa meluangkan waktu untuk menemani mantan murid saya. Untungnya dia bersedia.

H-1 saya baru menyiapkan apa yang saya bawa. Saya hanya membawa tas jinjing dan tas kecil yang saya masukkan di dalamnya. Saya hanya akan membawa sling bag yang mini berisi crown stick dan beberapa hal kecil saja. Saya ingin jingkrak-jingkrak dengan bebas di konser. Tas jinjing akan dibawa Dewi, si mantan murid itu. Sekitar pukul 19:00 kami meninggalkan rumah dan bertaxi menuju stasiun Pasar Turi. Kereta akan berangkat pukul 20:45. Kami tiba pukul 19:40 dan masih punya banyak waktu. Jadi saya memutuskan untuk mengisi perut. Saya harus makan sebanyak mungkin karena keesokan harinya hal besar yang melelahkan menunggu.

Saya membawa banyak buah untuk bekal di kereta karena saya tidak suka roti dan saya makan mi instan sebelum kereta berangkat. Hebatnya kereta udah masuk di stasiun pukul 20:00 ketika saya melahap mi instan panas saya. Dengan sedikit tergopoh karena pikiran mulai kurang konsentrasi saking inginnya sampai, saya menghabiskan mi segera dan masuk stasiun. Setelah mencari gerbong, saya duduk manis dan Dewi mulai jeprat-jepret di dalam stasiun. Ini adalah perjalanan panjangnya dengan kereta api.

Saya dan Dewi (berjaket merah) di dalam KA Ekonomi AC Kertajaya

Kereta api ekonomi AC Kertajaya yang nyaman berjalan pasti sampai Stasiun Pasar Senen Jakarta dan berhenti banyak sekali di stasiun-stasiun. Padalah seingat saya pada perjalanan dengan kereta api yang sama arah sebaliknya kereta sangat jarang berhenti. Nah inilah perjalanan selama hampir 11 jam yang membuat saya duduk lama sekali.  Lamanya saya duduk ini akan diganjar habis dengan lama berdiri di konser J

Saya tiba di Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 07:45. Mengisi perut di warung sekitar Stasiun yang nasi dan harganya sangat amat mengecewakan. Tapi penjualnya ramah sekali.

Oh ya masalah lain yang saya punya selain jatuhnya Air Asia, teman baik saya yang patah hati, adalah banjir Jakarta. Saya sempat khawatir jalan menuju stadion akan terganggu. Cuaca juga mendung romantic di pagi hari. Wah… saya hanya bisa berharap dan berdoa semuanya lancar. Karena saya takut jalanan akan macet maka saya memutuskan untuk naik Bianglala AC 44 jurusan Ciledug – Blok M yang dulu juga saya naiki tapi dari arah Ciledug ke kota.

Pergi ke stadion Senayan dari Stasiun Pasar Senen mudah sekali. Tinggal keluar stasiun dan menunggu Bus AC ini datang. Saya sangat beruntung belum sampai 3 menit bus datang dan saya naik langsung ke bus setelah titip pesan pada kenek untuk diturunkan di Senayan. Tarifnya Cuma naik 500 rupiah dari 6 bulan yang lalu saya terakhir naik. Dari 7000 rupiah ke 7500 rupiah. Saya memantau GPS untuk tahu seberapa jauh saya akan turun. Kami melewati banyak tempat penting di kota. Sampai lewat Istana Negara dan juga sisi Monas. Dewi bisa puas melihat kiri-kanan walaupun jendela bus tertutup stiker besar. Sampai sekiranya mendekati Senayan sesuai GPS saya minta Dewi untuk berdiri dan kami berdua mendekati pintu keluar.

Nah ini masalahnya, kondektur bertanya sesuatu yang saya kurang dengar dengan jelas. Dewi mengiyakan, dia turun, saya ragu tapi tetap turun. Dan tahukah Anda kami turun di mana? Di Kampus UNIKA Atma Jaya. What??? Loh masih jauh. Oh my god. Dari peta GPS sih tampak dekat tapi setelah dilihat di sisi jalan raya dengan jembatan penyeberangan dan jembatan menuju halte tunggu busway yang malang melintang itu saya puyeng juga!

Tapi, ketika “tersesat” yang penting tenangkan diri dan berjalan saja. Saya berjalan sambal menengok haru smengambil arah mana. Yang jelas harus jalan lurus tapi ke cabang jalan seberang. Masalahnya terpisah gedung tinggi dan tidak mungkin diseberangi. Jadi setelah jalan sana sini, naik turun jembatan penyeberangan sambal bertanya, karena saya tidak melihat papan jalan ynag menunjukkan arah Senayan, kami sampai juga di Senayan. Kami berjalan kurang lebih 30 menit berpeluh dan saya sedikit mengomel tapi tak berdaya. Dewi juga merasa bersalah tapi tetap santai bahagia. Ah…pengalaman, jalan pagi di Jakarta.

Sampai di kompleks Senayan yang sama dengan yang saya kunjungi 6 bulan yang lalu saya bertanya di mana Tennis Indoor Senayan, jawaban Pak Satpamnya, “Wah jauh banget Mbak. Jalan lurus ke arah pintu keluar belok kanan lurus terus. Di pojokan hampir jalan habis nanti belok kanan masuk.” Baiklah, saya akan berjalan lagi di tempat yang “jauh banget” itu. Saya mengabaikan tukang ojek yang menawarkan jasa. Saya sudah pernah jalan 2,5 kali dari Taman Bungkul sampai Pelabuhan Kalimas Surabaya yang jaraknya kurang lebih 30 km itu jadi jarak yang bapak satpam bilang “jauh banget” itu pasti hanyalah jarak yang “masuk akal”. Dan…ya jauh juga ha ha. Kami berjalan sekitar 20 menit. Dewi ingin sekali berfoto-foto dan saya ingin segera sampai. Maaf Dewi, saya yang berkuasa ha ha. Akhirnya kami sampai juga.

Begitu saya melihat umbul-umbul a.k.a banner Taeyang RISE Solo Concert Jakarta 2015 langsung saya semangat. Oke..kita sudah sampai. Tennis Indoor belum terlihat. Masih terlihat parkiran mobil yang belum banyak. Di banner tertulis bahwa open gate jam 17:30 dan soundcheck pukul 15:30. Apa? Masih menunggu 6 jam lagi? Well… itu resikonya datang langsung dari stadion ha ha. Dewi sudah lemas tak bertenaga karena dia masih lapar, ingin melarikan diri menikmati keindahan Jakarta dan saya sibuk observasi keadaan sekitar.

Tennis Indoor Senayan itu, gedungnya, jelek. Tidak bagus. Oh saying sekali. Paling tidak warnanya lebih cerah dan terlihat seperti venue konser internasional lah. Saya melihat booth penjualan tiket. Saya menghampiri dan melihat sosok yang sepertinya saya kenal. Ya, ada Tike Priatnakusumah si selebriti itu yang juga membantu promotor. Sempat berniat ingin minta foto bareng tapi..ah sudahlah batal saja. Saya menukarkan bukti pembelian tiket plus surat kuasa plus KTP bos plus kartu kredit bos. Kemudian ditukar dengan tiket asli. Dan kemudian saya masih membeli lagi tiket fast track yang dijanjikan promotor akan bisa masuk lebih cpeat 30 menit. Harga tiketnya 300 ribu. Dengan harapan masuk lebih awal berarti pandangan lebih jelas, saya beli juga tiket fast track itu.
Fan yang datang saat itu tidak teralu banyak. Sebenarnya sampai siang hari sekitar pukul 2 siang tidak terlalu banyak fans yang datang. Pantas saja promotor mengeluh sepi. Saya kira akan membludak banjir penonton.



Tiket Konser
Ticket box


Saya duduk menunggu bersama Dewi di dekat kerumunan penjual. Banyak sekali souvenir yang ditawarkan. Menarik! Ingin beli tapi tahan dompet. Penjual di sebelah saya mengeluhkan betapa sepinya konser ini dibandingkan konser K-pop artis macam Super Junior dan EXO yang pernah datang dan dipenuhi anak-anak SMA ABG yang kabarnya lebih royal daripada penggemar Taeyang yang sudah dewasa dan tidak asal jajan ini he he. Ada juga cerita dari penjual yang menceritakan betapa terkejutnya dia karena di konser BIGBANG sebelumnya dia dikejar-kejar oleh pihak manajemen karena menjual merchandise KW alias tiruan. Rupanya di konser BIGBANG sebelumnya pihak manajemen BIGBANG bersama menjual merchandise asli dan si penjual dijebak oleh “bule Korea: yang tak lain dan tak bukan adalah dari pihak YG Entertainment – manajemen BIGBANG. Dia dikejar dan lari pontang-panting tapi berhasil lolos.



Dalam penantian mulainya konser menukarkan bukti donasi dengan kipas yang akan diangkat bersamaan di tengah konser itu. Saya cari panitia dan ketemu. Kipasnya ternyata benar-benar kipas kertas. Parahnya, dan kasiannya, kipas yang akan dibagikan pada penonton lain salah cetak. Kualitas kertasnya tidak bagus dan tipis. Panitia menjelaskan bahwa hanya separuh dari uang donasi yang digunakan. Sisa donasi digunakan untuk membeli souvenir untuk Taeyang. Menurut informasi, souvenir ini sudah dititipkan pada staf promotor dan semoga benar-benar sampai di tangan Taeyang. Jika dia menerimanya maka ada uang saya beberapa ribu di sana ha ha.


Bersama Dewi yang walaupun galau untuk urusan foto tetap eksis. Saya memegang hand fan kertas
dari kegiatan donasi.


