Sunday, April 21, 2013

Berhari Minggu di Sitara


Akhir bulan lalu saya dan kakak perempuan saya menikmati hidangan India di Restoran Sitara. Setelah berbulan-bulan tertunda, akhirnya kami jadi berangkat menyambangi restoran ini. Sebelumnya saya sudah membaca review dari teman-teman blogger tentang Restoran Sitara. Kesimpulannya hanya dua, enak dan mahal. Penasaran saya membulatkan tekad harus merasakan masakan India di restoran ini, dan akhirnya hal itu terwujud.

Cantiuknya interior di dalam restoran
Sekitar jam 3 sore kami sampai di Sitara. Sebelumnya berbekal alamat yang kami dapat dari googling kami menemukan restroan ini letaknya di Jalan Adityawarman nomer 16. Saya sudah bingung di awal, di mana nomer 16 itu mengingat itu adalah nomer kecil dan nomer kecil biasanya di ujung jalan. Yang pasti dari Surabaya Town Square alias SUTOS sampai perempatan dekat lapangan Brawijaya tidak ada satu pun bangunan restoran. Kebetulan kami naik taxi karena sebelumnya kami bertemu di Tunjungan Plaza. Kami meminta sopir untuk berjalan lurus terus melewati perempatan pertama sesudah Kodam dan ternyata di kiri kanan hanyalah perumahan Angkatan Darat. Gawatnya nomor rumah semakin besar. Sopir sudah berniat kembali (tanpa saya suruh) sampai secara tidak sengaja saya menemukan papan neonbox besar bertuliskan Sitara. Ternyata Sitara berada di kompleksBrawijaya Golf  Driving Range.

Masuk dari pintu gerbang masih belum terlihat bangunan restoran. Setelah melewati pos karcis parkir tengok sebelah kiri dan voila! di sisi kiri restoran ini berada. Sangat ekslusif dibanding lingkungan sekitarnya yang sepi dan biasa saja. Seorang pelayan dengan sigap membukakan pintu dan kami berdua masuk ke dalam. Dengan dua patung kecil Ganesha  dan air mancur di pintu masuk serta nama restoran yang sangat India, saya sudah merasakan atmosfir “dunia lain”. Benar saja ketika kaki melangkah saya seperti berada di ruangan mewah maharajá.

Kamasutra?
Bau wewangian khas India yang menusuk lembut membuai saya dan membuat saya teringat Ranchoddas Chanchad dari 3 Idiots. Alunan musik India yang merdu juga semakin membuat saya berada di “dunia lain”. Saya dan kakak mengambil tempat di tengah-tengah (harusnya tepat di sebelah jendela menghadap lapangan golf). Ada meja ukuran jumbo untuk kurang lebih 10 orang, meja ukuran biasa seperti yang saya tempati untuk 4 orang dan ada juga meja untuk para pasangan. Suasananya redup temaram. Jika Anda ingin suasana yang lebih nyaman ada juga bilik khusus dengan sofá lebar besar berkarpet. Di dindingnya ada lukisan Kamasutra (saya rasa begitu karena ada gambar sepasang pria dan wanita berdekatan secara fisik, entah bagaimana menggambarkannya).

Buku menú tebal berisi kurang lebih 20 halaman berisi nama menú yang asing bagi saya, kecuali beberapa makanan seperti roti pita dan chicken tandoori. Menu makanannya lengkap dari hidangan pembuka sampai penutup. Dari kari sampai sup. Dari hidangan carnívora alias daging-dagingan sampai khusus vegetarian. Kakak menyarankan tidak memilih hidangan vegetarian mengingat kami beberapa kali sudah makan di restoran vegetarian. Akhirnya menú jatuh kepada Chicken Samoosa (IDR 35,000) sebagai cemilan pembuka. Dilanjutkan dengan Lamb Harajee (IDR 65,000) yang kami santap dengan Tandoori Roti (IDR 15,000). Untuk minuman kami memesan lemon tea (IDR 10,000) plus sebagai penutup saya memesan Mango Lassi ( IDR 25,000).


Buku menu

Sambal India
Sebelum hidangan datang pelayan memperrsiapkan meja dan meletakkan 1 set cawan, yang berisi  4 cawan dengan macam-macam sambal. Ada sambal yang warnanya hijau, rasanya sangat berempah dan cenderung asin. Sambal kedua yang warnanya kecoklatan, dari warnanya sudah bisa menjelaskan rasanya, sangat kuat rempah-rempahnya. Yang ini sedikit memusingkan.  Sambal yang ketiga, diberi label “HOT” adalah sambal yang pedasnya biasa saja bagi saya. Saya pikir lebih ekstrim lagi pedasnya. Dan cawan terakhir berisi bawah merah bulat ukuran tanggung. Mungkin jika kita makan dengan mentimun mentah di India orang makan dengan mengunyah bawang. Saya tidak mencoba  makan hidangan dengan bawang.

