Monday, August 12, 2013

Kalimas On Feet #02

Setelah berhasil menaklukkan perjalanan pertama saya dari Taman Bungkul sampai Pelabuhan Kalimas, ada candu yang membuat saya selalu ingin mengikuti perjalanan di acara Kalimas On Feet. Kali ini perjalanan kedua dilaksanakan di hari Sabtu dan seperti sebelumnya Mas Ipung membuka pendaftaran bagi yang ingin mengikuti acara ini. Sekitar 40 orang mendaftar mengikuti acara yang dijadwalkan dimulai pukul 6 pagi dan selalu dilakukan setelah lewat 30 menit dari jadwal.

Hari itu saya dan 2 orang teman lainnya, Bagus dan Menik yang berhasil menyelesaikan perjalanan pertama Kalimas On Feet, dipercaya sebagai "panitia". Saya merasa sangat terhormat mendapat tugas ini. Tugas saya sederhana saja, menyiapkan kertas label untuk name tag peserta dan pastinya datang 30 menit sebelum acara. Insiden kecil terjadi pada saya. Tukang ojek yang sepakat mengantar saya dari rumah kos ke Taman Bungkul tidak datang dan tidak memberi kabar sampai tepat pukul 5.30 pagi. Walhasil saya memberhentikan taksi yang saya temukan sesaat setelah berdiri menunggu kendaraan umum yang mungkin lewat saat itu. Saya tepat tiba pukul 6 pagi dan baru Mas Ipung dan seorang peserta lainnya yang datang. Seingat saya Bagus dan Menik datang tak lama setelah itu.

Seperti biasa acara dibuka dengan doa bersama dan pengantar singkat dari Mas Ipung. Istimewanya peserta kali ini sangat beragam. Ada siswa yang baru lulus SMA, bapak-bapak dari klub fotografi Matanesia, WNA dari Belanda, pekerja lajang yang tidak muda lagi :D, dan rekan-rekan mahasiswa. Dari 40 orang yang mendaftar pagi itu hanya 21 orang yang menampakkan batang hidungnya ditambah 3 peserta yang mendaftar pagi itu. Pendaftaran sifatnya informal, hanya mengisi daftar kehadiran saja untuk memudahlan kami mengetahui berapa orang lagi yang harus ditunggu sampai sekitar pukul 6:30.

Dan akhirnya dengan semangat tinggi dan senyum cerah ceria kami mulai menyusuri rute sama yang kami lewati seperti di acara Kalimas On Feet #1. Sambil berjalan menikmati indahnya pagi saya terus memutar otak mencari tahu apa menariknya acara ini sampai saya ikut kedua kalinya. Bagi saya yang suka berjalan kaki tentunya karena jalan kaki itu mengasyikkan. Yang kedua ternyata dalam perjalanan selalu ada yang baru. Seperti slogan salah satu koran besar dari Surabaya, dengan berjalan kaki bersama teman-teman baru semuanya tidak ada yang sama, orang-orang yang kami temui di jalanan pun tidaklah sama, peristiwa yang terjadi di sepanjang perjalanan terutama, pastilah berbeda. Sungguh nikmat yang sederhana tapi sangat membahagiakan.

Ketika berjalan saya memperhatikan beberapa kawan yang menenteng kamera DSLRnya dan sibuk mengatur fokus lensa ketika mereka menemukan hal-hal menarik di sepanjang jalan. Saya mengamati Pak Wahyu, dari Matanesia, meminta ijin sebelum mengambil gambar seorang ibu yang sedang asyik mencuci dan ibu lain yang mengupas sayuran untuk memasak. Ah ini rupanya etika fotografer. Di lain tempat Pak Tejo memberi arahan pada objek foto untuk santai dan melakukan kegiatannya seperti biasa tanpa perlu malu-malu. Sering kali saya perhatikan kedua bapak-bapak ini berhenti dan mengambil foto dari objek-objek yang luput dari mata orang awam seperti saya. Ah...rupanya banyak hal di sekitar kita yang bisa tampil cantik dalam jepretan kamera.

Saya sempat berbincang dengan Pak Tejo Cahyono. Beliau suka memfoto objek tema pemandangan dan juga human interest. Beliau mengakui tidak ada hal yang menarik dari memfoto objek para model cantik. Ketika saya tanya di mana saya bisa menikmati hasil jepretan beliau, beliau berkata bahwa beliau biasanya mengoleksi hasil jepretan untuk keperluan pribadi dan tidak diunggah di dunia maya. Pak Tejo yang asli dari Blitar ini bertanya pada saya lebih lanjut tentang acara Kalimas On Feet.

Kawan baru saya lainnya, Tony, adalah pelajar SMA yang baru saja menyelesaikan sekolahnya dan sedang menunggu hasil UNAS. Tony yang datang dari Lamongan, sedang mengikuti program intensif sebuah bimbingan belajar di Kota Pahlawan sambil mengisi hari liburnya usai UNAS. Dia mengetahui acara Kalimas on Feet dan kemudian memutuskan ikut dalam acara. Tony yang lugas dan juga pantang capek ini aktif bertanya tentang sejarah kota. Beberapa kali dia bertanya pada Mas Ipung dan dia pun cukup terperangah ketika mendapati di Surabaya ada kawasan gay di Jl. Kangean. hari itu, karena hari libur banyak laki-laki bercadar mondar-mandir di atas motornya. Dan seperti biasa tak jauh dari mulut Jalan Kangean dari arah Jl. Sumatera saya selalu bertemu gerombolan laki-laki yang duduk santai di bawah pohon mangga pendek di dekat ibu tua penjual kopi dan jajanan. Tatapan mata mereka itu loh..wuih membuat saya sangat merasa tak nyaman. Seakan mereka mengawasi apa yang akan kami lakukan. Kembali ke Tony, saya tidak akan melupakan Tony yang spontan berkomentar ketika melihat seorang bapak di seberang sungai yang kami lewati sedang buang hajat, Ha ha ha, si bapak ketawa-ketiwi saja.


Ada juga murid saya, Dani yang akhirnya ikut serta setelah berulangkali mendengar celoteh dan ajakan saya di kelas yang dia ikuti. Dia datang pagi itu dengan sepeda kumbangnya dari daerah perumahan Siwalan di Gresik yang berbatasan dengan wilayah Benowo, Surabaya. bayangkan, Dani mengayuh sepedanya dari pinggiran Gresik sampai ke Taman Bungkul plus setelahnya dia harus berjalan sampai hampir 20 km dan kemudian mengayuh sepeda lagi sampai pulang ke rumah. Hebat!!!! Dan sebagai informasi dia benar-benar menyelesaikan rute Kalimas On Feet. WOW!!


