Friday, August 1, 2014

Jakarta

Seringkali ketika akan membuat posting baru saya bingung harus diberi judul apa tulisan saya. Saya ingin bercerita tentang Jakarta, tentang apanya? Ehm...apa ya? Ini tentang perjalanan awal bulan Juni saya di Jakarta. Bagi yang sudah mengenal baik kota ini bisa jadi postingan saya hambar rasanya. Bagi yang belum, ya lumayanlah, semoga bisa jadi referensi.

Saya tiba di Jakarta tgl 1 Juni dan tinggal 2 malam di rumah Pakdhe di Ciledug. Tiba di Stasiun Jakarta Kota pagi dini hari dengan beberapa rencana yang pupus sirna. Saya berencana menunggu matahari muncul di seputaran kota tua yang hanya selemparan batu dari Stasiun Jakarta Kota. Di kawasan ini ada Taman Fatahillah yang dikelilingi beberapa museum dan gedung bersejarah. Di pagi hari ada persewaan sepeda kuno dan saya amat sangat ingin menimati Jakarta tempo dulu di kawasan ini. Sayang seribu sayang, saya datang di pagi buta sekitar jam 2.30 pagi dan dijemput sepupu saya yang sayangnya kebetulan sedang tidak ada mobil jadi saya yang masih kagok Jakarta memanggul tas ransel dan menjinjing oleh-oleh nongkrong di Taman Fatahillah.

Shock mendapati tamannya yang luas penuh dengan muda-mudi berbagai perangai dan gaya. Seperti Taman Bungkul versi seenak gue. Tamannya kotor dan bau pesing menyeruak. Tidak ada petugas taman dan polisi yang saya lihat. Beda dengan di Taman Bungkul yang aman dan nyaman. Eh, tetapi anehnya jam 02.30 pagi orang masih ratusan berkumpul. Saya belum pernah coba duduk-duduk di Taman Bungkul tapi sepertinya kok ya sudah diusir petugas jika lewat tengah malam di Taman Bungkul. Sepupu saya yang hilir mudik Tangerang - Jakarta dan kota-kota lain rupanya juga baru pertama kali ke Taman Fatahillah. Ha ha...kami seperti 3 anak ayam kehilangan induk. Saya makan dan ngobrol cukup lama di salah satu warung yang buka 24 jam di sekitaran Taman Fatahillah. Wanita muda berpakaian super seksi bersliweran. Ah...inilah ibu kota di malam hari.


BUSWAY Pertama

Rupanya saya sedikit lebih "Jakarta" dibanding sepupu saya. Saya sebenarnya tahu ada busway yang menghubungkan langsung stasiun dengan beberapa tempat di Jakarta, hanya saya tidak tahu mana jalur yang diambil untuk ke Ciledug he he.  Sepupu menelepon Pakdhe menanyakan cara menuju Ciledug dari Stasiun Jakarta Kota. Caranya, naik busway turun ke Blok M. Dari Blok M naik metromini jurusan Ciledug. Bagi Anda yang belum pernah ke Jakarta atau pernah tapi ke mana-mana diantar saudara pastinya bingung juga kan? Apalagi suasana sepi gelap gulita. Buta arah rasanya. Terakhir saya naik kendaraan umum di Jakarta, naik Kopaja dengan ayah saya sekitar tahun 2009. 2 Tahun sebelumnya saya ke Jakarta dari bandara menuju stasiun Gambir sewa mobil. Dan saya tidak pernah singgah lama di Jakarta, hanya transit saja. Jadi pengalaman 3 malam 2 hari naik kendaraan umum di Jakarta benar-benar berharga buat saya.

Sepupu saya tidak pernah naik busway dan tidak tahu sama sekali bagaimana, berapa, dan menuju ke mana Bu Trans Jakarta itu melaju. Kami menuju halte busway yang sepi dan tidak mendapat penjelasan dari petugasnya ketika kami bertanya bagaimana caranya mencapai ke halte busway yang tingginya hampir sedada orang dewasa dari pinggir jalan raya. Tragis! Petugasnya saja enggan membantu. Untung masih ada orang baik, seorang bapak yang berdiri dekat halte bus. Padahal pelajaran pertama yang ditanamkan oleh kakak dan orang tua saya ketika ke Jakarta selalu,"Bertanyalah pada petugas, jangan asal bertanya pada sembarang orang." Dari penjelasan si Bapak kami harus menyeberang jalan, turun ke bawah jalan raya, dan menemui pintu masuk menuju halte busway yang bercabang dengan jalan menuju Stasiun Jakarta Kota. Loket baru dibuka jam 5 pagi dan saat itu masih sekitar pukul 4.30 pagi. Saya mengobrol sambil memperhatikan muda-mudi yang juga mengantri naik busway. Mukanya segar bugar tidak ada yang mengantuk padahal saya yakin mereka begadang bermalam-minggu.

Ketika pintu mulai dibuka, kebingungan kedua adalah bagaimana caranya naik TJ ini. Saya mengantri di loket untuk membeli tiket. Rupanya ada penumpang lain yang juga belum tahu caranya. Caranya kita melakukan pembelian pra-bayar sebesar 30,000 dan mendapat satu kartu transaksi yang dikeluarkan dari sebuah bank, yang bisa dipakai berkali-kali. Saya membayar, mendapat kartu dan kemudian ditempel pada palng pintu otomatis yang dijaga satpam. Kartu ini bisa dipakai untuk beberapa orang asal saldo masih cukup. Murid saya yang mengantri di belakang saya menerima kartu ini dari saya yang telah menempelkan kartu ke palang pintu dan dia melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu pasti berapa tarif busway dari halte tersebut. Mungkin 2500 rupiah atau 3000 rupiah. Murah! Saya masih sedikit terheran-heran dengan halte busway-nya dan berniat berfoto sebelum kemudian menyadari ada satu busway menunggu dan siap berangkat. Melihat orang-orang lain di depan saya berlari saya juga ikut berlari dan masuk ke dalam busway.

Saya heran karena banyak laki-laki muda yang berdiri di bagian belakang busway padahal di bagian depannya masih banyak kursi kosong. Saya langsung berjalan ke depan, duduk manis, sambil terkagum-kagum dengan modernnya bus ini. Ada penjaga pintu yang meneriakkan nama-nama halte tempat bus berhenti, ada papan tulisan digital yang berganti otomatis tiap bus melewati halte, kursi bus yang modern, dan badan bus bagian depan dan belakang yang terhubung dengan plastik atau apalah itu namanya mirip pianika. AC bus dingin, penumpang wanita hanya 3 orang termasuk saya. Baru saya tahu jika bagian depan bus dikhususkan untuk wanita dan laki-laki duduk di belakang. Bagian depan dekat dengan penjaga pintu, jadi aman bagi wanita. Ada pasangan muda-mudi yang harus berpisah kursi di dalam busway. Ok, pelecehan berarti benar-benar serius di kendaraan umum sampai pembagiannya seperti ini.

Saya beruntung naik busway tersebut, karena bus melwati jantung kota. Mulai gedung Polri sampai Stadion Gelora Bung Karno alias Senayan yang menjadi jujukan saya esok harinya, kawasan Bundaran Hotel Indonesia yang selalu saya lihat di TV tempat orang berdemo, Daerah Thamrin dan Bendungan Hilir (Benhil) yang hanya saya dengar namanya, dan daerah lain. Bus terakhir berhenti di Terminal Blok M, dan saya turun dari depan sisi kiri sopir karena halte berada di sebelah kiri, bukan di kanan ketika berangkat sebelumnya. Aha! Udik sekali saya ini ha ha. Maklumlah di Surabaya angkutan paling top adalah bus DAMRI ber-AC.

Sampai di Blok M, petunjuk selanjutnya adalah naik metromini jurusan Ciledug. Metromini yang saya tahu mirip bus ijo mini jurusan Mojokerto - Surabaya. Saya tidak tahu naik yang warna apa dan seperti apa penampakan sebenarnya karena pagi masih gelap. Ternyata semua metromini warnanya oranye kecoklatan. Saya sengaja duduk di belakang sopir dan memintanya menurunkan saya di Perempatan Ciledug yang saya juga tidak tahu seperti apa tempatnya dan berapa lama saya akan sampai. Saya benar-beanr buta arah karena saya tidak pernah ke rumah Pakdhe sendirian sebelumnya. Seperti petugas halte busway, sopir tidak menjawab permintaan saya. Jika di Surabaya sopir angkutan umum dengan sabar dan komunikatif akan memberitahukan tempat kita berhenti, paling tidak mengiyakan jika kita minta diturunkan di suatu tempat. "Dinginnya" Jakarta!!!

