Tuesday, November 5, 2013

Sirene, Suara Monster yang Memilukan


Sirene adalah alat untuk membuat suara ribut yang fungsinya memperingatkan masyarakat akan bahaya suatu bencana alam dan digunakan untuk kendaraan layanan darurat seperti ambulan, polisi, dan pemadam kebakaran. Bentuk sirene yang paling modern adalah sirene serangan udara, sirene tornado, sirene tsunami dan sirene untuk kendaraan layanan darurat. Kebanyakan sirene hanya memiliki satu jenis nada. Ada banyal tipe sirene, antara lain yang umum di  Amerika Serikat adalah tipe Federal Signal Model 7, Model 2, Model 5, 3T22, Thunderbolt 1003, STH10, STL-10, The ACA Banshee,dan Screamer and the Sterling (sekarang Sentry) sirene Model M.(wikipedia)

Saya tidak suka mendengar suara sirene. Suaranya yang meraung-raung menyayat hati dan menebar rasa takut, was-was, panic, dan segala macam perasaa yang tidak enak. Untuk pertama kalinya di hari Senin 4 November 2013 saya berada di tempat di mana raungan sirine silih berganti. Saya berada di Pusat Grosir Surabaya (PGS), tidak jauh dari lokasi terbakarnya ruko Pacific Megah yang jaraknya mungkin 300 meter dari PGS. Raungan sirine mobil pemadam kebakaran (PMK), ambulance, dan truk tangki Dinas Pertamanan Kota Surabaya hilir mudik memecah suasana lalu lintas yang padat di sekitaran lokasi.

Hari itu saya berencana mengunjungi teman kerja saya di daerah Tambaksari, berboncengan dengan teman perempuan saya. Saya mendapat pesan singkat dari teman saya yang tinggal di kawasan Tambaksari itu yang mengingatkan untuk tidak mengambil jalur PGS karena ada kebakaran di ruko seputaran wilayah itu. Saya segera cek Radio Suara Surabaya, dan benar saja pembahasan dan laporan lalu lintas saat itu berfokus pada upaya pemadaman ruko. Ketika saya mengambil jalan memutar mungkin 3 km dari lokasi kebakaran, bisa saya lihat api hitam membumbung tinggi. Jalan-jalan alternatif padat merayap dampak dari kebakaran
.
Setelah bertemu dengan teman saya, saya dan dia meluncur ke PGS. Lalu lintas padat dengan raungan sirene dari kejauhan. Ketika mendekati markas PMK Pasar Turi, truk besar PMK dengan sirene yang kencang dan memilukan berjalan melawan arus dengan gaya bak sopir bemo ugal-ugalan. Sangat dimaklumi karena sopir harus sigap dan cekatan. Saya jadi berpikir mungkin baiknya sopir-sopir bemo (angkot) yang suka menyetir asal harusnya jadi sopir urusan maha penting dan darurat. Mereka ahli menyelip, ahli memotong jalur, ahli mencari celah di jalan yang super sempit sekalipun, dan ahli melihat ada penumpang melambai walaupun mobil dipacu sampai 80km/jam di dalam kota.

 Sampai di PGS raungan kendaraan semakin banyak terdengar silih berganti. Video dari peristiwa kebakaran saya unggah disini, Video itu saya rekam dengan kamera telepon seluler ketika saya melintas ke lokasi kebakaran sepulang dari PGS. Saya langsung teringat berbagai suasana memilukan yang terbawa kembali tiap saya mendengar sirene. Sirene pertama kali yang paling saya ingat adalah ketika suami ibu kos berpulang. Saya yang membersihkan rumah beliau, dan mengangkat kursi dibantu teman dan tetangga, karena ibu kos dalam perjalanan dari rumah sakit menuju rumah. Ketika beberapa tamu dari tetangga berkumpul, sekitar 45 menit kemudian raungan ambulan dari rumah sakit mendekat dan jenazah segera diurus pihak keluarga. Suara sirinenya menyedihkan.

Sirene kedua yang suaranya teramat memilukan dan terdengar sampai hampir 1 jam adalah dari ambulance yang mengantarkan jenazah ibu saya ke rumah orang tua saya di Mojokerto. Itu kali pertama saya duduk di dalam ambulance. Hal yang sekali pun tidak pernah terpikir sejak saya kecil saat mendengar suara sirine ambulance. Saya benci sekali suara itu. Sedih sekali mendengarnya. Apa mau dikata, saya mendengarkan suara itu hampir 1 jam atau mungkin lebih dari RSUD Dr. Soetomo sampai rumah. Tiap raungannya seperti suara monster yang menghalau semua orang dan kendaraan yang ada di jalan. Raungannya seperti berkata,”Minggir takutlah padaku.”

Sirene ketiga lagi-lagi saya ada di ambulance mengantarkan ayah saya yang stroke untuk melakukan pemeriksaan CT-Scan di rumah sakit lain karena rumah sakit yang merawat ayah saya tidak memiliki scannernya. Sebenarnya saya ingin meminta sopir untuk mematikan sirine itu. Tapi pastinya tidak mungkin saya lakukan. Saya berpikir ayah saya yang terbaring di dalamnya pasti memikirkan kejadian masa lalu ketika beliau duduk di samping jenazah ibu saya di dalam ambulance sambil mendengarkan raungan sirine.
Sirine terakhir yang meraung-rauhng islih berganti saya dengar kemarin. Suara sirine PMK lebih keras dan lebih tegas. Suara sirine ambulance lebih melengking. Tapi keduanya sama, pertanda ada musibah. Semoga tidak terdengar lagi banyak sirine di kehidupan saya.

Sumber lain:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sirene

No comments:

Post a Comment