Ada pula pemuda yang tampak kesepian seorang diri. Terlihat dia sedikit kikuk dii awal karena tidak ada teman yang bisa diajaknya berbicara. Setelah hampir 1/3 perjalanan baru kemudian saya mengenalnya. Husein, mahasiswa UNAIR ini tak lain dan tak bukan adalah adik kelas saya. Saya lupa dia angkatan berapa tapi sejak memulai percakapan dengan Husein tak hentinya semua kabar baik yang pasti kebenarannya maupun opini belaka tentang almamater saya habis diceritakan. Berulangkali dia mengeluh setengah kaget ketika menceritakan ruangan atau bagian kampus yang baru muncul setelah saya lulus. Kadang mungkin dia merasa bicara dengan orang dari dunia lain yang seakan tidak tahu sama sekali tentang jurusan tempat dia belajar, padahal dulu saya juga lulus dari jurusan ini ha ha ha. Saya puas sekali ngobrol dengan Husein. Sampai di akhir acara ketika kami makan siang bersama rupanya dia masih betah berdekatan dengan seniornya yang sudah hengkang dari kampusnya 7 tahun yang lalu :D

Orang yang pasti menarik perhatian adalah Frans. WNA asli Belanda yang menikah dengan wanita Surabaya ini sekarang tinggal di Kuala Lumpur. Dia mengetahui tentang acara Kalimas On Feet dari Surabaya Tourism Board. Mas Ipung juga terheran-heran bagaimana acaranya bisa sampai didengar oleh orang-orang dari Dinas Pariwisata. Awalnya saya pikir karena Mas Ipung punya kawan di sana, ternyata murni promosi yang ajaib. Frans tampak asyik menyusuri jalanan dan tidak menunjukkan reaksi berlebihan ketika melihat orang-orang tinggal di kawasan padat penduduk. Bahkan ketika melihat orang yang tidur beratap terpal beralas kardus di belakang gedung  di pinggir Kalimas, dia berkata orang-orang ini sungguh beruntung mereka bisa tinggal di luar ruangan. Katanya orang-orang di Belanda sangat menginginkan hidup "bebas" tidak terkukung bangunan beton. Hm...benar kan...semua hal relatif, tidak ada yang pasti, tergantung dari kaca mata apa yang kita pakai untuk melihatnya. Kaca mata saya, yang minusnya lebih dari 5 ini melihat kehidupan orang-orang seperti itu menyedihkan sekali. Masih ada yang tidur di jalanan. Tapi sebenarnya di rumah orang-oang jalanan ini dilengkapi dengan TV, peralatan dapur, dan gadis yang tinggal di sana berdandan dan berbaju baik dan rapi loh. Nah...sekarang mereka patut dikasihani atau sebenarnya mereka yang memiskinkan diri sendiri?


Frans sayangnya hanya berjalan sampai ke Jembatan Merah karena keperluan yang tidak bisa ditinggalkannya, menurut saya orang yang berpandangan positif dan tidak judgmental. Bisa jadi karena istrinya asli Surabaya dan dia sudah bersentuhan dengan kehidupan masyarakat yang tidak awam lagi baginya. Atau juga kehidupan masyarakat melayu di Malaysia di pinggir kota juga kurang lebih sama dengan di Surabaya? Saya hanya bisa menafsirkannya. Ia memandang kehidupan masyarakat kota yang aneka rupa sebagai bagian tak terpisahkan dari perkembangan wajah kota. Bukan hal yang aneh dan bukan hal yang memalukan untuk dilihat. Padahal awalnya saya berpikir betapa tidak sedapnya pemandangan kehidupan warga yang tinggal di rumah-rumah petak sempit dan jalanan kotor nan berbau tajam di kawasan Pasar Keputran.

Yang tidak akan saya lupakan dengan Frans adalah ketika kami mengikuti beberapa Pak Wahyu, Pak Tejo, dan Pak Kuncoro yang melalui pintu air di dekat Jembatan Delta Plaza. Di sini selalu banyak orang yang memancing, sambil melihat pemancing dengan aksinya Frans dan saya berjalan hampir ke tengah jembatan dan bergantian berpose, kata Frans saya harus berfoto dan gambarnya nanti dikirimkan ke pacar saya. begitu katanya sambil mengedipkan mata. Aahhh..jadi teringat kekasih hati nun jauh di sana.

Sementara cerita kota sepanjang Kalimas saat itu adalah, pertama cuaca hari itu sangat menyenangkan. Tidak panas dan juga tidak gelap mendung. Hawanya enak untuk berjalan kaki. Tapi di akhir perjalanan matahari tidak ragu lagi menampakkan diri. Panas terik sekali. Mungkin karena cuaca yang bagus dan semangat peserta yang luar biasa, kami tidak banyak berhenti. Kalaupun berhenti tidak sampai 10 menit di tiap perhentian.

Peserta saat itu hanya 1 yang "menghilang" sebelum kami mencapai 1/3 perjalanan di Jembatan dekat Surabaya Plaza (Delta Plaza) ditambah Frans yang tidak melanjutkan perjalanan setelah ia mencapai Jembatan Merah.  22 peserta sisanya sungguh luar biasa. Mereka semua ditambah Mas Ipung, Menik, Bagus, dan saya berhasil mencapai Pelabuhan Kalimas. Seingat saya tidak ada keluhan dari peserta, kecuali Husein yang berulang kali bertanya kapan sampai atau kurang berapa jauh sampai Kalimas dengan mimik memelas pada saya. Menik, dan 2 temannya dari XL club Surabaya yang sempat mengalami kram kaki di sekitar wilayah Ahmad Jais juga terbukti tangguh menyelesaikan rute.

Beberapa hal menarik yang saya tangkap saat itu adalah nelayan yang melempar jala berburu ikan sapu-sapu berkulit keras. Ikan sapu-sapu yang disebut sakarmut ini mampu membersihkan kaca akuarium. Karenanya ikan ini dijual hidup-hidup sebagai ikan"pekerja pembersih kaca" bukan dijual sebagai untuk lauk di meja makan Anda :)

Ada juga sekelompok anak perempuan yang asyik bermain bekel. Ya bola bekel, mainan yang sudah hampir 20 tahun saya tinggalkan ini ternyata masih dimainkan oleh anak-anak perempuan di kampung Dinoyo. Saya iseng mencoba permainan, tentunya hasilnya memalukan ha ha Anak-anak perempuan ini sungguh menyenangkan, tidak canggung bertemu orang asing, sopan, dan juga tidak berebut berpose aneh ketika kamera diarahkan ke mereka. Semoga lain waktu bisa bermain bekel bersama lagi.