Sambil menunggu saya melihat interior bangunan yang cantik ini. Pemiliknya asli orang India, dan pelayan wanitanya berbusana a la India dengan selendang yang dililitkan di leher. Lagu yang diputar mendayu-dayu membuat saya ingin berlama-lama di tempat ini. Tapi bau wewangiannya cukup memusingkan. Ada juga bar di restoran ini. Wah wah…bagi yang biasa minum Sitara tempat yang pas. Suasananya tenang dan romantis.

Bar di Sitara


Ketika saya datang hanya ada 2 pengunjung lain yang sedang menikmati hidangan. Saat hidangan belum datang dan saya ingin ke kamar kecil, ada cerita lain lagi. Kamar kecilnya cantik sekali. Di pintu dipasang gambar laki-laki dan wanita (untuk masing-masing pintu toilet) yang berdandan a la colonial Inggris. Sedangkan tepat di dinding (jelas terlihat begitu masuk ruangan) terdapat gambar laki-laki India untuk kamar kecil laki-laki dan gambar perempuan India untuk sebaliknya. Bilik toilet sangat bersih dan di wastafel diletakkan nampan kecil dengan rajangan daun pandan plus wewangian khas India. Cantik! Bahkan toilet pun membuat orang betah J

Hidangan pertama datang, Chicken Samoosa. Piringnya kecil, samoosa-nya pun kecil-kecil. Sepiring hanya 4 samoosa. Samoosa ini seperti pangsit goreng tapi isinya cacahan ayam yang diolah dengan rempah-rempah yang khas. Susah bagi saya untuk menggambarkan. Dihidangkan panas-panas langsung dari wajan alias fresh from the cooking pan saya makan dengan dicocolkan ke aneka sambal. Pilihan saya yang paling enak sambal hijau. Sebagai kudapan cukuplah, tapi untuk perut yang lapar saya berharap paling tidak ukurannya lebih besar.


Untuk ukurannya silakan dibayangkan, sendok di gambar adalah pembandingnya

Hidangan kedua, Tandoori Roti saya santap dengan Lamb Harajee. Lamb Harajee ini tampilannya sungguh tidak enak dipandang. Saus kental hjau tua-nya seperti dibuat dari tumbukan aneka dedaunan. Yang jelas saya merasakan rasa cilantro alias daun ketumbar yang kuat. Saya tidak menambahkan sambal hijau karena rasanya mirip. Kali ini yang pas adalah sambal extra hot yang tidak pedas itu. Daging kambingnya lembut sekali dan tidak berbau kambing. Rasanya juga enak, sekali lai porsinya terlalu kecil L

Lamb Harajee, daging kambing empuk yang berbumbu tumbukan "hijau-hijauan"

Pita Roti

Mango Lassi
Untuk hidangan penutup, Lassi ada beberapa macam. saya memilih yang mangga karena saya dengar mangga di India paling top sedunia. Ketika Lassi datang, saya mencium bau kuat mangga. Sudah saya duga mangga yang dgunakan adalah mangga kweni yang memang kuat aromanya. Minuman ini seperti milkshake mangga kweni. Enak sih tetapi tidak istimewa, tidak terasa sensasi India-nya. Cukup menyesal saya memesannya.







Kesimpulannya, makan di Restoran Sitara ini:
Tempatnya asyik dan indah sangat autentik Indianya.
Harganya cukup mahal (untuk porsi yang kecil), jadi bawa uang yang banyak.
Sabar menunggu hidangan karena tiap hidangan dibuat langsung ketika dipesan jadi harus ekstra sabar. Duduk di tengah-tengah restoran cukup panas, mungkin karena saat itu tidak semua AC dinyalakan.
Bagi yang tidak suka rempah-rempah dan wewangian India hindari tempat ini. Silakan pesan dan langsung bawa pulang J

Selamat mencoba!!




    Monday, April 15, 2013

    Kalimas on Feet #01


    Kalimas On Feet adalah sebuah kegiatan jalan-jalan yang digagas oleh Mas Ipung dari Surabaya Punya Cerita. Sama seperti acara Manic Street Walker episode Kalimas, kegiatan ini menyusuri Kalimas dari ujung selatan Surabaya sampai ujung Utara tempat sungai bermuara di Pelabuhan Kalimas. Rute perjalanan sepanjang 19,6 km, dimulai dari perkampungan di wilayah Darmokali sampai Pelabuhan Kalimas.

    Acara dijadwalkan dimulai pukul 6 pagi. Saya datang terlambat L dan sekitar pukul 6:30 dengan jumlah peserta sekitar 18 orang di awal acara dimulai. Mas Ipung selaku penggagas memberikan arahan tentang perjalanan yang akan kita tempuh. Saya diperkenalkan pada Anita dan Surya dua teman baru dari Universitas Kristen Petra, nantinya banyak ulasan tentang mereka di tulisan saya ini. Mas Ipung menjelaskan bahwa peserta akan menyusuri Sungai Kalimas dan dalam perjalanan kami bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar selain tentunya mengamati segala macam bentuk kehidupan dan bangunan yang ada. 

