Monday, August 12, 2013

Kalimas On Feet #02

Setelah berhasil menaklukkan perjalanan pertama saya dari Taman Bungkul sampai Pelabuhan Kalimas, ada candu yang membuat saya selalu ingin mengikuti perjalanan di acara Kalimas On Feet. Kali ini perjalanan kedua dilaksanakan di hari Sabtu dan seperti sebelumnya Mas Ipung membuka pendaftaran bagi yang ingin mengikuti acara ini. Sekitar 40 orang mendaftar mengikuti acara yang dijadwalkan dimulai pukul 6 pagi dan selalu dilakukan setelah lewat 30 menit dari jadwal.

Hari itu saya dan 2 orang teman lainnya, Bagus dan Menik yang berhasil menyelesaikan perjalanan pertama Kalimas On Feet, dipercaya sebagai "panitia". Saya merasa sangat terhormat mendapat tugas ini. Tugas saya sederhana saja, menyiapkan kertas label untuk name tag peserta dan pastinya datang 30 menit sebelum acara. Insiden kecil terjadi pada saya. Tukang ojek yang sepakat mengantar saya dari rumah kos ke Taman Bungkul tidak datang dan tidak memberi kabar sampai tepat pukul 5.30 pagi. Walhasil saya memberhentikan taksi yang saya temukan sesaat setelah berdiri menunggu kendaraan umum yang mungkin lewat saat itu. Saya tepat tiba pukul 6 pagi dan baru Mas Ipung dan seorang peserta lainnya yang datang. Seingat saya Bagus dan Menik datang tak lama setelah itu.

Seperti biasa acara dibuka dengan doa bersama dan pengantar singkat dari Mas Ipung. Istimewanya peserta kali ini sangat beragam. Ada siswa yang baru lulus SMA, bapak-bapak dari klub fotografi Matanesia, WNA dari Belanda, pekerja lajang yang tidak muda lagi :D, dan rekan-rekan mahasiswa. Dari 40 orang yang mendaftar pagi itu hanya 21 orang yang menampakkan batang hidungnya ditambah 3 peserta yang mendaftar pagi itu. Pendaftaran sifatnya informal, hanya mengisi daftar kehadiran saja untuk memudahlan kami mengetahui berapa orang lagi yang harus ditunggu sampai sekitar pukul 6:30.

Dan akhirnya dengan semangat tinggi dan senyum cerah ceria kami mulai menyusuri rute sama yang kami lewati seperti di acara Kalimas On Feet #1. Sambil berjalan menikmati indahnya pagi saya terus memutar otak mencari tahu apa menariknya acara ini sampai saya ikut kedua kalinya. Bagi saya yang suka berjalan kaki tentunya karena jalan kaki itu mengasyikkan. Yang kedua ternyata dalam perjalanan selalu ada yang baru. Seperti slogan salah satu koran besar dari Surabaya, dengan berjalan kaki bersama teman-teman baru semuanya tidak ada yang sama, orang-orang yang kami temui di jalanan pun tidaklah sama, peristiwa yang terjadi di sepanjang perjalanan terutama, pastilah berbeda. Sungguh nikmat yang sederhana tapi sangat membahagiakan.

Ketika berjalan saya memperhatikan beberapa kawan yang menenteng kamera DSLRnya dan sibuk mengatur fokus lensa ketika mereka menemukan hal-hal menarik di sepanjang jalan. Saya mengamati Pak Wahyu, dari Matanesia, meminta ijin sebelum mengambil gambar seorang ibu yang sedang asyik mencuci dan ibu lain yang mengupas sayuran untuk memasak. Ah ini rupanya etika fotografer. Di lain tempat Pak Tejo memberi arahan pada objek foto untuk santai dan melakukan kegiatannya seperti biasa tanpa perlu malu-malu. Sering kali saya perhatikan kedua bapak-bapak ini berhenti dan mengambil foto dari objek-objek yang luput dari mata orang awam seperti saya. Ah...rupanya banyak hal di sekitar kita yang bisa tampil cantik dalam jepretan kamera.

Saya sempat berbincang dengan Pak Tejo Cahyono. Beliau suka memfoto objek tema pemandangan dan juga human interest. Beliau mengakui tidak ada hal yang menarik dari memfoto objek para model cantik. Ketika saya tanya di mana saya bisa menikmati hasil jepretan beliau, beliau berkata bahwa beliau biasanya mengoleksi hasil jepretan untuk keperluan pribadi dan tidak diunggah di dunia maya. Pak Tejo yang asli dari Blitar ini bertanya pada saya lebih lanjut tentang acara Kalimas On Feet.