Di sekitar pasar Keputran, saya melihat laki-laki yang membakar ayam potong dengan alat semacam las yang mengeluarkan semburan api. Ya, ayam yang nantinya dibuat ayam bakar menurut pemiliknya ini sungguh diolah dengan cara tidak higienis. Ayam yang dibeli dikeluarkan dari kantomng plastik, tidak dicuci, dan digosongkan barang 2 - 4 menit per ekor. Mungkin maksudnya menghemat gas dan waktu untuk mengolah ayam ini setengah matang. Tapi pengerjaannya di pinggir sungai, di atas trotoar kotor. Alamak!!!!

Di jembatan dekat Delta Plaza kami bersenda gurau dengan seorang polisi lalu lintas di sana. Karena kehebohan kami, seperti layaknya kelompok ceria lainnya kami berpose bersama di pinggir jembatan, pastinya puluhan kendaraan yang berhenti di perempatan depan Hotel Sahid dan di seberang hotel menatap kami semua. Masa bodoh, jika dilakukan beramai-ramai, rasa malu sudah lenyap entah ke mana. Yang paling keren, kami meminta tolong pada petugas polisi tersebut untuk menyeberangkan kami, dan dengan kesaktian peluit serta seragamnya, beliau bisa menghentikan kendaraan dari dua ruas jalan yang berbeda yang melaju ke Jalan Pemuda yang kami seberangi walaupun lampu menyala hijau. Semua kendaraan berhenti dan menatap kami, 22 orang menyeberangi jalan. Nikmatnya jadi pusat perhatian sejenak :)

Rute favorit saya adalah kawasan Jalan Panggung di sebelah Jembatan Merah Plaza (JMP). Jalanan berbatu di sini baunya harum, bau minyak kelapa. Jalannya sepi dengan rangkaian truk yang parkir di sisi kiri jalan. Dengan Kalimas di sisi kiri dan deretan gudang besar tua di sepanjang kanan jalan, saya seperti dibawa kembali ke tahun 1960-an.

Saat sampai di Pelabuhan Kalimas di tengah terik matahari, saya berjalan mendekati deretan kapal dagang yang sandar. Benar-benar pelabuhan punya magisnya tersendiri. Dari jauh deretan kapal-kapal tersebut sepertinya dekat untuk dituju, sungguh itu hanya ilusi. Saya berjalan hampir 15 menit untuk mencapai deretan kapal yang semakin banyak jumlahnya di pintu keluar Pelabuhan Kalimas. Tidak ingin mengulang kesalahan perjalanan sebelumnya di mana kami berjalan kembali ke arah pintu masuk dan kemudian berjalan kembali menyusuri Jl. Jakarta sampai Jl. Perak Barat, saya bertanya pada pedagang es dawet cara tercepat untuk menuju jalan raya utama sehingga kami bisa naik bus kota ke Taman Bungkul. Gampang saja, kami hanya perlu keluar lewat pintu keluar karena dari gerbang pintu keluar kami sudah berada di belakang Rumah Sakit Pelabuhan Surabaya (PHB). Dari belakang rumah sakit, tinggal berjalan sedikit ke arah taman besar dan kami sudah bisa menunggu bus kota lewat yang akan mengantarkan kami kembali ke Taman Bungkul.

Analisis tentang kecanduan saya mengikuti acara ini adalah, selain poin tentang mendapat teman-teman baru dan cerita baru saya mendapat steroid yakni rasa penasaran yang membuncah untuk mencapai tujuan akhir, Pelabuhan Kalimas. Selalu ada rasa kemenangan yang muncul setelah saya mencapai Pelabuhan. Langkah kaki saya selalu lebih ringan setelah saya mencapai JMP karena saya tahu sesaaat kemudian saya akan sampai di Pelabuhan Kalimas. Teman jalan yang tampak bersemangat dengan candaan dan obrolannya juga membuat jalan kaki di pinggir kali serasa di pinggir pantai. Mungkin kesannya hiperbola, itu karena Anda belum mencoba. Coba ikut kegiatan ini dan rasakan betapa bahagianya Anda bisa menaklukkan diri sendiri, menaklukkan cuaca, menaklukkan jalanan sepanjang 19.6 km, menaklukkan rasa capek, menaklukkan rasa penasaran setelah membaca tulisan saya, dan yang terpenting Anda akan tersadar betapa hebatnya Anda bisa melakukan perjalanan sejauh itu dengan kesehatan yang Anda miliki. Sungguh tak terkira rasanya, patutlah kita semua bersyukur pada Tuhan atas nikmatnya. Ayo ikut Kalimas On Feet#3. Semangaaaaat!!!!!!!!



Friday, August 2, 2013

The Liebster Blog Award


I quoted the following explanation from Migalayte
What is the Liebster Blog Award?
The Liebster Blog Award is given to up and coming bloggers who have less than 200 followers. “Liebster” is German for “favorite”. This award is the “favorite blog award” then.
The rules for this one state that you answer the 11 questions asked of you by the Blogger who gave you this award. These would be Migalyte’s questions for me.

Thank you so much for adding me in the nomination Migalayte. I really appreciate it. Now let me answer all the questions that you address for me.


Migalayte's 11 questions for me:

1. Your life motto?
"Life Is Beautiful". Whatever happened in my life I'll be thankful to God for everything

2. What do you mean the word "freedom"?
"It's the moment where people can express anything they have in their mind without fear of oppression and judgement."


3. Name 5 things in your wardrobe, without which you can not live.
"I don't even have much things in my wardrobe but let's see...my mom's photo album, my bank account book, my land ownership document, my school certificates, my birth certificate." Gosh I put important things in my wardrobe ha ha

4. Do you believe in miracles?
"Yes, and I'm a believer of God. I believe He works on his own way that sometimes we just don't understand."

5. What kind of tree you associate yourself?
" A Kersen Tree (Muntingia calabura L.) It's a tree with It is a small treewith tiered and slightly drooping branches. It gives shades in its tiny body and it has sweet light red fruit."

6. What movie would you recommend for viewing?
"Taare Zameen Par is a movie that parents and teachers should watch. I love this movie."

