Tuesday, December 25, 2012

Jogja Kembali (Lagi) - Part 6


Saya menemukan guesthouse alias penginapan ini dari situs Yogyes. Saya sudah membaca ulasan tentang tempat ini di salah satu blog, intinya tempatnya cukup nyaman tetapi jauh dari kota. Sang pemilik blog yang menginap di penginapan ini dukunya menyewa motor dari pemilik penginapan dengan harga “bagus”. Saya tertarik untuk tinggal di tempat ini, bukan karena ada rental motornya.
Namanya House 24 karena berada di Jalan Jogokaryan No. 24. Bus kota dari dan menuju teminal langsung bisa didapat dari depan penginapan. Tetapi bus kota ini tidak lewat di malam hari setelah pukul 6, itu informasi yang saya peroleh dari masyarakat sekitar, sepertinya bukan hoax karena memang di malam hari tidak ada lagi kendaraan umum masuk kota. Naik becak dari sekitar Kraton 25,000 sampai penginapan. Capek deh muahalnya….
Di balik urusan kamar, sisi plusnya saya dapat makan. Nasi goreng
di hari pertama dan mi goreng di hari kedua
Porsi kecil yang penting telurnya dapat 1 utuh

Seperti biasa gambar dan kenyataan memang jauh berbeda. Saya terpana dengan ukuran kamar yang mini. Wah wah…ga lagi deh menginap di sini lagi. Untuk pelayanan sih baik, karena komunikatif dan ada wi fi juga di penginapan ini.  Sayangnya di malam hari sepanjang jalan Jogokaryan sepi mamring dan tempat makan pun susah dicari. saya harus berjalan sampai ke ujung jalan, dekat pompa bensin untuk menemukan warung makan. Warung ayam kremes. Untungnya enak ayamnya dan harganya pun tidak menggila. Harga wajar. 

Sepi sunyinya jalan ini membuat saya tidak betah. Ukuran ramai dan nyamannya jalan buat saya adalah ketika banyak minimarket, atm, dilalui kendaraan umum dan juga banyak warung makan di sekitar penginapan. Buat saya itu yang utama dan yang membuat penginapan nyaman ditinggali atau tidak.
Untuk harga semalam dikenakan 110,000 rupiah. Check in mulai jam 1 siang dan check out jam 12 siang. Kamar mandi letaknya kurang dari selangkah dari kamar tidur. AC dan TV tersedia dan bekerja dengan cukup baik. Tetap saja kesimpulannya terlalu sempit dan jauh dari pusat keramaian. Semua kamar ver-AC di lantai 1 dan yang tidak ver-AC di lantai 2. Somehow saya pilih di lantai 2 karena tidak terdengar derap kaki dan lalu lalang orang di halaman yang tredengar sampai dalam kamar.
Tapi…jika Anda petualang sejati yang tidak masalah dengan jarak saya menyarankan tempat ini karena dekat dengan daerah penginapan para bule di daerah Prawirotaman. Jalan Jogokaryan juga dekat dengan Taman Sri Wedari tempat pertunjukan Ramayana setiap hari dipentaskan non-stop sejak tahun 70-an. Asyik kan…

Jogja Kembali (Lagi) - Part 4

Sudah 3 bulan setelah kunjungan terakhir saya ke Jogja baru ada waktu lagi untuk meniuliskan ceita tentang kunjungan saya ke kota ini. Cerita bagian ke empat ini adalah cerita tentang pejalanan saya ke Keraton Jogja alias Sultan Palace, istana tempat Sultan Jogja bertempat tinggal.

Saya menginap di daerah Jogokaryan, di penginapan House 24. Untuk menuju ke pusat kota dari tempat saya tinggal lumayan "jauh". Untuk tipe orang yang suka naik kendaraan umum dan jalan kaki sih buat saya tidak masalah. Tetapi karena pacar saya tambun maka ia malas berjalan kaki jauh, kasihan juga bulir keringatnya mengucur deras di bawah terik matahari Jogja kala itu. akhirnya kami menggunakan angkutan bus kota yang berjalan super ngebut persis bus mini ijo juusan Mojokerto-Surabaya. Atau bisa dikata ini bus kota ukuran lebih kecil dari bus kota jurusan Kupang - Bungurasih dengan kecepatan yang sama. Wusssss....

