Friday, August 1, 2014

Jakarta

Seringkali ketika akan membuat posting baru saya bingung harus diberi judul apa tulisan saya. Saya ingin bercerita tentang Jakarta, tentang apanya? Ehm...apa ya? Ini tentang perjalanan awal bulan Juni saya di Jakarta. Bagi yang sudah mengenal baik kota ini bisa jadi postingan saya hambar rasanya. Bagi yang belum, ya lumayanlah, semoga bisa jadi referensi.

Saya tiba di Jakarta tgl 1 Juni dan tinggal 2 malam di rumah Pakdhe di Ciledug. Tiba di Stasiun Jakarta Kota pagi dini hari dengan beberapa rencana yang pupus sirna. Saya berencana menunggu matahari muncul di seputaran kota tua yang hanya selemparan batu dari Stasiun Jakarta Kota. Di kawasan ini ada Taman Fatahillah yang dikelilingi beberapa museum dan gedung bersejarah. Di pagi hari ada persewaan sepeda kuno dan saya amat sangat ingin menimati Jakarta tempo dulu di kawasan ini. Sayang seribu sayang, saya datang di pagi buta sekitar jam 2.30 pagi dan dijemput sepupu saya yang sayangnya kebetulan sedang tidak ada mobil jadi saya yang masih kagok Jakarta memanggul tas ransel dan menjinjing oleh-oleh nongkrong di Taman Fatahillah.

Shock mendapati tamannya yang luas penuh dengan muda-mudi berbagai perangai dan gaya. Seperti Taman Bungkul versi seenak gue. Tamannya kotor dan bau pesing menyeruak. Tidak ada petugas taman dan polisi yang saya lihat. Beda dengan di Taman Bungkul yang aman dan nyaman. Eh, tetapi anehnya jam 02.30 pagi orang masih ratusan berkumpul. Saya belum pernah coba duduk-duduk di Taman Bungkul tapi sepertinya kok ya sudah diusir petugas jika lewat tengah malam di Taman Bungkul. Sepupu saya yang hilir mudik Tangerang - Jakarta dan kota-kota lain rupanya juga baru pertama kali ke Taman Fatahillah. Ha ha...kami seperti 3 anak ayam kehilangan induk. Saya makan dan ngobrol cukup lama di salah satu warung yang buka 24 jam di sekitaran Taman Fatahillah. Wanita muda berpakaian super seksi bersliweran. Ah...inilah ibu kota di malam hari.


BUSWAY Pertama

Rupanya saya sedikit lebih "Jakarta" dibanding sepupu saya. Saya sebenarnya tahu ada busway yang menghubungkan langsung stasiun dengan beberapa tempat di Jakarta, hanya saya tidak tahu mana jalur yang diambil untuk ke Ciledug he he.  Sepupu menelepon Pakdhe menanyakan cara menuju Ciledug dari Stasiun Jakarta Kota. Caranya, naik busway turun ke Blok M. Dari Blok M naik metromini jurusan Ciledug. Bagi Anda yang belum pernah ke Jakarta atau pernah tapi ke mana-mana diantar saudara pastinya bingung juga kan? Apalagi suasana sepi gelap gulita. Buta arah rasanya. Terakhir saya naik kendaraan umum di Jakarta, naik Kopaja dengan ayah saya sekitar tahun 2009. 2 Tahun sebelumnya saya ke Jakarta dari bandara menuju stasiun Gambir sewa mobil. Dan saya tidak pernah singgah lama di Jakarta, hanya transit saja. Jadi pengalaman 3 malam 2 hari naik kendaraan umum di Jakarta benar-benar berharga buat saya.

Sepupu saya tidak pernah naik busway dan tidak tahu sama sekali bagaimana, berapa, dan menuju ke mana Bu Trans Jakarta itu melaju. Kami menuju halte busway yang sepi dan tidak mendapat penjelasan dari petugasnya ketika kami bertanya bagaimana caranya mencapai ke halte busway yang tingginya hampir sedada orang dewasa dari pinggir jalan raya. Tragis! Petugasnya saja enggan membantu. Untung masih ada orang baik, seorang bapak yang berdiri dekat halte bus. Padahal pelajaran pertama yang ditanamkan oleh kakak dan orang tua saya ketika ke Jakarta selalu,"Bertanyalah pada petugas, jangan asal bertanya pada sembarang orang." Dari penjelasan si Bapak kami harus menyeberang jalan, turun ke bawah jalan raya, dan menemui pintu masuk menuju halte busway yang bercabang dengan jalan menuju Stasiun Jakarta Kota. Loket baru dibuka jam 5 pagi dan saat itu masih sekitar pukul 4.30 pagi. Saya mengobrol sambil memperhatikan muda-mudi yang juga mengantri naik busway. Mukanya segar bugar tidak ada yang mengantuk padahal saya yakin mereka begadang bermalam-minggu.