Lama duduk berpanas ria sambal berusaha menghibur hati Dewi yang galau, akhirnya waktu sholat Dhuhur datang. Saya sholat dan kami beristirahat di dalam musholla yang Alhamdulillah dekat saja dari venue. Bersebelahan langsung. Saya melihat beberapa staf juga sholat, staf YG tidak ada yang muslim jadi tidak ada yang sholat, andai Taeyang sholat juga ha ha…harapan semu se-semu-semunya wkwkwkwkwk.
Mengisi perut dengan nasi goreng enak
porsi kecil, harga premium

Sekitar pukul 12:30 saya menghubungi teman saya dan dia menyanggupi akan mengantar Dewi jalan-jalan keliling Jakarta di sekitaran Monas tentunya karena tidak ada lagi si pacar dengan mobilnya yang sebelumnya bisa mengantarkan kami keliling-keliling. Ah untuk bantuannya ini saja saya sudah berterima kasih sebesar-besarnya. Karena teman saya masih harus bekerja sampai pukul 2 Dewi masih harus bersabar. Pukul 1 siang saya keluar dari musholla dan saya makan di warung tenda dekat ticket box. Saya harus makan, harus ada energi atau jika tidak saya pingsan.

Pukul 2 kurang Dewi pamit mengojek untuk bertemu teman saya dan saya melangkah masuk entrance gate. Dibandingkan acara Asia Dream Cup 2014 pemeriksaan tiket lebih baik. Tiket diperiksa dengan teliti dan barcode discan. Tapi…pengaturan barisan kacau balau. Harusnya pihak panitia sudah memilah penonton yang masuk ke dalam halaman venue. Banyak yang sudah mengantri dari pagi termasuk kawan yang saya temui di teras Tennis Indoor. Mereka sudah datang mulai jam 8 pagi. Duduk mengantri dan kemudian antrian buyar dan terjadi ketegangan yang sangat tegang sebelum kami masuk.

Jadi, seorang staf keamanan berbadan tinggi besar sebut saja Pak A, membawa megaphone dan berteriak-teriak yang tidak saya dengar. Fans menggerombol di dekat sisi masuk menjauh dari teras. Rupanya mereka adalah pemenang nonton soundcheck gratis. Saya dapat mendengar dari luar mereka teriak histeris dari dalam venue dan saya mendengar suara musik dan suara Taeyang! Masih belum percaya dia benar-benar datang.

Saya dan dua teman baru saya, bertemu dalam antrian menunggu konser dimulai

Setelah penonton soundcheck keluar lagi tidak lama ada kerumunan lagi. Ada 2 bule cewek Korea yang dikerumuni. Oh mereka ini adalah staf dari fan club Taeyang di Korea yang membagikan kipas dan pin. Fans mengantri? Oh hampir mustahil! Mereka dikerumuni dank arena tak berdaya akhirnya mereka tidak mau membagi dan meminta penonton mengantri. Mereka pindah tempat berdiri dan saya ikuti saja. Saya ikut mengantri dan..saya dapatkan kipas dan pin-nya. Langsung dari Korea. Hanya setelah beberapa orang sesudah saya, kipas dan pin habis. Oh beruntungnya saya.


Kipas tangan atau lebih tepatny aplakat plastik dari Fan Group Taeyang asli dari Korea loh.
Ini bagian depan dan belakang plakatnya


Masalah muncul setelahnya. Tepat ketika kami harusnya masuk setelah penonton soundcheck keluar. Saya tidak terlalu kecewa tidak nonton soundcheck karena di jadwal jarak antar asoundheck dan open gate hanya 1.5 jam jadi saya rasa soundcheck tidak akan lebih dari 30 menit. Dan benar saja kira-kira janya 20 menit penonton yang beruntung itu bisa nonton Taeyang check sound sebelum konser. Setelah mereka keluar penonton campur aduk lagi. Tidak ada pemisah barisan dan petunjuk di mana penonton harus mengantri. Harusnya panitia sudah membuat pembatas barisan untuk penonton berdasarkan kelasnya, terutama yang punya tiket fast track. Oleh panitia dijanjikan yang ounya tiket fast track bisa masuk 30 menit lebih awal. Nah tiket fast track ini dijual banyak sekali untuk semua kelas kecuali VIP yang bernomor. Saya tidak tahu pasti siapa yang dimasukkan terlebih dulu ke dalam venue oleh Pak A.

Pak A dengan megaphone yang suaranya tidak mega itu menyuruh kami berbaris sambal berteriak fast track festival fast track festival. Kami berbaris tabrak menabrak dan kemudiad dia bilang barisan dibagi dua. Kami membagi diri jadi 2 barisan kiri dan kanan. Kami berdiri lama sekali. Petugas menata barisan. Kelompok lain dari kelas lain juga dibariskan. Oh…bukankah lebih adil dan rapi jika batas barian sudah ada jadi mereka yang sudah antri dari pagi baik dengan atau tanpa tiket fast tracknya bisa duduk manis atau berdiri tenang mengantri. Amburadul kami jadinya.  
Petugas memeriksa bawaan kami karena makanan dan air minum tidak boleh dibawa masuk. Dan pemeriksaan dilakukan sekitar hampir 40 menit sebelum masuk dan saya serta penonton lain mulai haus. Saya rasa harusnya sebelum masuk baru dicek sehingga paling tidak kami bisa minum dan menghimpun energi.

Kekacauan ini belum dimulai karena tidak lama ketika mulai ada penonton yang dimasukkan ke dalam venue teriakan protes diteriakkan. Dari yang saya dengar Pak A memasukkan barisan penonton yang tadinya penonton soundcheck yang tidak punya tiket fast track. Entah bagaimana si mbak itu tahu tapi dia beserta penonton lain jauh di depan saya memaki-maki protes. Dibentak kembali oleh Pak A dan saling bentak dengan sengit terjadi. Intinya kami yang fast track festival ini berhak masuk duluan tapi mengapa kelas lain yang tidak fast track malah dimasukkan. Sampai gemetaran saya, antara ngeri dengar bentak-bentakan itu, lemas berdiri, dan deg-degan ingin masuk. 

Adu mulut ini berlangsung sekitar 10 menit disusul protes-protes selama kurang lebih 10 menit lagi jadi totalnya sekitar 20 menitan. Staf Taeynag dari YG Entertainment sampai keluar dan dengan muka santainya ikut nimbrung bercakap-cakap mendengar masalah. Saya tidak melihat dengan jelas tapi salut untuk si Mbak yang berteriak dan membentak balik Pak A yang tidak adil itu.

Parahnya Pak A kemudian mepersilakan barisan fast track festival barisan sisi kiri untuk masuk duluan, tentu saja saya dan lainnya di barisan sisi kanan protes. Dia membagi barisan yang awalnya satu baris jadi dua baris dan mengapa yang sisi kiri dimasukkan duluan. Oh Pak A ini super menyebalkan. Akhirnya 2 petugas polisi yang seragam dinasnya tidak sementereng Pak A dan kawannya datang. Ini baru adil. Dia mempersilakan 5 orang dari sisi kiri masuk disusul 5 orang dari sisi kanan begitu bergantian. Ah mengapa Pak A tidak berpikir dan hanya bisa berteriak memekakkan telinga. Sebal!

Ketika giliran saya, saya masuk melewati 1 pintu metal detector. 2 tiket tanpa diperiksa langsung disobek. Saya berlari da nada petugas tepat di pintu masuk venue. Kepulan asap putih dari pendingin udara menyeruak dan sudah banyak sekali orang di depan panggung. Saya berdiri di sisi kanan panggung. Sisi tengah sudah penuh dan saya hitung saya di baris ke empat dair depan. Ah lumayan piker saya. Lumayan atau tidak apapun yang terjadi ya harus dinikmati. Inilah konser. Jika tak duduk di kursi bernomor mungkin Anda akan di barisan depan atau di barisang belakang. Just enjoy… itu pesan Christian Sugiono untuk penonton konser. Well..jika tidak terjadi kehebohan barisan yang akan masuk venue sih saya masih enjoy. Tapi ketika sudah di depan panggung saya tidak lagi ingat apa yang terjadi sebelumnya.

Saya di dalam venue. Gambr blur karena saya sudah gemetaran gugup ha ha.
Barisan kursi kuning di belakang saya adalah kursi untuk penonton tribun

Tepat pilihan saya, sisi tribun VIP jauh di belakang. Panggungnya kecil saja macam panggung Pentas Seni sekolah tapi giant screen di depan serta di kanan dan kiri atas lumayan membantu. Cerita konser akan saya ceritakan di posting saya keempat. Perlu Anda tahu, hanya menuliskan kembali ingatan saya akan konser saja sudah membuat saya deg-degan lagi he he. Kegilaan ini…sungguh konyol ha ha. Lanjut baca di post ini ya.





Sebelum Berkonser (Bagian 2)

“Berbulan-bulan menanti, berhari-hari teracuni, berjam-jam duduk dan berdiri, dua jam menari, sebulan kemudian terdokumentasi.”

Kutipan ini saya pakai kembali di posting saya untuk mengingatkan pada Anda betapa kegilaan pada bintang idola itu seperti racun tapi manis sekali ha ha. Jadi bagian penantian dan keracunansudah Anda baca di bagian pertama. Sekarang saya akan menceritakan hal-hal yang saya lakukan sebelum konser.

Jauh sebelum tanggal konser saya sudah menyusun rencana perjalanan dengan sangat detil. Semuanya di kepala! Saya juga sudah menyebarkan berita rencana kepergian saya untuk mencari teman seperjalanan. Walaupun tidak ada teman saya sudah bertekad untuk berangkat sendiri. Tiket kereta dan pesawat sudah saya cek. Saya memutuskan untuk berangkat naik kereta untuk menghemat ongkos dan juga saya berniat pulang naik pesawat agar tidak terlalu capek di jalan. Menginap di mana? Menginap di bandara! Hemat! Ha ha.