Bus bisa dijangkau dengan mudah persis di jalan raya depan penginapan. Penginapan saya namanya House 24 persis di sebelah Hotel Seno. Saya naik bus kota dengan tujuan Keraton Jogja. Dari Jalan Jogokaryan jaraknya ditempuh hanya kurang dari 10 menit. Saya turun di Alun-alun. Saya kurang tahu Alun-alun Utara atau Selatan tempat saya turun. Karena sudah pernah mngunjungi tempat ini sebelumnya maka saya menggunakan kemampuan navigasi ala kadarnya untuk menemukan Keraton.

Jangan salah, bangunan mirip Keraton memang sudah terlihat dari jauh ketika saya turun di Alun-Alun (bus tidak berhenti tepat di depan Keraton), tetapi itu bukan bangunan utama Keraton yang sebenarnya. Saya membaca buku Lonely Planet milik pacar yang mewanti-wanti para turis supaya berhati-hati karena banyak scammers alias penipu di sana. Mereka akan menawarkan jasa menunjukkan arah Keraton tetapi turis diarahkan pada bangunan Keraton yang tidak dibuka untuk umum dan pemandu itu akan bilang bahwa Keraton masih tutup. Mereka akan mengajak turis berkeliling-keliling termasuk ke Museum Kereta Keraton. Sampai-sampai buku panduan LonelyPlanet mengingatkan bangunan yang asli adalah bangunan dengan jam bulat besar di halamannya. Kraton buka dari jam setengah delapan pagi dan tutup jam 4 sore.

LonelyPlanet 100% benar. Dari alun-alun mendekati bangunan Kraton saya sudah ditawari "penipu" yang mengatakan bahwa loket di dekat mereka. "Sini mbak loket Kratonnya bla bla bla bla" Saya terus berjalan mengikuti rombongan anak sekolah (yang mustahil ditipu oleh scammers). Memasuki gang kecil saya bersyukur tidak salah jalan. Apalagi setelah melihat Museum Kereta kencana di sebelah kanan saya, atinya saya memang sudah dekat dengan Keraton.

Sampai di halaman banyak bus parkir dan saya melihat jam bulat besar di halaman Kraton..."berhasil" pikir saya. Eh..sudah sampai pun masih ada yang berkata,"Kraton belum buka Mbak, ayo liha-lihat batik dulu, Museum Kereta b;la bla bla..Kraton buka jam 9 bla bla bla bla.." Whoaaaa masih nekad saja pikir saya. Saya menyeruak kerumunan pengunjung yang mayoritas anak sekolah. saya langsung menuju petugas tiket wisatawan internasional. Petugasnya berpakaian abdi dalem dan menyapa kami dengan banyak bahasa mulai Inggris, Prancis, dan sebagainya. Kereen. Saya membayar 13,000 Rupiah per pengunjung jadi berdua 26,000 saja. Plus saya dapat 2 stiker Kraton Jogja.

Masuk ke dalam kompleks Kraton inilah yang saya temukan :

Di bagian depan, persis ketika kita masuk dari pintu utama terdapat ukiran kepala "buto" kalau tidak salah disebut "kolo"
Fungsinya menakuti makhluk-makhluk jahat yang ingin mengganggu ketentraman pemilik rumah.
Lihatlah mata merah melotot dan lidah si monster yang menjulur menyeramkan.

Jika di masyarakat modern rumah diisi dengan peralatan audio visual canggih maka di dalam Kraton pun lengkap terdapat seperangkat gamelan yang diberi nama Kyahi Gunturmadu.
Lihatlah lantai yang berpola, itu bukan karpet permadani loh, melainkan ubin yang berpola cantik persis seperti motif pada permadani  ya?
Ini adalah bagian keraton tempat seperangkat gamelan disimpan. Gamelan tidak boleh dimainkan sembarang orang, termasuk pengunjung.
Ini adalah bangunan di pelataran depan. Selalu ada kolo dan lambang Kesulatanan Jogja di atasnya.
Ini saya berfoto di depan reco, alias arca dengan pentungan yang terletak di sisi kiri kanan bangunan pada gambar di atas. fungsinya sebagai penjaga. Besar dan seram sekali kan? Cocok lah untuk jadi penjaga pintu masuk wilayah kediaman raja. Niatan awal saya ingin berfoto sambil tersenyum, hasil jepretan saya berfoto sambil meringis menahan panas sinar matahari.

Benar-benar kedua arca mendapat keistimewaan, ada atap yang bisa melindunginya dari panas matahari dan guyuran hujan. Walaupun saya tidak mendapat sumber akurat untuk postingan kali ini tapi saya yakin arca-arca ini diperlakukan seperti benda hidup bernyawa sehingga sangat dijaga, dipelihara, dan diberi sesaji juga.