Saya memberikan uang 20,000 an pada kondektur dan sudah pasrah jika tertipu tarif metromini yang sengaja dinaikkan jika tahu saya pendatang. Untunglah tidak, saya membayar 6000 rupiah untuk 2 orang. Murah! Di Surabaya tidak ada lagi tarif angkot seharga 3000 Rupiah. Tapi apesnya, saya dioper di tengah jalan. Saya melanjutkan naik angkot mikrolet warna putih, entah nomer berapa. Saya duduk di samping sopir berharap mendapat kejelasan kapan saya turun. Saya mengulangi permintaan saya agar diturunkan di Perempatan Ciledug, sopir diam saja. Angkot berjalan cukup cepat dan setelah sibuk bertukar pesan dengan sepupu saya karena saya buta arah, angkot mulai kosong penumpang. Yang saya ingat saya turun di perempatan Ciledug, tepat di flyover. Nah...yang mana pula flyovernya? Tak seberapa lama angkot berhenti di perempatan, penumpang di belakang turun dan saya melihat fly over. Sopir bertanya saya turun di mana, saya bilang di perempatan dan saya ganti bertanya, "turun sini ya Pak?" Sopir hanya mengangguk. Saya keluar dan beberapa ojek mendekat. Saya menjauh dan mulai menganalisis keadaan sekitar. Mengingat tempat angkot berhenti dan menyadarkan diri bahwa saya berada di Indonesia bagian lain.

Siangnya teman saya datang menjemput. Dengan kendaraan pribadi kawannya kami berjalan-jalan ke jantung ibu kota. Saya melewati perumahan elit yang iklannya berulang kali diputar di salah satu stasiun TV nasional dan masih saya belum sadar diri saya berada di Jakarta. Murid saya belum pernah ke Jakarta sebelumnya jadi kami memutuskan ke Monas. Kami melewati jalan-jalan yang namanya banyak disebut di TV dan saya serasa berada di dalam dunia lain dalam cengkeraman gedung-gedung pencakar langit seperti para Decepticons siap melumat penduduk bumi. Benar-benar Jakarta kota Megapolitan. Saya merasa kecil dan canggung di tengah kota ini walaupun bukan kali pertama saya ke Jakarta. Dalam 5 tahun terakhir sudah 3 kali saya mengunjungi kota ini, toh tampaknya saya dan ibu kota saling berjauhan. Angker dan angkuh kesannya untuk pendatang.

Keesokan harinya pengalaman menggunakan kendaraan umum bertambah ketika saya harus ke Stadion Senayan naik Bianglala. Dari namanya sungguh drama ha ha. Bianglala atau Bus Kota Patas AC yang saya naiki dari Ciledug sampai Pasar Senen. Saya lupa nomor berapa busnya. Saya berangkat pagi-pagi sekitar pukul 8 padahal acara di stadion baru jam 5 sore. Tidak mau kehilangan tempat duduk strategis dan bersiap menghadapi macet saya bersiap-siap. Dari dalam perumahan  saya naik ojek. Ojek juga transportasi yang jarang saya gunakan di Surabaya. Terakhir saya menggunakan ojek mungkin setahun yang lalu. Ojek mengantar saya sampai prempatan Ciledug (lagi). Malamnya saya sudah browsing tentang angutan menuju stadion dan juga mencari tahu tentang si Bianglala Ciledug - Pasar Senen ini.

Bus masih kosong ketika saya naik, dan jika tidak salah saya membayar 7000 rupiah untuk satu penumpang. Sekali lagi saya kebingungan kapan saya harus bersiap turun karena saya di tengah-tengah bus dan penumpang berjubel penuh sesak. Saya sudah bilang ke kondektur untuk menurunkan saya di Senayan, tapi selama perjalanan kondektur tenang-tenag saja, tidak meneriakkan tempat-tempat pemberhentian yang dilewati seperti layaknya kondektur bus yang biasa saya tumpangi di Surabaya. Dengan mengandalkan peta di ponsel saya yang sinyalnya ada tiada saya kebingungan di dalam bus sementara murid saya tidur pulas. Kaca bus yang gelap juga menyusahkan saya melihat nama jalan di sisi kanan bus untuk mengtahui sampai di mana saya. Untungnya ibu yang duduk di sebelah saya bertanya di mana saya turun, mungkin karena dia mendengar saya akan turun di Senayan. Dia bilang saya harus bersiap karena Senayan sudah dekat. Saya menerobos ke belakang. Di pintu belakang kondektur baru berteriak dengan suara pelan saja sebenarnya, "Senayan Senayan!"

Kami berdua turun dan bingung lagi mencari pintu masuk ke dalam stadion. Saya berjalan saya mengikuti insting dan sampai juga di stadion. Mengapa saya pergi ke Stadion Senayan? Ceritanya di posting saya yang lain :) Dari stadion saya pulang malam sekitar pukul 10 malam dan saya berjalan mencari jalan keluar dari stadion yang cukup jauh. Setelah bertanya pada polisi di mana tempat menunggu Bianglala saya menunggu sampai sekitar pukul 22:30. Saya mulai cemas karena tidak ada orang yang tahu angkutan menuju ke Ciledug di malam hari. Saya bertanya pada Pakdhe dan disarankan naik angkot yang biasanya mencuri trayek melewati Senayan di malam hari. Angkot putih 01 jika tidak salah. Segera setelah bertukar pesan angkot putih datang dan berteriak-teriak, "Ciledug! Ciledug!" Saya langsung naik dan duduk di sebelah sopir. Karena sudah hafal tempat berhenti saya turun pas di perempatan dan disambut para penggemar, para tukang ojek. Sedikit menjauh saya mencari ojek lain yang tidak "agresif" dan langsung menuju rumah Pakdhe. Capek sudah badan saya seharian di stadion dan baru saya tahu cerita seram angkot 01 yang memperkosa penumpang wanitanya. Tidaaaaaak...untung saya tidak apa-apa.

Yang jelas esok harinya saya harus kembali ke Surabaya. Saya akan ke Stasiun Pasar Senen. Seperti hari sebelumnya, saya harus naik Bianglala lagi. Sekitar jam 8 saya masih malas-malsan dan jam 9 pagi mulai mandi. Jam 10 saya mulai makan dan sekitar jam 10:30 saya siap berangkat. Mengingat hari sbeelumnya dari rumah Pakdhe ke stadion hanya sekitar 1 - 1,5 jam saya pikir saya bisa sampai di stasiun jam 1 siang atau paling lambat jam 13:30 karena jadwal kereta saya jam 14:10. Saya mulai panik ketika menunggu Bianglala lama datangnya. Ketika bus datang sopir juga malas-malasan berjalan. Saya sempat membaca salah satu pengalaman penumpang Bianglala jurusan yang sama yang mengeluhkan lamanya naik bus AC ini. Karena pengetahuan minim saya tentang jarak tempuh dan keteledoran saya maka mulailah saya bertukar pesan dengan Pakdhe saya. Sebagai informasi dari hari pertama saya tiba di Jakarta saya hanya bertemu beliau di pagi hari dan tidak bertemu lagi sampai hari saya pulang. Budhe juga sibuk jadi tidak banyak cerita soal tips naik angkutan umum yang dibagi.

Pakdhe menyarankan saya turun dari Bianglala, dan saat itu Bianglala baru berjalan sekitar 10 menit dari tempat saya naik. Saya disarankan naik ojek bukan taksi untuk mengejar waktu. Ojek? Pengalaman baru lagi. Ojek sebelumnya yang saya tumpangi hanya yang nangkring di sekitar perumahan. Sekarang dengan modal muka pasrah saya memanggil ojek yang mangkal di seberang perempatan jalan. Awalnya pak ojek memberikan harga 50,000 yang langsung saya sanggupi karena perkiraan Pakdhe harganya sekitar 60,000. Rupanya pak ojek ini bingung juga dan bicaranya kurang jelas. Dia memanggil kawannya yang tahu jalan dan tahu harga. Dipatoklah harga 100,000 dan saya menawar 75,000. Dengan argumen jauhnya jarak tempuh maka disepakati harga 80,000 per orang per motor. Dua motor berarti 160,000. Saya sanggupi karena tidak opsi lain.

Untunglah saya naik ojek dan di akhir perjalanan ke Jakarta saat itu saya temukan dua bapak ojek yang baik hati.  Salah satunya yang membonceng murid saya menceritakan tentang banyak tempat yang kami lewati. Pak ojek mencarikan jalan-jalan alternatif anti macet. Membayar 80,000 sangat sebanding dengan jauhnya perjalanan dan juga waktu tempuh yang pas. Sekitar 75 menit saya berhasil mencapai stasiun tepat 40 menit sebelum kereta berangkat. Jarak yang saya tempuh mungkin seperti Tandes sampai Mojokerto. Jauh sekali dan saya melihat sisi lain Jakarta, Jika hari sebelumnya yang saya lihat gedung-gedung tinggi dan mall-mall termasuk Masjid Istiqlal dan Istana Negara, maka kali ini yang saya lihat daerah Jakarta Timur sampai ke Pasar Senen. Entah lewat mana saja hehe.