    Briefing sebelum perjalanan dimulai
    Acara dimulai dengan doa bersama. Saya berdoa semoga diberikan kelancaran dan kekuatan mengingat rute perjalanan sangat jauh dan di perjalanan sebelumnya bersama Manic Street Walker saya gagal mencapai tujuan karena pekerjaan yang menanti.

    Selesai berdoa kami mulai berjalan dari titik temu, depan gerbang makam Sunan Bungkul di Taman Bungkul terus menuju arah Jalan Darmokali. Kami menyeberang jalan dan memasuki gang sempit menuju jalan kecil persis di sisi Kalimas. Teman dekat saya, Mbak Sulis menjadi penyemangat perjalanan di pagi hari mengingat saya tidak mengenal teman-teman lainnya. Ia mengenalkan saya kepada teman-teman dari Surabaya Extra Large Community, Menik dan Adhies. Bertambah lagi teman saya.

    Berbeda dengan acara Manic Street Walker yang diadakan di hari Sabtu, kali ini acara Kalimas on Feet di hari Minggu, walhasil pemandangan kehidupan kampung pinggir kali di hari Minggu berhasil terekam di memori saya. Lebih banyak orang bersantai duduk-duduk di pinggir kali. Anak-anak kecil selesai dimandikan dan berbedak putih. Banyak juga yang menyantap sarapan pagi. Yang paling kentara dibanding hari Sabtu, hari Minggu adalah hari mencuci pakaian bagi warga pinggiran kali. Banyak sekali ibu-ibu sibuk mencuci baju di depan rumah, tepat di pinggir kali dengan air yang diambil dari pompa tangan. Kata Mas Ipung ada budaya warga yang disebut “ngangsu” alias mengambil air dari luar rumah dengan pompa tangan dan diisikan ke bak mandi di dalam rumah untuk keperluan masak dan lainnya. Awalnya saya pikir pompa tangan disediakan oleh pemerintah, ternyata menurut penjelasan Mas Ipung pompa tangan ini hasil swadaya masyarakat.


    Suasana perkampungan di belakang Jalan Dinoyo Minggu pagi
     
    Menikmati matahari minggu pagi

    Lapak sudah dibuka, pembeli dinanti


    Tepat di Jembatan Bungkuk wilayah perkampungan Darmokali saya tinggalkan dan saya berjalan di sepanjang Jalan Ngagel. Setelah beberapa meter berjalan di pinggir jalan raya beraspal saya mengambil jalan setapak di pinggir kali mengikuti Mas Ipung yang melaju di depan. Di sini kami bertemu dua orang laki-laki yang sibuk memfilet ikan. Bau ikan amis menusuk, tapi keduanya cekatan dan trampil memisahkan ikan dan tulangnya. Daging ikan akan dibuat pakan lele, entah di mana kedua bapak-bapak ini tinggal. Saya berjalan terus sampai sayamenemukan Jembatan Darmokali yang menghubungkan Jalan Raya Ngagel, Jalan Darmokali, Jalan Dinoyo.

    Saya sangat menikmati perjalanan kali ini. Lebih banyak peserta dan tentunya ada Mbak Sulis yang berbagi cerita seru tentang teman-teman kampus saya lainnya. Sambil jalan, menyapa penduduk, melewati pedagang sayur dan…tahu bulat goreng sudah berpindah kepemilikan. Sarapan tahu bulat di pagi hari. Sedikit lagi berjalan bertemu penjual pentol dan es cao, 2000 rupiah untuk sebungkus pentol kanji pedas yang hangat di pagi hari, asyiiik lumayan sebagai pengganjal perut.

    "mlijo" alias pedagang sayur keliling

    Tengok kanan-kiri dan saya menyeberang. Sekarang saya menyusuri pinggiran sungai yang berada di Kampung Dinoyo Tenun. Pemandangan Minggu pagi kuat terasa, makin banyak yang sibuk mencuci baju. Jumlah peserta acara bertambah beberapa orang, semakin ramai saja kelompok jalan-jalan Kalimas on Feet ini.


    fillet sakarmut, menurut Bapak berkaos putih di foto ikan sakarmut digunakan
    untuk pakan ikan lele

    Perahu tambang, siap mengantarkan penumpang.
    Tarif menyeberang tiap orang Rp. 2000 dan motor Rp. 3000

     Di bagian ini sungai tetap terjaga kebersihannya. Hampir tidak nampak satu sampah pun mengambang di atas sungai. Semakin saya berjalan ke arah Pasar Keputran bau sampah pasar mamin menyengat. Jalan gang juga lebih kotor daripada perkampungan sebelumnya, tapi masih layak dilewati. Anggota Kalimas on Feet semakin berjarak satu sama lainnya.

