Thursday, October 30, 2014

Menara Suar Sembilangan, Gagah Berdiri dalam Pengabaian

Perjalanan ke Madura saya dua minggu yang lalu membawa saya ke Menara Suar Sembilangan. Letaknya di  Desa Sembilangan, bangkalan Madura. Dari arah kota Bangkalan kami menuju arah Socah, melewati Makam Kyai terkemuka Syaichonah Cholil. Lurus terus sampai akhirnya terlihat menara mercu suar yang menjulang tinggi.

Menara ini didirikan oleh Pemerintah Belanda di tahun 1879. Sekarang dikelola oleh Badan Navigasi Dirjen Perhubungan. Seperti umumnya tempat-tempat bersejarah lainnya di tanah air tercinta, tempat ini tidak terurus dengan baik. Di musim kemarau air laut surut dan hawa panas langsung menyambut saya dan teman-teman. DI depan menara da tembok nama. Masuk ke halaman menara suar ada satu pohon besar dan di kiri dan kanan ada bangunan nampak seperti rumah dinas. Mungkin milik Departemen Perhubungan.

Saya kurang tahu apakah sampai sekarang menara masih difungsikan atau tidak. Tidak ada keterangan dan juga loket karcis. Tapi ketika Anda ingin naik ke puncak menara maka ada penduduk, usia sekitar 27 tahuna yang akan memungut biaya sebesar Rp. 4000 tanpa karcis. Jika hanya ingin masuk ke dalam dan mendingak ke atas Anda tidak perlu bayar. Tapi tentunya penasaran ya?



Bau pesing khas mamalia kaki dua akan menyambut Anda di pintu masuk. Sampai lantai 2 seingat saya bau-bauan aneh ini masih ada. Menara suar berlantai 16 ini masing-masing beranak tangga 15. Jadi..ya ada sekitar 240 anak tangga yang harus didaki sampai ke puncak menara. Tangganya kuat dan kokoh kecuali di lantai pertama dan lantai 13 seingat saya. Tangganya ringkih dan kecil di lantai 13 ini. Semua bangunan terbuat dari baja tebal bercat putih yang bagian dalamnya ternoda oleh coretan para vandalist. Jendela besar terbuka lebar membawa masuk angin kencang dari laut di setiap lantainya.

Alsi vandalisme para vandalist. Semoga yang bersangkutan
mendapat balasan dari Tuhan YME atas perilakunya yang tidak
bertanggung jawab


Jendela besar di tiap lantai menara. Sekelilingnya adalah
hamparan daratan kering karena laut surut


Tentunya luas lantai akan mengecil semakin ke puncak. Sampai di puncak Anda bisa menyaksikan lautan terhampar di depan. Ada panel surya di atas dan bagian pilarnya antik dan cantik, tapi sekelilingnya banyak coretan.

Dua teman saya berfoto di puncak menara


Bagi saya menara suar ini indah dan kokoh, tapi bagian dalamnya kotor tak terawat. Buat pecinta sejarah tentunya kunjungan ke menara ini cukup menarik. tetapi untuk Anda yang merindukan keindahan sebuah onjek wisata, saya tidak menyarankan tempat ini. Mungkin dengan perhatian yang lebih dari pihak berwenang, menara ini bisa diperbaiki lebih cantik, tamannya tidak dibiarkan gersang, dan tersedia brosur informasi tentang sejarah menara. Selamat berkunjung ke Madura!

Soto Mata, Nikmat Tak Terkira

Nama makanan yang akan saya ceritakan ini memang unik, Soto Mata alias Somat. Lumayan seram ya namanya, mata! Ya yang dipakai memang mata sapi dan saya termasuk yang kurang bernyali untuk mencicipi kuah soto dengan mata sapi mengapung di atasnya. Saya memilih makan soto mata tanpa mata :)

Warung soto mata ini adalah salah satu yang ppopuler di kota Bangkalan, Madura. Jika Anda ingin melihat indahnya Jembatan Suramadu sudilah kiranya melaju terus ke arah barat memasuki kota Bangkalan. Setelah menemui minimarket Indomaret di kiri jalan Anda perlu melaju lurus lagi dan tidak jauh akan ditemui Depot Anda. Tepat di seberangnya ada jalan kecil (gang) dan Anda tinggal masuk saja mengikuti jalan kampung dan di tengah-tengah rumah penduduk akan Anda temui rumah sederhana seorang warga dengan tiga kursi anyaman bambu lebar tanpa meja. Inilah warung Somat.