7. Would you be able to sing on stage in front of hundreds of people?
"Singing on stage is one of my dream. Though I'd be dead shaky I'll try my best so I will say YES for your question" :D

8. When you start your morning?
"At about 10. Getting up early in the morning is pretty hard for me."

9. What music do you listen to in the evenings?
"I listen to any kind of music. No matter what the time is. I can be melodramatic in the morning and wacky in the evening."

10. Who are you: a physicist or a lyric?
"I'm a lyric. Words are sharpen then a knife, isn't it?"

11. What is your favorite animal?
"I love mammals. I found out that camels are cute, but my favorit for now is rabbit"

Thursday, August 1, 2013

100 Things You Should Know About Me

I'm not a celebrity, I ain't famous but hell this is my blog I can do whatever I want to do. I suddenly came with this thought, maybe you should know me more, maybe you just need to spend some of your time of reading unimportant things (for you) about me. Just enjoy and tell me what you think about it :)


  1. I'm a postcard collectors. I send and receive postcard from all over the world. Now I have for almost 300 postcards.
  2. I always like snail mail and mail correspondence. 
  3. I don't like taking a bath / taking a shower. Yep my late mom and sister called me "cat". Now I know that cats hate water.
  4. I'm not good at time management.
  5. I'm very forgetful.
  6. I love listening to music and singing along when I'm in my singing mood. 
  7. I love karaoke.
  8. I always want to have my own room equipped with good karaoke set.
  9. I can listen to almost any kind of music.
  10. I manage my stress by watching Running Man.
  11. I used to hate K-pop and all the Korean boybands but now I'm a fan of BIGBANG. I started to like BIGBANG around mid May 2013.
  12. I'm an administrator of a BIGBANG fan page on Google plus. I've been actively managed the page since early June 2013. Check this link
  13. I want to join a private hip hop dance class
  14. I want to join a choir and sing like people in Glee.
  15. My mother passed away when I was washing her face on her bed at the hospital.
  16. When I was a kid I could finish 2 bowls of meatball. My mom always ask the seller to make 2 bowls into one and I could finish it pretty quickly.
  17. I ate a lot when I was young and I was slim.
  18. I've been dated various kind of guys. Mama boy, playboy, religious guy, widower, lecturer, lazy university students, and should I be proud that all my ex-es were all engineering students? Ha ha ha. Surely I hate remembering bad times them, but dating an engineering guys is something that you can boast up here (stupid, I know)
  19. My ex-boyfriend was a huge Dutch guy and he dumped me over a phone call.
  20. I met many nice men from internet chat.
  21. A sexy man for me is someone who loves doing volunteer job.
  22. A macho male dancers are H.O.T
  23. I love watching disaster movie, but my favorite is any movies about war. Especially the World War 2 related movies.
  24. I hate horror. But I could stay pretty calm when my students made me walking in a Ghost Hospital arena.
  25. I hate watching debate on TV and I hate most Indonesian talk shows.
  26. I love Running Man, I think that's the best variety show on TV ever! It makes me laugh in a smart way :P
  27. I don't really like cartoon but Sponge Bob makes me happy.
  28. The only comics that I want to collect is Smurf and Tin Tin.
  29. Movies which stories stuck in my mind are: La Vita E Bella, Saving Private Ryan, Escape from Sobibor. 
  30. I'm allergy to crab.
  31. I always get confuse when people ask me what I do for living. I don't even know how I should call my job.
  32. I do teaching, managing, directing, commenting, complaining and handling complain, customer service, designing, programming, negotiating, and other jobs ending with -ing at a local English Course in Surabaya.
  33. I used to teach my friends at the same age when I was a kid and now I do teaching.
  34. I had big imagination of working and hanging around with foreigners when I was a kid, and yes it has happened.
  35. I love doing volunteer work but so far I haven't done much.
  36. I used to run a study group in Kepuh Pandak Village in Bangsal-Mojokerto for a year in 2008 to 2009. I taught English to farmers and brick makers'  children for free. I stopped my activity after my father got stroke.
  37. I'm a blood donor and I donor my blood in every 2,5-3 months.
  38. I will start my voluntary work in mid August. I will teach English at a boys orphanage.
  39. I ever thought of joining UN Peace Corp.
  40. I don't vote.
  41. I want to speak fluently at least 2 more foreign languages.
  42. I want to teach and live peacefully in a remote area with superb internet connection (sounds possible? he he)
  43. I want to be an active blogger.
  44. I eat meatball with a lot of chili sauce.
  45. The only western food that I like is my boyfriend's maccaroni he made last year.
  46. I can stay awake in front of my laptop lurking in cyberworld for hours.
  47. I love history, geography, and politics when I was in my undergraduate.
  48. I'm not fashionable.
  49. I've dreamed of dating a male model.
  50. I love meatball, sate, and tahu tek.
  51. I don't think nasi goreng or fried rice is special.
  52. I never watch a music concert with big mob.
  53. Sleeping is my simple pleasure.
  54. My favorite color is bright colors.
  55. The weakest part of my body is my eyes.
  56. I'm a very positive and cheerful person.
  57. I hate smokers
  58. I love Samsung.
  59. I say big no to Blackberry.
  60. I like cycling
  61. I want to be good at dancing
  62. I can write and read Korean a bit, I'm a new learner.
  63. I drink water most of the time and I don't drink soda.
  64. I want to go to Shimla in Himalaya.
  65. My students are my boyfriends :). I love them.
  66. I prefer teaching teenagers and adult to teaching kids, but so far I can handle both.
  67. I used to play guitar and took a course on classic guitar.
  68. I was a big fan of Manchester United.
  69. My favorite snacks are: nastar, kastengel, and potato chips.
  70. I lough loudly
  71. I lately think about dedicate my life to help people, not even worry about marriage. I think we live for helping others.
  72. My room is messy.
  73. I like walking.
  74. I've walked for nearly 20 km in a day.
  75. Lately I'm so into rap and hip hop
  76. I think I'm an artistic person
  77. If I could keep a dog I would like to have a Siberian Husky
  78. I love mammals, male would be great!
  79. I'm scared of ghost and snake. So far I could pretty much overcome the second one.
  80. I will never forget my English teacher in Junior High School who will always be my inspiration.
  81. I'm not good at saving money
  82. I'm not good at eating with chopsticks
  83. I adore men.
  84. I love photography but haven't bought any good camera. So far I shoot with my Samsung Wave mobile.
  85. I hope to be on stage and sing one day.
  86. My handwriting is bad
  87. Acne is my enemy #1
  88. My favorite quote is "Life is Beautiful"
  89. I hate talkative man
  90. I'm talkative
  91. I like being alone at home
  92. I like men with good smell
  93. I don't like sweets
  94. My favorite Korean actor is Lee Joon Gi, Hollywood actor is Leonardo Di Caprio, and Bollywood actor is Aamir Khan.
  95. I've watched 3 Idiots for almost 40x already.
  96. The first Korean DVD I bought is Lee Joon Ki 2009 fans concert.
  97. My first Korean CD is Jay Park - New Breed album and I got it from Korean Incheon Airport Volunteers.
  98. My mother called me "koyek" which means baby's friend since I'm child alike.
  99. I don't have best friends but I have many many nice friends.
  100. I'm pretty lucky. I won some quizzes and will keep on being a bounty hunter :D 