    Sarapan pagi bersama, enaknya nasi hangat, ikan dan tempe goreng
    Saya dan Sari (kawan baru dari acara ini) termasuk rombongan akhir bersama 3 orang lainnya. Kami mengambil waktu beristirahat di Taman Keputran yang sepi (selalu sepi tiap saya datangi). Sari tiba-tiba bertanya apakah saya akan menghadiri konser BigBang di Jakarta di bulan Mei. Rupanya dia memperhatikan kaos BigBang yang saya pakai. Dia pikir saya penggemar berat BigBang, padahal saya hanya pengagum saja. Senangnya percakapan dan pertemanan bisa terbentuk dari acara sederhana tapi penuh makna ini.

    Melewati Jembatan Sonokembang saya sudah ditunggu Rakhmat. Siswa kelas 2 SMA yang jauh lebih dewasa dari usianya ini salah satu anak muda yang konsisten mempertahankan budaya Jawa. Pada acara kemarin ia bercelana panjang batik, berkemeja a la laki-laki Jawa tempo dulu dan berblangkon. Rakhmat khawatir saya dan Sari serta teman-teman lain di garis belakang tersesat, jadi ia menunggu kami. Setelah bertegur sapa dan berkenalan singkat sambil berjalan saya memasuki kawasan Pattaya. Jalan Kangean yang menjadi tempat kaum gay berkumpul. Tidak banyak orang pada hari itu walaupun 3 atau 4 orang bercadar bersepeda motor lalu lalang di sepanjang Jalan Kangean. Hal yang langka saya temukan, ada dua pasangan suami istri dan anaknya berboncengan. Sungguh langka. Tiga kali sudah saya melewati wilayah ini tapi baru kali ini saya bertemu 2 keluarga bersepeda motor melewati Jalan Kangean.

    Seperti hari-hari biasanya, banyak orang memancing di Jalan Kangean, yang paling banyak tentunya di ujung Jalan Pemuda, di kawasan pintu air. Di tempat ini saya dan teman-teman beristirahat kembali dan Mbak Sulis pamit untuk kembali pulang ke rumah. Ada murid yang sudah menunggu di rumah Mbak Sulis. Sayang sekali Mbak Sulis harus pulang, padahal sudah 1/3 perjalanan ditempuh. Persis sama seperti jarak yang saya tempuh bulan Februari lalu. Semoga di Kalimas on Feet selanjutnya Mbak Sulis berhasil menyelesaikan perjalanan sampai “garis akhir” J

    Pintu air, seberang Monumen Kapal Selam


    Saya bersemangat melanjutkan perjalanan karena tepat setelah menyeberang jembatan di depan Monkasel adalah rute baru yang belum sempat saya tempuh sebelumnya. Saya melewati Parkir Timur Delta Plaza dan menuju area skateboard. Saya berhenti dan berfoto dengan teman-teman yang lain di bawah tugu Suro-Boyo. Hal baru yang mebuat saya terkesan adalah telapak kaki para pejabat pada acara peresmian tugu. Ada telapak kaki Walikota Surabaya saat itu, Bambang D.H, pejabat Telkom, dan pejabat Surabaya lainnya. Jika di Hollywood sada telapak tangan para pesohor, di Surabaya ada telapak kaki-nya. Unik!
    Setelah melewati jajaran warung di pinggir kali belakang Es Krim Zangrandi, saya menyeberangi Jembatan yang berbatasan dengan Gedung DPRD Kota Surabaya. 

    Telapak kaki mantan walikota Surabaya, Bambang D.H

    Ada Mas Handoko salah satu penggerak Taman Baca Masyarakat yang berbagi cerita tentang kegiatannya di sana. Dia mengungkapkan betapa “menantang” mengurus taman baca milik pemerintah di kawasan lokalisasi Dolly-Jarak. Saya bertanya tentang taman bacanya dan Mas Handoko bayak menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan di taman baca serta apa yang membedakan taman baca dengan perpustakaan. Dari sini pembicaraan kami terus mengalir sampai sedikit masalah kecil datang menimpa saya ketika kami berhenti di pusat PKL di Taman Prestasi.


    Sejak saya menyeberangi Jembatan dekat Monkasel, ibu tiri saya mengirim kabar lewat pesan singkat tentang kondisi bapak yang sedang sakit. Karena saya sibuk bertukar pesan baik dengan ibu dan kakak, maka saya kehilangan Mas Ipung dan rombongan lain. Saya sedikit berputar-putar dan akhirnya bertemu dengan teman-teman putri yang sedang rehat di bawah tugu pesawat di Taman Prestasi. Menurut keterangan mereka Mas Ipung sudah cukup jauh berjalan maju. Ups…saya tidak tahu ke mana harus berjalan maka saya mendahului mereka dan terus berjalan di pinggir jalan raya sepanjang sungai.