Ini adalah lambang kesultanan Jogja. Huruf pada lambang ini adalah huruf pertama pada aksara Jawa , "Ha (dibaca ho) sebagai inisial Raja Jogja Hamengkubuwono

Kolo bentuk lain yang dipasang di bagian atas pintu masuk ke ruangan lain


Ini salah satu bangunan favorit saya, sebuah gazebo yang peruntukannya saya kurang tahu. Yang jelas indah sekali.
Jika dilihat bagian kaca dilukis dengan gaya Eropa. percampuran budaya Barat agaknya ikut mempengaruhi bentuk gazebo ini. Jika saya perhatikan juga, bagian atapnya mirip dengangaya bangunan pagoda di Cina.


Di salah satu bangunan di dalam kompleks Keraton terdapat bangunan yang tidak bisa dimasuki oleh umum.
Salah satu bangunan yang saya foto hanya bagian depannya ini menunjukkan penjaga pintu sudah berubah dari arca buto yang seram menjadi singa yang masih seram dengan mata merah menyala. Singa membawa tameng yang dicengkeram dengan sikap siaga. Saya rasa pada bangunan ini budaya Eropa lebih mendominasi. Mungkin saja patung singa ini hadiah dari raja lain dari eropa atau dipesan khusus oleh Sultan pada jaman itu dari Eropa.
Di bagian belakang singa mengapit cermin besar bergaya Victoria juga terdapat 2 patung bergaya tentara Romawi yang ditempel di dinding.
Untuk cerminnya, entah mengapa dihadapkan ke arah jalan menuju bangunan ini, mungkin untuk menolak bala atau juga agar tamu berhias sebelum masuk ke dalam bangunan. Perhatikan juga lantainya ya? Batu pualam alias marmer yang awet bertahan ratusan tahun.
Mengingat saya berkunjung ke Keraton tanpa pemandu wisata jadi saya mengagumi dan berasumsi sebagai orang awam tentang seluk beluk Keraton. Coba perhatikan bagian ini. Tampak pilar bangunan yang indah ya? Terlihat tua tapi indah. berukir dan berbalur pahatan  daun-daun yang merambat. Sementara jika Anda perhatikan lagi pot bunga yang saya ambil fotonya adalah pot bunga yang sudah pecah kemudian kepingannya disatukan kembali. Bisa jadi pot-pot bunga dan guci di bagian bawah ini adalah hadiah dari kerajaan sebuah dinasti di Cina atau barang rampasan perang dari VOC atau pihak lain. Guci yang nampak di depan ini menurut saya berubah fungsi dari tempat air menjadi guci pot bunga. Pastinya barang-barang seperti pot dan guci di gambar saya yakin bukan buatan Indonesia.
Bagian lampu juga tak luput dari pengamatan saya. Penampakannya sangat tua, renta, dan sedikit lusuh. Semoga bisa bekerja dengan baik. Pertanyaannya kemudian, di tahun berapakah lampu-lampu ini dibeli dan dipasang? Pastinya saat itu sudah ada listrik bukan? Berarti mungkin saja usia lampu ini tidak setua yang saya bayangkan. Mungkin dipasang di tahun 70an.

Anda lihat bangunan di seberang itu? Bangunan itu termasuk yang tidak boleh dimasuki pengunjung. Saya memotret dari kejauhan. tampak asisten rumah tangga lebih modern, bercelana panjang batik, berblangkon, tapi berkaos merah.

Indah dan unik ya arsitekturnya? Magis bercampur artistik, menurut saya loh ya
Foto ini diambil tahun 2010 dan sama persis dengan foto terakhir yang saya ambil di tahun 2012.

Abdi dalem atau pegawai Kraton sedang membawa sesaji.  Tampaknya seperti sesaji :P

Keterangan lebih kanjut tentang sesaji yang saya ambil dari salah satu ruang di dalam Kraton Yogya

Salah satu bangunan seperti ruang penyimpanan yang tidak boleh dimasuki

Di salah satu bangunan katon terdapat bangunan khusus tempat penyimpanan alat masak dan peralatan makan. Di tempat ini terdapat guci air, filter air seperti tampak pada gambar, tea set dan berbagai perabot lain yang digunakan di dapur dan di meja makan. Di gambar adalah saya di tahun 2010 :)