Teman sudah saya dapat. Salah satu mantan siswa saya ingin jalan-jalan ke Jakarta. Dia bukan penggemar Korea jadi saya akan nonton konser sendiri. Tidak masalah. Setelah dia memberikan kepastian saya langsung membeli tiket kereta dan jarak seminggu sesudahnya saya membeli tiket pesawat. Saya membeli tiket Air Asia dan sekitar hampir 2 minggu sesudahnya muncul berita hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 rute Surabaya – Singapura. Saya mendapat kabar dari kakak saya via pesan singkat. Wel.. saya bohong jika saya bilang tidak khawatir. Saya sedikit deg-degan dan kemudian pasrah saja. Tidak semua pesawat atau lebih tepatnya tidak semua penerbangan bernasib sama dengan si QZ 8501 yang hilang dan kemudian diketahui jatuh itu. Masalahnya adalah peristiwa jatuhnya Air Asia diblow up dan diberitakan tak henti-hentinya dari pagi hingga paginya lagi. Selama berhari-hari, berminggu-minggu kemudian. Saya berdoa semoga perjalanan diberikan kelancaran, itu saja. Maut tak dapat ditolak.

Imbas dari jatuhnya QZ 8501 adalah harga tiket turun dari sekitar 380 ribu di website jadi sekitar 320 ribu sekitar 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan saya. Dan sekitar seminggu sebelum tanggal keberangkatan saya mendapat pesan singkat dari Air Asia dalam bahasa Inggris yang menginformasikan bahwa penerbangan saya pada pukul 05.30 ditiadakan dan dialihkan ke pukul 07.20. Ups…apakah itu akibat investigasi pemerintah tentang penerbangan-penerbangan yang menyalahi jadwal ijin terbang? Saya tidak tahu pasti yang jelas saya mengkonfirmasikan ulang pada pihak Air Asia via live chat yang sangat membantu. Saya cukup puas dengan respon cepat mereka walaupun via live chat. Mereka mengirimkan ulang tiket pesawat dengan jadwal baru, walaupun tiket yang lama masih bisa dipakai.

Pemberitahuan penghapusan penerbangan QZ7696 via sms dari pihak Air Asia

Selain tiket kereta dan pesawat tentunya hal yang tidak boleh dilewatkan adalah kostum! Baju untuk nonton konser. Para pedagang online dengan cermat dan pintarnya sudah memantau beberapa tweet para penggemar sehingga mereka menawarkan barang dagangannya. Jadilah saya membeli T-shirt dengan logo RISE album terbaru Taeyang di bagian dada depan seharga 90 ribu.

Saya berkaos RISE Taeyang, sayang kualitas kaos tidak setebal yang saya harapkan.

Selain kaos saya sebenarnya ingin punya crown stick BIGBANG yang jadi benda “wajib” untuk diayun-ayunkan sepanjang konser. Walaupun saya sempat berpikir ah..buat apa toh yang penting datang dan menikmati akhirnya saya beli juga he he. Pihak manajemen BIGBANG sangat pintar berbisnis! Crown stick pun ada generasinya bukan hanya smartphone. Yang saya punya generasi 2, versi lama, yang saya beli setelah tanpa sengaja membaca tweet salah seorang admin fan group YG Indonesia. Saya beli seharga 175 ribu beserta ongkos kirimnya pas 200 ribu. Jadi tiket kereta, tiket pesawat, kaos, dan crown stick sudah siap. Sebenarnya justru tiket konser yang belum saya punya ha ha. Yang sudah siap hanyalah bukti pembelian yang harus ditukar dengan tiket asli. Saya sempat melihat postingan para fans yang sudah membeli tiket dan memamerkannya di twitter. Ingin sekali memegang dan melihat wujud aslinya. Saya masih harus bersabar.

Hal lain yang saya lakukan sebelum konser adalah memantau tweet dari:
  1.  Promotor konser – memantau perubahan jadwal atau informasi lain.
  2.  Penjual tiket – sekiranya ada perubahan atau info lain juga.
  3.  Fan group dan saya mendapat informasi adanya proyek khusus. Mereka mengumpulkan donasi untuk membuat kipas tangan yang natinya akan diangkat bersamaan ketika salah satu lagu dinyanyikan di konser. Betapa kreatifnya! Donasi minimal sebesar 25.000 dan pendonasi akan mendapat satu kipas tangan. Saya mendaftar juga untuk berdonasi. Sebenarnya lagu yang dipilih bukan merupakan lagu favorit saya. Bahkan sebenarnya lagu ini yang paling tidak saya suka di album Taeyang, saya tidak hafal sedikitpun. Tapi demi kebersamaan dan sekali lagi saya ingin benar-benar total di konser ini, maka saya berdonasi dan mencoba mengingat-ingat yang mana lagunya Saya tidak ingin malu salah mengangkat kipas ha ha.

Kipas hasil donasi. Hasil jadi persis seperti ini. Sayang kurang sip kipasnya.Tapi saya salut dengan ide
panitia dari Bigbang Indonesia


Dari mengikuti tweets ini saya membaca informasi salah satu fan group Taeyang dari Korea akan datang dan membagikan pin serta kipas tangan gratis untuk para fans. Tentu saja jumlahnya terbatas. Jadi saya selalu memantau informasi tentang ini. Saya penasaran apa yang akan dibagikan he he.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Mari menuju Jakarta. Lanjut ke posting ini ya.

Deg-degan Taeyang (Bagian 1)

“Berbulan-bulan menanti, berhari-hari teracuni, berjam-jam duduk dan berdiri, dua jam menari, sebulan kemudian terdokumentasi.”

Ijinkan saya membuat kutipan untuk mengawali tulisan saya kali ini. Khusus penggemar K-pop ini mungkin mneraik, buat Anda penggemar K-pop, baca sajalah. Toh semua yang ada di blog ini kan tentang saya dan semua yang saya alami. Jika Anda sudah berada di halaman ini, buat apa mundur, silakan dinikmati J
Usia saya memang tidak lagi remaja, tapi kegemaran saya akan idol group BIGBANG sepertinya tidak akan terobati. Saya tidak akan membahas panjang lebar mengapa saya menyukai grup tersebut. Kali ini saya hanya berbagi cerita tentang pengalaman pertama saya nonton konser solo anggota BIGBANG yang bernama Taeyang.

Tahun lalu sekitar bulan Juni 2014 Taeyang, personil BIGBANG yang bersuara emas ini meluncurkan album solo keduanya yang berjudul RISE. Nama panggung Taeyang sendiri dalam bahasa Korea artinya matahari. 4 tahun setelah meluncurkan album pertamanya dia benar-benar terbit dan bersinar, sesuai logo album dan nama albumnya RISE. Saya suka hampir semua lagu di album itu. Sebesar apapun rasa cinta saya padanya toh tetap saja saya tidak mampu menghafalkan lirik 1 lagu secara utuh, apalagi 1 album ha ha.

Saya mengikuti berita tentang konsernya di ASIA yang sebenarnya cuma dilangsungkan di Seoul, Korea Negara asalnya dan jika tidak salah di 4 kota Jepang lainnya. Ini to yang dinamakan Asia? Ha ha. Ketika iklan dan promosi tentang konser ASIA-nya meledak saya sudah sempat cemas, apakah saya punya cukup uang dan waktu untuk menabung untuk bisa pergi ke konser tersebut. Beruntung konser hanya terselenggara di “ASIA”. Sekitar 2 bulan setelahnya promosi, kabar akan konser INTERNASIONAL alias WORLD TOUR mulai disebarkan oleh pihak manajemen. Di saat itulah saya mulai panik. Setengah berharap Indonesia akan masuk daftar dan setengah berharap konser tidak dilangsungkan dalam waktu dekat. Ketika saya tahu Indonesia masuk dalam daftar saya langsung senang plus tidak bisa tidur. Perlu Anda tahu, berdasarkan tes kepribadian saya adalah tipe mediator (INFP) yang imajinatif dan lebih sibuk memikirkan hal-hal yang sifatnya imajiner dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Jadi bukannya saya sibuk memikirkan mengatur jadwal kerja, menghitung keuangan dengan cermat, dan lainnya saya malah mulai membayangkan perjalanan saya kira-kira seperti apa, bentuk panggungnya seperti apa dll.

Pada aplikasi jadwal konser yang kemudian terupload di Facebook resmi Taeyang, nama Indonesia tercantum setelah Singapura tanpa tanggal, waktu, dan tempat konser. Saya mulai membuat prediksi kapan konser akan dilaksanakan dengan melihat pola waktu konser pada jadwal di Negara lain yang sudah ada. Saya lihat konser dilaksanakan di hari Sabtu atau Minggu. Maka saya memprediksi konser akan berlangsung di bulan Februari. Sambil tetap berharap konser dilaksanakan di bulan Maret setelah gajian atau di akhir Maret yang tampaknya tidak mungkin J

jadwal konser di aplikasi FB Taeyang

Hari demi hari saya ikuti informasinya, sampai di bulan November muncul jadwal konser di China yang jatuh pada bulan Januari. Melihat daftar jumlah Negara dan waktu konser saya langsung mengira bahwa konser pasti akan dilaksanakan pada hari Sabtu bertepatan dengan Valentine’s Day, dan tidak mungkin mundur karena pada tanggal 19 Februari adalah Hari Raya Imlek yang juga dirayakan oleh orang Korea. Jadi prediksi saya adalah pada tanggal 14 Februari. Dengan dugaan tak berdasar ini saya makin mantab untuk pergi ke konser dan mudah mengkalkulasi dana yang harus saya kumpulkan. Niat saya Cuma 1, nonton di kelas VIP.

Saya mulai rajin mengikuti aneka forum fan dan event organizer yang sekiranya ditunjuk menjadi partner untuk konser Taeyang. Dan akhirnya setelah berbulan-bulan menguntit semua media social dan menunggu promosi konser datang. Jadwal muncul dan EO yang sudah ditunjuk sebagai partner mulai memberikan aba-aba pada semua penggemar di social media untuk bersiap-siap menghadapi konser. Sesuai waktu yang dijanjikan pihak EO, Synergism Entertainment membuat posting harga tiket dan lokasi/venue konser. Lokasinya di Tennis Indoor Senayan dan harga tiketnya mencengangkan!