Warung Somat
Jika Anda bingung dengan arahan saya maka tinggal tanyakan pada warga sekitar lokasi Somat di kampung Burneh ini. Tidak ada penanda di pinggir jalan dan saya pun terkejut karena bayangan saya tentang warung soto dengan bangunan warung permanen yang dikunjungi puluhan pengunjung ternyata salah besar. Warungnya bersahaja, tidak kelihatan "serius" seperti warung makan lainnya, bahkan tidak ada papan nama warung. Saya seperti berkunjung ke rumah tetangga dan ikut makan di sana. Selain itu, tidak ada kursi dan meja layaknya warung makan pada umumnya. Yang ada meja penjual dan kursi lebar anyaman bambu tempat pengunjung duduk bersila sambil makan. Justru inilah menurut saya kesan menarik yang saya dapatkan. Saya merasa nyaman dan makan lebih santai. Serasa makan di depan rumah tetangga dihembus sepoi angin pagi diiringi celotehan suara itik dan entog yang hilir mudik.

Penjual akan mengajukan pertanyaan dasar bagi Anda,"Matanya utuh atau diiris?" Kontan saya dan teman-teman yang baru pertama datang berseru histeris sambil tertawa. Wah...wah...seram nian ha ha. Jika Anda merasa mata sapi dalam kuah sotyo terlalu ekstrim, maka Anda bisa memilih level di bawahnya yaitu soto dengan usus sapi, jika itupun masih ekstrim bisa memilih soto daging biasa. Soto ini disajikan dengan topak. Topak seperti lontong tapi tidak dibungkus dengan daun pisang melainkan daun kelapa. Ya, topak adalah ketupat dalam Bahasa Madura. Setelah topak disajikan maka giliran soto datang.

Topak
Soto ini berbeda dengan soto di Jawa timur pada umumnya. Kuah soto coklat kemerahan tapi encer, potongan daging besar ditambah kecambah rebus di dalamnya. Ada juga taburan jagung goreng (marning), kacang goreng, dan daun bawang. Rasanya? Nikmat dan segar. Saya teringat Sup Konro, mirip-mirip tapi Sup Konro lebih berempah. Hal lain yang unik adalah sambal pelengkap bukanlah sambal uleg cabai melainkan sambal kacang yang warnanya kecoklatan seperti ditambah petis. Hebatnya rasanya masuk merasuk klop dengan kuah soto.

Somat dan Topak


Makan bersama, si kecil yang lebih "bernyali"
 makan mata sapi dariapda saya he he
Walaupun saat saya berkunjung sekitar pukul 9 pagi rombongan saya adalah satu-satunya yang makan tapi jangan salah, seringkali sebelum pukul 12 siang soto sudah ludes terjual. Semakin pagi semakin baik apalagi jika Anda berkenan membantu penjual menata dagangan mungkin ada ekstra semangkuk somat untuk Anda ha ha. Saya sangat merekomendasikan Somat ini yang mungkin belum banyak dikenal dibanding Bebek Sinjay yang antriannya luar biasa gila! Selamat berwisata kuliner.

Wednesday, October 29, 2014

Nonton Bola di Stadion Gelora Bung Karno

Posting ini telat sekali baru saya tulis. Kejadiannya sudah sejak 2 Juni yang lalu, ah tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Bagi saya ini pengalaman menarik karena tidak pernah terpikir jika saya bisa nonton pertandingan bola di Stadion GBK. Jika melihat berbagai pertandingan besar dan kehebohan suporter di stadion ini maka cukuplah untuk menciutkan nyali saya nonton bola secara langsung. Ah tapi saya kan bukan lagi penggemar sepak bola. Lantas mengapa saya tetap nekad nonton bola di sana?

Jadi ceritanya saya adalah penggemar variety show Korea bernama Running Man. Acaranya seru karena berisi aneka games lucu dan menarik. Para pemain variety show ini diundang oleh pemain bola legendaris Korea, Park Ji Sung untuk bermain bersama pemain-pemain bintang dunia lainnya termasuk Zambrotta melawan tim all stars Indonesia. Laga amal yang keuntungannya akan disumbangkan bagi pendidikan sepak bola anak-anak di tanah air ini sebenarnya juga disiarkan oleh salah satu stasiun TV nasional, tetapi karena saya adalah penggemar variety show ini maka wajib bagi saya untuk nonton. Hitung-hitung ini bisa jadi pengalaman sekali seumur hidup.