    Ketika menemukan jembatan yang dekat Hotel Weta saya kehilangan arah, harus ke Jalan Gentengkali atau ke arah Gedung Garnisun? Untung Mas Ipung menelepon dan ternyata saya telah mebuat semua menunggu di jembatan yang lain. Teman-teman menunggu saya di Jembatan Kuning belakang Grahadi tetapi saya menunggu mereka di jembatan yang lain T_T. Akhirnya saya tunggu teman-teman di seberang Hotel Weta.  Sampai di sini perasaan saya senang sekali. Saya tahu saya tidak jauh lagi dari Blauran dan artinya sudah semakin dekat dengan Kalimas.
     Wajah-wajah letih mulai terlihat. Adhies dan Menik XL Community masih dengan wajah super cerianya dan semangat yang tak kenal lelah. Berulang kali mereka menyatakan ikrarnya untuk menyelesaikan perjalanan jauh ini, dan buat mereka hal ini akan jadi pencapaian maha besar bagi mereka yang bertubuh ekstra ini.

    Senyum Semangat 



     Saya kemudian sampai di Taman Ekspresi untuk pertama kalinya. Taman ini bagus sekali, bersih dan tertata rapi. Adhies sangat girang melihat vespa yang jadi barang seni dan dipajang di taman. Bagi Adhies ada kenangan tersendiri antara dia dan Vespa. Ceritanya, dulu ia ver-Vespa kemana-mana. Jadilah Ahies dan Menik berfoto di atas Vespa- Vespa cantik itu.


    Salah satu sudut Taman Ekspresi

    Vespa unik
     
    Perpustakaan Taman Ekspresi

    Kami terus berjalan menyusuri Jalan Gentengkali dan transit lagi untuk membeli minuman di sebuah toko kecil di kanan jalan. Saya tidak ingat persis apa nama tokonya. Yang saya ingat adalah si pemilik punya anjing, entah jenis apa yang bulunya abu-abu gimbal. Anjing ini sangat ramah dan melompat ke sana ke mari. Lucunya…seperti lap pel yang bisa melompat otomatis. Andai tidak terbur-buru ingin lebih lama saya bermain dengan anjing lucu itu. Dia tidak menggonggong dan tiak menjilat dan sangat ramah. Sweet dog!


    Saya mencapai jembatan lain, setelah menyeberang kami lewat Jalan Ahmad Jais. Di jalan ini praktis sepi tanpa aktivitas berarti. Toko-toko semua tutup kecuali restoran Soto Banjar. Seperti biasa kami menyempal masuk ke gang kecil perkampungan pinggir sungai. Sekarang medannya lebih ekstrim. Saya melewati jalan tikus, benar-benar jalan buatan a la kadarnya dan melewati rumah tenda semi permanen dengan orang-orang yang pulas tidur. Kali ini saya bertanya lebih lanjut pada Surya. Mahasiswa UK Petra jurusan Desain Komunkasi Visual ini asli Pati, Jawa Tengah. Padanya saya bertanya sedikit banyak tentang kameranya dan passion-nya terhadap fotografi. Ternyata ia lebih menyukai film indie dibanding fotografi. Baginya ini adalah perjalanan pertamanya menyusuri Kalimas sama seperti yang lain.


    Sepeda dan kendi di jalan kecil daerah Kepatihan

    Setelah melewati 2 laki-laki yang asyik mencukur rambut saya semakin buta arah. Tidak tahu di mana saya berjalan. Tidak tahu lagi bangunan yang bisa saya jadikan acuan posisi saya saat itu. Tiba-tiba saya sudah menyeberang jembatan dan berada di Jalan Sulung. Kami rehat sejenak lagi meluruskan kaki. Tanpa sesuap nasi, semuanya sepakat makan akan membuat kami semakin malas bergerak sesudahnya, kami terus berjalan menuju tujuan. Saya kemudian berjalan beriringan bersama Anita dan banyak bersenda gurau dengannya. Percakapan saya mulai dengan kekaguman saya atas jaket lucu yang dikenakannya. Dari jaket kemudian kami berbicara tentang banyak hal lain. Anita yang kelahiran Makassar dan besar di Sorong ini sudah pindah ke Surabaya sejak SMA. Sampai sekarang dia tinggal di Surabaya dan menempuh pendidikannya di Universitas Kristen Petra. dia bercerita tentang bagaimana dunianya berubah dengan teman-teman dan budaya yang baru. Mulai dari cerita tentang kegiatan sehari-hari sampai band cewek Korea favoritnya semua lugas diceritakan sampai tidak terasa bahwa kami sudah sampai di Jembatan Merah.
    Sungai yang hanya saya lihat sepintas ketika berbelanja di Jembatan Merah Plaza (JMP),
    kemarin saya susuri
     Tepat ucapan Handoko bahwa cuaca saat itu seperti neraka yang bocor.  Panas terik menyengat. Toh itu tidak menghilangkan semangat kami berfoto bersama di Jembatan Merah. Beberapa kawan memutuskan kembali ke rumah dan tidak melanjutkan perjalanan. Total kami berdelapan, saya, Anita, Handoko, Mas Ipung, Adhies, Menik, Surya, dan Rakhmat si blanngkon yang tersisa. Sayang sekali mereka harus pulang padahal Jembatan Merah sudah tinggal sejengkal lagi dari Kalimas.