Tiket K-pop yang saya tahu bisanya berkisar antara 500,000 untuk kelas paling murah dan 2 juta untuk VIP. Kali ini tiket paling murah dijual seharga 1,250,000 untuk duduk di kelas tribun di sisi kiri dan kanan panggung. 1,750,000 untuk kelas festival, berdiri di depan panggung, dan kelas VIP seharga 2,5 juta yang bisa duduk di belakang kelas festival. Wow! Saya kaget dengan harganya. 2,5 juta untuk VIP, oh tidak. Budget saya untuk konser ini tidak melebihi 2 juta rupiah. Saya masih harus memperhitungkan biaya akomodasi ke Jakarta juga. Hal ini membuat saya gugup dan kepala mulai berhitung matematis yang hasilnya tetap saja membuat pening he he.

Seating plan yang beda jauh dengan kenyataannya, Karena penonton tidak banyak maka
panggung tidak seperti yang digambarkan di info iklan ini.

Saya sempat berpikir untuk nekad membeli tiket untuk kelas VIP. Tidak erbayang di usia saya yang 30 tahun saya harus berdiri selama 2 jam berhimpitan dengan gadis-gadis muda lainnya. Oh..ya saya tidak setua itu he he. Setelah saya melihat venue konser dari denahnya dan membaca beberapa tuisan di blog tentang konser lain yang diadakan di Tennis Indoor Senayan saya berkesimpulan bahwa nonton di VIP terlalu jauh dari panggung. Saya juga sempat membaca blog Christian Sugiono, suami Titi Kamal yang menyarankan untuk nonton di kelas festival. Bisa bebas berjoget dan mengekspresikan diri walaupun kemungkinan kualitas suara tidak terlalu bagus karena suara yang didengar belum “ter-mixing” dengan baik karena suara langsung dari band. Selain itu resiko tidak bisa melihat penyanyi dengan jelas juga pasti ada. Saya bisa membayangkan konser Taeyang dengan penari latarnya pasti tidak bisa tampak sempurna, beda dengan mereka yang duduk di VIP. Tapi ah..saya ingin benar-benar larut dalam suasana konser bukan sekedar duduk dan menikmati konser. Di konser ini saya harus “all out”, jadilah saya berusaha mengumpulkan uang untuk membeli tiket konser.

Rejeki memang tidak lari ke mana-mana, tapi kalo bukan rejeki juga pasti tidak akan sampai di tangan kita. Saya berencana meminjam kartu kredit atasan saya jadi saya bisa lebih leluasa mengatur keuangan saya dan tidak akan tersedot hanya untuk konser ini. Kabar baiknya adalah atasan saya bilang bahwa saya tidak perlu membayar konser ini, ya tiket konser ini gratis untuk saya dari si bos. Ini bonus saya kata beliau. Alhamdulillah! Hore!!! Dari hari H semenjak penjualan tiket dikeluarkan saya langsung berburu dengan data kartu kredit dari atasan. Website oenjualan online macet, traffic sangat tinggi. Wuih…siapa bilang harga tiket yang saya sebut itu terlalu tinggi? Buktinya ratusan orang menyerbu. Toh ada masalah dengan kartu kredit atasan saya sehingga sampai kurang lebih H+4 dari penjualan pertama saya baru berhasil membelinya. Selama proses ini saya tdak bisa tidur tenang. Saya takut kehabisan tiket ha ha ha. Si bos sih dengan santainya berkata dengan harga setinggi itu tidak mungkin sold out cepat. Kecuali kelas yang paling murah. Ah tetap saja saya deg-degan tidak karuan.

Saya dan bukti pembelian tiket :)

Sampai ketika bukti pembelian, yang kemudian harus ditukar dengan tiket asli di hari H, ada di tangan saya, masih juga saya dihantui Taeyang. Ha ha saya mimpi 2 kali. Mimpinya terlalu nyata dan menegangkan. Mimpi pertama adalah saya datang ke acara. Venue acara kecil, tidak terlalu besar. Parahnya saya tdiak bisa masuk karena saya tidak membawa kartu kredit atasan saya! Sekedar diketahui untuk pembelian online dengan kartu kredit harus membawa surat kuasa, kartu kredit asli si pemilik, dan juga KTP asli pemilik. Nah di mimpi saya kartu kredit dan KTP tidak saya bawa. Saya melongo dan nelangsa di mimpi saya. Sedih sudah sampai di Jakarta tapi tidak membawa persyaratan itu. Di mimpi saya, petugas tidka bisa membantu. Pokoknya saya super sedih dan panik. Sial! Ketika saya bangun, saya sedikit ketakutan. Oh semoga ini bukan pertanda jelek. Kenyataannya? Saya hampir lupa membawa KTP dan kartu kredit itu! Untung diingatkan atasan saya. Saya mengambilnya di siang hari sebelum keberangkatan saya. Oh Tuhan..betapa… ha ha

Mimpi kedua akan saya ceritakan di posting saya lainnya karena yang ini berkaitan dengan kenyataan. Rejeki yang tidak sampai di tangan saya adalah, saya tidak mendapat undian untuk memenangkanacara Meet and Greet alias ketemu Taeyang dan juga acara soundcheck alias melihat gladi bersih tepat sebelum acara dimulai. Semua pembeli diundi untuk mendapat kesempatan ini tapi oleh pihak promotor porsi tambahan untuk pemenang undian ditambah mendekati hari H ketika penjualan tiket masih jauh dari yang diharapkan. Saya sempat membaca keluhan promotor di Twitter tentang sepinya penjualan. Saya makin panik. Saya takut konser dibatalkan seperti konser K-pop lain yang dijadwalkan akan dilaksanakan bulan Desember tahun 2014. Masalahnya saya sudah membeli tiket pesawat dan tiket kereta api. Dalam semua kecemasan dan doa-doa saya he he, untunglah konser tetap berjalan sesuai dengan yang dijadwalkan.

Jadi selama sebulan lebih menunggu konser Taeyang yang jatu tepat di hari kasih sayangtidur saya tidak tenang, pekerjaan terganggu karena pikiran saya sudah melayang-layang kesana kemari, dan di waktu luang saya lamunan saya menuju ke konser dan konser. Seperti biasa mendekati konser saya malah tidur nyenyak dan pikiran saya secara otomatis berhenti memikirkan Taeyang. Itu karena saya sudah capek menunggu dan menginginkan konser ha ha. Persiapan konser akan saya tulis di posting ini.







Monday, March 16, 2015

Bakso Sayang Bu Etik

Tulisan ini wajib saya buat karena besar kemungkinan, bahkan 88% yakin bahwa setelah bulan Juli tahun ini, Bakso Ruwet Bakso Sayang Bu Etik tinggal kenangan. Panjang ya namanya? Ya, karena 3 nama itu memang secara resmi terpajang di banner warung bakso. BAKSO RUWET, BAKSO SAYANG, BU ETIK

Ya, ini adalah tulisan tentang bakso. Bakso terenak yang pernah saya makan di Surabaya ha ha. Saya sudah mencoba 3 bakso yang terkenal maha dahsyat dan legendaris seperti :
  • Bakso Rindu Malam yang rasanya menurut saya biasa saja tapi ramai luar biasa.
  • Bakso  yang menurut mantan dosen saya Romo Alex adalah yang terenak di Surabaya tapi buat saya juga biasa saja.
  • Bakso Pratama yang mengular dan saya sangat kecewa dengan rasa kuahnya, isinya juga biasa saja.

Buat saya yang paling enak dan tidak terkalahkan adalah Bakso Sayang Bu Etik.
Dahulu kala, ketika saya masih kuliah sekitar semester 3 atau 4, seorang teman saya yang SMA-nya bersekolah di SMAN 5 Surabaya mengenalkan saya pada Bakso Sayang Bu Etik. Dulu warung baksonya hanya warung PKL berterpal dengan kurang lebih 3 meja yang selalu penuh sesak. Lokasinya tepat di seberang jalan depan SMAN 1,  Jalan Wijaya Kusuma dekat perempatan lampu merah yang sekarang ada restoran A&W nya itu. Terakhir kali saya beli harga seporsi bakso kira-kira 9000 rupiah sekitar tahun 2002/2003.

Apa istimewanya bakso ini? Rasa bola dagingnya enak sekali, terasa dagingnya bukan campurannya, kuahnya sangat gurih dan tetap bening, dan Anda bisa pilih pendampingnya antara paru, usus, atau kikil rebus yang semuanya empuk dan dipotong besar-besar. Kuahnya diberi banyak bawang goreng dan banyak daun bawang. Percayalah, dengan daun bawang yang diberikan banyak, bukan cuma sejumput dan dipadukan dengan limpahan bawang goreng membuat kuah Bakso Sayang Bu Etik sedap gurih tak terkira.

Warung Bakso
Saya lupa tepatnya kapan, mungkin sekitar tahun 2005-2006 Pemkot Surabaya getol membersihkan trotoar dari PKL. Walhasil warung Bakso Sayang Bu Etik yang dulu hanya buka Senin-Jumat di hari kerja orang kantor saja, (seingat saya Sabtu tutup)  juga ikut tergusur. Saya berusaha berputar di sekitar kawasan SMA kompleks dan tidak saya temukan juga. Warung mi ayam – Mi Pitik yang juga jadi favorit saya, yang dulu bersebelahan dengan Bakso Sayang Bu Etik berhasi saya temukan beberapa tahun yang lalu tapi tidak demikian dengan Bakso Sayang Bu Etik. Entah…mungkin saya yang kurang cermat mencari atau karena saya pindah di daerah Surabaya Barat yang membuat saya terbatas waktu mencari jejak Bakso Sayang Bu Etik.

Nasib memang mempertemukan saya dengan Bakso Sayang Bu Etik. Suatu hari ketika saya dan atasan sedang ada keperluan, beliau ingin mengajak saya makan siang. Kami lewat di Jalan Wali Kota Mustajab. Dari arah depan Gedung Kotamadya Surabaya tepat sebelum Mall Grand City kami berbelok ke kiri ke arah Jl. Wijaya Kusuma. Tidak jauh setelah berbelok, tepat di depan café wafel Glamrock, sekitar 50 m, saat itulah saya melihat di kanan jalan warung Bakso Sayang Bu Etik. Khas tempo dulu. Berwarna oranye sponsor dari produk the. Saya berseru penuh semangat dan atasan langsung menangkap keinginan saya makan di warung Bakso Sayang Bu Etik.

