Tuesday, November 19, 2013

Berkereta Api Semalam di UWM

Apakah saya benar-benar naik kereta api di dalam kampus Universitas Katolik Widya Mandala suatu malam? Tidak, saya tidak benar-benara berkereta di dalam kampus tapi saya serasa naik kereta api dan berwisata menjelajah dimensi pemikiran Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI). Bagi saya kedatangan saya di kampus UWM tanggal Surabaya, 23 Oktober 2013 yang lalu adalah sebuah jackpot. Bagaimana tidak, awalnya saya hanya berniat menemui beberapa dosen penguji saya untuk meminta tanda tangan pengesahan tesis saya sekaligus mengumpulkan hard copy tesis saya, ujungnya saya ikut Kuliah Perdana Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Pascasarjana UWM dan mendengarkan 2 pembicara yang luar biasa.

Sejak seminggu sebelum acara Kuliah Perdana digelar, saya sebenarnya sangat tertarik mengikuti perkuliahan tersebut. Disebut kuliah perdana karena memang kuliah itu digelar untuk menyambut para mahasiswa baru. Walaupun saya bukan mahasiswa program doktor tapi saya bisa mengikuti kuliah ini. Petugas penerima tamu yang kebetulan juga merupakan pegawai tata usaha di prgram pascasarjana menawari saya untuk ikut kuliah ini. Saya sempat ragu karena saya datang sekitar pukul 18:30 1 jam terlambat dari jadwal kuliah perdana. Akhirnya saya ikut juga, dan setelah bertemu dengan seorang kawan saya masuk ke dalam ruangan. Sudah banyak mahasiswa di dalam. 

Setelah pengesahan dan penyambutan mahasiswa baru yang rata-rata dosen fakultas ekonomi
 beberapa universitas di Surabaya, Prof. Hani Handoko dari Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka perkuliahan dengan menyampaikan beberapa teori pengantar manajemen. Gaya bicara Prof. hani yang kocak membuat saya tertawa terpingkal-pingkal, benar-benar 10x lebih lucu dan lebih berbobot daripada semua peserta stand up comedy yang sedang marak di TV. Prof. Hani menyampaikan beberapa inti sari penting dalam manajemen dan kepemimpinan. Saya dan teman yang awalnya berencana pulang pukul 8 malam langsung mengurungkan niat setelah terhibur dan teredukasi oleh Prof. Hani.

Setelah kurang lebih 1 jam berbicara, beberapa panitia acara dan Direktur Program Pascasarjana tampak sibuk. Rupanya pembicara utama, bapak Dirut PT. KAI sudah datang. Beberapa pegawai lain dari PT. KAI juga ikut memasuki ruangan dan duduk bersama mahasiswa. Sebelum mulai bicara Dirut PT. KAI , Pak Ignatius Jonan menitipkan ponsel kepada asisten beliau. Sepertinya pada pembicara lain yang saya temui ponsel selalu dikantongi dan kadang diutak-atik selama acara, awal yang sudah beda. 

Suasana mendadak berubah. Saya bingung bagaimana mendeskripsikannya. Ketika Pak Jonan masuk saya rasa suasana yang sudah lumer oleh guyonan Pak Hani sedikit tegang. Penampilan Pak Jonan yang tampak serius menyihir semua yang datang. Pak Jonan orang yang mungkin lebih tepat disebut bermuka "poker face" sulit dilihat arti raut mukanya, hanya tampak tegas dan galak. hal ini tidak benar, bukan galak tapi lebih tepatnya tegas dan disiplin. Orangnya kecil, tangkas, dan gaya bicaranya lugas. Dilihat dari perawakannya saya pikir beliau masih berusia awal 40 tahunan.

Dalam kesempatan tersebut Pak Jonan menunjukkan perubahan dan perombakan total pelayanan dan juga fasilitas  stasiun-stasiun seluruh Indonesia (Jawa dan Sumatra). Beliau memutar video yang menunjukkan perombakan total stasiun KA di Jakarta yang dilewati KRL dengan penggusuran 6000 kios pedagang. Video juga menunjukkan bagaimana transformasi pelayanan PT. KAI dilakukan. Mulai dari pembelian tiket online, penggunaan kartu sebagai ganti uang tunai untuk pembelian tiket (padahal sudah jamak digunakan di semua negara...yes akhirnya kita pakai kartu untuk KRL), penambahan fasilitas, peningkatan kebersihan dan lain-lainya.

Dari sisi manajemen, beliau menceritakan bahwa perubahan utama yang dilakukan adalah dengan merubah etos kerja para karyawan PT. KAI. Seperti disampaikan beliau, karena menjadi perusahaan satu-satunya di bidang ini dan bisa dikata memonopoli jasa perkeretaapian maka ada atau tidak ada penumpang bukan hal penting. Akibatnya pelayanan terhadap para penumpang pun asal-asalan saja. Beliau merombak hal ini. Gaji karyawan dinaikkan, berbagai pelatihan diadakan, logo perusahaan diganti, berbagai prestasi diberikan reward sementara kesalahan-kesalahan diberi sanksi. Saya ingat beliau berkata , "Saya masih mentolerir karyawan yang masih susah untuk menjalankan tugas dengan baik, mungkin karena kompetensi masih kurang, tapi jika ada karyawan yang melakukan penyimpangan, korupsi dan lainnya maka habis sudah karirnya." Penerapan reward and punishment ini sukses memacu kinerja karyawan. sebagai informasi tambahan PT. KAI telah mengirimkan banyak karyawannya untuk melakukan studi banding ke luar negeri, terutama Cina dan Eropa untuk melihat dan belajar tentang sistem perkeretaapian di sana. Luar Biasa!