Lengkap sudah petualangan saya menggunakan aneka moda transportasi Jakarta. Ada busway, metromini, bianglala, dan ojek yang menutup perjalanan saya di Jakarta. Saya cukup senang dengan pengalaman berkendaraan umum di ibu kota. Harganya murah walaupun masih was was dengan keamanannya. Lain kali tidak akan naik taxi, angkutan kota saja :)

Kereta Ekonomi "Pertama"ku

Sengaja kata pertama saya letakkan di antara tanda kutip karen pengalaman naik kereta api ekonomi bukan yang pertama kali saya lakukan sepanjang hidup saya tapi benar terjadi yang pertama kali selama PT. Kereta Api Indonesia di bawah pimpinan direkturnya Pak Jonan. Mungkin dulu ketika saya SMP saya pernah naik KA ekonomi ke Jakarta bersama keluarga saya. Saya tidak ingat pasti apa benar waktu itu kereta ekonomi, seingat saya sih begitu. Penumpang bisa tidur di bawah kursi penumpang lain, itu yang saya ingat dengan pasti. Seingat saya, saya semalaman tidak ke toilet sama sekali. Jadi saya tidak tahu penampakan toilet KA ekonomi jaman dulu seperti apa. Jika membaca blog kawan-kawan yang lain tentang KA ekonomi jaman dulu sih sangat memprihatinkan.

Dari nama dan cerita tentang KA Ekonomi sejujurnya saya takut membayangkan. Boleh percaya boleh tidak, mungkin Anda pikir saya "lebay" tapi itulah nyatanya. Kereta bukan moda transportasi yang familiar untuk saya. Angkot dan bus lebih familiar buat saya. Jadi sampai usia saya yang 31 tahun ini, saya naik kereta hanya tujuan Jawa Timur - Jakarta. Pernah bernagkat dari Mojokerto, Kediri, dan Surabaya. Tidak pernah naik kereta ke tujuan lain. Eh tunggu, saya pernah naik kereta dari Malang tujuan Surabaya. Itupun "ilegal". Saya ingat pergi dengan teman-teman di masa kuliah dulu dari stasiun kereta di Malang. Tiket kami hanya sampai Pasuruan karena tiket Malang - Surabaya sudah habis. Dengan bimbingan teman saya yang dedengkotnya kereta api, dia bilang beli tiket sampai Pasuruan tidak masalah. Jika nanti ada pemeriksaan lagi tinggal bilang pada kondektur "lama (penumpang lama) Pak". Badan saya capek sekali tapi tidak bisa tidur karena gugup luar biasa. Saya ingat tiketnya kartu kecil keras sepanjang jempol jari yang kemudian dilubangi oleh kondektur.

Itu dulu. Sekarang naik kereta api kelas ekonomi nyamannya luar biasa. Sudilah Anda tetap baca postingan saya ini yang mungkin isinya pujaan dan pujian bagi PT. KAI. Demi pengematan budget maka saya membulatkan tekad untuk pergi pulang Surabaya - Jakarta dan sebaliknya naik kereta api ekonomi. Berhar-hari saya browse tentang cerita-cerita bloggers yang sudah pengalaman naik kereta api ekonomi. Berulang kali saya yakinkan diri saya "everything will be okay". Bayangan saya tentang buruknya pelayanan, toilet tak memadai, kereta berhenti lama karena bergantian dengan kereta lain melewati satu rel, serta bayangan penumpang penuh sesak seperti ketika saya SMP dulu sedikit-sedikit terkikis setelah membaca beberapa pengalaman blogger yang menyatakan kereta ekonomi yang baru jauh lebih nyaman.

Saya pergi dengan murid saya, anak kuliahan yang belum pernah ke Jakarta. Pengalaman berkeretanya juga tidak banyak. Nah..bertambah satu lagi kekhawatiran saya. Saya booking kursi kereta di minimarket. Di minimarket saya mendapat struk pembelian, bukan tiket asli. Struk pembelian kemudian ditukarkan dengan tiket asli. Murid saya menukarkan tiket tersebut di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Murid saya tersenyum puas sambil bercerita bahwa menukarkan tiket di stasiun menyenangkan buatnya. Tempatnya adem dan petugasnya ganteng-ganteng. Wah...harusnya saya yang pergi ha ha. Bagaimanapun juga citra yang dibangun PT. KAI sudah nampak di sini. Petugas pelayanan masyarakat ganteng-ganteng. Calon penumpang kan juga butuh "pemandangan" bagus ha ha. Ini pencitraan namanya, dan citra memang penting kawan!

Ini kali kedua saya membeli tiket kereta. 2 tahun yang lalu saya membeli tiket KA eksekutif di minimarket juga. Sepert biasa KTP sudah saya siapkan karena sistem boarding yang diberlakukan PT. KAI yang hanya mengijinkan penumpang beridentitas sama dengan yang tercetak di tiket. Saya pikir tiket KA ekonomi berbeda dengan yang eksekutif. Sama saja loh penampakannya. Bahkan yang sekarang ada QR Codenya juga, biarpun kelas ekonomi. Whaaaaa...keren. Tiket keberangkatan saya dari Stasiun Gubeng Surabaya hari Sabtu sekitar pukul 1 siang. Murah loh...tiket saya hanya 55,000 rupiah.

Tiket telah lolos pemeriksaan boarding
Saya berangkat dengan hati berdebar-debar. Ini jadi pengalaman pertama saya ke Jakarta tanpa orang tua pertama kali dan naik KA ekonomi pula. Lebih dari itu saya sangat antusias dan penasaran membuktikan ucapan Pak Jonan dan cerita-cerita blogger lain tentang bagaimana kereta api dan PT. KAI sekarang telah berubah. Bahwa kereta ekonomi ber-AC dan nyaman dan bahwa berkereta sekarang aman.

Siang itu stasiun ramai tapi tertib. Saya masuk dengan menunjukkan tiket dan KTP. Petugas ramah dan ruangan tunggu berpendingin ruangan ditambah dengan kipas angin. Maksud hati saya ingin mengambil beberapa gambar tapi saya malu dengan calon penumpang lain yang tampaknya lebih "profesional" Ha ha. Demi alasan keamanan juga saya tidak melakukannya. Semakin terlihat canggung semakin mudah ditipu.

Dulu sebelum ada sistem boarding, semua orang bisa masuk dan duduk menunggu di dekat rel jalur kedatangan kereta. Sekarang, dengan sistem boarding saya menunggu dulu di ruang tunggu sebelum kemudian masuk ke ruang boarding, yaitu tempat berdiri tepat di dekat jalur kedatangan kereta. Petugas dengan sigap memberitahukan di mana saya harus menunggu sesuai dengan nomor gerbong kereta. Untuk penumpang yang cupu seperti saya hal ini sangat membantu.

Saya duduk di deretan bangku belakang. Udara dingin mulai menerpa walaupun tidak terlalu dingin juga karena di luar cuaca sangat terik. Gerbong kereta sangat bersih dan ada colokan listrik di bawah meja kecil bawah jendela. Saya menuju Jakarta menumpang KA Gaya Baru Malam Selatan melewati Jogjakarta. bersama rombongan pendaki gunung yang tiinggi tas ranselnya hampir setinggi saya, saya mulai menikmati perjalanan KA. Berulangkali ada petugas mondar-mandir dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Baru saya tahu petugas ini bertanggung jawab membersihkan bagian dalam gerbong kereta. Beberapa kali petugas ini mengucapkan nama-nama stasiun yang akan disinggahi kereta.

Kursi saya cukup empuk, hanya sandarannya saja yang tegak menjulang jadi kepala langsung pusing. Mau sewa bantal bisa, harganya 5000 rupiah. Bangku saya berhadapan dengan bangku penumpang lain dan saat penumpang penuh lutut saya hampir mepet dengan lutut penumpang di depan saya. Ini saja hal yang tidak nyaman di kereta api. Sepanjang perjalanan Surabaya-Jakarta kereta jarang berhenti dan jikalau berhenti pun tidak lebih dari 5 menit seingat saya. Hanya 2 kali pedagang asongan masuk ke dalam gerbong. Rombongan pedagang lain masuk dengan rompi paguyuban pedangang asongan dengan nomor pengenal di dada mereka. Bagaimana jika lapar? Petugas restorasi kereta menjajakan makanan seperti nasi goreng atau mi instan gelas hampir 40 menit sekali. Jangan khawatir di malam hari mereka tidak lagi berkeliaran he he.

Walaupun harga makanan tidak semurah dan macamnya tidak sebanyak yang dijual pedagang asongan, saya lebih suka yang begini. Lebih nyaman tanpa pedagang asongan. Toh membawa makanan dari luar juga diijinkan. Jikalau saya lebih kreatif saya pasti bawa rantang nasi lengkap dengan lauk pauknya. Karena malas saya hanya membawa nasi dan nori sebagai lauknya. Murid saya membawa dua bungkus nasi krawu. Cukup sudah untuk makan sore dan malam.

Untuk masalah keamanan, KA ekonomi aman ditumpangi. Ada polisi khusus KA dan petugas berseragam hilir mudik juga. Saya lihat di stasiun-stasiun juga hanya ada calon penumpang, porter, dan petugas. Mereka yang masuk ke kereta benar-benar calon penumpang bukan abal-abal. Saya teringat dulu ketika kecil saya menyaksikan penumpang sebelah dicopet tasnya dan saya melihatnya. Peristiwanya sangat cepat dan saya cuma melongo. Semua orang dalam gerbong heboh saat itu tapi segera duduk manis juga, hal yang seperti itu sudah biasa katanya. Alhamdulillah perjalanan pertama saya naik KA ekonomi kali ini sangat menyenangkan. Murah tapi nyaman.