Kawan baru saya lainnya, Tony, adalah pelajar SMA yang baru saja menyelesaikan sekolahnya dan sedang menunggu hasil UNAS. Tony yang datang dari Lamongan, sedang mengikuti program intensif sebuah bimbingan belajar di Kota Pahlawan sambil mengisi hari liburnya usai UNAS. Dia mengetahui acara Kalimas on Feet dan kemudian memutuskan ikut dalam acara. Tony yang lugas dan juga pantang capek ini aktif bertanya tentang sejarah kota. Beberapa kali dia bertanya pada Mas Ipung dan dia pun cukup terperangah ketika mendapati di Surabaya ada kawasan gay di Jl. Kangean. hari itu, karena hari libur banyak laki-laki bercadar mondar-mandir di atas motornya. Dan seperti biasa tak jauh dari mulut Jalan Kangean dari arah Jl. Sumatera saya selalu bertemu gerombolan laki-laki yang duduk santai di bawah pohon mangga pendek di dekat ibu tua penjual kopi dan jajanan. Tatapan mata mereka itu loh..wuih membuat saya sangat merasa tak nyaman. Seakan mereka mengawasi apa yang akan kami lakukan. Kembali ke Tony, saya tidak akan melupakan Tony yang spontan berkomentar ketika melihat seorang bapak di seberang sungai yang kami lewati sedang buang hajat, Ha ha ha, si bapak ketawa-ketiwi saja.


Ada juga murid saya, Dani yang akhirnya ikut serta setelah berulangkali mendengar celoteh dan ajakan saya di kelas yang dia ikuti. Dia datang pagi itu dengan sepeda kumbangnya dari daerah perumahan Siwalan di Gresik yang berbatasan dengan wilayah Benowo, Surabaya. bayangkan, Dani mengayuh sepedanya dari pinggiran Gresik sampai ke Taman Bungkul plus setelahnya dia harus berjalan sampai hampir 20 km dan kemudian mengayuh sepeda lagi sampai pulang ke rumah. Hebat!!!! Dan sebagai informasi dia benar-benar menyelesaikan rute Kalimas On Feet. WOW!!


Ada pula pemuda yang tampak kesepian seorang diri. Terlihat dia sedikit kikuk dii awal karena tidak ada teman yang bisa diajaknya berbicara. Setelah hampir 1/3 perjalanan baru kemudian saya mengenalnya. Husein, mahasiswa UNAIR ini tak lain dan tak bukan adalah adik kelas saya. Saya lupa dia angkatan berapa tapi sejak memulai percakapan dengan Husein tak hentinya semua kabar baik yang pasti kebenarannya maupun opini belaka tentang almamater saya habis diceritakan. Berulangkali dia mengeluh setengah kaget ketika menceritakan ruangan atau bagian kampus yang baru muncul setelah saya lulus. Kadang mungkin dia merasa bicara dengan orang dari dunia lain yang seakan tidak tahu sama sekali tentang jurusan tempat dia belajar, padahal dulu saya juga lulus dari jurusan ini ha ha ha. Saya puas sekali ngobrol dengan Husein. Sampai di akhir acara ketika kami makan siang bersama rupanya dia masih betah berdekatan dengan seniornya yang sudah hengkang dari kampusnya 7 tahun yang lalu :D

Orang yang pasti menarik perhatian adalah Frans. WNA asli Belanda yang menikah dengan wanita Surabaya ini sekarang tinggal di Kuala Lumpur. Dia mengetahui tentang acara Kalimas On Feet dari Surabaya Tourism Board. Mas Ipung juga terheran-heran bagaimana acaranya bisa sampai didengar oleh orang-orang dari Dinas Pariwisata. Awalnya saya pikir karena Mas Ipung punya kawan di sana, ternyata murni promosi yang ajaib. Frans tampak asyik menyusuri jalanan dan tidak menunjukkan reaksi berlebihan ketika melihat orang-orang tinggal di kawasan padat penduduk. Bahkan ketika melihat orang yang tidur beratap terpal beralas kardus di belakang gedung  di pinggir Kalimas, dia berkata orang-orang ini sungguh beruntung mereka bisa tinggal di luar ruangan. Katanya orang-orang di Belanda sangat menginginkan hidup "bebas" tidak terkukung bangunan beton. Hm...benar kan...semua hal relatif, tidak ada yang pasti, tergantung dari kaca mata apa yang kita pakai untuk melihatnya. Kaca mata saya, yang minusnya lebih dari 5 ini melihat kehidupan orang-orang seperti itu menyedihkan sekali. Masih ada yang tidur di jalanan. Tapi sebenarnya di rumah orang-oang jalanan ini dilengkapi dengan TV, peralatan dapur, dan gadis yang tinggal di sana berdandan dan berbaju baik dan rapi loh. Nah...sekarang mereka patut dikasihani atau sebenarnya mereka yang memiskinkan diri sendiri?