Pernyataan beliau yang tidak akan saya lupakan di awal ceramah adalah,"Menjadi pemimpin itu tanggung jawab bukan kekuasaan. Anda salah besar jika berpikir menjadi pimpinan berarti bisa mendapatkan kekuasaan lebih." Saya segera mengoreksi kembali diri saya dalam memimpin rekan-rekan di tempat kerja. Ada banyak sekali hal diucapkan oleh Pak Jonan yang mencolek saya, membuat saya kembali terbangun dan fokus pada tugas dan kewajiban saya sebagai seorang karyawan di tempat kerja dan juga pemimpin bagi teman-teman saya. Semangat perubahan dan pemberian pelayanan kelas satu yang terjadi di
PT. KAI juga memotivasi saya untuk menerapkan semangat dan strategi serupa di tempat kerja saya.
Ignasius Jonan, Dirut PT. KAI sumber fotobumn.go.id

Berbagai kisah inspiratif dari Pak Jonan dan karyawan PT. KAI dibukukan dan awalnya hanya diberikan untuk intern PT. KAI dan BUMN lainnya. Tetapi Menteri BUMN Pak Dahlan Iskan meminta buku ini diterbitkan untuk umum. Di acara kuliah perdana ada 4 buku yang dibagikan dan ditandatangai oleh belia. Saya cukup ngiler saja dan minta tanda tangan para dosen penguji tesis. Dua minggu kemudian saya beli buku ini di Toko Buku Gramedia dan saya terperangah terkagum-kagum membacanya. Beberapa pelajaran penting dari beliau akan saya ulas dalam posting lainnya.


Bersyukur sekali malam itu saya bisa mengikuti kuliah perdana bersama CEO BUMN Inovatif Terbaik 2012 yang memimpin PT. KAI menjadi BUMN Inovatif Terbaik pada anugerah BUMN 2012. Kuliah perdana yang dijadwalkan selesai pukul 8 malam molor sampai pukul 9:30 malam. Untuk pertama kalinya saya tidak gelisah ingin pulang dari perkuliahan. Pelajaran malam itu sungguh berharga. Terima kasih UWM, terima kasih Pak Jonan :)
 

Monday, November 18, 2013

Parade Juang 2013

Tidak Puas hanya nonton SURABAYA MEMBARA, drama kolosal yang dipertontonkan di depan Kantor Gubernur Jawa Tumur pada tanggal 9 November malam untuk memperinbgati hari Pahlawan, saya juga nonton Parade Juang yang melintasi Jalan pahlawan, Gemblongan, Tunjungan, dan berakhir di Taman Surya. Salah satu kegemaran saya memang nonton karnaval. Saya ingat dulu sejak kecil saya hampir selalu nonton gerak jalan dan karnaval diantar mama saya. Hampir tiap tahun say atidak pernah absen. Kakan saya tidak pernah tertarik dengan hal-hal seperti itu, anehnya ia pernah menjadi peserta dalam gerak jalan Mojosari - Mojokerto dan menjadi peserta karnaval juga. Sebagai penonton ia rupanya tidak berminat sama sekali.

Tahun ini adalah kali pertama saya menyaksikan parade juang. Beberapa peserta mulai dari veteran perang, purnawirawan, tentara, polisi, pelajar, marching band, dan beberapa peserta dari komunitas lain ikut meramaikan parade juang. Saya nonton dari seberang mall Tunjungan Plaza. Tepat duduk di pagar pembatas jalan. Saya cukup pengalaman nonton berbagai macam parade dan spot yang pas akhirnya ketemu. Nonton dengan duduk bersandar di pagar pembatas jalan.

Di Surabaya seingat saya parade yang rutin diadakan adalah Parade HUT Kota Surabaya, Parade HUT Provinsi Jawa Timur dan Parade Juang. Untuk peringatan hari kemerdekaan seingat saya ada juga tapi saya bleum pernah nonton. Dibandingkan dengan 2 parade lainnya, Parade Juang ini yang paling tidak meriah. Toh saya trenyuh juga melihat barisan para veteran yang bersemangat berjalan. Sungguh tanpa keberanian mereka dan warga kota lainnya saat itu mungkin sekarang saya tidak bisa hidup seperti ini.



Barisan lainnya yang menjadi favorit para warga tentulah marching band dengan suaranya yang memecah suara klakson dari kendaraan yang macet di sisi jalan. Salah satu yang jadi pembuka acara adalah dari Akademi Angkatan Laut Surabaya. Hampir-hampir tidak pernah absen di tiap acara.








Walaupun jumlah penonton tidak sebanyak parade lainnya, walaupun jumlah peserta parade tidak sebanyak parade HUT kota dan HUT Provinsi Parade Juang tetap menarik buat saya. Segala kegiatan dari pemerintah kota untuk mengingat dan menghidupkan Hari Pahlawan patut diapresiasi. Semoga semangat warga kota tidak pernah surut dalam mempertahankan kemerdekaan dan memerdekakan batin mereka dari segala macam himpitan ekonomi dan kesulitan hidup lainnya. MERDEKA!