Stasiun-stasiun yang saya lewati juga sangat bersih dan rapi. Yang tidak saya lupakan adalah sapaan hangat petugas stasiun Purwokerto di malam hari yang kurang lebih bunyinya seperti ini "Selamat malam para penumpang KA Gaya Baru Malam Selatan Surabaya Gubeng tujuan Stasiun Jakarta Kota. Saat ini Anda berada di Stasiun Purwokerto dan Anda akan diperkirakan tiba di Stasiun Jakarta Kota pada pukul 2 dini hari. Semoga perjalanan Anda menyenangkan kami dari DAOP xxx mengucapkan selamat jalan semoga selamat sampai di tujuan." Ternyata yang kereta ekonomi pun dapat sambutan seperti ini. Yang jelas di stasiun-stasiun lain tidak ada sambutan yang sama sehangat dari Stasiun Purwokerto.

Stasiun Purwokerto yang informatif. Baru saya sadar saya sudah sampai di lebih separo perjalanan dan masih ada 350km yang harus saya lalui dengan duduk bosan di kereta :) Sebagai informasi semua kawasan stasiun kereta adalah kawasan dilarang merokok, tapi jika ada kesempatan kereta berhenti penumpang selalu keluar berlomba merokok sebelum kereta berjalan. Mungkin sebagian besar stres karena perjalanan panjang ha ha

Selepas Jogjakarta KA makin penuh. Gerbong kereta mendadak menjadi menyeramkan ketika semua penumpang di gerbong saya turun, kecuali saya berdua. Semua turun di Stasiun Pasar Senen. Sempat panik juga tapi beberapa petugas yang mulai membersihkan lantai gerbong kereta meredakan kepanikan saya. Saat malam hari dinginnya AC mulai menusuk tulang. Biarpun ada satu dua penumpang yang duduk di lantai agar bisa meluruskan kaki, penumpang tetap tertib. Semua duduk sesuai nomor yang tercetak di dalam tiket dan saling memahami ketika penumpang lain membutuhkan sedikit ruang untuk meluruskan kaki.

Saya sampai di Stasiun Jakarta Kota sekitar pukul 02.15. Sekali lagi saya masih takjub dengan stasiun yang besar tersebut. Jauh lebih besar dari Stasiun Gubeng dan Pasar Turi. Itu kali pertama saya menjejakkan kaki ke Stasiun Jakarta Kota, sebelumnya saya selalu sampai dan berangkat dari Stasiun Gambir. Saat berjalan di dalam ruangan stasiun saya mengenali arsitekturnya. Persis seperti background foto Pak Jonan, direktur KAI.

Senangnya saya sampai dengan selamat di Jakarta pagi dini hari.  Perjalanan dengan KA Ekonomi sangat nyaman. Oh ya saya lupa bercerita, toiletnya juga bersih. Ada sabun untuk mencuci tangan, pewangi ruangan, bahkan tisu toilet. Setengah tidak percaya saya. Walaupun masih bau karena mungkin penumpang ada yang tidak menyiram dengan bersih tapi toilet ini benar-benar seperti toilet. Ha ha. Di beberapa pusat perbelanjaan di Surabaya saja pernah saya dapati toiletnya lebih jorok dan bau daripada di kereta. Ayo jangan ragu naik KA Ekonomi lagi. Tetap waspada dan hati-hati. Terima kasih PT. KAI :)

Friday, January 31, 2014

Wajib Militer di Korea Selatan (Bagian Kedua)

Tepat tanggal 26 Desember 2013, sehari setelah Natal, seorang kawan saya di Korea masuk wajib militer. Foto terakhir yang diuploadnya di Facebook menunjukkan potongan rambut barunya. Cepak! He he. Saya ingin tahu lebih lanjut tentang wajib militer (wamil) ini dan mungkin Anda juga perlu tahu. Saya tuliskan seluk-beluk wamil di Korea yang terbagi dalam beberapa bagian berikut:


1. Pekrjaan, Gaji dan Wajib Militer
Jika wamil diterapkan di Indonesia mungkin banyak sekali orang yang sukarela mendaftar. Jika perlu lulus SMP langsung masuk militer. Mengapa? Karena masuk wamil Anda akan digajposting pertama gajinya sekitar $90 atau sekitar satu juta rupiah per bulan. Lumayan kan? Makan dan tidur gratis pula. Tapi di Korea jumlah itu tentunya kecil sekali karena rata-rata pendapatan mereka sekitar $3000 per bulan. Tidak heran banyak yang menghindari tugas ini. Tapi, tahukah Anda bahwa dulu ketika wamil diterapkan hampir selama 3 tahun lamanya, keikutsertaan dalam wamil bisa dijadikan referensi untuk bekerja bagi yang belum dapat pekerjaan? Bagi yang sudah bekerja keikutsertaan dalam wamil menjadi penghargaan tersendiri berupa insentif khusus terhitung 3 tahun pengalaman kerja. Tapi peraturan ini tidak berlaku setelah Menteri Kesetaraan Gender dan Urusan Keluarga menganggap peraturan ini tidak adil bagi wanita. Wanita yang tidak ikut wajib militer tidak akan mendapatkan promosi dan bonus lain semudah laki-laki yang ikut wamil. Saya rasa ini keputusan yang adil. Tentunya imbasnya adalah makin sulit posisi laki-laki dalam wamil. Gaji berkurang, pekerjaan dan urusan lainnya pun terhentikan sementara. Tak mengherankan banyak yang stres dan tertekan selama mengikuti wamil. Bagaimanapun juga beratnya, hal yang unik adalah di korea perusahaan-perusahaan besar mensyaratkan pegawai laki-lakinya sudah mengikuti wamil.
i, tidak banyak, seperti tulisan saya di

2. Jangan Jadi Orang Korea Selesai Perkara?
Bukan hanya para artis dan orang terkenal saja yang ingin lepas dari kewajiban mereka sebagai warga negara Korea dewasa, tapi orang-orang biasa juga malas ikut wajib militer. Tentunya, siapa yang ingin mengabiskan minimal 21 bulan di kemp pelatihan dan terputus dari dunia luar. Menghentiak segala rutinitas sehari-hari bertemu teman dan harus memaytuhi perintah atasan dan hidup disiplin 24 jam penuh seperti lazimnya para anggota militer lainnya. Untuk yang senang dengan kehidupan militer, yang bercita-cita masuk ketentaraan, atau yang punya rasa cinta tanah air sedemikian besarnya sih mungkin akan senang-seang saja. Tapi pada umunya rakyat sipil biasa pasti akan mengeluh.

Banyak orang yang berusaha menghindari wajib militer ini. Cara pertama yang dilakukan adalah melepaskan kewarganegaraan. Tentunya ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang, tapi orang-orang Korea yang lahir dan besar di luar negeri punya dua kewarganegaraan Yang memilih mempertahankan kewarganegaraannya tentunya harus pulang ke Korea untuk menjalani wamil, walaupun dia bermukim di luar negeri. Masalahnya, ternyata banyak yang sengaja melepaskan kewarganegaraan Korea-nya. Orang-orang yang memilih jalur ini tidak dikenai kewajiban wamil. Enak kan? Tapi perkara tidak selesai di sini.

Bagi mereka yang melepaskan kewarganegaraan Korea karena ingin menghindari wamil akan mengalami kesulitan di masa depan jika mereka kembali ke Korea. Yang pertama, hampir tidak mungkin bagi mereka untuk mendapatkan kewarganegaraan Koreanya kembali. Yang kedua, jika mereka ingin berkarir di Korea, mereka harus siap menerima tekanan kultural. Masyarakat menganggap rendah dan mencibir anak-anak dari keluarga yang sengaja melepaskan kewarganegaaraan untuk menghindari wamil. Di Korea, laki-laki belum dianggap sebagai laki-laki sepenuhnya jika mereka belum masuk wamil. Saya ingat adegan di drama Coffee Prince saat pemeran wanita yang berpura-pura jadi laki-laki di film ini diragukan kapabilitasnya oleh atasan. Atasan menanyakan apa dia sudah ikut wamil. laki-laki dewasa 20 - 30 tahun yang belum ikut wamil harus siap melayani dan menuruti seniornya. Walaupun posisi di pekerjaannya lebih tinggi, orang yang belum masuk wamil akan tetap kurang dihormati dan tidak disegani. Orang-orang yang sudah menyelesaikan wamil menganggap masa-masa yang mereka habiskan dalam wamil sebagai sebuah kebanggan dan sebuah proses menjadi laki-laki sejati. Hal ini dikarenakan mereka telah melepaskan semua posisi, pekerjaan, pendidikan, dan kenikmatan lain untuk mengabdi pada negara. Inilah yang dianggap sebagai hidup baru laki-laki sejati di Korea.