Kentongan raksasa ini diletakkan di gerbang menuju Ruang penyimpanan (museum) batik dan ruang penyimpanan  lainnya

Meriam tua yang disimpan di kompleks Kraton Jogja

Pintu menuju ruang penyimpanan koleksi batik Sultan dan keluarganya

Silsilah salah satu Sultan Hamengkubuwono (saya lupa yang ke berapa)



Abdi Dalem sedang bertugas. ketika mengambil foto ini saya tidak sengaja nimbrung masuk ke kelompok lain. Sederhana sekali kan kantor administrasinya. Saya sebenarnya ingin bertanya banyak tetapi pemandu kelompok yang tidak sengaja saya ikuti lebih banyak mengatur pembicaraan. Yang jelas paara Abdi Dalem ini saat itu sedang mengatur jadwal masuk anggota.



Ini adalah replika Prajurit Patangpuluh. Ada beberapa kesatuan dalam keprajuritan di wilayah kekuasaan Sultan. Semoga posting lain waktu bisa memberikan ceritanya lebih lengkap.


Bangunan dekat pintu utama masuk kompleks Kraton ini adalah tempat digelarnya hiburan yang diadakan setiap hari mulai jam setengah sepuluh pagi. Untuk hari Jumat yang digelar macapat alias membaca cerita (babad) dengan melagukannay. Sementara jari Sabtu pertunjukan tari.


Pagelaran tari yang lakonnya sudah tidak teringat lagi. Foto ini diambil di tahun 2010 

Foto 2 penari cantik dari hari yang sama ketika saya berkunjung di tahun 2010

Di kunjungan terakhir pementasan yang saya saksikan adalah macapat. Penonton tidak mendapat cerita jadi hanya 15 menit saya dan pacar duduk, kami segera beranjak pergi. Para turis pun tidak semangat menonton berlama-lama. Pembaca cerita saat itu bapak yang sudah sepuh. Menurut keterangan ibu yang berfoto bersama saya ini, buku yang dibaca diambil dari perpustakaan dan usianya puluhan bahkan ratusan tahun. Setiap buku berisi cerita yang ditulis oleh Sultan dan masing-masing Sultan punya gaya bahasa dan penulisan sendiri sehingga membaca buku dan menyenandungkannya sangatlah sulit. Huruf Jawa (Aksara Jawa) yang tertuilis pun berbeda dengan yang dipelajari siswa sekolah saat ini. Tidak ada tanda baca dan tanda bunyi. 

Senang mengunjungi Kraton. Saya jadi ingin berkunjung lagi tetapi kali ini menulis dengan detail semua cerita dari setiap sudut Kraton. Entah berapa lama waktu yang saya butuhkan nantinya. Semoga terlaksana. Segala tulisan yang membantu posting ini akan saya terima dengan senang hati. Saya banyak berasumsi di tulisan kali ini karena keterangan yang saya dapatkan minim mengingat kedatangan saya tanpa pemandu. Next time better.

Jogja Kembali (Lagi) - Part 5

Jika Anda berkunjung ke Keraton Jogja, jangan lupa untuk merasakan santapan a la raja. Saya berkesempatan mencicipi nikmatnya hidangan para raja di Bale Raos.

Bale Raos adalah restoran yang terbuka untuk umum di bagian belakang Keraton. Jika Anda ingin mampir tanpa mengunjungi Kraton juga bisa, lewat jalan kecil, namanya aduh..lupa... yang jelas jalannya di samping Kraton.

Saya berkunjung kurang lebih pukul 10, jadi restoran ini masih sepi. Saya mengambil meja di dekat AC karena cuaca di luar luar biasa panas. Meja makan ditata cantik dengan nuansa kuning-hijau dan batik. Pelayan datang mengisi gelas dengan air putih, complimentary, kapan ya diisi jus buah gratis he he he. Saya sempat membaca sekilas beberapa menu serta penjelasannya. Di buku menu lengkap dituliskan penjelasan tentang tiap-tiap hidangan dan siapa yang menyukai menu tersebut. Penyukanya tentu saja mulai Hamengkubuwono, Sultan Jogja ke 8 sampai leluhur dan keturunannya.



Soal harga, tidak perlu khawatir, sangat terjangkau. Semahal satu paket nasi Mc.D lah. Tapi suasananya pasti berbeda dong, lebih ayem dan adem di Bale Raos ini. Di dinding restoran terdapat testimoni pengunjung lengkap dengan nama dan tanda tangannya. Umumnya mereka adalah pesohor dan pejabat di negeri ini. Ada juga pengunjung asing di sini. Mantab!




Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, pesanan kami datang. Saya memesan Nasi Golong Set dan pacar memesan Nasi Traditional Set. Untuk minuman saya merekomendasikan pacar saya memesan Beer Djawa (non alkohol) dan saya memesan Jus Mangga (Mangga Juice bukan Mango Juice loh tulisannya :P )

Nasi Golong Set terdiri dari semangkuk sayur bening berisi bayam dan jagung muda dipipil. Di piring terdapat nasi 2 kepal kecil. Ada juga trancam isinya parutan kelapa bumbu yang diurap dengan cacahan kasar mentimun, kacang panjang, irisan tipis kol, tak daun kemangi yang rasa campurannya manis, sedikit pedas dan segar. Dua iris telur rebus dan Aayam bumbu merah. Saya kurang paham ini ayam bumbu bali atau ayanm bumbu bakar, yang jelas ayamnya empuk dan bukan ayam potong. Ayam kampung asli nikmat. Hidangan ini pas sekali dimakan saat makan siang atau cuaca terik  Enak..tapi saya sedikit menyesal karena menu saya menu "biasa" saja. Soal rasa sih enak sekali tapi isinya biasa saja. terlalu sederhana.





Menu pacar saya lebih "menarik" Menu nasi Traditional Set lebih terlihat seperti hidangan raja. Nasinya disajikan seperti kubah (tumpeng mini) dengan nas putih di bawah dan nasi merah di ujungnya. Nasionalis seklai kan? Dilengkapi dengan urap-urap, tampaknya sih daun singkong muda bercampur bumbu dan cabe merah dan hijau dilengkapi dengan kerupuk puli (istilah Jawa Tengahnya saya kurang paham, krupuk gender kalo tidak salah).  Untuk ulasan nasi dan urapnya saya hanya mengira-ngira karena saya tidak bisa mencicipi, ludes disantap pacar saya yang kelaparan. Ini baru hidangan nasi saja di piring karena masih ada nampan kedua berisi hidangan yang jauh lebih "ningrat" dibanding milik saya.



Di nampan kedua ada 2 piring kecil dan 1 mangkuk kecil. Di masing-masing piring ada tahu tempe bacem yang warnanya tidak terlalu coklat tetapi legit dan manis. Saya berkesempatan mencicipi hidangan ini karena saya minta dengan "paksa" pada pacar he he he. Piring kedua berisi ayam berbumbu seperti bumbu daging lapis dengan irisan tomat dan cabai merah segar. Dan mangkuk ketika diberikan pacar untuk saya. Ini mangkuk dengan hidangan terajaib yang pernah saya makan dan saya lihat. Sepintas mirip kolak, bukan sayur lodeh dan bukan juga kari. Kuahnya bersantan putih tapi di dalamnya ada bola daging. Jadi ini bakso versi Sultan. Kuahnya kuah santan guruh berbumbu enak. Bola dagingnya bertekstur bagus dan rasanya manis. Jogja banget ya..semua serba manis.


Untuk minumannya Beer Djawa luar biasa enaknya. Gabungan kayu secang, kayu manis, dan rempah lainnya menghasilkan minuman yang wujudnya persis seperti bir tetapi rasanya 1000x lebih enak daripada bir. Walaupun saya belum pernah minum bir saya jamin yang ini lebih enak, sehat, dan berkhasiat, Disajikan dingin nikmat sekali. Pacar sempaty meminta resepnya dan pelayan menjelaskan serta mencatatkan resepnya dengan senang hati, mungkin karena pacar bule jadi lebih mudah dapat fasilitas resep, he he. Sayang saya tidak mencatat ulang jadi saya tidak ingat lagi apa saja rempah-rempah yanbg digunakan dalam membuat Beer Djawa ini. Untuk minuman saya, jus mangga enak dan segar seperti jus mangga pada umumnya. Yang jelas lebih kental dan enak. Sepertinya enak memang menjadi kata kunci dalam tulisan tentang Bale Raos ini :)

Pencuci mulut dilanjut dengan menu Manuk Enom alias si Burung Muda. Ukurannya mini sekali, pantas harganya 7000 rupiah. Menyesal saya hanya memesan 1 porsi. Dibuat dari campuran tapai singkong dan agar-agar puding ini enak sekali. Saya bukan penggemar tapai singkong tetapi untuk Manuk Enom ada pengecualian pastinya. Lucunya untuk bagian sayap ditancapkan emping melinjo di masing-masing sisi. Pikir saya emping hanya hiasan, tetapi ketika saya gigit emping dan pudingnya...wah mak nyussss luar biasa kombinasi rasanya. Kok bisa ya? Pandai sekali koki pencipta puding ini.