Sunday, November 17, 2013

Surabaya Membara

Saya bukan warga asli Surabaya, tapi saya sudah hidup di kota ini sampai kurang lebih 12 tahun lamanya. Selama masa itu baru tahun ini untuk kali pertama saya ikut dalam hingar bingar perayaan Hari Pahlawan. Ya, Surabaya memang disebut sebagai Kota Pahlawan, kota tempat pertempuran arek-areng Suroboyo bermodal bambu runcing melawan tentara Sekutu. Setiap bulan November, nuansa heroik selalu dihadirkan di kota yang saya cinta ini. Selalu ada perayaan berupa drama kolosal, karnaval, gerak jalan,  lomba-lomba, dan aneka kegiatan menarik lainnya. Sayang seribu sayang saya selalu melewatkannya. Kesibukan yang utama.

Untunglah tahun ini saya berhasil ikut melebur bersama ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang menyaksikan drama kolosal berjudul  "Surabaya Membara". Drama ini bisa disebut puncaknya perayaan Hari Pahlawan. Setiap tahun selalu dipentaskan di malam 10 November alias tanggal 9 November malam. Seingat saya lokasinya berubah-ubah. Tapi tetap dilaksanakan di jantung pertempuran masa lalu yaitu sekitar wilayah Jembatan Merah, Tugu Pahlawan, Jalan Tunjungan, Grahadi. Untuk tahun ini drama dipentaskan di depan Kantor Gubernur Jawa Timur tepat berhadapan dengan Tugu Pahlawan, tugu pengingat perjuangan pemuda Surabaya melawan penjajah.

Sejak awal bulan sudah ada coretan grafiti di beberapa tembok kosong di kota ini. Tulisannya " AWAS 9 NOVEMBER SURABAYA MEMBARA". Awalnya saya pikir ini tulisan provokatif sehubungan dengan tuntutan Upah Minimum Kota (UMK) buruh di Surabaya. Ternyata grafiti itu adalah iklan drama kolosal berjudul sama, SURABAYA MEMBARA. Satu minggu, jika tidak salah, menjelang hari H beberapa karung ditumpuk menyerupai pelindung untuk bertempur. Tumpukan karung ini diletakkan di depan Gedung RRI Jalan Pemuda, depan Gedung DPRD Surabaya di Jalan Yos Sudarso, dan enath di mana lagi lainnya. Wah...suasana pertempuran masa lalu mulai dihadirkan di tengah kota.

Saya semakin semangat nonton drama ini setelah kakak saya mengajak nonton dan bertepatan letaknya tidak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Drama dimulai pukul 8 malam. Tepat setelah sholat Maghrib dan makan malam sekitar pukul 6.30 saya dan kakak naik bemo (angkot) ke Tugu Pahlawan. Hanya sekitar 10 menit, angkot berhenti di perempatan dekat Kantor Pos Kebon Rojo. Kami jalan kaki ke arah Tugu Pahlawan. Jalan sudah ditutup, disterilkan dari segala kendaraan. Banyak orang menuju lokasi. Sampai di tempat ratusan orang menyemut, mencari tempat duduk.

Kami sempat kerepotan mencari spot yang pas untuk nonton. Parahnya warga Surabaya termasuk kurang kooperatif. Tidak duduk rapi dan sabar menanti tapi berdiri berkerumun. Walhasil yang terlihat punggung saja, Setelah bingung dan berjalan hilir-mudik mencari tempat nonton yang pas, akhirnya kami dapat tempat menghadap panggung. Tidak menghadap tepat di panggung tapi lumayan jauh dari sisi kanan panggung sehingga saya hanya melihat dari kejauhan. Menurut penjelasan pembawa acara, drama yang dipentaskan adalah bagian kedua dari drama yang telah dipentaskan tahun sebelumnya. Setelah kata-kata pembuka dari pembawa acara yang diterjemahkan tidak pas oleh penerjemah bahasa Inggris (Contohnya ia menerjemahkan  SURABAYA MEMBARA menjadi FIRE IS SURABAYA) sekitar pukul 7:45 drama sudah dimulai.

Drama dibukan dengan sekelompok aktor yang menjadi tentara Jepang sedang berbaris. mereka berbaris berputar diiringi lagu mars dalam bahasa Jepang. Kemudian disusul pemuda dengan bambu runcing berpratoli berputar. Penonton dibawa ke suasana masa lalu di tengah hiruk pikuk masyarakat yang beraktivitas di tengah kota. Ada pedagang tape, ada ibu-ibu penjual sayur, kue, dan pedagang-pedagang lainnya. Acting para aktor saya apresisasi. Tidak hanya beracting tapi mereka juga berinteraksi dengan para penonton. Ada yang menjajakan kue ke penonton (tentunya gratis he he).

Tiba-tiba ada pengumuman penyerangan penjajah dan bendera Belanda dikibarkan di atas Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit). Narasi para aktor sudah direkam dan diperdengarkan lewat speaker raksasa di belakang kerumunan penonton malam itu. Saya lupa detil urutan peristiwanya yang jelas tentara Inggris yang bersekutu dengan Belanda datang mengusir tentara Jepang dan kemudian berperang dengan arek-arek Suroboyo. Yang keren, tentara Inggris ini tentara Indonesia sebenarnya dengan menggunakan seragam militer berbendera Inggris yang menyerang dengan tank tempur sesungguhnya. Ditambah asap dan bom kertas serta warna merah menyala dan suara meriam buatan dengan mercon meledak di sana sini suasana malam itu benar-benar mencekam. Saya bisa merasakan ketegangannya.