Berlori di Kaliraga

Setelah lama tidak berwisata bersama para murid tercinta, yang seperti kekasih hati saya :) akhirnya jadi juga kami berwisata ke "Jember". Mengapa Jember diberi tanda petik? Karena semua hanya ilusi belaka ha ha. Simak sajalah cerita lengkapnya berikut ini.

Ceritanya saya sedang emncari destinasi baru di sekitar wilayah Jawa Timur yang beda dari sebelumnya. Setelah lama browsing saya pun menemukan sebuah halaman online dengan sedikit ulasan tentang wisata naik lori alias kereta kecil di daerah Jember. Namanya adalah kereta wisata Lori Kaliraga. Disebut Kaliraga karena melewati rute Kalibaru, Mrawan, dan Garahan. Setelah browse ke sana ke mari akhirnya saya menemukan situ milik PT. KAI dan wisata naik lori ini menjadi salah satu program wisatanya. Harga sewa lori ini 500,000 rupiah per lori yang bisa muat sampai 8 orang.

Diiming-imingi gambar kereta yang melewati jembatan tinggi dan memasuki terowongan-terowongan kuno saya pun makin memantapkan diri ingin mengunjungi tempat ini. Sedikit berpromosi di depan para murid akhirnya terkumpul 7 orang termasuk saya untuk berangkat tanggal 11 Mei yang lalu.

Pada awalnya saya menghubungi pihak DAOP 9 Jember yang bertanggung jawab atas urusan sewa- menyewa lori. Saya dihubungkan langsung dengan Pak Febri Kepala Stasiun Kalibaru saat itu. Saya baru tahu beliau adalah kepala stasiun Kalibaru setelah bertemu di lokasi. Dengan Pak Febri saya menyampaikan niatan untuk berwisata dengan lori dan menyepakati untuk mentransfer uang sebesar 500,000 rupiah untuk biaya sewa lori.

Dalam percakapan di telepon saya berulang kali menyampaikan rencana saya yang akan pergi dari Surabaya dan sampai di stasiun Jember sesuai waktu yang diperkirakan yaitu kami sepakati jam 11 siang. Saya ingat betul berulang kali saya berkata bahwa saya akan turun di Stasiun Jember, entah siapa yang salah yang jelas hal ini tidak terlaksana secara mulus.

Awalnya karena keterangan Pak Febri, stasiun dilewati jalur bus antar kota, saya berpikir bahwa sebaiknya saya dan rombongan naik bus patas jurusan Surabaya-Jember. Setelah mengecek harganya yaitu 48.000 sekali jalan, artinya 96,000 pergi pulang, dan setelah menghitung jauhnya perjalanan akhirnya saya membatalkan pergi naik bus patas. Tentunya repot sekali jika di tengah jalan kami harus ke kamar kecil, atau  lainnya. Akhirnya saya memutuskan menyewa mobil yang jauh lebih murah dan mudah pikir saya. Sewanya 600,000 termasuk sopir dan BBM untuk 24 jam.

Hari Jumat malam, seperti malam sebelum perjalanan lainnya, saya tidak bisa tidur. Sebebnarnya saya ngantuk sekali tetapi mata tidak mau tertutup. Saya tertawa sampai tengah malam menyaksikan variety show Running Man dan kemudian lanjut nonton reality show Korea lainnya "Oh Baby" di YouTube. Akhirnya saya tidur jam 2 pagi. Saya ragu antara tidur atau terus begadang. Akhirnya saya pejamkan mata saya dan...terlambat bangun. Padahal saya sudah mewanti-wanti semua orang untuk datang jam 4.30 pagi tepat atau jika terlambat saya tinggal, nyatanya saya terbangun karena semua orang sibuk menghubungi ponsel saya yang tergeletak di sebelah saya saat saya tertidur. Saya bangun jam 4.45 ha ha ha.

Setelah mengambil air wudhu, saya sholat, langsung menyambar tas dan turun ke bawah. Di depan pintu pagar semua siap menunggu saya. Untunglah mobil yang say apesan jam 4.30 pagi datang jam 5:00 pagi, jadi tidak terlalu lama semua menunggu. Langsung saja kami masuk ke dalam mobil. Karena ada 2 murid laki-laki (Dani dan Arif) dan sisanya murid perempuan dan seorang teman pengajar, walhasil tidak ada yang mau duduk bersama para remaja laki-laki tersebut. Saya berinisiatif duduk di antara mereka di bangku belakang. Seperti yang saya duga duduk di Innova bangku belakang cukup menyiksa kaki. Terbayang dong 5 jam lebih lamanya perjalanan. Saya semakin gelisah sibuk melipat kaki, sementara siswa lain Shinta, Mbak Niar, dan Fatin duduk nyaman di tengah. Aaaaaargggh...

Saya cukup berpengalaman duduk di mobil dalam waktu yang lama, masalahanya pembicaraan pasti habis dalam waktu 10 jam, padahal mungkin lebih dari 10 jam saya duduk bersama semua murid, dan itu benar terjadi. Awalnya saya mengobrol hal-hal standar dengan Arif, mantan murid yang ibunya dulu saya kenal. Canda tawa mulai datang silih berganti sampai akhirnya suara perut menyeruak di pagi hari. Semua lapar dan sepakat makan setelah melewati Gempol. Pak sopir merekomendasikan kami makan di daerah Pasuruan. Ada warung nasi yang namanya Nasi Punel. Awalnya saya pikir saya salah dengar, masa iya nasi punel begitu saja judulnya, ternyata benar.