Manuk Enom, si Burung Muda. Perut siapa tuh yang tambun? he he he

Intinya jangan lewatkan makan di Bale Raos. Very recommended. Tak sabar ingin ke Bale Raos lagi. Berapa uang yang saya habiskan untuk bersantap di sini? Cek nota yang saya tempelkan berikut ini, bukan bermaksud pamer tapi sekedar berbagi info :)

Nasi Traditional Set 40.000
Nasi golong 35.000
Beer Djawa 14.000
Jus Mangga 12.500
Manuk Enom 7.000

Pajak 10%
Pelayanan 4%

Total 125.000 puas jadi raja dan ratu sehari :)

Sunday, December 2, 2012

My First Vegetarian Food

Senang sebagian gaji sudah di tangan, kemarin saya dan kakak menyempatkan diri berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan ITC di kawasan Pasar Atum Surabaya. Setelah berjuang mendapatkan meja dan kursi kosong di food court ITC untuk makan siang tiba-tiba kami teringat untuk mencari rumah makan vegetarian di sana.

Setelah menyusuri satu per satu rumah makan, sampailah di rumah makan Harmoni (kalau tidak salah ingat namanya itu). Menunya? Wow hampir 20 menu seingat saya. Semua menunya adalah makanan "normal" seperti rujak cingur, sapi lada hitam, rawon, dan lainnya. Tapi..tentu saja non hewani alias semuanya sayuran. Karena bingung ingin makan apa maka saya memilih sup Tom Yum. Ini sup sea food favorit saya. Penasaran seperti apa "hasilnya" dalam versi non hewani he he.

Jika makan di tempat ini haruslah sabar menunggu, untuk 1 hidangan kurang lebih 20 menit baru siap tersaji di meja. Maka dengan sabar hati saya menunggu dan..inilah penampakan sup Tom Yum a la vegetarian.


Seporsi sup Tom Yum harganya 18.000. Mahal untuk ukuran sup tanpa ikan. Rasa kuahnya enak, segar, pedas walaupun tidak terlalu spicy dan berasa Tom Yum. Tapi cukup enak lah. Isi sup ini tahu (ya potongan tahu goreng setengah matang); terong dipotong dadu; jamur shitake yang berasa seperti pete; potongan bakso palsu sekitar 4 potong; potongan bakso ikan palsu yang berasa amis; dan potongan daging 3x3 cm yang bertekstur mirip daging.

Karena saya makan untuk menambah pengalaman makan dan karena saya juga sangat ingin mencoba aneka jenis makanan vegetarian maka saya tidak terlalu kecewa. Sambil makan saya amati daging, bakso ikan, dan bakso daging palsu itu rasanya sih tidak mirip dengan yang asli tapi teksturnya bagus 80% mendekati yang asli. Asyik lah pengalaman makan kemarin.

Makan masih dilanjutkan dengan menambah porsi kedua. Kakak saya memutuskan memesan ham gulung setelah bingung menentukan pilihan sapi lada hitam atau rawon akhirnya ham gulung pemenangnya. Normalnya ham berarti daging babi, tapi karena vegetarian pastinya ini ham-ham-an pikir saya. Seporsi ham ini harganya 20.000. Mahal lagi kan? Tapi rasanya? Wenak. Untuk orang yang tidak terlalu suka makan sayur olahan sayurnya sangat enak dan gurih. Saya takjub dari mana rasa gurih ini didapat. Sekali lagi waktu tunggu makanan kurang lebih 20 menit. Ini penampakan ham gulungnya.


Balutan tepungnya gurih dan enak. Sawi putih digulung bersama beberapa sayuran di dalamnya. Ada irisan wortel, seledri,  sawi hijau dan sayuran lain saya sudah lupa isinya. Rasanya enak sangat direkomendasikan. Hm...jadi ingin makan ham gulung lagi saya. masih penasaran saya bagaimana rasa gurih itu dibuat tanpa menggunakan kaldu, MSG dan lainnya yang hewani. 

Kesimpulan dari Depot Vegetarian Harmoni adalah :
1. Bawa duit cukup banyak
2. Pesan ham gulung lagi
3. Harus coba menu lainnya yang lebih ekstrim :)