Saya merasakan sedikit sesak dengan asap putih bercampur kilatan lampu merah seakan asap pertempuran mengisi suasana malam yang berawan dan lembab itu. Ditambah ratusan penonton untuk bernafas lumayan menyesakkan. Suara keras seperti suara tembakan yang memekakkan telinga menjadikan drama tersebut jadi lebih hidup. Sayang pengaturan penonton yang kurang bagus membuat saya tidak bisa menonton dengan nyaman. Jika drama kolosal ini dipertontonkan untuk warga dengan harapan warga bisa belajar dan mengenang semangat juang para pejuang masa lalu, maka pengaturan penonton mutlak dilakukan agar penonton bisa tertib dan semuanya bisa menonton dengan nyaman.

Drama berlangsung kurang lebih 1 jam dengan bagian akhir cerita yang tidak bisa saya nikmati karena saya berpindah tempat dari tempat di mana saya jongkok di lutut 15 menit lamanya. menerjang himpitan penonton saya berhasil pindah ke tempat dengan udara yang lebih segar tapi pemandangan nihil. Hanya punggung yang saya lihat. tetap sabar saya menunggu hampir 10 menit sampai kemudian acara selesai. Saya hanya mendengar saja kata penutup dan salam perpisahan pembawa acara, tidak ada yang saya tonton. Setelah itu saya pulang menumpang bus kota yang melambat terhalang kerumunan kendaraan.

Rasa hati saya puas dengan penampilan yang apik, tata cahaya dan suara juga bagus. yang lebih bagus tentunya tank-tank tempur dengan tentara bersenjata di atasnya. Penggambaran keadaan masa lalu dapat ditampilkan dengan jelas. Interaksi aktor dengan penonton juga bagus. Semoag di tahun 2014 drama kolosal yang ditampilkan lebih bagus lagi dengan penataan penonton yang sama bagusnya. Terima kasih arek-arek Suroboyo. MERDEKA!

Tuesday, November 5, 2013

Sirene, Suara Monster yang Memilukan


Sirene adalah alat untuk membuat suara ribut yang fungsinya memperingatkan masyarakat akan bahaya suatu bencana alam dan digunakan untuk kendaraan layanan darurat seperti ambulan, polisi, dan pemadam kebakaran. Bentuk sirene yang paling modern adalah sirene serangan udara, sirene tornado, sirene tsunami dan sirene untuk kendaraan layanan darurat. Kebanyakan sirene hanya memiliki satu jenis nada. Ada banyal tipe sirene, antara lain yang umum di  Amerika Serikat adalah tipe Federal Signal Model 7, Model 2, Model 5, 3T22, Thunderbolt 1003, STH10, STL-10, The ACA Banshee,dan Screamer and the Sterling (sekarang Sentry) sirene Model M.(wikipedia)

Saya tidak suka mendengar suara sirene. Suaranya yang meraung-raung menyayat hati dan menebar rasa takut, was-was, panic, dan segala macam perasaa yang tidak enak. Untuk pertama kalinya di hari Senin 4 November 2013 saya berada di tempat di mana raungan sirine silih berganti. Saya berada di Pusat Grosir Surabaya (PGS), tidak jauh dari lokasi terbakarnya ruko Pacific Megah yang jaraknya mungkin 300 meter dari PGS. Raungan sirine mobil pemadam kebakaran (PMK), ambulance, dan truk tangki Dinas Pertamanan Kota Surabaya hilir mudik memecah suasana lalu lintas yang padat di sekitaran lokasi.

Hari itu saya berencana mengunjungi teman kerja saya di daerah Tambaksari, berboncengan dengan teman perempuan saya. Saya mendapat pesan singkat dari teman saya yang tinggal di kawasan Tambaksari itu yang mengingatkan untuk tidak mengambil jalur PGS karena ada kebakaran di ruko seputaran wilayah itu. Saya segera cek Radio Suara Surabaya, dan benar saja pembahasan dan laporan lalu lintas saat itu berfokus pada upaya pemadaman ruko. Ketika saya mengambil jalan memutar mungkin 3 km dari lokasi kebakaran, bisa saya lihat api hitam membumbung tinggi. Jalan-jalan alternatif padat merayap dampak dari kebakaran
.
Setelah bertemu dengan teman saya, saya dan dia meluncur ke PGS. Lalu lintas padat dengan raungan sirene dari kejauhan. Ketika mendekati markas PMK Pasar Turi, truk besar PMK dengan sirene yang kencang dan memilukan berjalan melawan arus dengan gaya bak sopir bemo ugal-ugalan. Sangat dimaklumi karena sopir harus sigap dan cekatan. Saya jadi berpikir mungkin baiknya sopir-sopir bemo (angkot) yang suka menyetir asal harusnya jadi sopir urusan maha penting dan darurat. Mereka ahli menyelip, ahli memotong jalur, ahli mencari celah di jalan yang super sempit sekalipun, dan ahli melihat ada penumpang melambai walaupun mobil dipacu sampai 80km/jam di dalam kota.

 Sampai di PGS raungan kendaraan semakin banyak terdengar silih berganti. Video dari peristiwa kebakaran saya unggah disini, Video itu saya rekam dengan kamera telepon seluler ketika saya melintas ke lokasi kebakaran sepulang dari PGS. Saya langsung teringat berbagai suasana memilukan yang terbawa kembali tiap saya mendengar sirene. Sirene pertama kali yang paling saya ingat adalah ketika suami ibu kos berpulang. Saya yang membersihkan rumah beliau, dan mengangkat kursi dibantu teman dan tetangga, karena ibu kos dalam perjalanan dari rumah sakit menuju rumah. Ketika beberapa tamu dari tetangga berkumpul, sekitar 45 menit kemudian raungan ambulan dari rumah sakit mendekat dan jenazah segera diurus pihak keluarga. Suara sirinenya menyedihkan.