Warung kecil di kiri jalan ini dikerumuni banyak sekali pembeli. Saya mengantri sambil celingukan bingung bagaimna caranya memesan makanan. Penjualnya si ibu tua pemilik warung dibantu anak muda usia sekitar 23-an, semuanya sibuk melayani pembeli dan saya tidak berkesempatan memesan. Setelah memesan teh hangat terlebih dahulu akhirnya saya pesan 7 nasi dengan lauk empal goreng (setelah mendengar dari pembeli lain aneka permintaan nasi dan lauk yang berbeda, ada limpa, hati, lidah dll semua bagian sapi). Nafsu makan saya sebenarnya tidak terlalu memuncak melihat jenis makanan baru ini. Seporsi isinya nasi, dengan serundeng kelapa, sepoting besar empal, sebungkus kecil macam botok kelapa, lemak urat sapi berbumbu santan pedas, dan..sambal cabai diberi rajangan kacang panjang. Wah sungguh perpaduan yang unik.

Nasi Punel


Tebak, apa isi bungkusan kecil daun pisang yang dikukus ini?

Cuma kelapa berbumbu (kecewa berharap lebih dahsyat isinya)








Rasanya buat saya biasa saja. Keheranan saya jauh lebih tinggi dari pada rasa lapar saya. Menurut saya menu ini aneh. Kombinasinya kurang pas. Mungkin jika daging empal dicampur dengan lemak urat sapi berkuah santan masih masuk akal. Tapi yang saya makan ini cukup membingungkan. Ada lagi yang saya lupa ada semacam rempah, seperti kepalan kelapa goreng kecil yang rasanya manis. Bungkusan daun pisang kecil mirip bvotok yang say abuka ternyata isinya parutan kelapa berbumbu kuning kemerahan. Apappun itu saya berusaha makan dan menghabiskan. Seporsi termasuk teh hangat harganya 15,000.

Kembali ke mobil semuanya kenyang dan kami pun bercakap-cakap sepanjang perjalanan yang panjang sekali. Di sepanjang jalan kami menemukan pemandangan yang seru, berbeda dengan jalanan dari Surabaya ke arah Madiun yang pemandangannya itu-itu saja. Di sepanjang jalan mulai Pasuruan sampai Probolinggo banyak kehidupan kota kecil yang menarik dilihat. Sampai akhirnya sekitar pukul 10:40 kami tiba di Stasiun Kereta Api Jember.

Dengan penuh percaya diri saya turun dari mobil dan bergegas menuju bagian informasi stasiun. Dan...:
Petugas : "Loh mbak lori itu berangkat bukan dari stasiun ini."
Saya: Masa sih mbak? Ini bukti pembayaran saya, kata Pak Febri dari stasiun Jember? Lha saya sudah konfirmasi beberapa kali loh mbak."
Petugas: Sebentar ya, saya panggilkan petugasnya..(memanggil petugas lain)..Pak ini loh mbaknya mau naik lori, sudah transfer 500,000 kan dari Kalibaru ya pak> Kalo dari sini kan sejuta ya pak?"
Saya : Weeeeh??? Sejuta? Duit dari HongKong kaleeeee....
Petugas lain : Ibu informasinya dari siapa berangkat dari sini?"
Saya : Loh saya konfirmasi langsung ke Pak Febri katanya dari stasiun Jember pak.
Petugas lain: Ok, saya hubungkan langsung ya bu, ibu silakan berbicara...
Saya : Ya pak, dengan sedikit cemas karena jam sudah hampir jam 11 siang.
Petugas ini pun menyambungkan saya ke Pak Febri di ujung telepon.

Pak Febri : Loh, ibu di mana ini saya tunggu loh...kan saya bilang saya tunggu di Kalibaru.
Saya : Loh saya tanya saya ke stasiun Jember Bapak bilang iya..berusaha bernada tenang
Pak Febri: Lha ini dari tadi saya tunggu bu.
Saya : Terus solusinya bagaimana ini pak, saya harus bagaimana sekarang?"
Pahk Febri : Ya syaa tunggu di Stasiun Klaibaru ya bu?
Saya : Tapi tidak ditinggal ya pak? Kan sudah lewat jam 11 sekarang."
Pak Febri : tidak bu, saya tunggu.
Saya : Ok pak, terima kasih.

Saya pun baru sadar ternyata saya menuju stasiun yang salah. Stasiun Kalibaru terletak di Bnayuwangi bukan di Jember. Oalah.....dari keterangan petugas KA, saya haru smenempuh perjalanan sekitar 2 jam. Weks.....Untung saya menyewa mobil. Ketika saya menanyakan arah menuju Stasiun Kalibaru petugas hanya memberikan arahan super simpel: "Ibu kembali ke arah alun-alun, sebelum alun-alun belok kiri, nanti ketemu Gladhak Kembar (Jembatan Kembar) belok kiri luruuuuuuus terus sampai ketemu gunung-gunung masih lurus terus ke arah Banyuwangi.

Setelah mendapat penjelasan dan menjelaskan kondisi terkini pada para rombongan pengikut setia saya (he he) akhirnya kami kembali berkendara. Kali ini saya dipaksa duduk di sebelah sopir, Pak Amin yang baik hati. Sambil bertanya ini itu dan hati masih was-was memastikan saya tidak salah lagi kami terus berkendara. Saya awalnya tidak percaya bahwa perjalanan akan makan waktu sekitar 2 jam, karnea saya pikir kami masih di Jember. Setelah Pak Amir turun dan bertanya pada orang yang melintas barulah semua rasa was-was saya terjawab. Kalibaru memang jauh sekali dari tempat kami bertanya tadi, menuju arah Bnayuwangi, melewati Gunung Gumitir. Gunung apa??? Gumitir? Sepertinya pernah dengar, gunung beneran? Ya..gunung yang sebenarnya.