Ketika pintu mulai dibuka, kebingungan kedua adalah bagaimana caranya naik TJ ini. Saya mengantri di loket untuk membeli tiket. Rupanya ada penumpang lain yang juga belum tahu caranya. Caranya kita melakukan pembelian pra-bayar sebesar 30,000 dan mendapat satu kartu transaksi yang dikeluarkan dari sebuah bank, yang bisa dipakai berkali-kali. Saya membayar, mendapat kartu dan kemudian ditempel pada palng pintu otomatis yang dijaga satpam. Kartu ini bisa dipakai untuk beberapa orang asal saldo masih cukup. Murid saya yang mengantri di belakang saya menerima kartu ini dari saya yang telah menempelkan kartu ke palang pintu dan dia melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu pasti berapa tarif busway dari halte tersebut. Mungkin 2500 rupiah atau 3000 rupiah. Murah! Saya masih sedikit terheran-heran dengan halte busway-nya dan berniat berfoto sebelum kemudian menyadari ada satu busway menunggu dan siap berangkat. Melihat orang-orang lain di depan saya berlari saya juga ikut berlari dan masuk ke dalam busway.

Saya heran karena banyak laki-laki muda yang berdiri di bagian belakang busway padahal di bagian depannya masih banyak kursi kosong. Saya langsung berjalan ke depan, duduk manis, sambil terkagum-kagum dengan modernnya bus ini. Ada penjaga pintu yang meneriakkan nama-nama halte tempat bus berhenti, ada papan tulisan digital yang berganti otomatis tiap bus melewati halte, kursi bus yang modern, dan badan bus bagian depan dan belakang yang terhubung dengan plastik atau apalah itu namanya mirip pianika. AC bus dingin, penumpang wanita hanya 3 orang termasuk saya. Baru saya tahu jika bagian depan bus dikhususkan untuk wanita dan laki-laki duduk di belakang. Bagian depan dekat dengan penjaga pintu, jadi aman bagi wanita. Ada pasangan muda-mudi yang harus berpisah kursi di dalam busway. Ok, pelecehan berarti benar-benar serius di kendaraan umum sampai pembagiannya seperti ini.

Saya beruntung naik busway tersebut, karena bus melwati jantung kota. Mulai gedung Polri sampai Stadion Gelora Bung Karno alias Senayan yang menjadi jujukan saya esok harinya, kawasan Bundaran Hotel Indonesia yang selalu saya lihat di TV tempat orang berdemo, Daerah Thamrin dan Bendungan Hilir (Benhil) yang hanya saya dengar namanya, dan daerah lain. Bus terakhir berhenti di Terminal Blok M, dan saya turun dari depan sisi kiri sopir karena halte berada di sebelah kiri, bukan di kanan ketika berangkat sebelumnya. Aha! Udik sekali saya ini ha ha. Maklumlah di Surabaya angkutan paling top adalah bus DAMRI ber-AC.

Sampai di Blok M, petunjuk selanjutnya adalah naik metromini jurusan Ciledug. Metromini yang saya tahu mirip bus ijo mini jurusan Mojokerto - Surabaya. Saya tidak tahu naik yang warna apa dan seperti apa penampakan sebenarnya karena pagi masih gelap. Ternyata semua metromini warnanya oranye kecoklatan. Saya sengaja duduk di belakang sopir dan memintanya menurunkan saya di Perempatan Ciledug yang saya juga tidak tahu seperti apa tempatnya dan berapa lama saya akan sampai. Saya benar-beanr buta arah karena saya tidak pernah ke rumah Pakdhe sendirian sebelumnya. Seperti petugas halte busway, sopir tidak menjawab permintaan saya. Jika di Surabaya sopir angkutan umum dengan sabar dan komunikatif akan memberitahukan tempat kita berhenti, paling tidak mengiyakan jika kita minta diturunkan di suatu tempat. "Dinginnya" Jakarta!!!