Sirene kedua yang suaranya teramat memilukan dan terdengar sampai hampir 1 jam adalah dari ambulance yang mengantarkan jenazah ibu saya ke rumah orang tua saya di Mojokerto. Itu kali pertama saya duduk di dalam ambulance. Hal yang sekali pun tidak pernah terpikir sejak saya kecil saat mendengar suara sirine ambulance. Saya benci sekali suara itu. Sedih sekali mendengarnya. Apa mau dikata, saya mendengarkan suara itu hampir 1 jam atau mungkin lebih dari RSUD Dr. Soetomo sampai rumah. Tiap raungannya seperti suara monster yang menghalau semua orang dan kendaraan yang ada di jalan. Raungannya seperti berkata,”Minggir takutlah padaku.”

Sirene ketiga lagi-lagi saya ada di ambulance mengantarkan ayah saya yang stroke untuk melakukan pemeriksaan CT-Scan di rumah sakit lain karena rumah sakit yang merawat ayah saya tidak memiliki scannernya. Sebenarnya saya ingin meminta sopir untuk mematikan sirine itu. Tapi pastinya tidak mungkin saya lakukan. Saya berpikir ayah saya yang terbaring di dalamnya pasti memikirkan kejadian masa lalu ketika beliau duduk di samping jenazah ibu saya di dalam ambulance sambil mendengarkan raungan sirine.
Sirine terakhir yang meraung-rauhng islih berganti saya dengar kemarin. Suara sirine PMK lebih keras dan lebih tegas. Suara sirine ambulance lebih melengking. Tapi keduanya sama, pertanda ada musibah. Semoga tidak terdengar lagi banyak sirine di kehidupan saya.

Sumber lain:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sirene

Saya dan Korea (Bagian Kedua : BANG! BIG love for BIGBANG)

Hubungan antara saya dan Korea yang kedua adalah lewat musik. Serangan budaya Korea atau yang lebih tenar disebut Korean Wave ini juga menyergap saya. Sejujurnya saya termasuk yang awalnya anti K-pop. Apalagi mengetahui para remaja putri berteriak histeris ketika band favorit mereka muncul, entah lewat lagu, gambar, atau media lain.

Teman kakak saya yang sudah berumah tangga dan berusia di atas 30 tahun juga gila K-pop. Ia penggemar grup band BIGBANG. Saya sempat mengecek video YouTube BIGBANG ketika anggota band ini diwawancarai. Kesan saya Cuma: grup yang aneh, potongan rambutnya nyleneh dengan warna-warna yang mencolok mata. Penampilannya saja begitu bagaimana musiknya (maaf tapi saat itu saya sangat memandang rendah boyband).

Entah kapan awalnya saya mulai mendengarkan lagu BIGBANG. Saya mulai mendengarkan lagu-lagu mereka dan seketika itu saya jatuh cinta dengan BIGBANG.  Saya hanya mnendengarkan lagunya tidak menonton video klip music mereka di YouTube. Ternyata cara ini manjur, saya rasa saya lebih objektif menilai sebuah boyband (di Korea mereka disebut Idol Group). Menurut saya lagu-lagu mereka tidak cengeng dan ketika lagunya sedikit menghentak, hentakannya juga pas. Entah..saya seperti mendapat Backstreet Boys versi Korea yang tidak terlalu full ballad tapi juga tidak terlalu berisik hanya jetak jetak jedum saja. Yang jelas bagi saya yang 30-an lagu-lagu BIGBANG pas dengan selera saya.

BIGBANG saat konser pamungkas di Seoul, Januari 2013
Kehebohan makin melanda ketika  saya mulai iseng melacak page resmi BIGBANG di Google Plus. Saya dulunya plusser aktif tapi kemudian saya pasif berinteraksi dengan teman-teman di circle Google Plus saya. Suatu hari saya mencari page BIGBANG di jaringan sosial ini. Tidak ada page resmi BIGBANG di Google+, beberapa yang saya temukan hanya fanpage. Satu yang  terbanyak anggotanya namanya BIGBANG is V.I.P. ,sayangnya fanpage  ini sepi-sepi saja. Jika dibandingkan dengan fanpage serupa di Facebook maka masih kalah jauh.

Suatu hari si pemilik page menawarkan secara terbuka kepada mereka yang masuk ke dalam follower fanpage BIGBANG is V.I.P. ini. Intinya karena kesibukannya dia ingin menawarkan posisi admin kepada mereka yang mau. Saya pun “melamar”. Saya tulis di kolom komentar bahwa akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya jika saya bisa menjadi admin fanpage  tersebut. Gayung bersambut. Saya menjadi admin fanpage itu. Tentu saja sangat mudah bagi pemilik fanpage untuk memilih saya karena saya satu-satunya yang mengajukan diri he he…

Belajar dari fanpage lain di Facebook saya aktif mengunggah berita-berita dan foto-foto tentang BIGBANG. Saya ingin menciptakan komunitas online pencinta BIGBANG sebesar dan seaktif yang saya temukan di Facebook. Saya juga bermimpi suatu saat BIGBANG atau manajemennya akan menemukan fanpage mereka di Google+. Faktanya sampai sekarang belum terekspos fanpage tersebut hehehe.