Sengaja menato tubuh akhirnya masuk penjara

3. Dengan Tato Masalah Hilang
Sesuai peraturan wamil, laki-laki dengan tato banyak dan besar tidak wajib ikut wamil. Walaupun tidak ada larangan bertato di Korea, tetapi jumlah tato banyak dan besar seperti tato para Yakuza dan anggota gangster lain dianggap tidak baik. akibat dari peraturan ini banyak laki-laki yang sengaja menato tubuhnya untuk menghindari wajib militer. Entah bagaimana negara melacaknya, sepertinya rumah tato dan artis tato di Korea juga berhati-hati dalam kasus ini jika tidak ingin bisnis mereka bermasalah dengan pemerintah.

4. Demi Kebebasan Semua Dilakukan
 Tahukah Anda selain tato hal apa yang dilakukan laki-laki Korea untuk menghindari wamil? Ada beberapa yang menurut saya aneh tapi juga cerdik (walaupun akhirnya terbongkar juga). Umumnya semua hal unik dan nekad yang dilakukan ini berkaitan dengan kesehatan. Ini  dikarenakan ketentuan peraturan wamil yang mewajibkan semua yang ikut dalam wamil berbadan sehat.
- Ada yang sengaja makan sangat banyak (overeating)
- Ada yang sengaja puasa sehingga lemah dan tak berdaya.
- Ada yang sengaja mematahkan tulang belikat
- Ada yang sengaja meremukkan tulang rawan
- Ini yang paling ekstrim, pura-pura gila!!!

5. Saya Percaya Karenanya Saya Dipenjara
Bagian terakhir yang saya ulas ini tentang orang-orang yang harus menjalani hukuman mulai 18 bulan penjara karena menolak wamil. Bukan menghindari tapi ada orang-orang yang menolak wajib militer. Alasannya? Ada yang karena alasan moral dan ada juga dengan alasan kepercayaan. Orang-orang dari kelompok Jehovah's Witness (Saksi-Saksi Yehuwa adalah suatu denominasi Kristen, milenarian, restorasionis yang dahulu bernama Siswa-Siswa Alkitab hingga pada tahun 1931. Agama ini diorganisasi secara internasional, , yang mencoba mewujudkan pemulihan dari gerakan Kekristenan abad pertama yang dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus -wikipedia), misalnya menolak wamil yang tidak sesuai dengan kepercayaan mereka. Akibatnya mereka harus mendekam di penjara. Setidaknya sampai Agustus 2013, ada 669 orang dari Jehovah Witness yang mendekam di penjara karena menolak ikut wamil. 

Sumber:
http://www.brownpoliticalreview.org (Stella Kim, A Dreaded Rite of Passage: Korea’s Mandatory Military Service, Dec 2013)
http://www.cbsnews.com (Bootie Cosgrove-Mather, Draft Dodging South Korean Style, June 24, 2003)
http://www.scmp.com(Paying the price for refusing military service in South Korea, Aug 2013)
http://wikipedia.org


Thursday, January 30, 2014

Museum Mpu Tantular Si Harta Tersembunyi

Apakah museum itu? Dulu ketika saya bersekolah jawaban atas pertanyaan ini sangat mudah, "tempat untuk menyimpan barang-barang kuno". Nah dari definisi sederhana inilah akhirnya terbentuk pemikiran awal saya bahwa museum isinya barang dari jaman prasejaah sampai sejarah yang disimpan di dalam kaca dan dipamerkan. Padahal museum bukan sekedar ruang pamer penyimpanan barang kuno loh. Menurut Edaward Potter Alexander dan Mary Alexander dalam buku  Museum in motion:an introduction to the history and functions of museums yang dikutip oleh Wikipedia, museum adalah institusi yang tugasnya merawat, menjaga (mengkonservasi) koleksi artefak dan objek / benda ilmiah, artistik (benda seni), objek yang bernilai budaya, atau yang bernilai historis untuk dipertontonkan kepada masyarakat melalui sebuah pameran baik yang sifatnya tetap atau sementara (1). Sedangkan menurut International Council of Museum - ICOM (Dewan Museum International), definisi museum telah mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan zaman.  Berdasarkan Statuta ICOM, yang ditetapkan di Konferensi Umum tahun 2007 di Wina, Austria museum didefinisikan sebagai sebuah institusi nirlaba yang sifatnya permanen yang tugasnya melayani masyarakat dan perkembangannya; dibuka untuk umum; yang memperoleh, mengkonservasi, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan warisan manusia dan lingkungannya baik yang terlihat dan tidak terlihat untuk tujuan pendidikan, studi, dan hiburan (2).

Definisi yang saya kutip di atas menunjukkan bahwa museum bukan sekedar tempat untuk menyimpan artefak kuno, tetapi barang-barang modern pun juga bisa menjadi koleksi museum. Jadi kesan bahwa museum berisi barang kuno jelas salah, karena tidak semuanya begitu. Yang paling penting adalah bahwa museum sifatnya nirlaba, tidak dikomersilkan. Karenanya kebanyakan masuk museum gratis, kalaupun berbayar pasti tidak mahal. Di Museum Mpu Tantular yang saya kunjungi tarif masuknya Rp. 4000. per orang. Murah bukan? Ini tarif dewasa, tarif anak-anak Rp. 3000 per anak.

Saya sudah lama ingin mengunjungi Museum Mpu Tantular. Setelah lebih dari 10 tahun tinggal di Surabaya akhirnya bisa juga mengnjungi museum ini di Sidoarjo. Lho? Iya, dulunya museum ini letaknya di Surabaya dekat dengan Kebun Binatang Surabaya. Kemudian berpindah lokasi ke Kecamatan Buduran, Sidoarjo di tahun 2004. Bangunan bekas museum di Surabaya yang merupakan bangunan cagar budaya sekarang menjadi Perpustakaan Bank Indonesia. Sayang museum pindah ke lokasi yang "tersembunyi" di bawah jembatan layang Buduran, padahal dulunya di Surabaya lokasinya sangat terlihat di gedung kuno yang cantik. Lahan Museum Mpu Tantular di Sidoarjo memang lebih luas, rupanya pengelola museum membutuhkan area untuk pagelaran yang sering dipertontonkan secara gratis. Saya rasa tujuan utamanya untuk mengajak masyarakat lebih mengenal budaya dan cinta museum. Sayang, dari jalan utama museum ini tidak terlihat. Jika tidak ada papan penunjuk jalan pasti masyarakat luar Sidoarjo tidak tahu. Inilah mengapa saya sebut museum ini sebagai harta yang tersembunyi. Nilai budaya yang terkandung dalam benda koleksinya sangat agung tapi tersembunyi di bawah jembatan layang dan berada di tepi jalan kecil yang tidak ramai dilintasi orang.


Area museum
Saya berkunjung di hari Selasa. Untung tidak datang di hari Senin karena museum tutup di hari itu. Senangnya museum buka di hari Minggu. Dulu seingat saya ketika berkunjung ke Museum Trowulan di hari Minggu museum tutup. Dari depan gerbang kita membeli tiket. Baiknya ada semacam buklet gratis yang dibagikan pada pengunjung tentang penjelasan museum dan koleksi unggulannya, sama seperti ketika saya mengunjungi Kebun Raya Purwodadi. Dari bagian depan saya dan teman agak bingung mencari lokasi parkir dan yang jelas dari tempat parkir yang sunyi sepi itu saya bingung museumnya di mana karena ada beberapa bangunan dan denah lokasi ada sebelum tempat parkir mobil. Di dekat lokasi parkir ada gedung pamer tuna netra. Keren ya? Selanjutnya, berjalan dari parkiran saya masuk ke gedung dengan banyak arca berjajar. Saya mengambil foto beberapa arca ini. Ternyata saya masuk dari sisi samping museum he he.



Benda-benda koleksi museum tersusun berdasarkan zaman. Andai saya masuk dari pintu yang tepat dan berjalan sesuai arah maka saya bisa melihat koleksi dari zaman purba sampai masa perjuangan kemerdekaan (jaman kolonial). karena saya masuk dari pintu samping maka secara acak saya melihat koleksi. Untuk pertama kalinya saya melihat fosil gading gajah purba, mammoth mungkin ya namanya. Saya lupa secara pasti apa nama hewannya. Ada juga beberapa batu berharga yang masih berupa bongkahan. Koleksi arca dan prasasti banyak sekali dan favorit saya sebenarnya koleksi kitab bertuliskan aksara Jawadi lembaran daun lontar . Wow..menakjubkan bagaimana sejarah suatu negeri ditulis kecil-kecil di lembaran daun. Sedangkan koleksi modern masuk ke era awal tahun 1800-an. Ada koleksi telepon meja juga dan yang manrik ada simphonion. Bentuknya seperti jam kayu berdiri yang besar, tapi sebenarnya Simphonion adalah kotak musik buatan Jerman, dibuat di abad 18. Cara kerjanya bisa Anda baca di museum he he. Koleksi mata uang yang dipakai di republik tercinta ini juga ada.