Frans sayangnya hanya berjalan sampai ke Jembatan Merah karena keperluan yang tidak bisa ditinggalkannya, menurut saya orang yang berpandangan positif dan tidak judgmental. Bisa jadi karena istrinya asli Surabaya dan dia sudah bersentuhan dengan kehidupan masyarakat yang tidak awam lagi baginya. Atau juga kehidupan masyarakat melayu di Malaysia di pinggir kota juga kurang lebih sama dengan di Surabaya? Saya hanya bisa menafsirkannya. Ia memandang kehidupan masyarakat kota yang aneka rupa sebagai bagian tak terpisahkan dari perkembangan wajah kota. Bukan hal yang aneh dan bukan hal yang memalukan untuk dilihat. Padahal awalnya saya berpikir betapa tidak sedapnya pemandangan kehidupan warga yang tinggal di rumah-rumah petak sempit dan jalanan kotor nan berbau tajam di kawasan Pasar Keputran.

Yang tidak akan saya lupakan dengan Frans adalah ketika kami mengikuti beberapa Pak Wahyu, Pak Tejo, dan Pak Kuncoro yang melalui pintu air di dekat Jembatan Delta Plaza. Di sini selalu banyak orang yang memancing, sambil melihat pemancing dengan aksinya Frans dan saya berjalan hampir ke tengah jembatan dan bergantian berpose, kata Frans saya harus berfoto dan gambarnya nanti dikirimkan ke pacar saya. begitu katanya sambil mengedipkan mata. Aahhh..jadi teringat kekasih hati nun jauh di sana.

Sementara cerita kota sepanjang Kalimas saat itu adalah, pertama cuaca hari itu sangat menyenangkan. Tidak panas dan juga tidak gelap mendung. Hawanya enak untuk berjalan kaki. Tapi di akhir perjalanan matahari tidak ragu lagi menampakkan diri. Panas terik sekali. Mungkin karena cuaca yang bagus dan semangat peserta yang luar biasa, kami tidak banyak berhenti. Kalaupun berhenti tidak sampai 10 menit di tiap perhentian.

Peserta saat itu hanya 1 yang "menghilang" sebelum kami mencapai 1/3 perjalanan di Jembatan dekat Surabaya Plaza (Delta Plaza) ditambah Frans yang tidak melanjutkan perjalanan setelah ia mencapai Jembatan Merah.  22 peserta sisanya sungguh luar biasa. Mereka semua ditambah Mas Ipung, Menik, Bagus, dan saya berhasil mencapai Pelabuhan Kalimas. Seingat saya tidak ada keluhan dari peserta, kecuali Husein yang berulang kali bertanya kapan sampai atau kurang berapa jauh sampai Kalimas dengan mimik memelas pada saya. Menik, dan 2 temannya dari XL club Surabaya yang sempat mengalami kram kaki di sekitar wilayah Ahmad Jais juga terbukti tangguh menyelesaikan rute.

Beberapa hal menarik yang saya tangkap saat itu adalah nelayan yang melempar jala berburu ikan sapu-sapu berkulit keras. Ikan sapu-sapu yang disebut sakarmut ini mampu membersihkan kaca akuarium. Karenanya ikan ini dijual hidup-hidup sebagai ikan"pekerja pembersih kaca" bukan dijual sebagai untuk lauk di meja makan Anda :)

Ada juga sekelompok anak perempuan yang asyik bermain bekel. Ya bola bekel, mainan yang sudah hampir 20 tahun saya tinggalkan ini ternyata masih dimainkan oleh anak-anak perempuan di kampung Dinoyo. Saya iseng mencoba permainan, tentunya hasilnya memalukan ha ha Anak-anak perempuan ini sungguh menyenangkan, tidak canggung bertemu orang asing, sopan, dan juga tidak berebut berpose aneh ketika kamera diarahkan ke mereka. Semoga lain waktu bisa bermain bekel bersama lagi.

Di sekitar pasar Keputran, saya melihat laki-laki yang membakar ayam potong dengan alat semacam las yang mengeluarkan semburan api. Ya, ayam yang nantinya dibuat ayam bakar menurut pemiliknya ini sungguh diolah dengan cara tidak higienis. Ayam yang dibeli dikeluarkan dari kantomng plastik, tidak dicuci, dan digosongkan barang 2 - 4 menit per ekor. Mungkin maksudnya menghemat gas dan waktu untuk mengolah ayam ini setengah matang. Tapi pengerjaannya di pinggir sungai, di atas trotoar kotor. Alamak!!!!