Saya merencanakan rencana kepergian bersama salah satu siswa perempuan di tempat saya bekerja. Shinta namanya. Dia juga yang terkena virus Running Man. Saya melontarkan ide untuk nonton, walaupun duit cekak karena waktu itu saya berencana berlebaran ke rumah bibi saya di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. "Untungnya" rencana gagal sehingga dari yang awalnya nonton di tribun saya rubah menjadi nonton di kelas VIP tribun barat. Tiket ini saya beli online setelah hampir 2 bulan menunggu tiket dijual secara resmi oleh penyelenggara acara. Tiketnya Rp. 750.000 belum termasuk pajak, biaya administrasi, dan biaya transfer. E-tiket yang saya dapat segera saya print dan saya simpan rapi di laci.

Sebelum hari pertandingan saya sempat berjalan-jalan dengan teman baik saya yang tinggal di seberang kampus Binus. Dari perjalanan itu paling tidak saya siudah mendapat gambaran tentang bentuk stadion Senayan. Saya salah besar ha ha. Stadionnya jauh masuk ke dalam dari jalan raya. Tapi paling tidak rasa penasaran sedikit terjawab. Acara dijadwalkan dimulai pukul 17:00 dan saya sudah menduga pasti baru disiarkan di TV sekitar pukul 18:30 layaknya pertandingan bola pada umumnya. Tapi karena tiket saya tidak bernomor alias penonton harus berebut mencari kursi yang paling strategis maka saya berencana datang pagi-pagi toh diinfokan di Twitter bahwa gerbang dalam akan dibuka pukul 14:00.

Dengan semangat saya bangun pagi, sarapan, dan langsung naik ojek dari komplek perumahan untuk menumpang bus AC Bianglala jurusan Ciledug - Pasar Senen. Dengan modal kenekatan dan sedikit kebodohan saya naik tanpa tahu jelas seberapa lama dan seberapa jauh perjalanan untuk mencapai stadion. Saya berangkat kira-kira pukul 9 pagi. Seperti biasa lalu lintas macet. Bus penuh sesak sehingga saya tidak bisa melihat ke luar, jendela pun dicat dengan warna body luar bus. Akhirnya saya memakai GPS yang sinyalnya ternyata kembang-kempis. Saya kurang ingat seberapa lama persisnya sampai ibu di sebelah saya mengingatkan bahwa Senayan sudah dekat. Terima kasih Ibu!! Saya turun menyeruak penuh sesaknya penumpang Senin pagi itu.

Para penonton yang berajalan di depan
saya menuju stadion yang sudah nampak
dari kejauhan
Setelah turun saya dan Shinta menepi dan berjalan ke arah halte bus untuk duduk dan mengamati keadaan. Saya tidak tahu kami turun di sisi mana stadion dan saya juga tidak tahu di mana pintu stadion. Ynag saya lihat cuma lapangan softball di kanan saya. Saya jalan saja lurus mengikuti naluri sampai kemudian berbelok dan kemudian melihat Hotel Atlet Century. Ah paling tidak sudah benar saya masuk wilayah Senayan itu pkir saya. Ada beberapa orang yang lalu lalalng tapi tidak nampak mereka akan nonton bola. Ada juga tukang ojek tapi saya pikir kami masih punya waktu dan saya benar-benar tidak ingin bertanya karena ingin "bertualang". Dari depan hotel saya berbelok kanan dan berjalan lurus sampai kemudian saya melihat ada gerbang pintu masuk dan kemudian ada lebih banyak orang berjalan dengan arah yang sama. Saya pikir pasti mereka akan menuju stadion. Dugaan saya tepat. Saya ternyata tidak masuk dari gerbang depan tapi toh sama saja saya melihat gagahnya stadion dari kejauhan. Yes...sudah tepat!
Belum banyak orang yang datang di luar dugaan saya. Kemungkinan masih banyak yang sekolah atau kuliah mengingat saat itu Senin pagi. Tenda-tenda promosi dari pihak sponsor juga masih baru dipasang. Saya sudah mencari gerbang masuk saya sesuai dengan kelas tiket yang saya pegang. Setelah puas mengamati satu sisi stadion saja saya melihat sekitar 4 orang duduk di ja;an di depan gerbang dalam. Mereka menunggu dari arah luar stadion. Setelah mendengar cerita ternyata mereka adalah yang berpengalaman nonton konser K-Pop Korea dan berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya penonton yang berada di dalam halaman di dalam gerbang dalam stadion akan diusir keluar. Mereka diminta mengantri lagi sebelum masuk rapi satu-satu ke dalam pintu stadion. Saya ikut saja mengantri. Semakin siang semakin banyak penonton datang. Mereka berseliweran di halaman dalam stadion sementara saya duduk bersila di tanah. Saya sudah mencium gelagat aneh, ah harusnya saya percaya insting saya. Area halaman penuh dan tidak ada petugas keamanan yang mengusir mereka keluar untuk mengantri.