Kami turun dan memesan 2 porsi bakso. Saya bakso dengan paru, dan atasan bakso dengan kikil. Sekitar 5 menit kemudian datanglah  bakso saya. Semangkuk penuh berisi bakso halus dan kasar plus potongan jumbo paru sapi rebus yang empuk ditaburi irisan daun bawang dan bawang goreng. Saya makan sambil tersenyum bahagia. Seperti menemukan cinta saya yang hilang entah di mana. Kuahnya, bola dagingnya, interior warungnya yang sederhana, gerobak baksonya, sampai sapaan penjualnya yang selalu memanggil “sayang” pada pengunjung wanitanya persis sama dengan lebih dari 10 tahun yang lalu. Yang berbeda Cuma penjualnya. Si mbak yang menjual adalah anak dari Bu Etik. Saya tidak tahu Bu Etik di mana. Mungkin di belakang layar.

Warungnya lebih besar tentu saja dibandingkan dengan warung tenda karena bangunannya permanen. Memakai bagian depan rumah. Hanya ada sekitar 3 meja panjang dengan 2 kursi panjang di amsing-masing mejanya. Bangunannya tidak dicat terang, kusam saja. Papan nama besar persis sama dengan yang dipajang ketiak pertama kali saya jadi pembeli Bakso Sayang Bu Etik lebih dari 10 tahun yang lalu, bedanya papan ini sudah menguning. Pembelinya tidak banyak. Tidak penuh sesak seperti dulu di warung yang sempit. Cukup ramai ada sekitar 6 orang yang sedang makan dan banyak orang bergantian datang membeli bakso untuk dibungkus. Satu gerobak bakso yang berisi penuh bola daging, kuah, jerohan sapi, dan gorengan ini ludes dalam waktu sekitar 8-9 jam sejak buka setiap harinya.

Bakso plus paru rebus



Puas sekali makan bakso berporsi besar itu. Mangkuk penuh terisi dan perut kenyang. Atasan saya yang baru makan pertama kali langsung puas, kecuali dengan harganya ha ha. 2 porsi bakso campur (paru dan kikil) plus 2 gelas es jeruk manis dihargai 56.000. Saya kurang tahu jelas berapa harga seporsinya yang jelas ketika memesan 4 bakso plus gorengan (siomay gulung goreng) – tanpa jerohan paru dkk dengan 1 the botol dan 1 air mineral  dihargai 103.000. Mahal tapi setimpal.

Ketika saya dan atasan akan meninggalkan tempat saya berkata pada penjualnya bahwa saya sudah lama mencari bakso tersebut. Saya bertanya jam berapa dia buka dan apakah buka di hari Minggu. Saat itulah si penjual menginformasikan hal yang tidak pernah ingin saya dengar. Dia berkata bahwa:
  •  Buka setiap hari sekitar jam 8 pagi.
  •  Hari Minggu  tetap buka (khusus Minggu warung malah buka jam 7 pagi)
  • WARUNG HANYA AKAN BUKA SAMPAI BULAN JULI 2015              .

Hah? Setengah tidak percaya rasanya. Setelah bertemu saya harus berpisah lagi dengan Bakso Sayang Bu Etik. Penjual berkata bahwa dia akan pindah ke Sidoarjo, ke kampung asanya. Warung tutup karena kontrak tidak diperpanjang oleh pemilik rumah. Rumah penjual berada tepat di belakang warung sehingga dia akan pindah sekeluarga. Ketika saya tanyakan kemungkinan dia akan buka di tempat lain, di dengan tegas menjawab tidak akan buka di tempat lain. Misteri besar…dengan penjualannya yang fantastis, sejarah berdagangnya, barisan penggemar setianya, mengapa bakso ini harus pindah. Oh mengapa?

Misi saya kemudian adalah makan speuasnya Bakso Sayang Bu Etik sebelum bakso ini benar-benar “hilang”. Saya melaksanakan misi saya tersbeut. Sudah 3 bulan saya rutin membeli di warung Bakso Sayang Bu Etik dari kunjungan terakhir saya dengan atasan. Karena jaraknya dan waktu luang saya maka sebulan hanya bisa saya kunjungi sekali. Bulan ini akan saya kunjungi 2x, itu rencana saya.

Jika Anda penasaran, menganggap tulisan saya berlebihan, merasa bakso favorit Anda lebih enak, ayo coba kunjungi Bakso Sayang Bu Etik. Sebelum bakso ini tutup usaha, Anda punya waktu sampai bulan Juli 2015. Ha ha…ada deadline-nya loh. Anda boleh berpendapat bahawa rasa bakso ini biasa saja. Beda orang beda selera. Tapi dari semua orang yang saya kenal dan saya ajak ke bakso ini, semua langsung suka hanya pada sendokan kuah pertama sebelum mereka menyentuh bola dagingnya. Sebelum Bakso Sayang Bu Etik pergi untuk selamanya, mari dicoba J





Wednesday, December 24, 2014

Ke Pasar Turi Naik Apa?

Saya adalah pecinta angkutan umum. Mungkin bagi Anda yang baru pertama kali ke Surabaya atau tinggal di Surabaya tapi tidak pernah menggunakan angkutan umum dan kepept harus naik angkot maka ini sedikit info dari pengalaman saya tentang bagaimana mencapai daerah Pasar Turi.

Jadi Pasar Turi itu sebenarnya benar-benar pasar. Pusat perbelanjaan legendaris yang entah sudah berapa kali terbakar dan kebakaran hebat terakhir kali terjadi ketika saya masih kuliah. Sampai sekarang pembangunan belum selesai, jadi mungkin sudah hampir 10 tahun belum kelar. Nah Anda perlu tahu ada yang namanya STASIUN Pasar Turi; PASAR TURI; dan PGS (Pusat Grosir Surabaya) yang satu sama lain jaraknya tidak jauh terpisah. Pasar Turi berhadapan dengan PGS. Stasiun Pasar Turi dari PGS tinggal jalan kaki kurang lebih 8 menit saja. Naik apa?

  1. Dari Terminal Bungurasih ke Stasiun Pasar Turi - PGS - Pasar Turi naik bus kota jurusan Demak / Kupang. Ketika Anda sudah melihat mall besar di kiri jalan bertuliskan BG Junction artinya anda harus bersiap-siap turun. Dari terminal ke Stasiun / PGS / Ps. Turi memakan waktu kurang lebih 45 menit. Bus kota melewati pusat kota.
  2. Dari Terminal Bungurasih bisa juga naik bus kota jurusan JMP. Bus ini lewat jalan tol jadi dijaminn cepat, secepat kilat sampai-sampai sopirnya malas mengerem..jadi waspadalah he he. Anda langsung turun di Pasar Turi di kiri jalan. Patokannya, sesudah bus keluar dari jalan tol 5 menit kemudian, bahkan kurang Anda sudah sampai di Pasar Turi / PGS. Kenek biasanya akan berteriak Loak..Loak. Harap bersiap karena tak lama Anda harus bersiap turun. Jika mau ke stasiun maka Anda turun di Pasar Turi (seberang PGS) ->  menyeberang -> jalan lurus saja melewati banyak toko-toko yang menjual kayu. Stasiun di sebelah kanan Anda tidak jauh dari perempatan tempat Anda menyeberang.
  3. Dari Terminal Joyoboyo tinggal naik angkot (bemo) lyn D warna hijau muda dan langsung turun tepat di depan stasiun. Ketika Anda sudah masuk ke jalan raya yang kiri kanannnya ada banyak penjual kayu dan buku bekas maka artinya Anda harus bersiap turun.
  4. Dari Stasiun Wonokromo bisa naik angkot lyn P ke Terminal Joyoboyo dulu (No 3)
  5. Dari RSUD Dr. Soetomo / Kampus B Unair Anda bisa naik angkot lyn C. Ingat angkotnya harus lyn C yang bertuliskan BLAURAN. Setelah angkot berhenti (selalu ngetem sejenak) di depan mall BG Junction artinya Anda sudah dekat dengan tujuan. 
  6. Dari Tunjungan Plaza (TP) naik angkot / bus kota ke Blauran. Turun pas di depan mall BG Junction. Dari mall tinggal naik bemo C yang ngetem di sana.
  7. Dari Gresik naik angkot jurusan PGS / Pasar Turi. Setelah itu menyeberang -> jalan lurus saja melewati banyak toko-toko yang menjual kayu. Stasiun di sebelah kanan Anda tidak jauh dari perempatan tempat Anda menyeberang.
  8. Dari Terminal Bratang bisa langsung naik angkot / bemo lyn Q turun langsung di depan stasiun & PGS dan menyeberang untuk ke Psar Turi.

Demikian rute angkot yang saya ingat. Jika ada pertanyaan tinggalkan pesan semoga saya bisa bantu :) Selamat berangkot ria


  

Cetak Sendiri Tiketmu

Besok sudah Natal, liburan sekolah dimulai, dan alhamdulillah ada libur kerja. Walaupun tidka ada hubungan antara libur-libur akhir tahun dengan cerita saya kali ini tapi ini mungkin bisa jadi info bagi Anda pengguna kereta api.

Tentunya sekarang hampir semua orang tahu bahwa tiket kereta api bisa dibeli di beberapa merchant yang bekerja sama dengan PT.KAI. Yang namanya Alfamart dan Indomaret pasti banyak bertebaran di sekitar kita. Mereka adalah beberapa merchant yang bekerja sama dengan PT.KAI dan memudahkan kita dalam membeli tiket kereta api.

