Monday, April 15, 2013

Kalimas Walking

Hari Sabtu 23 februari lalu saya mengikuti acara jalan-jalan yang diselenggarakan oleh klub pejalan kaki Manic Street Walker. Klub ini saya temukan setelah browsing di c2o library, perpustakaan di Jalan Cipto No 20 Surabaya. Acara jalan-jalan yang saya ikuti misi utamanya adalah menuyusuri Kalimas sampai ke pelabuhannya. Dari teman sesama anggota MSW saya dapatkan informasi bahwa mereka berjalan sampai 6 jam di bawah gerimis untuk mencapai Pelabuhan Kalimas tempat sungai ini bermuara ke laut.

Briefing singkat dengan peta sederhana Surabaya
tentang rute yang akan dilewati
Tepat jam 6 saya sampai di Taman Bungkul tempat kami, para pejalan kaki berjanji bersua. Koordinator acara, Tinta, kebetulan teman saya kuliah dulu. Senang rasanya bertemu dia kembali. Bersama dengan teman-teman baru saya seperti Mas Ipung yang banyak bercerita tentang sejarah Surabaya; Mia teman baru dari situs traveller couchsurfing, Deasy mahasiswi Petra, Fitri dari Sastra Inggris UNAIR dan beberapa teman lain yang belum saya begitu saya kenal, kami mulai berjalan dari sungai yang berada tepat di belakang kampung di sepanjang Jalan Darmokali.


Mission starts!
Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini karena kami menggunakan jalan-jalan tikus, potomg jalan sana sini dan dengan begitu saya bisa mengenal lebih jauh tentang kehidupan yang sebenarnya. Walaupun kehidupan masyarakat tidak ekstrim berbeda dari lingkungan sekitar saya tinggal tapi saya senang sekali menyusuri sungai, menyapa penduduk, mendapat cerita tentang tempat-tempat. Dan yang membuat saya sangat takjub, banyak penduduk yang senang dan super ramah ketika mengetahui kami komunitas pejalan kaki.



Telepon umum
5 tahun lagi mungkin jadi
situs bersejarah


Spot pertama yang manarik bagi saya adalah telepon umum yang masih kokoh berdiri di tengah perkampungan tepat di pinggir kali. Telepon umum yang sudah langka ini masih beroperasi dan cukup terawat walaupun ada coretan di sana-sini. Tempat kedua adalah jembatan tua yang menurut cerita dibangun sejak jaman Jepang. Di sisi jembatan terdapat pipa besar yang dulunya dipakai untuk menyalurkan minyak BBM. Jembatan berwarna biru ini menjadi sarana untuk menyeberang ke jalan utama yang akrab disebut BAT.  Saya mengenal BAT sebagai tempat pemberhentian bison (angkutan antar kota seputar Surabaya - Sidoarjo) dan bemo (angkutan dalam kota). Ternyata BAT adalah singkatan dari British American Tobacco, pabrik tembakau tempo dulu yang gedungnya sekarang dipakai sebagai lapangan futsal.


Mas Ipung dan Tinta, bersiap berfoto sebelum menyusuri Jembatan Bungkuk


Profil Jembatan Bungkuk (Proyek rehabilitasi)





Pengguna Jembatan
Berfoto di atas Jembatan Bungkuk



Sementara lalu lintas sangat bising kami terus berjalan menyusuri sungai yang sudah bertahun-tahun saya lewati dengan kendaraan. Kini saya berjalan dan meninggalkan jejak kaki di pinggiran sungai. Ada sampah, ada genangan air, ada ikan bertotol yang terdampar dan kemudian diselamatkan oleh Deasy (untung tidak berubah menjadi dewi setelah masuk air he he), ada ayam cemani alias ayam hitam berkeliaran, ada jemuran baju, dan ada bau khas sungai. Bau amis yang aneh.

Kami juga mencoba perahu  tambang yang menyeberangkan orang dan juga motor sampai ke seberang sungai. Disebut perahu tambang karena untuk bergerak melintasi sungai "operator" menarik tambang yang melintang melintasi sungai untuk menggerakkan perahu. Pak tua penambang perahu sudah lama menjadi penambang saya lupa berapa tahun tepatnya. Ongkos pun tidak ditetapkan, terserah penumpang katanya. Saya membayar 2000 untuk jasanya. Anehnya saya merasa pusing karena perahu yang sebenarnya hanya papan besar dengan bangku kayu bergoyang-goyang di permukaan sungai. Cukuplah sensasinya :)
Jalan lagi!!!