Saya berpose di depan gerbang tempat saya harus masuk nantinya



Stadion yang masih sepi dan tenda sponsor yang baru dipasang.
Ini yang saya sebut halaman sisi dalam

Duduk mengantri untuk masuk ke sisi dalam stadion setelah sebelumnya
saya sudah dari sana. Laki-laki berpakaian hitam adalah
panitia acara
Waktu berjalan cukup lambat. Menunggu memang "menyakitkan". Para calon penonton ulai berteriak heboh ingin masuk ke halaman stadion sementara yang didalam diteriaki diminta untuk keluar dan mengantri. Hampir pukul 3 gerbang pagar dengan hanya 2 orang penjaga berbaju hitam membuka pintu dan mulailah antrian diserobot kiri kanan dan berebut lari masuk. Wuiiih..ributnya...untung cuma satu pintu. Saya antri lagi di pintu masuk stadion sesuai kelas saya, VIP Barat. Dan...saya di antrian tengah. Saya emngantri lagi berdiri dan duduk hampir 2 jam. Bedanya di antrian ini tidak ada yang berteriak-teriak heboh minta masuk. Tiket-tiket mulai disiapkan dan bahkan ada yang menyimpannya dalam map (e-tiket) karena dari infor pihak penyelenggara tiket tidak boleh sobek dan harus terbaca dengan jelas.  Tiketnya ber-barcode. Tetapi apa yang terjadi? Saya pikir tiket bakal discan satu-satu ternyata cuma disobek ujungnya saja. Infonya tidak boleh bawa makan dan minum di dalam stadion dan tas akan diperiksa tapi nyatanya tas plastik berisi makanan ringan milik Shinta saya juga tidak diperiksa. Tapi karena isinya tinggal 1 kue maka ditinggal. Penonton masuk bergerombol, bukan satu-satu.

Masuk ke dalam stadion tampak bangunan yang kurang terawat. Saya menaiki beberapa tangga dan dari awal sudah berikrar untuk tidak akan ke kamar kecil. Saya tidak tega melihat penampakannya walaupun ini asumsi saja setelah membaca beberapa cerita teman-teman yang menulis di blog. Setelah itu saya sampai di tempat duduk saya dan berusaha mencari yang pas. Tidak bisa mendapat barisan depan tapi buat saya cukuplah di barisan tempat saya duduk itu. Kursi stadion hanya papan kayu bercat yang diberi sekat kecil untuk memastikan pantat kita menempati bagiannya ha ha. Saya pikir untuk yang VIP paling tidak berkursi dengan sandaran ha ha...mimpi!!!

Ini adalah penanda yang ada di sekitar stadion. Rupanya satu sektor di
VIP Timur khusus untuk siswa dan staf sekolah Jakarta International Korea School


Saya dengan balon tepuk gratis yang disediakan oleh panitia.
Saya datang lumayan awal di dalam stadion karena sisi lain stadion masih sepi.
Bahkan beberapa deret kursi di belakang saya masih sepi  

Senangnya sih lapangan terlihat seperti permadani hijau dan terlihat kecil. Tidak seluas seperti jika nonton di TV. Sambil menunggu acara berlangsung diputar lagu-lagu Korea yang hebatnya bisa dinyanyikan oleh semua penonton yang mayoritas perempuan. Saya menunggu sembari berpeluh hebat karena tepat saya menghadap ke barat di mana matahari terik sedang mulai tenggelam. Penjual minuman datang menjajakan dagangan yang langsung diserbu. Sebotol iar mineral yang biasanya Rp.3000 dijual Rp.10,000. Dan hari itu saya menghabiskan Rp. 40,000 hanya untuk minuman!