    Akhirnya saya berdelapan menyeberang Jembatan Merah dan menyusuri jalan tak beraspal, daerah Kampung Baru Bangilan. Semakin jauh kami berjalan bau amis ikan, bau sungai dan bau minyak kelapa bercampur. Bau ikan dari Pasar Pabean di Jalan Panggung tepat di balik jalan yang saya susuri. Jalan pun semakin lebar dengan sisi kiri Kalimas yang keruh dan tidak bersih alias banyak sampah mengambang, tanpa pot-pot kembang hijau nan ayu di pinggir sungai seperti di kawasan Darmokali sampai Dinoyo. Di kanan jalan jajaran gudang-gudang besar baik bangunan lama maupun baru bercampur. Jalanan yang tandus dihiasi parkiran truk besar pengangkut barang di pinggir sungai, beberapa bahkan baru dibeli bulan Maret kemarin.  

    Potret daerah pergudangan tua yang dulu jadi urat nadi perdagangan kota.





    Kami dan warga sekitar kampung Bangilan
    Nostalgia masa kecil tercipta ketika di Kampung Baru Bangilan ini saya bertemu penjual gulali dan jelly. Saya dan beberapa teman membeli gulali warna merah. Setiap gulali dihargai 1000 rupiah. Boleh diberi topping meses warna-warni boleh juga tidak. Gulali...panganan manis yang sudah hampir punah ini saya nikmati manisnya. Teman yang lain memperhatikan adu layang-layang dimainkan oleh 3 bocah laki-laki dan ada juga yang berfoto dengan latar gedung tua. 

    Pindang siap jual
    Ada bekas rel di sepanjang jalan tepat di depan gudang, dulunya rel ini mengangkut barang dari pelabuhan Kalimas melewati kompleks pergudangan. Karenanya di ujung jalan menuju ke Jembatan Petekan terdapat crane besar yang bagian bawahnya dipakai tempat berjualan wearga. Crane raksasa ini dulu berfungsi untuk membawa barang dari dan ke kapal, kapal berada tepat di atas sungai Kalimas. 

    Di bawah crane tua (Foto dokumentasi  Surya)
    Ketika melihat Jembatan Petekan, saya seperti berada di dunia lain. Wilayah ini sangat jarang saya lewati, dan saya sampai tidak percaya bahwa saya sudah melewati pusat kota dan semakin menuju ke ujung Surabaya. Di bawah Jembatan Petekan dibangun taman kecil, ketika kami berfoto taman itu tanpa pengunjung. Bisa jadi banyak warga yang tidak tahu bahawa di bawah Jembatan Petekan yang khas menjulang tinggi rangka bangunannya, terdapat taman yang cocok untuk melepas penat.  Sembari saya melihat ke bagian atas jembatan saya teringat film Transformer. Berimajinasi jika di malam hari rangka kokoh berkarat tersebut berubah menjadi robot tua yang masih gagah, anggota kelompok Decepticon musuh Bumblebee dan kawan-kawannya. Ah..imajinasi berlebihan :)


    Kami yang berbahagia (Foto dokumentasi  Surya)


    Terus kami berjalan sampai kami menemukan gerbang (Pangkalan Utama Angkatan Laut) Lantamal. Wah..rasa senang saya semakin berlipat-lipat. Saya tahu saya sudah mencapai daerah pelabuhan. Terus saya berjalan sepanjang Jalan Patiunus (semoga tidak salah nama), di sisi jalan hanya berisi gudang-gudang dengan timbunan peti kemas. Jalan ini terasa tidak ada habisnya. Mas Ipung sudah berjalan jauh sekali di depan dan Rakhmat menyusul di belakangnya. Saya ketiga dan sedikit di belakang saya Anita, Menik, Adhies, handoko, dan Surya mengekor. Rakhmat tiba-tiba menghilang, ternyata di sebelah kiri terdapat gerbang Pelabuhan Kalimas, rasanya seperti mustahil karena gerbang ini tanpa nama.

    Kami berhasil!!!!
    Dari pos polisi di depan kami terus berjalan dan kemudian berlari girang setelah benar-benar mencapai pelabuhan. Saya terharu dan benar-benar merasakan kesenangan luar biasa. Saya berhasil mengalahkan diri saya sendiri, rasa penasaran dan juga lelahnya kaki saya. Kami berhasil mencapai Pelabuhan Kalimas. Pelabuhan sepi hari itu dan hanya diramaikan oleh 2-3 orang remaja bengal yang asyik memacu kencang motornya seakan sisi pelabuhan adalah arena balap. Suara mesin motornya memekakkan telinga, sangat mengganggu. Saya dan teman-teman duduk meluruskan kaki dan mengatur nafas. Dengan sedikit gerimis saat kami kembali berjalan pulang kami bersenda gurau, selalu ada energi untuk ini. Hari Minggu saya begitu berkesan. Terima kasih teman-teman!