Pintu samping ruang pamer utama. Berteralis rapat.
Prasasti bertuliskan aksara kuno. Seperti membaca kode Bangsa Decepticon di Transformer he he.

Gedung lain di kawasan museum. Dinamakan Von Faber untuk menghormati pendiri museum.
Bapak Von faber

Hiasan Garudaya
Tahukah Anda apa koleksi paling menakjubkan yang belum pernah saya lihat di museum lain? Di tengah bangunan utama museum ada brankas raksasa berjeruji. Ya benar, pintu brankas sangat besar dan sengaja dibuka agar pengunjung bisa melihat isi brankas. Tentunya ada jeruji yang mengamankan segala isi di dalam brankas. Jadi kita cuma bisa melongok saja bukan masuk ke dalam brankas. Brankasnya berukuran sekitar 5 x 7 m mungkin, isinya? Perhiasan! Ya benar, perhiasan jaman kerajaan. Ada banyak sekali kalung dan gelang dari emas, perak, dan logam berharga lainnya yang disimpan di dalam kotak kaca di dalam brankas. Yang paling wow, adalah hiasan dada garudeya. Objek ini ditemukan saudara Seger pada tahun 1989, di Desa Plaosan, Kec. Wates, Kab. Kediri. Hiasan ini dibuat dari emas 22 karat dengan berat keseluruhan 1.163.09 gram. Dilihat dari reliefnya, kemungkinan hiasan ini merupakan peninggalan dari abad XII-XIII M. Benda ini merupakan cindera mata dari Raja Siam kepada Raja Airlangga (3). Hm...bayangkan berapa nilai barang ini? Mungkin setara 20 mobil Ferrari?

Di bagian paling depan museum ada 5 arca Budha yang menghadap ke 4 penjuru mata angin dan 1 arca di tengah saya lupa apa fungsinya. Dan di bagian depan pula saya membaca tulisan dilarang mengambil gambar di dalam museum he he. Karena saya masuk dari pintu yang berbeda saya tidak membaca larangan ini. Jadi di posting saya yang saya masukkan adalah gambar-gambar yang saya ambil di luar bangunan museum (semoga posting saya tidak kena cekal). Gambar lain saya peroleh dari website resmi Museum Mpu Tantular.

Secara keseluruhan saya kurang puas karena koleksi tiap zaman kurang banyak. Mungkin karena tidak mengkhususkan diri pada satu koleksi dan satu zaman maka tidak banyak barangnya. Untuk ukuran museum provinsi saya mengharapkan koleksi yang lebih banyak, harapan saya sih. Koleksi batu berharga misalnya, seingat saya hanya satu etalase dengan kurang dari 10 jenis batuan. Paling tidak separo jumlah koleksi di ruang pamer batu berharga objeck wisata Goa Maharani ada di Museum Mpu Tantular.  Koleksi batik juga tidak banyak. Padahal jenis batik di Jawa Timur luar biasa banyaknya. Mungkin bisa jadi satu lantai museum khusus untuk batik dan bertingkat di lantai lain koleksi lain. Demikian halnya dengan koleksi zaman kerajaan. Saya puas ketika berkunjung ke Museum Trowulan, koleksi arca, prasasti dan lainnya banyak sekali, sebaliknya di Museum Mpu Tantular saya melihat sedikit benda koleksi di zaman ini.

Semoga koleksi bisa bertambah. Tentunya dana yang dibutuhkan untuk proses eskavasi dan konservasinya tidak murah. Saya yakin masih banyak benda purba dan bersejarah lainnya di tangan kolektor yang mudah-mudahan bisa menjadi milik pemerintah kembali dan dipamerkan di museum-museum. Warisan budaya sunguh tak ternilai jika memang tidak ada keseriusan dan niat dari pemerintah saya rasa museum dan koleksinya kurang berkembang.

Cerita pendiri museum
Bolehlah kiranya Anda berwisata ke Museum Mpu Tantular. Melihat sejarah bangsa dan menikmati keagungan hasil budaya masyarakat Indonesia dan dunia tempo dulu. Sebagai orang modern saya terkesima dengan kerja keras pembuat prasasti, bukti pencatatan masa lalu. Di masa sekarang saja orang menulis di buku harian sudah langka, padahal itu juga suatu catatan sejarah kehidupan. Bukan begitu? Dan blog ini juga jadi catatan sejarah saya, bukan di atas batu karena ini era baru. Selamat berkunjung di Museum Mpu Tantular :)

Sumber:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Museum
2. http://icom.museum/the-organisation
3. http://www.museum-mputantular.com





Tuesday, December 31, 2013

Lucky Number.....(G-DRAGON Coup D'etat CD)

Alhamdulillah banyak keberuntungan datang, Baru 2 minggu lalu saya memenangkan sayembara berhadiah CD album solo terbaru G-Dragon, pemimpin idol group BIGBANG. Sejujurnya dari awal CD ini dilempar ke pasaran saya tidak terlalu tertarik. Saya lebih tertarik membeli CD album solo personil BIGBANG lainnya, Seungri. Musik GD tidak terlalu saya suka. Herannya lagi, saya selalu kena "kutukan" BIGBANG. Ketika saya bilang tidak, maka pada akhirnya akan jadi ya, bahkan ya yang teramat sangat.

G-Dragon adalah personil BIGBANG yang mengeluarkan album keduanya di tahun 2013. Setelah saya mendengar beberaPa lagunya saya langsung jatuh hati. Saya suka sekali lagu-lagunya. Lebih dari itu semua, saya sangat mengagumi kemampuan bermusiknya. Ia adalah rapper, penyanyi, pengarang lagu, dan sekaligus produser  bagi lagu-lagunya dan banyak lagu lain yang dinyanyikan oleh para artis di bawah manajemen yang sama. Banyak lagu hits BIGBANG yang juga diciptakan olehnya.

Manajemen BIGBANG, YG Entertainment punya banyak fanbase di dunia. Salah satunya di Indonesia. Perwakilan YG yang dinamakan YGI Indonesia, adalah salah satu yang saya ikuti (follow) kicauannya di Twitter. pada tanggal 16 Desember 2013 lalu, pihak YG Indonesia sedang merayakan hari jadinya yang kedua. Sebuah sayembara berhadiah 2 CD (1 CD G-Dragon dan 1 CD Seungri) pun digelar. Batas waktunya tanggal 16 - 18 Desember 2013. Dasar saya orang yang kurang teliti, saya baca tanggal 16 adalah batas akhir sayembara.

Aturan sayembara sangat mudah. Saya hanya perlu membuat ucapan selamat ulang tahun pada YG Indonesia dengan media apapun dan hasilnya diunggah ke Twitter YG Indonesia. Saya memutuskan minta bantuan salah satu teman saya yang kreatif. Saya minta ia membuat plakat dari karton bertuliskan "Happy 2nd Anniversary YG Indonesia" yang terpisah tiap kata. Plakat ini nantinya dipegang oleh murid-murid saya yang imut dan saya dengan salah satu teman akan berpose di belakang mengenakan jaket BIGBANG. Malamnya setelah merayu murid saya dan minta tolong pada satu murid remaja untuk mengambil gambar, saya berpose. Setelah berganti beberapa gaya,  akhirnya saya memilih satu gambar yang menunjukkan senyum ceria saya dan murid-murid di foto tersebut. Sayangnya jaket BIGBANG yang awalnya diniatkan jadi penanda malah tak terlihat.

Hasil pose yang saya kirim ke YG Indonesia
Saya unggah foto tersebut keesokan harinya. 2 hari sesudahnya, saya teringat untuk mengecek pemenang lomba. Saya sempat ciut harapan karena sehari sebelumnya saya lihat peserta lain mengunggah hasil karya lukisan 3dimensinya. Bagus sekali. Setelah jari saya menggeser mouse ke bawah dan melihat beberapa nama pemenang saya mulai pesimis. Saya tetap menggeser cursor ke bawah. Berharap masih ada pemenang lainnya. Ada perubahan dari pihak YG Indonesia yang menambah hadiah menjadi 5 pemenang. 2 pemenang pertama mendapat CD G-Dragon, 2 lainnya CD Seungri, dan 1 jadi pemenang dengan hadiah khusus.

Tiba-tiba saya menjerit girang. Di posting paling bawah ada nama saya dan hasil foto saya. Say aberhak mendapat 1 CD G-Dragon. entah jadi pemenang pertama atau yang kedua, yang jelas saya senang bukan kepalang. Hadiah sampai di hari Sabtu keesokan minggunya karena banyak hari libur di akhir tahun. Saya berterimakasih pada teman dan murid saya yang telah membantu saya.




Semoga makin banyak keberuntungan dataang di tahun 2014. Siapa tahu saya bisa memenangkan tiket nonton konser mereka. Semoga!