Stadion tidak terisi penuh  terutama di bagian tribun. Tetapi di kelas VVIP, VIP, Kelas I dan II tampak penuh. Saya bersama ribuan penonton lainnya bersorak sorai dan menyemangati tim Park Ji Sung cs dan tim Indonesia. Dari tim Indonesia tidak banyak pemain yang saya tahu. Layar besar stadion tidak menayangkan secara real time jadi saya membelalakkan mata ikut bersorak sorai. Mungkin karena bukan penonton bola profesional yang bisa menyanyikan mars klub jadi gemuruh suara pendukung tidak seheboh yang saya bayangkan. Menurut beberapa artikel yang saya baca nonton langsung bisa bikin merinding karena suara pendukung dan sorakan ketika gol dibuat benar-benar tiada bandingan. Sekali lagi saya salah. Karena ketika sampai di rumah saya langsung cek di YouTube dan pertandingan yang disiarkan di TV ini diupload. Ternyata stadion riuh ramai oleh teriakan, sorakan, dukungan, dan histeria penonton yang umumnya wanita ini. Saya baru sadar ternyata salah satu penyumbang kehebohan itu suara saya ha ha.










Saya berteriak-teriak puas selama pertandingan. Bahkan menyanyi bersama saat istirahat turun minum dan saat pertandingan berakhir. Setelah pertandingan berakhir ada hiburan 2 lagu dari band perempuan Korea - Crayon Pop sebagai bintang tamu. Saya ikut menyanyi dan berjoget bersama. Senang sekali karena satu stadion isinya penggemar K-pop ha ha. Tidak ada yang pro satu tim. Semua mendukung kedua tim. Apapun hasilnya semua puas karena ini pertandingan persahabatan, pertandingan hip hip hura. Andai saja pertandingan sepak bola yang sebenarnya juga se-bersahabat seperti yang satu ini mungkin saya akan dengan senang hati nonton secara langsung di stadion walaupun saya bukan penggemar berat sepak bola. Di tempat saya tinggal di Surabaya stadion Bung Tomo letaknya tidak terlalu jauh. Dan saat Park Ji Sung melakukan laga persahabatan bersama timnya Queen Park Rangers melawan Persebaya di tahun 2012 tidak ada keinginan saya untuk nonton karena takut dengan "gilang" bonek dan suporter lainnya. Padahal itu juga laga persahabatan dan saya yakin harganya lebih bersahabat di kantong.

Lampu stadion yang mulai nyala tanda malam menyapa.


Hiburan penuup grup Crayon Pop yang kecil terlihat di tengah lapangan
dan memunggungi sektor tempat saya duduk


Semoga menonton sepak bola tim-tim Indonesia bisa senyaman nonton Running Man Members versus Tim Indonesia :)

Tuesday, October 7, 2014

It's Okay That's Love, A Reflection

Satu lagi drama Korea berhasil saya tonton sampai selesai. Judulnmya It’s Okay That’s Love. Pemeran utama prianya Jo In Sung, sangat amat menempel di ingatan saya. Teringat karena apanya ya? Karena acting dan filmnya yang menghebohkan macam Frozen Flower. Yang saya tahu Jo In Sung adalah actor handal. Banyak pujian karena aktingnya walaupun di drama romantisnya yang berjudul The Winter that Wind Blows gagal membuat saya tersentuh.

Drama seri It’s Okay That’s Love menceritakan tentang kisah cinta psikiater wanita dengan seorang penulis terkenal (diperankan Jo In Sung) yang ternyata seorang psizofrenia tanpa disadarinya. Saya sangat menyukai film ini. Tidak cheesy seperti drama percintaan lain dan memberikan pelajaran bagi penonton awam seperti saya tentang penyakit jiwa / gangguan mental.