Saya akan pergi ke Jakarta pada tanggal 13 Februari tahun depan. Setelah saya cek di website KAI seperti yang saya duga sudah tidak ada lagi subsidi dari pemerintah. Jadi KA ekonomi tarifnya tidak lagi Rp. 50,000 melainkan memakai tarif bawah dan tarif atas. Karena saya naik dari Stasiun Pasar Turi tujuan Stasiun Pasar Senen maka saya akan naik KA. Kertajaya. Persis sama seperti yang saya naiki 6 bulan yang lalu sepulang dari Jakarta dari stasiun Pasar Senen. Sama seperti biasanya saya memesan (book dibaca buk ya bukan bok; jadi istilah booking bacanya buking bukan boking) tiket KA lewat Indomaret. Saya beli semalam dengan harga yang paling murah yaitu Rp. 120,000. Bodohnya saya tidak memesan lewat situs tiket.com jadi saya tidak bisa menentukan tempat duduk mengingat saya pergi dengan salah satu teman saya. Nah...bagaimana mendapat kursi yang tepat bisa Anda baca di postingan ini.

Enaknya membeli di Indomaret adalah saya dapat diskon Channel. Well...mungkin bukan cuma di Indomaret di channel lainnya sepertinya ada diskon juga, mungkin. Untuk 2 tiket seharusnya saya membayar Rp. 240.000 tapi saya hanya perlu membayar Rp. 225.000. Saya dapat diskon nsebesar Rp. 15.000. Eh tapi tentu saja masih ada biaya administrasi sebesar Rp. 7500 jadi ujung-ujungnya potongan harga tinggal Rp. 7500. Lumayan lah.

Ingat, ini bukan tiket kereta, masih bukti booking kereta. Jadi saya harus menukarkan dengan tiket asli. Nah struk bisa ditukar dengan tiket asli di stasiun online paling lambat 1 jam dari keberangkatan. Stasiun online adalah stasiun yang melayani pembelian online. Saya rasa di Surabaya Stasiun besar macam Stasiun Pasar Turi dan Stasiun Gubeng melayaninya; tetapi tidak di Stasiun Wonokromo yang notabene stasiun kecil. Bagi Anda yang tinggal jauh dari stasiun cukup datang 1 jam lebih awal untuk mendapatkan tiket cetak. Mengapa 1 jam lebih awal? Karena sudah berlaku sistem boarding seperti pesawat. Jumlah penumpang sesuai dengan yang terdaftar dan nama penumpang sama persis dengan kartu identitas yang digunakan.

Saya berencana datang kurang dari 1 jam keberangkatan, karenanya saya menukarkan tiket kereta lebih awal. Karena hari ini saya juga ada keperluan di PGS - salah satu pusat perbelanjaan dekat dengan stasiun maka saya mampir ke stasiun dulu. Saya masih terheran-heran dengan suasana stasiun yang berbeda. Terakhir saya ke Stasiun Pasar Turi adalah ketika saya datang dari Jakarta, pagi dni hari sekitar pukul 1:30. Karena gelap ya tidak ada yang bisa saya lihat. Tetapi suasana pagi / siang hari sering saya lihat dari kejauhan, dari jalan raya. Saya pikir biasa saja. Saya salah, tadi pagi ketika saya datang Stasiun terlihat bersih dan rapi. Dari jauh dua bangunan besar utama bertuliskan KEBERANGKATAN terlihat sepi dan rapi dan pagarnya tertutup. Stasiun sangat bersih dan tidak banyak orang lalu-lalang. Tidak ada pengasong dan orang-orang yang tidak berkepentingan lainnya. Stasiun benar-benar berubah. Bersih, rapi, nyaman.

Awalnya saya bingung di mana harus menukarkan tiket karena sebelumnya saya menukarkan tiket dengan mengantri di salah satu ruangan Tapi sekarang, dari kejauhan terlihat 2 monitor bertuliskan CETAK TIKET. Letaknya persis di sebelah 3 loket penjualan tiket. Saya bertanya pada petugas di mana saya menukarkan tiket booking saya dan dengan ramah, sigap, dan sabar saya diantarkan ke salah satu monitor. Rupanya ini sistem cetak mandiri. Dengan monitor layar sentuh besar saya tinggal memasukkan kode booking dan kemudian nomor booking muncul. Setelah itu tinggal sentuh ikon PRINT dan kemudian tiket tercetak otomatis di printer di sebelah layar. Wow!!!

Akhirnya...teknologi dan modernitas hadir di stasiun. Hore!!!! Walaupun dibantu petugas untuk menyobek tiket tapi saya senang bisa sentuh sana sentuh sini di layar itu. He he... Dan tercetaklah 2 tiket tersebut. Sialnya saya mendapat tempat duduk untuk 3 orang. Artinya saya harus duduk bersebelahan dengan orang lain. Tidaaaaak :( Apes sekali. Jadi bagi Anda yang ingin berdua-duaan saja pastikan membeli tiket di merchant yang menjual tiket KA di mana Anda bisa memilih sendiri tempat duduk Anda. Panduannya bisa dilihat di sini

Saya semakin tidak sabar menanti hari keberangkatan. Siapa tahu pengalaman naik KA Ekonomi bakal berbeda karena pelayanan dan kenyamanan yang lebih baik lagi, Semoga :)


Thursday, October 30, 2014

Menara Suar Sembilangan, Gagah Berdiri dalam Pengabaian

Perjalanan ke Madura saya dua minggu yang lalu membawa saya ke Menara Suar Sembilangan. Letaknya di  Desa Sembilangan, bangkalan Madura. Dari arah kota Bangkalan kami menuju arah Socah, melewati Makam Kyai terkemuka Syaichonah Cholil. Lurus terus sampai akhirnya terlihat menara mercu suar yang menjulang tinggi.

Menara ini didirikan oleh Pemerintah Belanda di tahun 1879. Sekarang dikelola oleh Badan Navigasi Dirjen Perhubungan. Seperti umumnya tempat-tempat bersejarah lainnya di tanah air tercinta, tempat ini tidak terurus dengan baik. Di musim kemarau air laut surut dan hawa panas langsung menyambut saya dan teman-teman. DI depan menara da tembok nama. Masuk ke halaman menara suar ada satu pohon besar dan di kiri dan kanan ada bangunan nampak seperti rumah dinas. Mungkin milik Departemen Perhubungan.

Saya kurang tahu apakah sampai sekarang menara masih difungsikan atau tidak. Tidak ada keterangan dan juga loket karcis. Tapi ketika Anda ingin naik ke puncak menara maka ada penduduk, usia sekitar 27 tahuna yang akan memungut biaya sebesar Rp. 4000 tanpa karcis. Jika hanya ingin masuk ke dalam dan mendingak ke atas Anda tidak perlu bayar. Tapi tentunya penasaran ya?



Bau pesing khas mamalia kaki dua akan menyambut Anda di pintu masuk. Sampai lantai 2 seingat saya bau-bauan aneh ini masih ada. Menara suar berlantai 16 ini masing-masing beranak tangga 15. Jadi..ya ada sekitar 240 anak tangga yang harus didaki sampai ke puncak menara. Tangganya kuat dan kokoh kecuali di lantai pertama dan lantai 13 seingat saya. Tangganya ringkih dan kecil di lantai 13 ini. Semua bangunan terbuat dari baja tebal bercat putih yang bagian dalamnya ternoda oleh coretan para vandalist. Jendela besar terbuka lebar membawa masuk angin kencang dari laut di setiap lantainya.

Alsi vandalisme para vandalist. Semoga yang bersangkutan
mendapat balasan dari Tuhan YME atas perilakunya yang tidak
bertanggung jawab


Jendela besar di tiap lantai menara. Sekelilingnya adalah
hamparan daratan kering karena laut surut


Tentunya luas lantai akan mengecil semakin ke puncak. Sampai di puncak Anda bisa menyaksikan lautan terhampar di depan. Ada panel surya di atas dan bagian pilarnya antik dan cantik, tapi sekelilingnya banyak coretan.

Dua teman saya berfoto di puncak menara


Bagi saya menara suar ini indah dan kokoh, tapi bagian dalamnya kotor tak terawat. Buat pecinta sejarah tentunya kunjungan ke menara ini cukup menarik. tetapi untuk Anda yang merindukan keindahan sebuah onjek wisata, saya tidak menyarankan tempat ini. Mungkin dengan perhatian yang lebih dari pihak berwenang, menara ini bisa diperbaiki lebih cantik, tamannya tidak dibiarkan gersang, dan tersedia brosur informasi tentang sejarah menara. Selamat berkunjung ke Madura!

Soto Mata, Nikmat Tak Terkira

Nama makanan yang akan saya ceritakan ini memang unik, Soto Mata alias Somat. Lumayan seram ya namanya, mata! Ya yang dipakai memang mata sapi dan saya termasuk yang kurang bernyali untuk mencicipi kuah soto dengan mata sapi mengapung di atasnya. Saya memilih makan soto mata tanpa mata :)

Warung soto mata ini adalah salah satu yang ppopuler di kota Bangkalan, Madura. Jika Anda ingin melihat indahnya Jembatan Suramadu sudilah kiranya melaju terus ke arah barat memasuki kota Bangkalan. Setelah menemui minimarket Indomaret di kiri jalan Anda perlu melaju lurus lagi dan tidak jauh akan ditemui Depot Anda. Tepat di seberangnya ada jalan kecil (gang) dan Anda tinggal masuk saja mengikuti jalan kampung dan di tengah-tengah rumah penduduk akan Anda temui rumah sederhana seorang warga dengan tiga kursi anyaman bambu lebar tanpa meja. Inilah warung Somat.

Warung Somat
Jika Anda bingung dengan arahan saya maka tinggal tanyakan pada warga sekitar lokasi Somat di kampung Burneh ini. Tidak ada penanda di pinggir jalan dan saya pun terkejut karena bayangan saya tentang warung soto dengan bangunan warung permanen yang dikunjungi puluhan pengunjung ternyata salah besar. Warungnya bersahaja, tidak kelihatan "serius" seperti warung makan lainnya, bahkan tidak ada papan nama warung. Saya seperti berkunjung ke rumah tetangga dan ikut makan di sana. Selain itu, tidak ada kursi dan meja layaknya warung makan pada umumnya. Yang ada meja penjual dan kursi lebar anyaman bambu tempat pengunjung duduk bersila sambil makan. Justru inilah menurut saya kesan menarik yang saya dapatkan. Saya merasa nyaman dan makan lebih santai. Serasa makan di depan rumah tetangga dihembus sepoi angin pagi diiringi celotehan suara itik dan entog yang hilir mudik.

