Thursday, May 31, 2012

Nature


Cerita ini adalah cerita romantis favorit saya yang tak sengaja saya temukan di mesin pencari google dengan kata kunci: short romantic story. Benar-benar jenis cerita yang saya suka. Nah jika ingin mengetahui cerita aslinya dalam bahasa Inggris klik di sini. Cerita yang akan Anda baca adalah hasil terjemahan saya sendiri.


Alam

Pohon

Aku disebut pohon karena aku pintar melukis pepohonan. Aku seringkali menggunakan gambar  pohon di pojok kanan media semua lukisan cat airku sebagai tanda pengenalku. I telah mengencani 5 gadis ketika aku SMA. Ada satu gadis yang sangat aku cintai tapi aku tidak punya nyali untuk berkencan dengannya. Dia tidak cantik, perawakannya juga tidak sexy, tidak menawan juga. Dia hanya gadis biasa.

Aku suka dia. Aku sangat menyukainya. Aku menyukai kepolosannya, kejujurannya. Aku suka kelucuannya, kepandaiannya, dan kerapuhannya. Alasanku tidak mengajaknya kencan adalah karena dia orang yang terlalu biasa dan bukan pasangan yang pas untukku. Aku juga takut jika misalnya kami bersama maka semua perasaan indah yang aku rasakan padanya akan menghilang. Aku juga takut berbagai gosip akan terlalu menyakitkan untuknya. Bagiku jika dia adalah pacarku, maka dia kana menjadi milikku selamanya dan aku tidak perlu mengorbankan segala yang aku punya untuknya. Alasan terakhir, aku telah membuatnya menemaniku di 3 tahun terakhir ini. Dia melihatku mengejar gadis-gadis lain, dan aku telah menyakiti hatinya selama 3 tahun.

Dia sangat ingin menjadi aktris yang baik dan aku adalah dsutradara yang cerewet. Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dia tiba-tiba menemukan kami. Dia sangat malu tapi tersenyum dan berkata “Ayo lanjutkan,” sebelum dia berlari menjauh. Keesokan harinya, matanya bengkak sebesar kenari. Aku sengaja tidak ingin berpikir apa yang membuatnya seperti itu, aku menertawakannya sepanjang hari. Ketika semua orang pulang, dia menangis sendiri di dalam kelas. Dia tidak tahu bahwa aku ada di sana baru saja kembali dari latihan sepakbola (American soccer) untuk mengambil sesuatu. Aku melihatnya menangis selama satu jama tau lebih.

Pacarku yang keempat tidak menyukainya. Suatu ketika mereka berdua bertengkar. Aku paham bahwa orang seperti dia tidak mungkin memulai pertengkaran itu. Tapi aku tetap membela pacarku. Aku menghardiknya dan tampak di matanya dia sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku tidak peduli dengan perasaannya dan aku berlalu berama pacarku. Keesokan harinya dia masih tertawa dan bercanda denganku seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu pasti dia sangat terpukul tapi dia tidak tahu hatiku sakit sesakit hatinya.

Ketika aku putus dengan pacarku yang kelima, aku mengajaknya keluar. Setelah sekali kami keluar bersama, aku berkata padanya bahwa ada hal yang ingin aku katakan.  Secara bersamaan dia juga berkata bahwa ada hal yang ingin dikatakannya padaku. Aku bercerita bahwa aku telah putus dari apcarku yang terakhir dan dia berkata padaku bahwa dia mulai berkencan dengan seseorang. Aku tahu siapa orangnya. Anak laki-laki itu telah mendekatinya selama cukup lama. Seorang yang penuh energi, bersemangat, dan menarik. Usaha anak ini untuk mendekatinya telah menjadi gosip hangat di sekolah.

Aku tidak menunjukkan padanya betapa perih hatiku, aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, rasa sakit hatiku tak tertahankan lagi. Rasanya seperti ada batu besar yang ditindihkan ke dadaku. Aku sesak tidak bisa bernafas. Ingin berteriak tapi aku tidak bisa. Air mataku mengucur, hancur hatiku, aku menangis pilu. Berapa kali sudah aku melihatnya menangis untuk laki-laki yang tidak menghargai perasaannya.

Ketika waktu kelulusan tiba, aku membaca sms di HPku. Sms ini terkirim 10 hari yang lalu ketika aku menangis pilu. Aku tidak pernah membacanya sejak kejadian itu. Sms itu berbunyi ”Daun pergi karena tiupan angin. Atau karena pohon tidak pernah memintanya untuk tinggal.”

popcorn-hot-popcorn.blogspot.com

Daun


Selama SMA aku senang mengumpulkan dedaunan. Mengapa? Karena aku merasa ketika sebuah daun meninggalkan pohon tempat ia bergantung sekian lama pasti membutuhkan keberanian besar. Selama 3 tahun di SMA aku sangat dekat dengan seorang anak laki-laki. Bukan tipe yang menyebalkan tapi tipe seorang sahabat. Tetapi ketika ia punya pacar pertamanya, aku merasakan perasaan yang seharusnya bisa kutampik, cemburu. Perasaan di hatiku masam tak semasam buah lemon, tapi semasam 100 lemon busuk. Sangat masam melebihi batas. Mereka bersama selama 2 bulan. Ketika mereka putus aku menyembunyikan perasaan bahagiaku. Tetapi setelah sebulan, dia bersama gadis lain.