Akhirnya kami melewati jalan berkelok-kelok di badan gunung, meliuk sampai sedikit membuat mual. Untung suasananya asyik sehingga kami tidak terlalu bosan dan kecewa di dalam mobil setelah nyasar. Di sepanjang jalan di gunung itu banyak sekali orang-orang meminta uang di pinggir jalan. Baru kali ini saya melwati gunung dengan banyak pengemis di sisi jalan. Setelah beberpa kilometer kami melewati patung selamat datang bertuliskan, "Selamat datang di Kabupaten Banyuwangi" Weks? Benar-benar sampai di Banyuwangi...oh Tuhan...ternyata benar-benar bukan di Jember ha ha ha ha

Dari patung selamat datang mungkin 30 menit kemudian kami menemukan "peradaban" dan Stasiun Kalibaru pun nampak berdiri dengan gagahnya. Alhamdulillah sampai juga di stasiun kecil itu. Pak Febri datang menyambut kami, karena hampir setengah hari di perjalanan kami yang seharusnya langsung naik lori, mengantri ke kamar kecil. Lori sudah siap di rel dengan bunyi mesin menderu. Kami yang dijadwalkan langsung berangkat setibanya di stasiun walhasil menunggu lagi hampir setengah jam karena kami sibuk di kamar kecil.
Tiba di Stasiun Kalibaru 


Suasana di dalam ruang tunggu Stasiun Kalibaru


Ruang tunggu dekat rel K.A




Lori menggunakan jalur kereta api aktif. Artinya kereta api lain juga menggunakan jalur yang sama, maka kami harus menunggu giliran. Lori alias kereta kecil ini benar-benar mirip kereta kelinci yang banyak digunakan di bazar dan sekarang marak melewati kampung-kampung mengangkut nak-anak kecil "berwisata" di lingkungan rumah mereka. Saya pikir kereta ini tidak sekecil itu dan tidak semirip kereta api "mainan". Ternyata..saya salah besar. Bermesin diesel kereta ini mampu mengangkut 8 orang penumpang. Ditambah 2 kru kereta api, saat itu dikemudikan masinis dan didampingi Kepala Stasiun Pak Febri yang membantu memberi aba-aba kepada masinis terutama ketika melewati persimpangan jalan kecil.

Lori yang benar-benar mini



Mesin lori



Bagian depan lori


mesin lori




Sebelum kereta melaju, kami sudah duduk manis sedikit gelisah dan bersemangat dengan rute perjalanan yang akan kami nikmati. Saya merasa minder ketika kereta api lain bersebelahan dengan lori kami di stasiun Kalibaru sebelum kami berangkat.  Rasanya semua mata penumpang melihat ke bawah ke arah kereta mini kami. Wah..benar-benar menurunkan mental ha ha ha. Setelah kereta api besar itu lewat, kami berangkat. Sama seperti prosedur pemberangkatan kereta api normal lainnya petugas stasiun memberangkatkan kami sambil mengangkat tongkat pemberangkatan kereta dan meniup peluit. Dan dengan gemuruh suara mesin yang membuat pekak telinga, lori pun berjalan. Petualangan dimulai.


Duduk manis berpana-spanas di dalam lori menunggu lori diberangkatkan




Lori melewati perkampungan sekitar stasiun selama kurang lebih 10 menit sebelum kami akhirnya memasuki wilayah ladang di lereng bukit yang dipenuhi tanaman kopi. Ya pohon-pohon kopi yang tumbuh subur dengan biji kopi yang mulai memerah berjajar di sepanjang jalur yang kami lintasi. Saat itu adalah kali pertama saya melihat pohon kopi. Pohon-pohon kopi tumbuh acak tidak rapi berderet di lereng-lereng bukit. Setelah bertanya pada Pak febri, saya mendapat penjelasan bahwa kebun kopi tersebut milik rakyat, milik petani, bukan milik perusahaan tertentu.


Masinis di sebelah kiri


Pendamping masinis- Kepala Stasiun di sisi kanan


Sepanjang perjalanan hamparan hijau tanaman kopi dan pepohonan memanjakan mata saya. Saya dan para murid sangat menikmati tiupan angin yang mengibaskan rambut kami. Suara bising mesin lori dan klakson yang berulang kali dibunyikan tiap melewati persimpangan jalan raya kampung tidak membuat saya berhenti menikmati sejuknya udara pegunungan siang itu. Ya, kami memang melwati lereng-lereng gunung. Sebenarnya dari jalan raya sebelum kami sampai di Stasiun Kalibaru saya bisa melihat rel kereta api melintang di lereng gunung. Tapi saat itu saya masih belum yakin benar bahwa itu adalah jalur yang akan kami lewati. Setelah berkendara dengan lori barulah saya percaya dengan mata kepala saya sendiri bahwa saya sedang duduk di atas lori melewati jalur yang cukup menegangkan tersebut.

Gunung tampak di depan

Dan kami pun melaju "di atas" pepohonan


Yang paling menantang dan seru tentunya ketika lori melewati rel yang menggantung di atas tebing. Saya lupa berapa banyak rel seperti ini yang kami lalui. Yang jelas lebih dari 4 kali seingat saya lori melaju di atas tebing. Kita bisa melihat bahwa kereta seperti melayang di udara. Seru dan asyik sekali. Ketika waktu cukup sebenarnya kita bisa berhenti dan berfoto di jalur ini dalam perjalanan pulang. Tapi saat itu kami kehabisan waktu sehingga akhirnya kami tidak berfoto dan langsung menuju stasiun awal.

Rel yang menghubungkan dua bukit

Kembali ke perjalanan melewati pemandangan indah di kiri kanan, kita bisa melihat deretan bukit dan gunung yang asri. Beberapa petani tampak memanggul rumput untuk diberikan pada hewan mereka. Yang lain sibuk mengasah sabit. Ada juga orang yang sedang mandi di sungai yang tampak oleh murid saya ketika lori berjalan di atas sungai kecil. Pemandangan asyik lainnya adalah ketika kami mulai masuk Terowongan Merawan. Terowongan ini oanjangnya 700m menurut keterangan Pak Febri. Saat mulai masuk terowongan lampu lori dinyalakan dan klakson dibunyikan keras-keras. Begitu lori mulai masuk terowongan, udara menjadi sangat dingin dan terdengar cucuran air. Tentu saja sangat dingin dan sejuk di dalam karena terowongan ini berada di dalam bukit. Air yang mengucur adalah rembesan dari bukit di atasnya. Setelah keluar dari terowongan, mesin lori dimatikan dan kami bisa berfoto-foto di sekitar bukit. Tak jauh dari sana ada beberapa wanita menjual makanan dan cemilan.

Memasuki terowongan


Berhenti di Terowongan Merawan







Meninggalkan terowongan Merawan



Menerawang jauh, menikmati pemandangan indah sepanjang perjalanan


Setelah melewati terowongan tak berapa lama kami sampai di Staisun Merawan. Di stasiun ini kedua petugas lori turun dan memberi laporan kepada petugas stasiun. Hanya beberapa menit kereta kemudian diberangkatkan oleh petugas stasiun lengkap dengan peci dan tongkat khasnya. Setelah melewati stasiun Merawan kami bertemu lagi dengan terowongan kedua yang lebih pendek dari yang pertama. Masih dengan pemandangan yang sama selama kurang lebih 50 menit kami sampai di tujuan akhir Stasiun Garahan. Petugas mempersilakan kami untuk menunggu dan menyarankan kami untuk bersantap pecel khas Garahan. Saya memilih untuk melihat bagaimana petugas mempersiapkan lori untuk perjalanan pulang. Murid-murid lainnya memilih beristirahat sambil menikmati gorengan di warung di belakang stasiun.