Dulunya gedung BAT (British American Tobacco)
Sekarang tempat futsal

Penduduk pinggir kali, bersantai di pinggir sungai

Megahnya gedung perbelanjaan tak jauh dari rumah-rumah
semi permanen pinggir Kali Mas

di tempat pengepul barang rongsokan


Dandan dulu ah...
Berganti pakaian dengan santai di rumah atap terpal

Binatang piaraan idola warga pinggir kali.
Sepanjang perjalanan 2x bertemu monyet dan 2x bertemu ayam hitam


Ayam hitam, ayam "sakti" dipakai di acara ritual hi.....syerem


Patok alias penanda batas kecamatan
Semakin jauh kami berjalan sampai kami menemukan jembatan Darmokali, entah apa namanya tapi jembatan yang menghubungkan Jalan Darmokali dan Jalan Raya Ngagel. Tepat di seberang sungai bisa terlihat bangunan gedung tinggi yang pengerjaannya tidak pernah selesai dari jaman saya pertama kali tinggal di Surabaya sampai sekarang hampir 12 tahun saya bermukim di sini.

Sampai di Jembatan Darmokali

Tinta memetakan perjalanan


Gedung yang tak kunjung usai dibangun
Menjemur di tepi sungai
Alhamdulillah..bersih sungainya

Sampai di Jembatan Keputran (Dinoyo-Keputran)

Menyeberang sungai saya melewati perkampungan yang semakin ke utara menuju arah pasar Keputran dihuni para pedagang. Banyak yang masih mengemasi barang dagangan dan di kawasan ini lebih kumuh daripada sebelumnya. Sama seperti di kampung sebelumnya saya menemukan ayam hitam lagi. Setelah hampir 2 jam berjalan akhirnya saya beristirahat di taman, tanpa nama saya menyebutnya Taman Keputran. Dulunya di taman ini dipakai penjual untuk berdagang. Kawasan yang kotor dan bau ini kemudian disulap menjadi taman yang indah tapi sepi pengunjung.


Berjalan terus menuju hilir sungai

Di seberang taman tampak sudah gedung Indosat. Artinya kami sudah sampai di kawasan Kayoon, kawasan pedagang bunga dan tanaman hias. Menyeberangi Jembatan Sonokembang akhirnya dipilih Jalan Kangean. Alamak saya baru tahu jalan ini dipakai kaum gay berkumpul. Di dinding yang kemudian kami sebut dinding ratapan tertulis banyak sekali tulisan yang lucu, unik, dan juga ada yang saru seperti gambar penis.


Jembatan Sonokembang





Sepanjang jalan yang masih sepi di hari itu beberapa orang lalu lalang bersepeda motor bercadar. Rupanya itu adalah penanda bahwa mereka gay dan mungkin sedang mencari pasangan. Jalan ini jika disusuri berujung ke seberang Monumen Kapal Selam. Di sepanjang jalan saya hanya bertemu satu wanita yang sedang mencuci baju di ujung jalan Kangean sebekum jauh masuk ke jalan kecil ini, dan satu lagi ibu tua pedagang jajanan yang dikelilingi laki-laki, kemungkinan besar gay.


Klab dugem di Jalan Kayoon tampak dari seberang Jalan Kangean

Tembok ratapan

Coretan sepanjang Gang Pattaya

Curahan hati


Tidak jauh saya berjalan karena saya berpisah dengan teman-teman MSW tepat setelah melewati pintu air di ujung utara Jalan Kangean. Tugas kerja dan rapat yang menunggu siang hari membuat saya bergegas pulang, padahal maksud hati masih ingin terus berjalan kaki bersama walaupun kaki sudah minta dipijit :)

Semoga saya bisa ikut dan menyelesaikan misi di acara jalan-jalan MSW berikutnya.
pose saya, warna
kaos senada warna
jembatan di Surabaya.
Semuanya oranye!

No comments:

Post a Comment