Ini tampilan fapage Google+ yang saya manage. japandaman.com adalah website Cristian si pemilik fanpage ini
 Pemilik fanpage adalah pria Australia berusia 41 tahun. Namanya Cristian Espinoza. Bukan hanya perempuan yang mengagumi BIGBANG bahkan pria dewasa pun menyukai BIGBANG. Jangan dipikir teman saya ini poenyuka pria loh..dia laki-laki tulen dan sudah beristri. Saya sudah curiga di awal sebelum saya bergabung menjadi administrator fanpage bahwa pemilik fanpage ini adalah laki-laki.  Tahu darimana? Mudah saja..bahasa yang digunakan sangat laki-laki dan terlihat dewasa. Jika di fanpage lain postingan dan artikel yang ditmpilkan lebih banyak tentang gantengnya member A, B, dan penggunaan kata oppa (sebutan para gadis / fan wanita terhadap idola / laki-laki lebih tua dalam bahasa Korea) jelas-jelas menunjukkan bahwa fanpage tersebut adminnya remaja. Saya pun berikrar membuat postingan bermutu yang tidak melulu membahas keseksian anggota BIGBANG tapi lebih pada informasi dan keistimewaan mereka.

Membutuhkan waktu hampir 3 bulan untuk mendapat banyak “+” (seperti like pada Facebook) dan juga banyak pengikut. Diskusi dan banyak komentar mulai ada setelah hampir 4/5 bulan berjalan. Saya sangat senang sekali. Walaupun sumber berita biasanya saya copas dari halaman lain dengan mencantumkan sumbernya, saya juga menambahkan hal-hal yang mungkin saya tidak tahu dengan membaca artikel-artikel lama yang ternyata memuat beberapa fakta unik tentang BIGBANG. (Cek fanpage ini dengan mengunjungi link berikut ya?)

Tampilan dashboard admin
Apa yang saya dapatkan? Kepuasan. He he..senang sekali ketika orang-orang dari berbagai penjuru dunia mengapresiasi postingan saya. Selain pertemanan dengan pemilik  fanpage saya juga mendapat jaket keren BIGBANG sebagai hadiah atas kerja saya. Wow…senang sekali. Jaket ini bukan jaket asli..tapi yang aspal. Yang asli harganya jika tidak salah mencapai hampir 2 juta rupiah, bahkan mungkin lebih. Cristian punya jaket ini, dia juga punya yang palsu dan dia berikan pada saya. Jaket ini pernah saya cek harganya di situs resmi manajemen BIGBANG Indonesia dibanderol kurang lebih Rp. 500,000 (situs resmi jual jaket KW1 juga rupanya he he). Senang sekali ketika paket jaket yang dikirim dari Australia akhirnya sampai di tangan saya.

 Cinta saya terhadap BIGBANG adalah pertalian saya yang kedua dengan Korea. Ada pertalian lainnya lagi yang dulu tidak pernah terbayang oleh saya. Saya akan ceritakan di posting selanjutnya. Yang jelas ikatan saya dengan Negara Ginseng ini bisa dikata penuh kejutan dan menguntungkan :D


Saya dan Korea (Bagian Pertama - Keluarga Korea Pertamaku)



Korea dan segala hal yang berkaitan dengan Negara itu sedang naik daun. Mungkin sudah 5 tahun terakhir demam Korea melanda seluruh dunia. Saya juga terkena imbasnya. Tulisan saya tentang negara tersebut akan saya bagi menjadi beberapa bagian. Ini bagian pertamanya.

Sekitar tahun 2007 atau 2008 yang lalu saya sebenarnya sangat beruntung. Tapi karena kebodohan saya bisa dibilang saya kehilangan kesempatan baik di masa kini. Ceritanya entah bagaimana awalnya tapi saya mendapat pasangan suami istri Korea yang tinggal di Surabaya sebagai murid saya. Mereka ingin belajar bahasa Indonesia. Saya lupa dari mana saya mendapatkan siswa bule pertama saya ini. Mereka tinggal di sebuah apartemen di Surabaya Barat. Setelah beberapa hal disepakati saya mulai memberikan pelajaran Bahasa Indonesia kepada mereka.

Yang saya ingat, si suami namanya Pak Rah. Mr. Yoon Kee Rah kalo tidak salah. Usianya sekitar 40 tahun dan beliau bekerja di sebuah perusahaan berkantor di Surabaya. Karena stafnya semua orang Indonesia, beliau merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia. Pertama kali berbicara dengan beliau di telepon Tuhan..saya tidak mengerti apa yang beliau katakan. Pak Rah berbicara dalam bahasa Inggris pastinya tapi saya benar-benar tidak menangkap apa yang dikatakannya. Aksen Korea dan pelafalan yang tidak jelas benar-benar membuat saya seperti orang bodoh. Celaka, pikir saya.

Istrinya, cantik dan anggun. Perawakannya kecil, berkacamata. Dia lulusan jurusan sastra Perancis dari universitas di Korea. Saya tidak tahu pasti siapa namanya, tapi beliau persis seperti gambaran wanita Korea yang tampak malu-malu dan sedikit kikuk. Keluarga ini punya satu orang anak perempuan yang waktu itu umurnya mungkin 9 tahun dan sekolah di Surabaya International School. Bahasa Inggrisnya? Beda jauh dengan ayahnya. Ini sebabnya belajar bahasa asing di usia muda sangat bagus, pelafalan anak-anak jauh lebih baik dibanding dengan pelafalan orang dewasa yang baru belajar bahasa.