Penjual akan mengajukan pertanyaan dasar bagi Anda,"Matanya utuh atau diiris?" Kontan saya dan teman-teman yang baru pertama datang berseru histeris sambil tertawa. Wah...wah...seram nian ha ha. Jika Anda merasa mata sapi dalam kuah sotyo terlalu ekstrim, maka Anda bisa memilih level di bawahnya yaitu soto dengan usus sapi, jika itupun masih ekstrim bisa memilih soto daging biasa. Soto ini disajikan dengan topak. Topak seperti lontong tapi tidak dibungkus dengan daun pisang melainkan daun kelapa. Ya, topak adalah ketupat dalam Bahasa Madura. Setelah topak disajikan maka giliran soto datang.

Topak
Soto ini berbeda dengan soto di Jawa timur pada umumnya. Kuah soto coklat kemerahan tapi encer, potongan daging besar ditambah kecambah rebus di dalamnya. Ada juga taburan jagung goreng (marning), kacang goreng, dan daun bawang. Rasanya? Nikmat dan segar. Saya teringat Sup Konro, mirip-mirip tapi Sup Konro lebih berempah. Hal lain yang unik adalah sambal pelengkap bukanlah sambal uleg cabai melainkan sambal kacang yang warnanya kecoklatan seperti ditambah petis. Hebatnya rasanya masuk merasuk klop dengan kuah soto.

Somat dan Topak


Makan bersama, si kecil yang lebih "bernyali"
 makan mata sapi dariapda saya he he
Walaupun saat saya berkunjung sekitar pukul 9 pagi rombongan saya adalah satu-satunya yang makan tapi jangan salah, seringkali sebelum pukul 12 siang soto sudah ludes terjual. Semakin pagi semakin baik apalagi jika Anda berkenan membantu penjual menata dagangan mungkin ada ekstra semangkuk somat untuk Anda ha ha. Saya sangat merekomendasikan Somat ini yang mungkin belum banyak dikenal dibanding Bebek Sinjay yang antriannya luar biasa gila! Selamat berwisata kuliner.

Wednesday, October 29, 2014

Nonton Bola di Stadion Gelora Bung Karno

Posting ini telat sekali baru saya tulis. Kejadiannya sudah sejak 2 Juni yang lalu, ah tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Bagi saya ini pengalaman menarik karena tidak pernah terpikir jika saya bisa nonton pertandingan bola di Stadion GBK. Jika melihat berbagai pertandingan besar dan kehebohan suporter di stadion ini maka cukuplah untuk menciutkan nyali saya nonton bola secara langsung. Ah tapi saya kan bukan lagi penggemar sepak bola. Lantas mengapa saya tetap nekad nonton bola di sana?

Jadi ceritanya saya adalah penggemar variety show Korea bernama Running Man. Acaranya seru karena berisi aneka games lucu dan menarik. Para pemain variety show ini diundang oleh pemain bola legendaris Korea, Park Ji Sung untuk bermain bersama pemain-pemain bintang dunia lainnya termasuk Zambrotta melawan tim all stars Indonesia. Laga amal yang keuntungannya akan disumbangkan bagi pendidikan sepak bola anak-anak di tanah air ini sebenarnya juga disiarkan oleh salah satu stasiun TV nasional, tetapi karena saya adalah penggemar variety show ini maka wajib bagi saya untuk nonton. Hitung-hitung ini bisa jadi pengalaman sekali seumur hidup.

Saya merencanakan rencana kepergian bersama salah satu siswa perempuan di tempat saya bekerja. Shinta namanya. Dia juga yang terkena virus Running Man. Saya melontarkan ide untuk nonton, walaupun duit cekak karena waktu itu saya berencana berlebaran ke rumah bibi saya di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. "Untungnya" rencana gagal sehingga dari yang awalnya nonton di tribun saya rubah menjadi nonton di kelas VIP tribun barat. Tiket ini saya beli online setelah hampir 2 bulan menunggu tiket dijual secara resmi oleh penyelenggara acara. Tiketnya Rp. 750.000 belum termasuk pajak, biaya administrasi, dan biaya transfer. E-tiket yang saya dapat segera saya print dan saya simpan rapi di laci.

Sebelum hari pertandingan saya sempat berjalan-jalan dengan teman baik saya yang tinggal di seberang kampus Binus. Dari perjalanan itu paling tidak saya siudah mendapat gambaran tentang bentuk stadion Senayan. Saya salah besar ha ha. Stadionnya jauh masuk ke dalam dari jalan raya. Tapi paling tidak rasa penasaran sedikit terjawab. Acara dijadwalkan dimulai pukul 17:00 dan saya sudah menduga pasti baru disiarkan di TV sekitar pukul 18:30 layaknya pertandingan bola pada umumnya. Tapi karena tiket saya tidak bernomor alias penonton harus berebut mencari kursi yang paling strategis maka saya berencana datang pagi-pagi toh diinfokan di Twitter bahwa gerbang dalam akan dibuka pukul 14:00.

Dengan semangat saya bangun pagi, sarapan, dan langsung naik ojek dari komplek perumahan untuk menumpang bus AC Bianglala jurusan Ciledug - Pasar Senen. Dengan modal kenekatan dan sedikit kebodohan saya naik tanpa tahu jelas seberapa lama dan seberapa jauh perjalanan untuk mencapai stadion. Saya berangkat kira-kira pukul 9 pagi. Seperti biasa lalu lintas macet. Bus penuh sesak sehingga saya tidak bisa melihat ke luar, jendela pun dicat dengan warna body luar bus. Akhirnya saya memakai GPS yang sinyalnya ternyata kembang-kempis. Saya kurang ingat seberapa lama persisnya sampai ibu di sebelah saya mengingatkan bahwa Senayan sudah dekat. Terima kasih Ibu!! Saya turun menyeruak penuh sesaknya penumpang Senin pagi itu.

Para penonton yang berajalan di depan
saya menuju stadion yang sudah nampak
dari kejauhan
Setelah turun saya dan Shinta menepi dan berjalan ke arah halte bus untuk duduk dan mengamati keadaan. Saya tidak tahu kami turun di sisi mana stadion dan saya juga tidak tahu di mana pintu stadion. Ynag saya lihat cuma lapangan softball di kanan saya. Saya jalan saja lurus mengikuti naluri sampai kemudian berbelok dan kemudian melihat Hotel Atlet Century. Ah paling tidak sudah benar saya masuk wilayah Senayan itu pkir saya. Ada beberapa orang yang lalu lalalng tapi tidak nampak mereka akan nonton bola. Ada juga tukang ojek tapi saya pikir kami masih punya waktu dan saya benar-benar tidak ingin bertanya karena ingin "bertualang". Dari depan hotel saya berbelok kanan dan berjalan lurus sampai kemudian saya melihat ada gerbang pintu masuk dan kemudian ada lebih banyak orang berjalan dengan arah yang sama. Saya pikir pasti mereka akan menuju stadion. Dugaan saya tepat. Saya ternyata tidak masuk dari gerbang depan tapi toh sama saja saya melihat gagahnya stadion dari kejauhan. Yes...sudah tepat!
Belum banyak orang yang datang di luar dugaan saya. Kemungkinan masih banyak yang sekolah atau kuliah mengingat saat itu Senin pagi. Tenda-tenda promosi dari pihak sponsor juga masih baru dipasang. Saya sudah mencari gerbang masuk saya sesuai dengan kelas tiket yang saya pegang. Setelah puas mengamati satu sisi stadion saja saya melihat sekitar 4 orang duduk di ja;an di depan gerbang dalam. Mereka menunggu dari arah luar stadion. Setelah mendengar cerita ternyata mereka adalah yang berpengalaman nonton konser K-Pop Korea dan berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya penonton yang berada di dalam halaman di dalam gerbang dalam stadion akan diusir keluar. Mereka diminta mengantri lagi sebelum masuk rapi satu-satu ke dalam pintu stadion. Saya ikut saja mengantri. Semakin siang semakin banyak penonton datang. Mereka berseliweran di halaman dalam stadion sementara saya duduk bersila di tanah. Saya sudah mencium gelagat aneh, ah harusnya saya percaya insting saya. Area halaman penuh dan tidak ada petugas keamanan yang mengusir mereka keluar untuk mengantri.

Saya berpose di depan gerbang tempat saya harus masuk nantinya



Stadion yang masih sepi dan tenda sponsor yang baru dipasang.
Ini yang saya sebut halaman sisi dalam

Duduk mengantri untuk masuk ke sisi dalam stadion setelah sebelumnya
saya sudah dari sana. Laki-laki berpakaian hitam adalah
panitia acara
Waktu berjalan cukup lambat. Menunggu memang "menyakitkan". Para calon penonton ulai berteriak heboh ingin masuk ke halaman stadion sementara yang didalam diteriaki diminta untuk keluar dan mengantri. Hampir pukul 3 gerbang pagar dengan hanya 2 orang penjaga berbaju hitam membuka pintu dan mulailah antrian diserobot kiri kanan dan berebut lari masuk. Wuiiih..ributnya...untung cuma satu pintu. Saya antri lagi di pintu masuk stadion sesuai kelas saya, VIP Barat. Dan...saya di antrian tengah. Saya emngantri lagi berdiri dan duduk hampir 2 jam. Bedanya di antrian ini tidak ada yang berteriak-teriak heboh minta masuk. Tiket-tiket mulai disiapkan dan bahkan ada yang menyimpannya dalam map (e-tiket) karena dari infor pihak penyelenggara tiket tidak boleh sobek dan harus terbaca dengan jelas.  Tiketnya ber-barcode. Tetapi apa yang terjadi? Saya pikir tiket bakal discan satu-satu ternyata cuma disobek ujungnya saja. Infonya tidak boleh bawa makan dan minum di dalam stadion dan tas akan diperiksa tapi nyatanya tas plastik berisi makanan ringan milik Shinta saya juga tidak diperiksa. Tapi karena isinya tinggal 1 kue maka ditinggal. Penonton masuk bergerombol, bukan satu-satu.