Saturday, December 28, 2013

Lucky Number.... (BIGBANG Alive Galaxy Tour Varsity Jacket)

Keberuntungan lain saya yang kesekian kalinya adalah ketika saya mendapatkan jaket BIGBANG dari Cristian Espinoza pemilik akun Google Plus, BIGBANG is VIP. Penggemar mana yang tidak ngiler mendapatkan jaket BIGBANG? Tentu semua mau. Saya sebenarnya sudah membeli jaket BIGBANG dari sebuah toko online seharga 160,000. Kualitas jaketnya bagus, bahannya juga bagus, sedikit kebesaran saja. Karena bahannya yang tebal saya hanya memakainya ketika cuaca sedikit dingin dan mendung.

ketika membeli jaket tiruan yang desainnya keren ini saya sempat mengecek jaket asli yang dijual di toko resmi YG Entertainment, perusahaan rekamannya BIGBANg. Harganya? Hm..tidak masuk akal...hampir 2 juta rupiah jika saya tidak salah mengkonversikan harganya ke rupiah. Ada juga jaket aspalnya, dijual oleh perwakilan YG Entertainment Indonesia yang dibanderol 550,000. Yang ini buatan Cina. Yah...sama saja terlalu mahal.

Apa dikata, sesuai pepatah pucuk dicinta ulam tiba, tanpa sengaja saya menemukan akun Cristian di Google plus yang memamerkan jaket BIGBANG aspalnya. Saya beri komentar (saya benar-benar iri padanya). Tak lama saya menjadi pengikut fanpage BIGBANG miliknya. Kemudian suatu saat dia memposting gambar jaket terbarunya, kali ini jaket asli BIGBANG yang dibeli dari YGshop. Dia menulis akan memberikan jaket BIGBANG aspalnya (yang baru dipakai sekali jika tidak salah) kepada siapa saja yang menjadi pengikut situsnya yang lain (japandaman.com).

Saya semangat, tapi kemudian surut semangat juga ketika saya tidak terlalu suka situs Jepangnya yang berisi anime, manga, game dll. Wah..bagaimana caranya saya bisa mendapat jaket tersebut ya? It's all about timing. Di kesempatan lainnya Cristian membuka "lowongan" bagi mereka yang ingin menjadi admin fanpage BIGBANG. Saya mengajukan diri (satu-satunya) dan akhirnya saya mendapat kabar bagus bahwa Cristian akan mengirimkan jaket BIGBANG aspalnya pada saya. Ia bilang sangat sulit membedakan yang asli dan palsu karena yang buatan Cina mirip dengan aslinya.

Setelah berkoar-koar pada beberapa teman saya bahwa saya akan mendapatkan jaket BIGBANG, saya cemas juga karena hampir 2 bulan sesudahnya Cristian baru memberi kabar dan meminta maaf atas keterlambatannya mengirim jaket tersebut untuk saya.

Dan...hari yang dinanti tiba. jaket datang dalam keadaan mulus dikirim dari Australia. bayar 7000 lagi untuk ongkos bungkus ulang paket. Ukuran jaket pas, lengan seidkit kebesaran. Kualitas bahan bagus dan model super keren. Saya gemetaran dan senang tak terkira. Oh senangnya....thank you so much Cristian.
 

Penampakan Jaket Varsity BIGBANg ketika dipakai manggung

maaf ya..tempat tidur saya berantakan he he..ini penampakan jaket BIGBANG milik saya



Bagian lengan terbuat dari bahan mirip kulit dengan emblem yang bisa dilepas, kecuali gambar tengkorak dan lambang huruf B yang menempel. Di lengan kiri nama anggota BIGBANG dibordir tepat di bawah emblem

Nama personil BIGBANG ditambah VIP (julukan penggemar BIGBANG) dibordir di sisi kiri lengan
Emblem bordir ditempel di bagian lengan yang bisa dilepas dan ditempel sesuai selera
Bagian belakang dengan tambahan aksesoris manis :D



Diapaki ngantor pun keren bukan?




Berminat? Silakan browse dan pilih sesuai dengan budget Anda. Mulai dari yang asli, KW super, KW 1 dan lainnya tersedia. Untuk official merchandise bisa dicek di :
http://www.ygeshop.com





Lucky Number......(BIGBANG Alive Galaxy Tour The Final 2012 CD)


Keberuntungan datangnya dari mana saja. Keberuntungan saya lainnya adalah ketika salah satu teman Korea saya mengirimi saya CD BIGBANG. Keinginan punya CD BIGBANG sih ada, sebagai penggemar layaknya dan wajibnya saya punya. Tapi melihat harganya yang beratus-ratus ribu rupiah (karena ditambah ongkos kirim dari Korea atau Hongkong ke Indonesia) ditambah lagi pembelian yang repot karena harus online (lewat PayPal) membuat saya bersedih hati dan gundah gulana ha ha. Ada sih toko online yang menjual CD musisi Korea di Indonesia tapi ya...sama saja biayanya. bahkan kadang lebih mahal dari biaya yang saya keluarkan jika membeli sendiri. Singkatnya..sayang uang....

Dan..dari hasil ngobrol dengan teman saya, datanglah CD BIGBANG yang membuat saya girang bukan kepalang. Saya tidak tahu pasti CD BIGBANG mana yang akan saya dapatkan saat itu. namanya juga pemberian, apa saja saya terima dengan senang hati. Tentunya  CD ini istimewa karena CD tersebut adalah CD terakhir BIGBANG yang berisi lagu-lagu dari konser mereka. Saat mendengarnya saya senang skeali. Seakan saya berada di dalam stadion bersama ribuan penonton lainnya. Suara personil BIGBANG juga dalam performa bagus.

Thank you Woo Shin Jae :D You really made my day

Paket pertama saya dari Korea. kagetnya lagi paket ini dikirim dengan  EMS alias kilat. Seingat saya kurang dari seminggu, mungkin sekitar 5 hari paket sudah sampai. Seperti biasa, bayar 7000 untuk ongkos bungkus ulang paket.


Voila! setelah dibuka isinya CD BIGBANG dan kartu yang cantik sekali. Sekali lagi, terima kasih banyak ya Shin Jae



Tuesday, December 17, 2013

Saya dan Korea (Bagian Ketiga : Berbagi Cinta di Panti Asuhan Muhammadiyah Tandes)



Hubungan antara saya dan Korea yang ketiga lebih dahsyat lagi (menurut saya loh).  Hubungan ini menginspirasi, memotivasi, dan juga menguntungkan. Suatu saat di hari minggu pagi seperti biasa saya pergi mengunjungi ayah saya di Mojokerto. Sekitar pukul 10 saya sudah sampai di Terminal Purabaya (Bungurasih) Surabaya ketika handphone saya berdering. Fatin, salah satu murid saya menelpon dengan suara sedikit terburu-buru.

 “Halo, Miss sekarang ada di mana?”

“Saya di (Terminal) Bungurasih, kenapa?

"Miss, sudah baca sms saya?”

“SMS apa? Maaf Fatin saya tidak baca.”

“Oalah Miss…ini loh sekarang aku mau ke panti asuhan. Ada orang Korea mau ke sini. Miss ga mau ikutan ta?”

“Orang Korea? Siapa?”

“Ga tau Miss…mereka seperti sukarelawan gitu loh.”
 
“Lha terus saya bantu apa? Ini saya mau pulang ke rumah bapak saya”

“Ikut aja Miss. Miss ga bisa pulang lebih awal ta?”

“Waduh…ya nanti saya kabari lagi ya? Kalo saya bisa pulang lebih awal ya nanti saya ke situ. Emang sampai jam berapa acaranya?”
 
“Ga tau Miss..ya mungkin dari jam 10 sampai sore. Kata ayah gitu.”

“Ya wis liat tar ya Fatin.”

Begitulah isi percakapan saya yang dilanjutkan dengan saling bertukar sms. Saya tidak akan melupakan hari itu karena di hari yang sama saya hampir kecopetan di bus.

Selama perjalanan dari Surabaya – Mojokerto saya asyik berkirim sms dengan Fatin. Dia menceritakan bahwa orang-orang Korea yang ditemuinya ternyata adalah pemuda-pemudi Korea yang tampan dan cantik. 
Saya sempat mengatakan jangan-jangan yang datang bintang film, tapi Fatin tidak mengenalnya. Setelah memastikan tidak ada kru film saya menyimpulkan mereka orang biasa, bukan selebriti. Mengapa saya tiba-tiba berpikiran se “ekstrim” itu? Karena pernah saya nonton acara yang sifatnya acara sosial. Di acara itu 2 selebriti Korea berkunjung ke Jakarta dan mereka membantu sebuiah keluarga miskin yang terdiri dari seorang nenek tua dan 3 cucunya. Saya sempat berpikir kemungkinan yang terjadi mengingat peristiwanya mirip.