Mengajar kedua orang ini juga berkesan. Saya mengajar di apartemen untuk pertama kalinya dengan penjagaan ekstra ketat dan orang-orang bersepeda motor tampaknya hal yang aneh di lingkungan apartemen. Bermobil semuanya! Tentunya belum ada apartemen bersubsidi jadi orang-orang sangat kaya saja dan ekspatriat yang menempati apartemen itu. Saya sempat menanyakan sewa apartemen kepada Pak Rah saat itu, jika tidak salah sekitar 8 juta per bulan.

Bergeser dari masalah lokasi mengajar, sekarang saya membahas tentang kehidupan mereka. Pertama kali saya mengajar saya masuk ke lorong yang sangat sepi. Ketika bel saya bunyikan Ibu Rah membukakan pintu. Sedikit membungkuk dan saya tersenyum saja. Ketika masuk Bu Rah meminta saya mengganti sepatu saya dengan sandal rumah. Saya teringat, di semua drama Korea semua orang mengganti sandal atau sepatu mereka dengan sandal yang dipakai di dalam rumah. Oke, pelajaran tentang kebiasaan nomer satu.

Pelajaran kedua, orang Korea serius dalam belajar. Seperti yang ada di drama-draa Korea, siswa menghabiskan lebih dari 10 jam untuk belajar. Belajar dan bekerja keras tergambar dalam banyak cerita dan faktanya baik Pak Rah maupun istrinya sangat tekun belajar. Saya takjub. Di lingkungan saya tinggal, beberapa ibu-ibu yang belajar pada saya sudah tersenyum simpul malu-malu, malu mencoba, merendah dengan menyebut dirinya kurang pandai, minta pulang lebih awal dengan banyak alasan, dan parahnya sering bolos. Belum juga mereka menyelesaikan 1 program belajar tapi merke biasanya bilang,”Waduh..saya ga bisa Miss..aduh…malu..” dan lain. Saya maklum jika para Ibu punya banyak kegiatan di rumah, tapi mengingat mereka mengikuti kelas sewajarnya mereka tahu bahwa keseriusan juga perlu.

Pelajaran ketiga, orang Indonesia tetap paling murah hati dalam hal suguhan. Bertahun-tahun pengalaman saya mengajar privat paling jelek saya diberi minuman bersirup atau teh manis hangat atau dingin. Tapi di apartemen Pak Rah..cukup air putih dingin. Mengingat mereka juga minum yang sama dengan saya ya…saya berpoikir mungkin memang begitu adat mereka. Suatu ketika pernah saya membawakan mereka kue-kue tradisional untuk membahas tentang makanan dan bahan makanan. Mereka girang bukan kepalang dan mereka suka kue tradisional yang saya bawakan.

Pelajaran keempat (ini yang paling berharga), JANGAN PERNAH LEPAS KONTAK DENGAN ORANG-ORANG YANG ANDA KENAL. JANGAN PERNAH! Anda tidak akan pernah tahu jika Anda akan membutuhkannya di masa depan. Saya sudah melalaikan pelajaran ini. Siapa yang menyangka Korea akan menyergap dunia dengan segala pesonanya. Saya tidak berharap tetap menjalin kontak dengan Pak Rah, mengingat posisinya sebagai atasan, tentu aneh jika saya bergosip tentang boyband Korea. Yang saya sesalkan adalah ketika suatu hari, ipar Pak Rah dating berkunjung. Dia juga ingin belajar bahasa Indonesia. Karena Pak Rah sedang sibuk kerja maka si ipar menggantikan Pak rah sebagai murid saya. Ipar Pak Rah, wanita sekitar 37 tahun. Pekerjaannya sutradara dan jika tidak salah produser film juga. Film dokumenter yang ia kerjakan. Saya sempat bertukar email dan membalas beberapa emailnya ketika ia kembali ke Korea. Tapi kemudian saya abaikan email terakhirnya. Tidak ada lagi kontak setelah itu. Bodohnya saya!!!! Jika saya tetap berteman baik mungkin saya bisa berhubungan lebih jauh dengannya, terlibat dalam beberapa filmnya (ha ha ha), mendapatkan lebih banyak informasi tentang Korea, atau mungkin mendapat kontak ke beberapa selebriti Korea (ha ha ha). Ah..ini hal yang paling saya sesalkan.

Pelajaran terakhir saya dengan keluarga Pak Rah berakhir di restoran Seafood di Surabaya. Ia mentraktir saya dan berkata, “Pelajaran kali ini tentang makanan ayo kita makan!” tetap saja keramahan bangsa Asia tergambar jelas di pertemuan akhir kami. Andai ada mesin waktu…..

Friday, November 1, 2013

Freedom!!



Kebebasan, kata ini sering sudah saya dengar di mana-mana. Terutama menjelang hari kemerdekaan Indonesia, kata merdeka, bebas dan sejenisnya menjadi slogan di sana sini. Sungguh maknanya baru saya rasakan beberapa hari teralhir ini. Bahkan saya merasa saya telah dihinggapi sindrom gagap-kebebasan (terminology yang saya buat sendiri)

Ceritanya saya baru saja menyelesaikan studi S2 saya. Akhir bulan depan saya akan diwisuda. Rasanya senang bukan kepalang. Mungkin senang kurang pas, yang lebih pas lega. Lega karena saya terbebas dari beban berat bernama “tesis”. Saya benar-benar tertatih-tatih untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Faktor kemalasan dan kesibukan benar-benar sulit saya tandingi, belum lagi masalah kinerja otak yang kecepatannya tak lebih dari 10 Mbps 

pic:kiagarriques.com
Saat mengikuti perkuliahan bisa dibilang saya termasuk mahasiswa yang tidak bermasalah. Nilai saya lumayan, presentasi lancar, segala tugas terpenuhi. Jauh menjelang pengerjaan penelitian tugas akhir dimulai saya sudah mulai mengumpulkan bahan untuk penelitian. Jadi sebenarnya saya tidak malas. Berkaca dari lamanya pengerjaan skripsi di S1 saya tidak mau jatuh di lembah yang sama kedua kalinya.