Diceritakan dalam drama ini beberapa kasus gangguan jiwa. Walaupun sifatnya didramatisir untuk membumbui drama tetapi kasus-kasus seperti itu saya percaya ada. Setelah nonton beberapa episode dari drama ini bahkan saya berpikir bahwa saya mungkin juga mengalami gangguan kejiwaan. Saya rasa sih belum sampai taraf berbahaya tapi saya merasa bahwa jiwa saya terganggu. Kecanduan berinternet ria sebelum tidur dan efeknya susah tidur karena pikiran tidak tenang. Bahkan berusaha untuk tidur saja saya malas melakukannya. Wah wah…

Jika di dalam drama ini digambarkan otak manusia seperti puzzle yang tersusun dengan baik dan ketika satu kepingnya saja hilang bisa menyebabkan gangguan baik yang ringan sampai yang berat. Gangguan jiwa sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah lainnya. Hanya saja gangguan  jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa cemas, takut hingga yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau kita kenal sebagai gila.

Melalui drama ini saya belajar banyak. Pertama, belajar untuk paham bahwa penyakit kejiwaan sama dengan penyakit fisik lainnya. Orang yang sakit jiwa adalah pasien yang statusnya sama dengan pasien penyakit lain. Mereka bisa disembuhkan dan berhak diperlakukan sama dengan pasien penyakit lain apapun penyakitnya. Semua orang bisa terkena gangguan jiwa sampai sakit jiwa. Semua orang juga bisa terkena stroke dan penyakit jantung juga kan?

Yang kedua, orang gila di jalanan yang ngomong sendiri itu sepertinya penderita skizofrenia. Dugaan saya begitu. Dulu saya tidak tahu mengapa mereka bicara sendiri, tapi setelah nonton drama ini saya tahu bahwa mereka sebenarnya berhalusinasi. Tampaknya benar-benar ada seseorang yang berbicara dengan mereka padahal sebenarnya tidak. Perbedaan antara yang nyata dan tidak sangat absurd bagi mereka. Ah…sekarang saya tahu.

Pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya kemudian adalah, bisakah saya menerima seseorang dengan gangguan jiwa dalam hidup saya? Jika pacar berpenyakit jantung apakah kemudian saya jauhi? Jika tidak maka jika pacar punya gangguan jiwa apakah kemudian saya jauhi? Jika iya maka saya termasuk orang yang diskriminatif. Oh…saya tidak suka itu. Di drama ini si psikiater akhirnya menikah dengan penulis yang akhirnya sembuh dari skizofrenia. Pengobatan dan terapi rutin serta dukungan sekitar membuat penuli s sembuh dan tetap berkarya walau pernah berskizofrenia. Jadi harusnya saya dan Anda juga yakin bahwa penyakit jiwa juga bisa disembuhkan dan orang dengan penyakit jiwa juga berhak disayangi kan?

Stigma pada dengan penyakit kejiwaan mungkin lebih parah daripada orang dengan penyakit berbahaya lainnya. Penderita penyakit ini bisa hidup normal dan beraktivitas seperti biasa. Kadang bisa juga kumat, sama seperti penyakit lainnya. Berulang kali saya mengajarkan pada diri saya sendiri bahwa penyakit itu sama saja. Mau di badan mau di jiwa semuanya sama. Bisa diobati, bisa sembuh, bisa tidak. Asal diobati pasti tidak akan semakin parah. Asal dibantu maka penderita pasti akan merasa lebih baik.

Dulu saya pernah dekat dengan seseorang yang sebenarnya juga harus mendapat perawatan khusus dari psikiater dan secara rutin ia mengikuti diskusi dengan support groupnya. Ibunya penderita bipolar. Saat itu saya berpikir bahwa sakit yang dideritanya adalah penyakit turunan, dan saya sempat cemas dengan "masa depan" kami. Tapi sekarang saya paham lebih dari sekedar masalah genetik gangguan jiwa dan penyakit jiwa bisa menyerang semua orang.


Walaupun cerita dalam drama sedikit banyak dibuat mengharu biru, tetapi saya belajar bahwa cinta kasih dan dukungan sangat diperlukan untuk membuat orang dengan penyakit jiwa bisa hidup bahagia seperti orang lain. Toh life's a drama kan? Mari belajar dari drama ini untuk lebih menghargai, menyayangi, dan memberikan dukungan bagi teman-teman dengan gangguan dan penyakit kejiwaan di luar sana. Semoga Tuhan selalu merahmati dan melindungi kita semua...amin.