Masuk ke dalam stadion tampak bangunan yang kurang terawat. Saya menaiki beberapa tangga dan dari awal sudah berikrar untuk tidak akan ke kamar kecil. Saya tidak tega melihat penampakannya walaupun ini asumsi saja setelah membaca beberapa cerita teman-teman yang menulis di blog. Setelah itu saya sampai di tempat duduk saya dan berusaha mencari yang pas. Tidak bisa mendapat barisan depan tapi buat saya cukuplah di barisan tempat saya duduk itu. Kursi stadion hanya papan kayu bercat yang diberi sekat kecil untuk memastikan pantat kita menempati bagiannya ha ha. Saya pikir untuk yang VIP paling tidak berkursi dengan sandaran ha ha...mimpi!!!

Ini adalah penanda yang ada di sekitar stadion. Rupanya satu sektor di
VIP Timur khusus untuk siswa dan staf sekolah Jakarta International Korea School


Saya dengan balon tepuk gratis yang disediakan oleh panitia.
Saya datang lumayan awal di dalam stadion karena sisi lain stadion masih sepi.
Bahkan beberapa deret kursi di belakang saya masih sepi  

Senangnya sih lapangan terlihat seperti permadani hijau dan terlihat kecil. Tidak seluas seperti jika nonton di TV. Sambil menunggu acara berlangsung diputar lagu-lagu Korea yang hebatnya bisa dinyanyikan oleh semua penonton yang mayoritas perempuan. Saya menunggu sembari berpeluh hebat karena tepat saya menghadap ke barat di mana matahari terik sedang mulai tenggelam. Penjual minuman datang menjajakan dagangan yang langsung diserbu. Sebotol iar mineral yang biasanya Rp.3000 dijual Rp.10,000. Dan hari itu saya menghabiskan Rp. 40,000 hanya untuk minuman!

Stadion tidak terisi penuh  terutama di bagian tribun. Tetapi di kelas VVIP, VIP, Kelas I dan II tampak penuh. Saya bersama ribuan penonton lainnya bersorak sorai dan menyemangati tim Park Ji Sung cs dan tim Indonesia. Dari tim Indonesia tidak banyak pemain yang saya tahu. Layar besar stadion tidak menayangkan secara real time jadi saya membelalakkan mata ikut bersorak sorai. Mungkin karena bukan penonton bola profesional yang bisa menyanyikan mars klub jadi gemuruh suara pendukung tidak seheboh yang saya bayangkan. Menurut beberapa artikel yang saya baca nonton langsung bisa bikin merinding karena suara pendukung dan sorakan ketika gol dibuat benar-benar tiada bandingan. Sekali lagi saya salah. Karena ketika sampai di rumah saya langsung cek di YouTube dan pertandingan yang disiarkan di TV ini diupload. Ternyata stadion riuh ramai oleh teriakan, sorakan, dukungan, dan histeria penonton yang umumnya wanita ini. Saya baru sadar ternyata salah satu penyumbang kehebohan itu suara saya ha ha.










Saya berteriak-teriak puas selama pertandingan. Bahkan menyanyi bersama saat istirahat turun minum dan saat pertandingan berakhir. Setelah pertandingan berakhir ada hiburan 2 lagu dari band perempuan Korea - Crayon Pop sebagai bintang tamu. Saya ikut menyanyi dan berjoget bersama. Senang sekali karena satu stadion isinya penggemar K-pop ha ha. Tidak ada yang pro satu tim. Semua mendukung kedua tim. Apapun hasilnya semua puas karena ini pertandingan persahabatan, pertandingan hip hip hura. Andai saja pertandingan sepak bola yang sebenarnya juga se-bersahabat seperti yang satu ini mungkin saya akan dengan senang hati nonton secara langsung di stadion walaupun saya bukan penggemar berat sepak bola. Di tempat saya tinggal di Surabaya stadion Bung Tomo letaknya tidak terlalu jauh. Dan saat Park Ji Sung melakukan laga persahabatan bersama timnya Queen Park Rangers melawan Persebaya di tahun 2012 tidak ada keinginan saya untuk nonton karena takut dengan "gilang" bonek dan suporter lainnya. Padahal itu juga laga persahabatan dan saya yakin harganya lebih bersahabat di kantong.

Lampu stadion yang mulai nyala tanda malam menyapa.


Hiburan penuup grup Crayon Pop yang kecil terlihat di tengah lapangan
dan memunggungi sektor tempat saya duduk


Semoga menonton sepak bola tim-tim Indonesia bisa senyaman nonton Running Man Members versus Tim Indonesia :)

Tuesday, October 7, 2014

It's Okay That's Love, A Reflection

Satu lagi drama Korea berhasil saya tonton sampai selesai. Judulnmya It’s Okay That’s Love. Pemeran utama prianya Jo In Sung, sangat amat menempel di ingatan saya. Teringat karena apanya ya? Karena acting dan filmnya yang menghebohkan macam Frozen Flower. Yang saya tahu Jo In Sung adalah actor handal. Banyak pujian karena aktingnya walaupun di drama romantisnya yang berjudul The Winter that Wind Blows gagal membuat saya tersentuh.

Drama seri It’s Okay That’s Love menceritakan tentang kisah cinta psikiater wanita dengan seorang penulis terkenal (diperankan Jo In Sung) yang ternyata seorang psizofrenia tanpa disadarinya. Saya sangat menyukai film ini. Tidak cheesy seperti drama percintaan lain dan memberikan pelajaran bagi penonton awam seperti saya tentang penyakit jiwa / gangguan mental.

Diceritakan dalam drama ini beberapa kasus gangguan jiwa. Walaupun sifatnya didramatisir untuk membumbui drama tetapi kasus-kasus seperti itu saya percaya ada. Setelah nonton beberapa episode dari drama ini bahkan saya berpikir bahwa saya mungkin juga mengalami gangguan kejiwaan. Saya rasa sih belum sampai taraf berbahaya tapi saya merasa bahwa jiwa saya terganggu. Kecanduan berinternet ria sebelum tidur dan efeknya susah tidur karena pikiran tidak tenang. Bahkan berusaha untuk tidur saja saya malas melakukannya. Wah wah…

Jika di dalam drama ini digambarkan otak manusia seperti puzzle yang tersusun dengan baik dan ketika satu kepingnya saja hilang bisa menyebabkan gangguan baik yang ringan sampai yang berat. Gangguan jiwa sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah lainnya. Hanya saja gangguan  jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa cemas, takut hingga yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau kita kenal sebagai gila.

Melalui drama ini saya belajar banyak. Pertama, belajar untuk paham bahwa penyakit kejiwaan sama dengan penyakit fisik lainnya. Orang yang sakit jiwa adalah pasien yang statusnya sama dengan pasien penyakit lain. Mereka bisa disembuhkan dan berhak diperlakukan sama dengan pasien penyakit lain apapun penyakitnya. Semua orang bisa terkena gangguan jiwa sampai sakit jiwa. Semua orang juga bisa terkena stroke dan penyakit jantung juga kan?

Yang kedua, orang gila di jalanan yang ngomong sendiri itu sepertinya penderita skizofrenia. Dugaan saya begitu. Dulu saya tidak tahu mengapa mereka bicara sendiri, tapi setelah nonton drama ini saya tahu bahwa mereka sebenarnya berhalusinasi. Tampaknya benar-benar ada seseorang yang berbicara dengan mereka padahal sebenarnya tidak. Perbedaan antara yang nyata dan tidak sangat absurd bagi mereka. Ah…sekarang saya tahu.

Pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya kemudian adalah, bisakah saya menerima seseorang dengan gangguan jiwa dalam hidup saya? Jika pacar berpenyakit jantung apakah kemudian saya jauhi? Jika tidak maka jika pacar punya gangguan jiwa apakah kemudian saya jauhi? Jika iya maka saya termasuk orang yang diskriminatif. Oh…saya tidak suka itu. Di drama ini si psikiater akhirnya menikah dengan penulis yang akhirnya sembuh dari skizofrenia. Pengobatan dan terapi rutin serta dukungan sekitar membuat penuli s sembuh dan tetap berkarya walau pernah berskizofrenia. Jadi harusnya saya dan Anda juga yakin bahwa penyakit jiwa juga bisa disembuhkan dan orang dengan penyakit jiwa juga berhak disayangi kan?

Stigma pada dengan penyakit kejiwaan mungkin lebih parah daripada orang dengan penyakit berbahaya lainnya. Penderita penyakit ini bisa hidup normal dan beraktivitas seperti biasa. Kadang bisa juga kumat, sama seperti penyakit lainnya. Berulang kali saya mengajarkan pada diri saya sendiri bahwa penyakit itu sama saja. Mau di badan mau di jiwa semuanya sama. Bisa diobati, bisa sembuh, bisa tidak. Asal diobati pasti tidak akan semakin parah. Asal dibantu maka penderita pasti akan merasa lebih baik.

Dulu saya pernah dekat dengan seseorang yang sebenarnya juga harus mendapat perawatan khusus dari psikiater dan secara rutin ia mengikuti diskusi dengan support groupnya. Ibunya penderita bipolar. Saat itu saya berpikir bahwa sakit yang dideritanya adalah penyakit turunan, dan saya sempat cemas dengan "masa depan" kami. Tapi sekarang saya paham lebih dari sekedar masalah genetik gangguan jiwa dan penyakit jiwa bisa menyerang semua orang.


Walaupun cerita dalam drama sedikit banyak dibuat mengharu biru, tetapi saya belajar bahwa cinta kasih dan dukungan sangat diperlukan untuk membuat orang dengan penyakit jiwa bisa hidup bahagia seperti orang lain. Toh life's a drama kan? Mari belajar dari drama ini untuk lebih menghargai, menyayangi, dan memberikan dukungan bagi teman-teman dengan gangguan dan penyakit kejiwaan di luar sana. Semoga Tuhan selalu merahmati dan melindungi kita semua...amin.