Jalur kereta api

Stasiun Garahan letaknya di tengah pedesaan yang sepi. Sambil menunggu lori saya melihat bagaimana cara lori diputar. Saya sangat penasaran. Sempat terpikir bahwa lori akan diangkat dan diputar ke arah berlawanan karena kami akan menuju rute pulang yang sama dengan rute berangkat. Tapi, saya pikir itu tidak mungkin. Pasti ada cara yang lebih modern, mungkin ada semacan u-turn atau semacamnya di stasiun. Ternyata oh ternyata, pemikiran canggih tersebut salah besar. Lori benar-benar diangkat dan diputar secara manual. Caranya, lori dimundurkan dulu, dan beberapa petugas sekitar 4 orang datang menghampiri lori. Setelah mesin dimatikan lori diangkat dan dibawah lori, tepat ditengahnya diletakkan semacam balok pengungkit. fungsinya sebagai as. Petugas kemudian memasang juga bantalan balok di sudut lori  tepat di atas rel. Kemudian lori diputar dengan as sebagai porosnya. Cukup menggelikan juga setelah saya memikirkan cara-cara keren untuk memutar lori. Tengok videonya di bawah ini



Persilangan rel di Stasiun Garahan






Bersantai sambil makan gorengan


Setelah hampir 30 menit menunggu, lori kemudian diberangkatkan. Kami melewati jalur yang sama dengan jalur keberangkatan. Rasanya saya ingin mengendarai lori saja termasuk dengan pemandangan indahnya sampai Surabaya. Sampai di Stasiun Merawan kami berhenti sejenak dan berhenti lagi di terowongan Merawan. Perjalanan pulang rasanya lebih singkat daripada perjalanan awal. Sambil menikmati keindahan siang menjelang sore hari di sepanjang jalur Garahan-Merawan-Kalibaru akhirnya berakhir sudah perjalanan kami ketika lori mulai masuk pemukiman penduduk dan berhenti di Stasiun Kalibaru.
Setelah berpamitan kami segera pergi mencari makan siang di sekitar stasiun. Rencana awal sebenarnya kami ingin sekali mengunjungi Pantai Papuma. Sayangnya kami kehabisan waktu. sampai di Papuma diperkirakan jam 17:30 artinya tidak ada lagi yang bisa dilihat. Saya sempat bertanya pada teman yang pernah mengunjungi pantai, darinya diinformasikan bahwa matahari tenggelam sekitar pukul 5 sore. Ah..sayang sekali.

Perjalanan pulang masih mengasyikkan untuk saya, mengingat saya terjaga tidak tidur sampai jam 1 keesokan harinya sampai tiba Surabaya. Dalam perjalanan pulang saya bersenda gurau dengan Arif, yang dulu pernah menjadi murid saya. Murid-murid yang tertidur jaid ikut terbangun setelah mendengar gelak tawa kami he he. Sambil browse dari Ipad Arif, saya mencari tempat makan dan tempat beli oleh-oleh khas Jember. Hampir tidak ada tempat yang menujual makanan khas Jember. Menu makanan yang ditawarkan adalah menu makanan yang bisa kami temukan di Surabaya. Setelah browse sana sini akhirnya say amenemukan tempat makan yang menjual menu dari tepung singkong yang dimodifikasi, namanya sego bakar beras cerdas. Warung makan ini dimiliki oleh dosen Teknologi Pangan Universitas Jember. Cerita tentang  Warung yang dinamai "Mister T" ini sempat dimuat di koran Jawa Timur, sayangnya setelah saya datangi menu nasi ini tidak ada lagi, alias yang dimuat di koran kala itu masih menu percobaan. Yah....akhirnya kami makan mi ayam yang lumayan enak, murah lagi.

Setelah makan kami menuju pusat oleh-oleh yang banyak ditemukan di sepanjang Jalan Trunojoyo. Di Jember makanan khasnya tapai singkong. Saya sebenarnya bukan penggemar tapai singkong tapi mengingat ini satu-satunya yang khas Jember akhirnya saya membeli beberapa panganan dengan bahan dasar tapai singkong. Ada brownies tapai, prol tapai, dan tapai singkong asli yang saya beli. Tidak lupa saya juga membeli kedelai Jepang edamame, lumayan untuk cemilan.Perjalanan sepanjang kurang lebih 6 jam kembali kami tempuh sampai akhirnya kami tiba di Surabaya jam 1 pagi. Walaupun lelah luar biasa tapi hati senang sekali.

Berwisata dengan lori sangat mengasyikkan, walaupun tampak sederhana, hanya berkereta 1,5 jam dengan pemandangan indah di sepanjang perjalanan banyak hal yang saya syukuri dalam kegiatan berwisata saya. Lamanya waktu di perjalanan juga tak terasa karena berbagai canda tawa berderai silih berganti. Bagi Anda yang ingin berwisata dengan lori Kaliraga berikut tips yang mungkin bisa membantu perjalanan Anda:

1. Hubungi pihak DAOP IX Jember paling tidak 2 minggu sebelum rencana keberangkatan Anda.
2. Pilih waktu berlori sekitar jam 11 pagi.
3. Konfirmasi kepada Kepala Stasiun seminggu sebelum keberangkatan.
4. Simpan baik-baik bukti transfer pembayaran lori
5. Waktu yang paling pas tentunya bukan di musim penghujan
6. Gunakan pakaian yang nyaman, kaca mata hitam juga perlu untuk menepis teriknya sinar matahari.
7. Sabar dalam menunggu lori ketika harus menunggu giliran berjalan di rel mengingat rel juga dipakai kereta lain.

Total Biaya:
1. Sewa mobil 24 jam Rp. 400,000
2. BBM Surabaya-banyuwangi Rp 200,000
3. Sewa lori Rp. 500,000
4. 3x makan @15000
5. Oleh-oleh Rp 60,000

Jika ingin naik kendaraan umum bisa naik bus jurusan Surabaya-Banyuwangi, turun tepat di depan stasiun Kalibaru. Selamat mencoba :)


Berfoto dengan Kepala Stasiun di Stasiun Garahan