Saya memberikan uang 20,000 an pada kondektur dan sudah pasrah jika tertipu tarif metromini yang sengaja dinaikkan jika tahu saya pendatang. Untunglah tidak, saya membayar 6000 rupiah untuk 2 orang. Murah! Di Surabaya tidak ada lagi tarif angkot seharga 3000 Rupiah. Tapi apesnya, saya dioper di tengah jalan. Saya melanjutkan naik angkot mikrolet warna putih, entah nomer berapa. Saya duduk di samping sopir berharap mendapat kejelasan kapan saya turun. Saya mengulangi permintaan saya agar diturunkan di Perempatan Ciledug, sopir diam saja. Angkot berjalan cukup cepat dan setelah sibuk bertukar pesan dengan sepupu saya karena saya buta arah, angkot mulai kosong penumpang. Yang saya ingat saya turun di perempatan Ciledug, tepat di flyover. Nah...yang mana pula flyovernya? Tak seberapa lama angkot berhenti di perempatan, penumpang di belakang turun dan saya melihat fly over. Sopir bertanya saya turun di mana, saya bilang di perempatan dan saya ganti bertanya, "turun sini ya Pak?" Sopir hanya mengangguk. Saya keluar dan beberapa ojek mendekat. Saya menjauh dan mulai menganalisis keadaan sekitar. Mengingat tempat angkot berhenti dan menyadarkan diri bahwa saya berada di Indonesia bagian lain.

Siangnya teman saya datang menjemput. Dengan kendaraan pribadi kawannya kami berjalan-jalan ke jantung ibu kota. Saya melewati perumahan elit yang iklannya berulang kali diputar di salah satu stasiun TV nasional dan masih saya belum sadar diri saya berada di Jakarta. Murid saya belum pernah ke Jakarta sebelumnya jadi kami memutuskan ke Monas. Kami melewati jalan-jalan yang namanya banyak disebut di TV dan saya serasa berada di dalam dunia lain dalam cengkeraman gedung-gedung pencakar langit seperti para Decepticons siap melumat penduduk bumi. Benar-benar Jakarta kota Megapolitan. Saya merasa kecil dan canggung di tengah kota ini walaupun bukan kali pertama saya ke Jakarta. Dalam 5 tahun terakhir sudah 3 kali saya mengunjungi kota ini, toh tampaknya saya dan ibu kota saling berjauhan. Angker dan angkuh kesannya untuk pendatang.

Keesokan harinya pengalaman menggunakan kendaraan umum bertambah ketika saya harus ke Stadion Senayan naik Bianglala. Dari namanya sungguh drama ha ha. Bianglala atau Bus Kota Patas AC yang saya naiki dari Ciledug sampai Pasar Senen. Saya lupa nomor berapa busnya. Saya berangkat pagi-pagi sekitar pukul 8 padahal acara di stadion baru jam 5 sore. Tidak mau kehilangan tempat duduk strategis dan bersiap menghadapi macet saya bersiap-siap. Dari dalam perumahan  saya naik ojek. Ojek juga transportasi yang jarang saya gunakan di Surabaya. Terakhir saya menggunakan ojek mungkin setahun yang lalu. Ojek mengantar saya sampai prempatan Ciledug (lagi). Malamnya saya sudah browsing tentang angutan menuju stadion dan juga mencari tahu tentang si Bianglala Ciledug - Pasar Senen ini.

Bus masih kosong ketika saya naik, dan jika tidak salah saya membayar 7000 rupiah untuk satu penumpang. Sekali lagi saya kebingungan kapan saya harus bersiap turun karena saya di tengah-tengah bus dan penumpang berjubel penuh sesak. Saya sudah bilang ke kondektur untuk menurunkan saya di Senayan, tapi selama perjalanan kondektur tenang-tenag saja, tidak meneriakkan tempat-tempat pemberhentian yang dilewati seperti layaknya kondektur bus yang biasa saya tumpangi di Surabaya. Dengan mengandalkan peta di ponsel saya yang sinyalnya ada tiada saya kebingungan di dalam bus sementara murid saya tidur pulas. Kaca bus yang gelap juga menyusahkan saya melihat nama jalan di sisi kanan bus untuk mengtahui sampai di mana saya. Untungnya ibu yang duduk di sebelah saya bertanya di mana saya turun, mungkin karena dia mendengar saya akan turun di Senayan. Dia bilang saya harus bersiap karena Senayan sudah dekat. Saya menerobos ke belakang. Di pintu belakang kondektur baru berteriak dengan suara pelan saja sebenarnya, "Senayan Senayan!"