Fatin tak henti-hentinya memuji betapa tampan pemuda-pemuda Korea yang ditemuinya. Saya makin penasaran dan tersenyum simpul sepanjang perjalanan, sampai saya tak sadar ada orang lain di bus yang memperhatikan gerak-gerik saya. Ketika saya bersiap hendak turun dan berdiri di dekat sopir seorang laki-laki 40 tahunan menabrak tas selempang saya yang ada di sisi kiri badan saya. Saya sempat punya pikiran aneh karena tas saya sampai terpelanting, tapi beberapa detik kemudian saya piker hanya senggolan biasa. Sampai ketika saya hendak turun tangga saya dapati kabel earphone saya menjuntai keluar dari kantong tas bagian luar tempat saya menyimpan handphone saya. Sontak saya masukkan kabel dan saya raba isi kantong. Handphone saya tidak ada! Langsung saja dengan tenang dan sedikit yakin saya menoleh ke belakang, menatap laki-laki yang memegang jake di lengan kirinya itu dan berkata. “Pak, handphone saya mana?”

Jika Anda ditanya orang tak dikenal pertanyaan serupa, apa jawaban Anda? Tahukah anda apa yang terjadi kemudian? Dia menggeser posisi berdirinya sambil menjawab,”Lho Mbak kok gak hati-hati?” Jawaban yang aneh bukan? Wajarnya orang pasti menjawab ,” Handphone apa?“ atau “Lho..mbak taruh di mana?” Yang lebih ekstrim dan mungkin dikatakan adalah. “enak aja kok nuduh saya.” Dan ketika ia menggeser badannya, handphone saya duduk manis di pojok kursi tepat di kursi yang saya duduki sebelum berdiri. Lebih aneh lagi! Kalopun saya duduki pasti terasa, kalopun jatuh letaknya sangat rapi di pojok kursi bukan jatuh di lantai.

Saya ambil handphone saya segera, turun dari bus, dan meninggalkan laki-laki yang masih mengulangi pertanyaannya ,”Lho Mbak kok ga hati-hati.” Mungkin ia juga terkejut saya bisa mengetahui perbuatannya. Mungkin ia shock dengan pertanyaan saya yang tidak saya tanyakan dengan nada marah tapi tetap tenang, “Pak handphone saya mana?” Saya belajar ini dari murid saya yang pernah kecopetan dan ketika ia sadar ia segera bertanya pada orang di sebelahnya pertanyaan serupa. Barangnya langsung dijatuhkan ke lantai oleh pelaku. 

Sambil berjalan menuju ke rumah sedikit deg-degan dan terus menganilis perilaku pencopet itu, saya tidak membuang waktu dan berjalan cepat. Sampai di rumah saya ceritakan pada ayah saya dan beliau juga sepakat itu adalah pencopet dan saya harus lebih waspada. Saya pamit untuk kembali pulang sekitar jam 1 siang. Fatin memberitau saya lewat sms tentang kekagumannya terhadap para pemuda Korea terutama yang namanya “Kang” dan kemudian dia berkata para sukarelawan itu pulang jam 3 sore jadi saya pasti akan melewatkannya. Tapi mereka akan tinggal selama kurang lebih 10 hari. Ia mengajak saya menemui mereka hari Senin, keesokan harinya. Saya menyanggupi.

Hari Senin pagi, sekitar pukul 7 saya siap di depan sebuah sekolah, menunggu Fatin mengantarkan saya ke panti asuhan tempat para sukarelawan itu melakukan kegiatan sosialnya. Walaupun letak panti asuhan hanya kurang dari 300m dari tempat tinggal saya tapi saya baru mengetahuinya. Panti Asuhan Muhammadiyah Tandes, namanya. Saya berbicara dengan pengasuhnya Pak Indra. Fatin memperkenalkan saya pada beliau, dan pada beliau juga saya sampaikan maksud saya untuk datang membantu dan selanjutnya saya ingin mengajar bahasa Inggris untuk adik-adik panti asuhan. Gayung bersambut, Pak Indra sangat terbuka dan dengan kebaikan beliau, saya diterima sebagai bagian dari keluarga panti asuhan.

Sambil bercerita tentang keadaan panti, kurang dari 15 menit kemudian suasana di luar panti asuhan menjadi riuh. Ya, panti asuhan terletak di tengah-tengah pasar tradisional yang menmpati gang-gang sempit di perkampungan. Mendadak ada dua angkot mendekat yang isinya para sukarelawan Korea. Tentu saja pasar jadi heboh, Heboh karena macet dan heboh karena semua menoleh.

Dan…benar..semua sukarelawan Korea itu cantik-cantik dan tampan-tampan. Seperti nonton drama Korea. Saya sempat berpikir dalam proses seleksinya jangan-jangan penampilan juga dinilai ha ha. Ada 21 sukarelawan, 10 perempuan dan 11 laki-laki. Kegiatan utama mereka di Surabaya adalah membantu panti asuhan. Mereka mengajarkan pelajaran bahasa Inggris dasar, budaya Korea, keterampilan, permainan, kesenian, memberikan bantuan berupa perbaikan fisik bangunan (membangun septic tank), dan juga kegiatan lain.
 
Saya dan para sukarelawan. Yang berbaju putih Heung Su yang mengajarkan saya bahasa Korea
Saya hanya ikut dari jam 7.30 – 11 pagi selama 3 hari dari hari Senin sampai Rabu karena saya harus bekerja. Dari waktu yang singkat ada beberapa hal yang saya dapat:

  • Mereka adalah para pemuda dan pemudi yang mendaftar sebagai sukarelawan pada perusahaan pengelola Bandara Udara Incheon (Incheon Airport) di Korea.
  • Mereka mengikuti proses seleksi dan semua awalnya tidak salaing kenal dan berasal dari beberapa kota di Korea.
  • Kegiatan sukarelawan menjadi trend di Korea dan anak muda banyak yang giat mengikuti kegiatan ini. Menjadi sukarelawan sangat penting dan dipertimbangkan dalam CV kerja. Perusahaan-perusahaan juga berlomba-lomba meningkatkan kegiatan amal perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR).
  • Panti Asuhan Muhammadiyah Tandes untuk pertama kalinya mendapat kunjungan ini, tapi sebelumnya Panti Asuhan Muhammadiyah cabang Wiyung mendapat kunjungan dan bantuan hampir setiap tahun pada tahun-tahun sebelumnya.
  • Pemudi-pemudi Korea memang malu-malu, tapi tetap full make-up ha ha.
  • Pemudanya lebih terbuka dan lebih bersahabat. Pemudinya lebih malu-malu tapi mereka juga baik.
  • Semua bekerja dengan penuh semangat, kompak, dan super ramah.
  • Saya sempat diajarkan bahasa Korea oleh salah satu sukarelawan, Han Heung Soo. Pelajaran pertama mengenal huruf dan membaca tulisan Hangul. Wuih..puyeng saya. Terutama karena kendala bahasa pengantar juga. Heng Soo kurang lancar berbahasa Inggris. Pada hari-hari selanjutnya saya mencoba menulis sendiri dan memintanya mengoreksi hasil tulisan saya, buku saya titipkan Fatin karena saya tidak ada kesempatan untuk bertemu.
  • Para sukarelawan tidak semuanya paham bahasa Inggris. Kebanyakan berbicara kurang lancar dan logatnya pun membingungkan. Ada satu orang yang fasih berbahasa Inggris akrena pernah tinggal di Australia dan pemimpin tim tersebut malah fasih berbahasa Indonesia.

Entah bagaimana mereka menjadi magnet bagi saya. Semangat, keceriaan, dan keramahan mereka yang luar biasa membuat saya sangat tersentuh dan terkagum-kagum. Mereka sangat hangat dan menyenangkan. Ini membuat saya makin mantap meluangkan waktu untuk menjadi sukarelawan seperti mereka, paling tidak di panti asuhan ini. 

Bagi adik-adik panti asuhan tentu saja mereka senang luar biasa. Semua senang dengan keramahan teman-teman baru mereka dari Korea. Pada hari terakhir ketika digelar pesat perpisahan sederhana, saya tidak hadir. Setelah acara tersebut saya menonton video bagaimana semua sukarelawan berbagi cerita dan berbagi air mata di akhir pertemuan dengan adik-adik. Beberapa adik panti asuhan terharu dan sedih melepas kepergian mereka. Untung saya tidak datang…bisa-bisa saya menangis hebat melihat harunya pesta perpisahan itu. Ah…yang namanya perpisahan tidak ada yang membahagiakan. Oh ya, yang terlupakan, ada juga kisah cinta yang terjalin... beberapa remaja panti asuhan jatuh hati pada sukarelawan pria..ha ha…

 
Saya (depan tidak berkerudung) dan Fatin (Oranye berkerudung), teman-teman Panti Asuhan Muhammadiyah Tandes dan teman-teman sukarelawan dari Incheon Airport
 Saya mengenal beberapa sukarelawan dan sempat berkirim e-mail dengan mereka sekembalinya ke Korea. Sampai sekarang saya masih bertukar kabar dengan 5 orang dari para sukarelawan. Salah satunya, Woo Shin Jae malahan mengirimkan saya kenang-kenangan berupa CD BIGBANG dari Korea berisi lagu-lagu saaat mereka menggelar konser terakhir di Seoul. Wah….girang bukan kepalang. Semoga persahabatan kami tetap terjalin dan suatu saat saya bisa mengunjungi mereka di Seoul. Sampai ketemu nanti!