Toh Tuhan berkehendak lain. Topik tesis yang menurut saya sangat menarik dan berhasil saya pertahankan di mata kuliah seminar mental di tangan dosen pembimbing saya. Dosen pembimbing saya nan baik hati, sama seperti dosen pembimbing skripsi saya menyarankan topik lain. Entah mengapa ahirnya saya berbelit-belit mencari topik yang pas. Mungkin ketika beberapa teman seangkatan saya akan lulus saya baru menemukan topic tesis yang pas.

Singkat kata saya molor mungkin hampir 3 semester. 1 semester di program S2 hanya 4 bulan. Total waktu belajar yang harus saya tempuh sebenarnya hanya 16 bulan (4 semester) termasuk pengerjaan tesis mungkin tinggal ditambah 6-8 bulan maksimal. Nyatanya saya mengerjakan lebih dari tenggat waktu itu. Intinya sudah setahun outline tesis mangkrak. Ada saja hal yang saya kerjakan di tempat kerja termasuk kemudian masalah kesehatan ayah saya yang cukup menguras energi dan finansial. Hal ini terus berjalan sampai akhirnya saya berhasil menyelesaikan bab 1 – 3 untuk kemudian saya pertahankan di depan penguji saat ujian proposal tesis.  

Setelah proposal saya selesaikan rasa malas kembali datang dan saya menghabiskan hampir 3 bulan tanpa perubahan berarti pada draft tesis saya. Pihak universitas sangat membantu saya karena saya dan teman-teman lain yang bisa mengumpukkan draft tesis siap uji pada tanggal 31 Juli 2013 akan mendapatkan pemutihan denda kuliah, alias tidak perlu membayar denda keterlambatan studi. 

Dengan susah payah akhirnya tesis siap uji selesai tepat tanggal 31 Juli. Saya mengajukan tanggal 30 Agustus untuk pelaksanaan ujian. Akhirnya saya diuji pada tanggal 28 Agustus (jika tidak salah ingat). Dag dig dug jantung berdebar tidak karuan. Saat ujian tiba, saat itu hari Jumat, ujian dimulai pukul 8:20 pagi. Hampir 1 jam saya mempertahankan tesis saya, tidak heran namanya thesis defence. Saya kurang puas dengan hasilnya. Saya bisa menjawab beberapa pertanyaan tapi inti dari permasalahan yang saya kemukakan secara tertulis di tesis saya kurang tersampaikan dengan baik. 

Hampir 1 jam saya menunggu hasil siding tersebut. Saya diluluskan dengan revisi, judul harus dirubah dan research questions pun harus saya ganti. Untungnya semua data saya bisa terpakai. Dengan perubahan dan polesan sana-sini sebenarnya saya bisa menangkap gambaran yang lebih jelas tentang tesis saya.

Revisi diberikan dalam jangka waktu 25 hari. Tetap saja saya molor dari jadwal yang diberikan. Duh…rasanya berat sekali. Bagaimanapun saya harus mengumpulkan tenaga dan memperbaiki lagi tesis saya. Setelah usaha menemui dosen A, B, dan C dan berputar-putar dari kampus gedung satu ke gedung lain yang berbeda kecamatan itu, akhirnya saya menemui kepala jurusan. Toh masih saja saya harus menemui beliau sampai 3x sebelum akhirnya saya mendapatkan persetujuan beliau akan tesis saya.

Kebebasan..ya…setelah saya melalui semua proses ini semua, saya bisa merasakan betapa berartinya kebebasan itu. Kebebasan dari tesis! Pulang kerja tidak perlu lagi memaksakan diri membaca atau menengok barang sekilas file tesis di laptop saya; tidak perlu lagi meracun diri dengan minum Nescafe kaleng agar kantuk tidak menyerang dan saya bisa melek sampai pagi; tidak perlu lagi was-was kehabisan waktu nonton film Korea favorit saya; menyanyikan lagu boyband favorit saya tanpa perlu khawatir tidur larut malam; oh…kebebasan sungguh tak ternilai harganya.

Untuk bisa bebas merdeka tidak mudah. Perlu kerja keras, itu saya setuju. Jika Anda ingin bebas dari tekanan bos di tempat kerja, mungkin waktunya Anda mulai wirausaha. Kumpul modal, nyali dan kegigihan. Jika Anda ingin bebas mengencani pujaan hati, nikahilah yang bersangkutan. Tidak ada yang akan heboh mengomentari Anda berduaan dengan pasangan lagi. Jika ingin bebas dari siksaan naik angkot, mulailah membeli kendaraan pribadi, belaja mengemudikannya. Betul kan..semuanya poerlu proses dan kerja keras?

Alhamdulillah satu kebebasan lagi yang saya raih. Sungguh senang..sekarang saya pun bebas menuliskan buah pikiran saya di blog ini lagi. Saya bebas menggunakan waktu luang saya untuk benar-benar “menikmati” hidup J