Kami berdua turun dan bingung lagi mencari pintu masuk ke dalam stadion. Saya berjalan saya mengikuti insting dan sampai juga di stadion. Mengapa saya pergi ke Stadion Senayan? Ceritanya di posting saya yang lain :) Dari stadion saya pulang malam sekitar pukul 10 malam dan saya berjalan mencari jalan keluar dari stadion yang cukup jauh. Setelah bertanya pada polisi di mana tempat menunggu Bianglala saya menunggu sampai sekitar pukul 22:30. Saya mulai cemas karena tidak ada orang yang tahu angkutan menuju ke Ciledug di malam hari. Saya bertanya pada Pakdhe dan disarankan naik angkot yang biasanya mencuri trayek melewati Senayan di malam hari. Angkot putih 01 jika tidak salah. Segera setelah bertukar pesan angkot putih datang dan berteriak-teriak, "Ciledug! Ciledug!" Saya langsung naik dan duduk di sebelah sopir. Karena sudah hafal tempat berhenti saya turun pas di perempatan dan disambut para penggemar, para tukang ojek. Sedikit menjauh saya mencari ojek lain yang tidak "agresif" dan langsung menuju rumah Pakdhe. Capek sudah badan saya seharian di stadion dan baru saya tahu cerita seram angkot 01 yang memperkosa penumpang wanitanya. Tidaaaaaak...untung saya tidak apa-apa.

Yang jelas esok harinya saya harus kembali ke Surabaya. Saya akan ke Stasiun Pasar Senen. Seperti hari sebelumnya, saya harus naik Bianglala lagi. Sekitar jam 8 saya masih malas-malsan dan jam 9 pagi mulai mandi. Jam 10 saya mulai makan dan sekitar jam 10:30 saya siap berangkat. Mengingat hari sbeelumnya dari rumah Pakdhe ke stadion hanya sekitar 1 - 1,5 jam saya pikir saya bisa sampai di stasiun jam 1 siang atau paling lambat jam 13:30 karena jadwal kereta saya jam 14:10. Saya mulai panik ketika menunggu Bianglala lama datangnya. Ketika bus datang sopir juga malas-malasan berjalan. Saya sempat membaca salah satu pengalaman penumpang Bianglala jurusan yang sama yang mengeluhkan lamanya naik bus AC ini. Karena pengetahuan minim saya tentang jarak tempuh dan keteledoran saya maka mulailah saya bertukar pesan dengan Pakdhe saya. Sebagai informasi dari hari pertama saya tiba di Jakarta saya hanya bertemu beliau di pagi hari dan tidak bertemu lagi sampai hari saya pulang. Budhe juga sibuk jadi tidak banyak cerita soal tips naik angkutan umum yang dibagi.

Kenangan bersama monas :)
Pakdhe menyarankan saya turun dari Bianglala, dan saat itu Bianglala baru berjalan sekitar 10 menit dari tempat saya naik. Saya disarankan naik ojek bukan taksi untuk mengejar waktu. Ojek? Pengalaman baru lagi. Ojek sebelumnya yang saya tumpangi hanya yang nangkring di sekitar perumahan. Sekarang dengan modal muka pasrah saya memanggil ojek yang mangkal di seberang perempatan jalan. Awalnya pak ojek memberikan harga 50,000 yang langsung saya sanggupi karena perkiraan Pakdhe harganya sekitar 60,000. Rupanya pak ojek ini bingung juga dan bicaranya kurang jelas. Dia memanggil kawannya yang tahu jalan dan tahu harga. Dipatoklah harga 100,000 dan saya menawar 75,000. Dengan argumen jauhnya jarak tempuh maka disepakati harga 80,000 per orang per motor. Dua motor berarti 160,000. Saya sanggupi karena tidak opsi lain.

Untunglah saya naik ojek dan di akhir perjalanan ke Jakarta saat itu saya temukan dua bapak ojek yang baik hati.  Salah satunya yang membonceng murid saya menceritakan tentang banyak tempat yang kami lewati. Pak ojek mencarikan jalan-jalan alternatif anti macet. Membayar 80,000 sangat sebanding dengan jauhnya perjalanan dan juga waktu tempuh yang pas. Sekitar 75 menit saya berhasil mencapai stasiun tepat 40 menit sebelum kereta berangkat. Jarak yang saya tempuh mungkin seperti Tandes sampai Mojokerto. Jauh sekali dan saya melihat sisi lain Jakarta, Jika hari sebelumnya yang saya lihat gedung-gedung tinggi dan mall-mall termasuk Masjid Istiqlal dan Istana Negara, maka kali ini yang saya lihat daerah Jakarta Timur sampai ke Pasar Senen. Entah lewat mana saja hehe.

Lengkap sudah petualangan saya menggunakan aneka moda transportasi Jakarta. Ada busway, metromini, bianglala, dan ojek yang menutup perjalanan saya di Jakarta. Saya cukup senang dengan pengalaman berkendaraan umum di ibu kota. Harganya murah walaupun masih was was dengan keamanannya. Lain kali tidak akan naik taxi, angkutan kota saja :)

No comments:

Post a Comment