    Letihnya.....

    Di perjalanan pulang, di dalam bus kota saya mengirimkan pesan singkat kepada teman-teman yang pulang dari Perak kembali ke Taman Bungkul dengan bus kota yang berbeda dengan saya. Begini bunyinya:

    "Halo-halo gmn td perjalanan Perak-Bungkul? How are you? Brasa kaki lemes nyeri ga? Sensasinyaaaaa he he he"

    Anita : Baik" aja mbak, cuma perlu wkt skitar 45 mnt-1 jam naik bus...Hahaha...Gk kok, gk lemes, kaki q berasa udah gk ada soalnya...=D
    Mbak nya gmn? :D

    Menik : Keren mbk...Pengalaman tak trlupakan

    Adhies: Halo mbg sil, kaki udah g ada kbr.na mbg...gempor, cekit2, pkox smua :) tapi sueneng puwol

    Handoko : keren pol top buangtttttt cetar mmbahana...hhhhhhhh. Kaki hanya sedikit capek..tapi luar biasa. keadaan baik :-) ni lagi di delta...(masih sempat jalan-jalan lagi rupanya si Handoko)

    Rakhmat : Luar binasa wkwk

    Semoga dsaya diberi kesehatan demikian juga teman-teman lainnya sehingga kami bisa terus berjalan dan bercerita tentang Kalimas . Amiin 





























    Kalimas Walking

    Hari Sabtu 23 februari lalu saya mengikuti acara jalan-jalan yang diselenggarakan oleh klub pejalan kaki Manic Street Walker. Klub ini saya temukan setelah browsing di c2o library, perpustakaan di Jalan Cipto No 20 Surabaya. Acara jalan-jalan yang saya ikuti misi utamanya adalah menuyusuri Kalimas sampai ke pelabuhannya. Dari teman sesama anggota MSW saya dapatkan informasi bahwa mereka berjalan sampai 6 jam di bawah gerimis untuk mencapai Pelabuhan Kalimas tempat sungai ini bermuara ke laut.

    Briefing singkat dengan peta sederhana Surabaya
    tentang rute yang akan dilewati
    Tepat jam 6 saya sampai di Taman Bungkul tempat kami, para pejalan kaki berjanji bersua. Koordinator acara, Tinta, kebetulan teman saya kuliah dulu. Senang rasanya bertemu dia kembali. Bersama dengan teman-teman baru saya seperti Mas Ipung yang banyak bercerita tentang sejarah Surabaya; Mia teman baru dari situs traveller couchsurfing, Deasy mahasiswi Petra, Fitri dari Sastra Inggris UNAIR dan beberapa teman lain yang belum saya begitu saya kenal, kami mulai berjalan dari sungai yang berada tepat di belakang kampung di sepanjang Jalan Darmokali.


    Mission starts!
    Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini karena kami menggunakan jalan-jalan tikus, potomg jalan sana sini dan dengan begitu saya bisa mengenal lebih jauh tentang kehidupan yang sebenarnya. Walaupun kehidupan masyarakat tidak ekstrim berbeda dari lingkungan sekitar saya tinggal tapi saya senang sekali menyusuri sungai, menyapa penduduk, mendapat cerita tentang tempat-tempat. Dan yang membuat saya sangat takjub, banyak penduduk yang senang dan super ramah ketika mengetahui kami komunitas pejalan kaki.



    Telepon umum
    5 tahun lagi mungkin jadi
    situs bersejarah


    Spot pertama yang manarik bagi saya adalah telepon umum yang masih kokoh berdiri di tengah perkampungan tepat di pinggir kali. Telepon umum yang sudah langka ini masih beroperasi dan cukup terawat walaupun ada coretan di sana-sini. Tempat kedua adalah jembatan tua yang menurut cerita dibangun sejak jaman Jepang. Di sisi jembatan terdapat pipa besar yang dulunya dipakai untuk menyalurkan minyak BBM. Jembatan berwarna biru ini menjadi sarana untuk menyeberang ke jalan utama yang akrab disebut BAT.  Saya mengenal BAT sebagai tempat pemberhentian bison (angkutan antar kota seputar Surabaya - Sidoarjo) dan bemo (angkutan dalam kota). Ternyata BAT adalah singkatan dari British American Tobacco, pabrik tembakau tempo dulu yang gedungnya sekarang dipakai sebagai lapangan futsal.


    Mas Ipung dan Tinta, bersiap berfoto sebelum menyusuri Jembatan Bungkuk


    Profil Jembatan Bungkuk (Proyek rehabilitasi)





    Pengguna Jembatan
    Berfoto di atas Jembatan Bungkuk



    Sementara lalu lintas sangat bising kami terus berjalan menyusuri sungai yang sudah bertahun-tahun saya lewati dengan kendaraan. Kini saya berjalan dan meninggalkan jejak kaki di pinggiran sungai. Ada sampah, ada genangan air, ada ikan bertotol yang terdampar dan kemudian diselamatkan oleh Deasy (untung tidak berubah menjadi dewi setelah masuk air he he), ada ayam cemani alias ayam hitam berkeliaran, ada jemuran baju, dan ada bau khas sungai. Bau amis yang aneh.