Aku menyukainya dan aku tahu dia menyukaiku. Tetapi mengapa dia tidak berusaha mendapatkan hatiku? Karena dia mencintaiku mengapa dia tidak ingin bergerak lebih dulu untuk mendekatiku? Setiap saat ketika dia punya pacar baru, hatiku sangat sakit. Berkali-kali hatiku sakit. Aku mulai menyadari bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. Jika memang dia tidak menyukaiku, mengapa dia memperlakukanku sangat baik. Perlakuan yang tidak biasa diberikan kepada teman biasa. Menyukai sesorang sangatlah menyakitkan. Aku tahu segala hal yang dia suka, Tetapi perasaannya padaku tidak pernah aku ketahui. Tidaklah pantas seorang gadis menanyakan perasaan anak laki-laki padanya kan?

Terlepas dari masalah itu, aku masih ingin berada di sisinya. Peduli padanya, menemaninya, mencintainya. Berharap suatu hari dia akan datang dan mencintaiku. Aku menunggu telfonnya tiap malam, menginginkan dia mengirimiku sms. AKu tahu sesibuk apapun dirinya dia akan memberikan waktu untukku. Hal-hal inilah yang membuatku ingin menunggunya. 3 tahun adalah tahun-tahun tersulit yang harus kulalui dan sungguh seringkali aku ingin menyerah. Kadang-kadang aku bertanya pada diriku sendir apakah aku harus terys menunggu. Sakit hati dan dilema telah menemaniku selama 3 tahun.

Di akhir tahun ketigaku, seorang adik kelas mulai mendekatiku. Setiap hari dia berusahan mendekatiku tanpa kenal lelah. Dari penolakan terang-terangan sampai saat ketika aku ingin memberikan kesempatan padanya telah memberikan jejak kecil di hatiku. Dia seperti angin yang lembut dan hangat, mencoba untuk menghembuskan daun pergi meninggalkan pohon. AKu sadar aku tidak ingin memberikan sedikit jejak di hatiku. Aku tahu angin ini akan membawa daun yang rapuh ini pergi menjauh ke tempat yang lebih baik. 

Akhirnya aku meninggalkan pohon, tetapi pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal. Daun pergi karena tiupan angin. Atau karena pohon tidak pernah memintanya untuk tinggal.

Angin


Karena aku menyukai gadis yang disebut daun. Karena dia sangat bergantung pada pohon sehingga aku harus menjadi angin. Angin yang akan meniupnya pergi dari pohon. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, itu adalah tahun pertamaku setelah aku pindah sekolah ke sekolah baru. Aku melihat gadis mungil memandangi seniorku dan aku bermain speak bola. Selama masa latihan, dia selalu duduk di sana. Entah itu sendiri atau bersama teman-temannya yang memandangi seniorku. Ketika dia berbicara bersama teman-temannya aku melihat kecemburuan di matanya. Memandanginya menjadi kebiasaan bagiku. Sama seperti kebiasaannya melihat seniorku.

Suatu hari dia tidak muncul. Aku merasa ada yang hilang. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku, tak lebih dari rasa tidak nyaman. Seniorku juga tidak muncul. Aku pergi ke kelas mereka, aku bersembunyi di luar dan aku melihat seniorku menenangkan dia. Air mata bercucuran dari matanya ketika seniorku peri meninggalkannya. Keesokan harinya, aku melihatnya di tempat biasanya, memandangi seniorku. Aku berjalan ke arahnya dan tersenyum padanya. Aku mengambil kertas kecil dan memberikan kepadanya. Dia sangat terkejut. Dia menatapku, tersenyum, dan menerima kertas itu. 

Keesokan harinya dia muncul dan memberikan aku kertas kecil, kemudian dia pergi. Catatan itu berkata ”Hati daun terlalu berat dan angin tidak bisa meniupnya pergi.”

Itu bukan karena hati daun yang berat. Itu karena daun tidak pernah ingin meninggalkan pohon.

Aku membalas kertasnya dengan pernyataan tadi dan perlahan kemudian dia mulai mau bicara denganku. Dia mau menerima kehadiranku dan menjawab teleponku. Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku. Tapi aku punya keyakinan bahwa suatu saat aku akan membuatnya suka padaku.

Selama 4 bulan aku berulang kali menyatakan perasaanku kepadanya mungkin sudah 20 kali. Setiap saat aku mengutarakannya dia selalu berganti topik pembicaraan. Tapi aku tidak pernah menyerah. Jika aku sudah memutuskan aku menginginkan dirinya untukku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan hatinya.

 Aku tidak ingat lagi berapa kali aku sudah menyatakan perasaanku padanya. Walaupun aku tau dia akan menghindar tapi aku masih terus berharap. Berharap suatu saat dia mau jadi pacarku.
Aku tidak  mendengar dia membalas ucapanku di ujung telepon. Aku bertanya,”Apa yang kau lakukan? Mengapa kamu diam saja?”
Dia berkata,” aku menganggukkan kepalaku.”
“Ah?” Aku tidak percaya pada apa yang baru saja kau dengar.
“Aku menganggukkan kepalaku.” Teriaknya
Aku menutup telepon, segera berganti baju, naik taxi dan bergegas menuju rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Ketika dia membuka pintunya aku langsung memeluk erat dirinya. Aku membalas kertasnya dengang pernyataan tadi dan perlahan kemudian dia mulai mau bicara denganku. Daun pergi karena tiupan angin. Atau karena pohon tidak pernah memintanya untuk tinggal.



No comments:

Post a Comment