Tuesday, October 7, 2014

It's Okay That's Love, A Reflection

Satu lagi drama Korea berhasil saya tonton sampai selesai. Judulnmya It’s Okay That’s Love. Pemeran utama prianya Jo In Sung, sangat amat menempel di ingatan saya. Teringat karena apanya ya? Karena acting dan filmnya yang menghebohkan macam Frozen Flower. Yang saya tahu Jo In Sung adalah actor handal. Banyak pujian karena aktingnya walaupun di drama romantisnya yang berjudul The Winter that Wind Blows gagal membuat saya tersentuh.

Drama seri It’s Okay That’s Love menceritakan tentang kisah cinta psikiater wanita dengan seorang penulis terkenal (diperankan Jo In Sung) yang ternyata seorang psizofrenia tanpa disadarinya. Saya sangat menyukai film ini. Tidak cheesy seperti drama percintaan lain dan memberikan pelajaran bagi penonton awam seperti saya tentang penyakit jiwa / gangguan mental.

Diceritakan dalam drama ini beberapa kasus gangguan jiwa. Walaupun sifatnya didramatisir untuk membumbui drama tetapi kasus-kasus seperti itu saya percaya ada. Setelah nonton beberapa episode dari drama ini bahkan saya berpikir bahwa saya mungkin juga mengalami gangguan kejiwaan. Saya rasa sih belum sampai taraf berbahaya tapi saya merasa bahwa jiwa saya terganggu. Kecanduan berinternet ria sebelum tidur dan efeknya susah tidur karena pikiran tidak tenang. Bahkan berusaha untuk tidur saja saya malas melakukannya. Wah wah…

Jika di dalam drama ini digambarkan otak manusia seperti puzzle yang tersusun dengan baik dan ketika satu kepingnya saja hilang bisa menyebabkan gangguan baik yang ringan sampai yang berat. Gangguan jiwa sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah lainnya. Hanya saja gangguan  jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa cemas, takut hingga yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau kita kenal sebagai gila.

Melalui drama ini saya belajar banyak. Pertama, belajar untuk paham bahwa penyakit kejiwaan sama dengan penyakit fisik lainnya. Orang yang sakit jiwa adalah pasien yang statusnya sama dengan pasien penyakit lain. Mereka bisa disembuhkan dan berhak diperlakukan sama dengan pasien penyakit lain apapun penyakitnya. Semua orang bisa terkena gangguan jiwa sampai sakit jiwa. Semua orang juga bisa terkena stroke dan penyakit jantung juga kan?

Yang kedua, orang gila di jalanan yang ngomong sendiri itu sepertinya penderita skizofrenia. Dugaan saya begitu. Dulu saya tidak tahu mengapa mereka bicara sendiri, tapi setelah nonton drama ini saya tahu bahwa mereka sebenarnya berhalusinasi. Tampaknya benar-benar ada seseorang yang berbicara dengan mereka padahal sebenarnya tidak. Perbedaan antara yang nyata dan tidak sangat absurd bagi mereka. Ah…sekarang saya tahu.

Pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya kemudian adalah, bisakah saya menerima seseorang dengan gangguan jiwa dalam hidup saya? Jika pacar berpenyakit jantung apakah kemudian saya jauhi? Jika tidak maka jika pacar punya gangguan jiwa apakah kemudian saya jauhi? Jika iya maka saya termasuk orang yang diskriminatif. Oh…saya tidak suka itu. Di drama ini si psikiater akhirnya menikah dengan penulis yang akhirnya sembuh dari skizofrenia. Pengobatan dan terapi rutin serta dukungan sekitar membuat penuli s sembuh dan tetap berkarya walau pernah berskizofrenia. Jadi harusnya saya dan Anda juga yakin bahwa penyakit jiwa juga bisa disembuhkan dan orang dengan penyakit jiwa juga berhak disayangi kan?

Stigma pada dengan penyakit kejiwaan mungkin lebih parah daripada orang dengan penyakit berbahaya lainnya. Penderita penyakit ini bisa hidup normal dan beraktivitas seperti biasa. Kadang bisa juga kumat, sama seperti penyakit lainnya. Berulang kali saya mengajarkan pada diri saya sendiri bahwa penyakit itu sama saja. Mau di badan mau di jiwa semuanya sama. Bisa diobati, bisa sembuh, bisa tidak. Asal diobati pasti tidak akan semakin parah. Asal dibantu maka penderita pasti akan merasa lebih baik.

Dulu saya pernah dekat dengan seseorang yang sebenarnya juga harus mendapat perawatan khusus dari psikiater dan secara rutin ia mengikuti diskusi dengan support groupnya. Ibunya penderita bipolar. Saat itu saya berpikir bahwa sakit yang dideritanya adalah penyakit turunan, dan saya sempat cemas dengan "masa depan" kami. Tapi sekarang saya paham lebih dari sekedar masalah genetik gangguan jiwa dan penyakit jiwa bisa menyerang semua orang.


Walaupun cerita dalam drama sedikit banyak dibuat mengharu biru, tetapi saya belajar bahwa cinta kasih dan dukungan sangat diperlukan untuk membuat orang dengan penyakit jiwa bisa hidup bahagia seperti orang lain. Toh life's a drama kan? Mari belajar dari drama ini untuk lebih menghargai, menyayangi, dan memberikan dukungan bagi teman-teman dengan gangguan dan penyakit kejiwaan di luar sana. Semoga Tuhan selalu merahmati dan melindungi kita semua...amin.

No comments:

Post a Comment