    Kami juga mencoba perahu  tambang yang menyeberangkan orang dan juga motor sampai ke seberang sungai. Disebut perahu tambang karena untuk bergerak melintasi sungai "operator" menarik tambang yang melintang melintasi sungai untuk menggerakkan perahu. Pak tua penambang perahu sudah lama menjadi penambang saya lupa berapa tahun tepatnya. Ongkos pun tidak ditetapkan, terserah penumpang katanya. Saya membayar 2000 untuk jasanya. Anehnya saya merasa pusing karena perahu yang sebenarnya hanya papan besar dengan bangku kayu bergoyang-goyang di permukaan sungai. Cukuplah sensasinya :)
    Jalan lagi!!!

    Dulunya gedung BAT (British American Tobacco)
    Sekarang tempat futsal

    Penduduk pinggir kali, bersantai di pinggir sungai

    Megahnya gedung perbelanjaan tak jauh dari rumah-rumah
    semi permanen pinggir Kali Mas

    di tempat pengepul barang rongsokan


    Dandan dulu ah...
    Berganti pakaian dengan santai di rumah atap terpal

    Binatang piaraan idola warga pinggir kali.
    Sepanjang perjalanan 2x bertemu monyet dan 2x bertemu ayam hitam


    Ayam hitam, ayam "sakti" dipakai di acara ritual hi.....syerem


    Patok alias penanda batas kecamatan
    Semakin jauh kami berjalan sampai kami menemukan jembatan Darmokali, entah apa namanya tapi jembatan yang menghubungkan Jalan Darmokali dan Jalan Raya Ngagel. Tepat di seberang sungai bisa terlihat bangunan gedung tinggi yang pengerjaannya tidak pernah selesai dari jaman saya pertama kali tinggal di Surabaya sampai sekarang hampir 12 tahun saya bermukim di sini.

    Sampai di Jembatan Darmokali

    Tinta memetakan perjalanan


    Gedung yang tak kunjung usai dibangun
    Menjemur di tepi sungai
    Alhamdulillah..bersih sungainya

    Sampai di Jembatan Keputran (Dinoyo-Keputran)

    Menyeberang sungai saya melewati perkampungan yang semakin ke utara menuju arah pasar Keputran dihuni para pedagang. Banyak yang masih mengemasi barang dagangan dan di kawasan ini lebih kumuh daripada sebelumnya. Sama seperti di kampung sebelumnya saya menemukan ayam hitam lagi. Setelah hampir 2 jam berjalan akhirnya saya beristirahat di taman, tanpa nama saya menyebutnya Taman Keputran. Dulunya di taman ini dipakai penjual untuk berdagang. Kawasan yang kotor dan bau ini kemudian disulap menjadi taman yang indah tapi sepi pengunjung.


    Berjalan terus menuju hilir sungai

    Di seberang taman tampak sudah gedung Indosat. Artinya kami sudah sampai di kawasan Kayoon, kawasan pedagang bunga dan tanaman hias. Menyeberangi Jembatan Sonokembang akhirnya dipilih Jalan Kangean. Alamak saya baru tahu jalan ini dipakai kaum gay berkumpul. Di dinding yang kemudian kami sebut dinding ratapan tertulis banyak sekali tulisan yang lucu, unik, dan juga ada yang saru seperti gambar penis.


    Jembatan Sonokembang





    Sepanjang jalan yang masih sepi di hari itu beberapa orang lalu lalang bersepeda motor bercadar. Rupanya itu adalah penanda bahwa mereka gay dan mungkin sedang mencari pasangan. Jalan ini jika disusuri berujung ke seberang Monumen Kapal Selam. Di sepanjang jalan saya hanya bertemu satu wanita yang sedang mencuci baju di ujung jalan Kangean sebekum jauh masuk ke jalan kecil ini, dan satu lagi ibu tua pedagang jajanan yang dikelilingi laki-laki, kemungkinan besar gay.


    Klab dugem di Jalan Kayoon tampak dari seberang Jalan Kangean

    Tembok ratapan

    Coretan sepanjang Gang Pattaya

    Curahan hati


    Tidak jauh saya berjalan karena saya berpisah dengan teman-teman MSW tepat setelah melewati pintu air di ujung utara Jalan Kangean. Tugas kerja dan rapat yang menunggu siang hari membuat saya bergegas pulang, padahal maksud hati masih ingin terus berjalan kaki bersama walaupun kaki sudah minta dipijit :)

    Semoga saya bisa ikut dan menyelesaikan misi di acara jalan-jalan MSW berikutnya.
    pose saya, warna
    kaos senada warna
    jembatan di Surabaya.
    Semuanya oranye!