Di jembatan dekat Delta Plaza kami bersenda gurau dengan seorang polisi lalu lintas di sana. Karena kehebohan kami, seperti layaknya kelompok ceria lainnya kami berpose bersama di pinggir jembatan, pastinya puluhan kendaraan yang berhenti di perempatan depan Hotel Sahid dan di seberang hotel menatap kami semua. Masa bodoh, jika dilakukan beramai-ramai, rasa malu sudah lenyap entah ke mana. Yang paling keren, kami meminta tolong pada petugas polisi tersebut untuk menyeberangkan kami, dan dengan kesaktian peluit serta seragamnya, beliau bisa menghentikan kendaraan dari dua ruas jalan yang berbeda yang melaju ke Jalan Pemuda yang kami seberangi walaupun lampu menyala hijau. Semua kendaraan berhenti dan menatap kami, 22 orang menyeberangi jalan. Nikmatnya jadi pusat perhatian sejenak :)

Rute favorit saya adalah kawasan Jalan Panggung di sebelah Jembatan Merah Plaza (JMP). Jalanan berbatu di sini baunya harum, bau minyak kelapa. Jalannya sepi dengan rangkaian truk yang parkir di sisi kiri jalan. Dengan Kalimas di sisi kiri dan deretan gudang besar tua di sepanjang kanan jalan, saya seperti dibawa kembali ke tahun 1960-an.

Saat sampai di Pelabuhan Kalimas di tengah terik matahari, saya berjalan mendekati deretan kapal dagang yang sandar. Benar-benar pelabuhan punya magisnya tersendiri. Dari jauh deretan kapal-kapal tersebut sepertinya dekat untuk dituju, sungguh itu hanya ilusi. Saya berjalan hampir 15 menit untuk mencapai deretan kapal yang semakin banyak jumlahnya di pintu keluar Pelabuhan Kalimas. Tidak ingin mengulang kesalahan perjalanan sebelumnya di mana kami berjalan kembali ke arah pintu masuk dan kemudian berjalan kembali menyusuri Jl. Jakarta sampai Jl. Perak Barat, saya bertanya pada pedagang es dawet cara tercepat untuk menuju jalan raya utama sehingga kami bisa naik bus kota ke Taman Bungkul. Gampang saja, kami hanya perlu keluar lewat pintu keluar karena dari gerbang pintu keluar kami sudah berada di belakang Rumah Sakit Pelabuhan Surabaya (PHB). Dari belakang rumah sakit, tinggal berjalan sedikit ke arah taman besar dan kami sudah bisa menunggu bus kota lewat yang akan mengantarkan kami kembali ke Taman Bungkul.

Analisis tentang kecanduan saya mengikuti acara ini adalah, selain poin tentang mendapat teman-teman baru dan cerita baru saya mendapat steroid yakni rasa penasaran yang membuncah untuk mencapai tujuan akhir, Pelabuhan Kalimas. Selalu ada rasa kemenangan yang muncul setelah saya mencapai Pelabuhan. Langkah kaki saya selalu lebih ringan setelah saya mencapai JMP karena saya tahu sesaaat kemudian saya akan sampai di Pelabuhan Kalimas. Teman jalan yang tampak bersemangat dengan candaan dan obrolannya juga membuat jalan kaki di pinggir kali serasa di pinggir pantai. Mungkin kesannya hiperbola, itu karena Anda belum mencoba. Coba ikut kegiatan ini dan rasakan betapa bahagianya Anda bisa menaklukkan diri sendiri, menaklukkan cuaca, menaklukkan jalanan sepanjang 19.6 km, menaklukkan rasa capek, menaklukkan rasa penasaran setelah membaca tulisan saya, dan yang terpenting Anda akan tersadar betapa hebatnya Anda bisa melakukan perjalanan sejauh itu dengan kesehatan yang Anda miliki. Sungguh tak terkira rasanya, patutlah kita semua bersyukur pada Tuhan atas nikmatnya. Ayo ikut Kalimas On Feet#3. Semangaaaaat!!!!!!!!



4 comments:

  1. salut buat surabaya
    jempol semua nya deh

    ReplyDelete
  2. Walah. Jadi inget kenangan ikut Kalimas On Feet #02. Kalo untuk yg besok ini gk tau bisa ikut ato gk. Hehehe

    ReplyDelete