Wednesday, October 29, 2014

Nonton Bola di Stadion Gelora Bung Karno

Posting ini telat sekali baru saya tulis. Kejadiannya sudah sejak 2 Juni yang lalu, ah tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Bagi saya ini pengalaman menarik karena tidak pernah terpikir jika saya bisa nonton pertandingan bola di Stadion GBK. Jika melihat berbagai pertandingan besar dan kehebohan suporter di stadion ini maka cukuplah untuk menciutkan nyali saya nonton bola secara langsung. Ah tapi saya kan bukan lagi penggemar sepak bola. Lantas mengapa saya tetap nekad nonton bola di sana?

Jadi ceritanya saya adalah penggemar variety show Korea bernama Running Man. Acaranya seru karena berisi aneka games lucu dan menarik. Para pemain variety show ini diundang oleh pemain bola legendaris Korea, Park Ji Sung untuk bermain bersama pemain-pemain bintang dunia lainnya termasuk Zambrotta melawan tim all stars Indonesia. Laga amal yang keuntungannya akan disumbangkan bagi pendidikan sepak bola anak-anak di tanah air ini sebenarnya juga disiarkan oleh salah satu stasiun TV nasional, tetapi karena saya adalah penggemar variety show ini maka wajib bagi saya untuk nonton. Hitung-hitung ini bisa jadi pengalaman sekali seumur hidup.

Saya merencanakan rencana kepergian bersama salah satu siswa perempuan di tempat saya bekerja. Shinta namanya. Dia juga yang terkena virus Running Man. Saya melontarkan ide untuk nonton, walaupun duit cekak karena waktu itu saya berencana berlebaran ke rumah bibi saya di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. "Untungnya" rencana gagal sehingga dari yang awalnya nonton di tribun saya rubah menjadi nonton di kelas VIP tribun barat. Tiket ini saya beli online setelah hampir 2 bulan menunggu tiket dijual secara resmi oleh penyelenggara acara. Tiketnya Rp. 750.000 belum termasuk pajak, biaya administrasi, dan biaya transfer. E-tiket yang saya dapat segera saya print dan saya simpan rapi di laci.

Sebelum hari pertandingan saya sempat berjalan-jalan dengan teman baik saya yang tinggal di seberang kampus Binus. Dari perjalanan itu paling tidak saya siudah mendapat gambaran tentang bentuk stadion Senayan. Saya salah besar ha ha. Stadionnya jauh masuk ke dalam dari jalan raya. Tapi paling tidak rasa penasaran sedikit terjawab. Acara dijadwalkan dimulai pukul 17:00 dan saya sudah menduga pasti baru disiarkan di TV sekitar pukul 18:30 layaknya pertandingan bola pada umumnya. Tapi karena tiket saya tidak bernomor alias penonton harus berebut mencari kursi yang paling strategis maka saya berencana datang pagi-pagi toh diinfokan di Twitter bahwa gerbang dalam akan dibuka pukul 14:00.

Dengan semangat saya bangun pagi, sarapan, dan langsung naik ojek dari komplek perumahan untuk menumpang bus AC Bianglala jurusan Ciledug - Pasar Senen. Dengan modal kenekatan dan sedikit kebodohan saya naik tanpa tahu jelas seberapa lama dan seberapa jauh perjalanan untuk mencapai stadion. Saya berangkat kira-kira pukul 9 pagi. Seperti biasa lalu lintas macet. Bus penuh sesak sehingga saya tidak bisa melihat ke luar, jendela pun dicat dengan warna body luar bus. Akhirnya saya memakai GPS yang sinyalnya ternyata kembang-kempis. Saya kurang ingat seberapa lama persisnya sampai ibu di sebelah saya mengingatkan bahwa Senayan sudah dekat. Terima kasih Ibu!! Saya turun menyeruak penuh sesaknya penumpang Senin pagi itu.

Para penonton yang berajalan di depan
saya menuju stadion yang sudah nampak
dari kejauhan
Setelah turun saya dan Shinta menepi dan berjalan ke arah halte bus untuk duduk dan mengamati keadaan. Saya tidak tahu kami turun di sisi mana stadion dan saya juga tidak tahu di mana pintu stadion. Ynag saya lihat cuma lapangan softball di kanan saya. Saya jalan saja lurus mengikuti naluri sampai kemudian berbelok dan kemudian melihat Hotel Atlet Century. Ah paling tidak sudah benar saya masuk wilayah Senayan itu pkir saya. Ada beberapa orang yang lalu lalalng tapi tidak nampak mereka akan nonton bola. Ada juga tukang ojek tapi saya pikir kami masih punya waktu dan saya benar-benar tidak ingin bertanya karena ingin "bertualang". Dari depan hotel saya berbelok kanan dan berjalan lurus sampai kemudian saya melihat ada gerbang pintu masuk dan kemudian ada lebih banyak orang berjalan dengan arah yang sama. Saya pikir pasti mereka akan menuju stadion. Dugaan saya tepat. Saya ternyata tidak masuk dari gerbang depan tapi toh sama saja saya melihat gagahnya stadion dari kejauhan. Yes...sudah tepat!
Belum banyak orang yang datang di luar dugaan saya. Kemungkinan masih banyak yang sekolah atau kuliah mengingat saat itu Senin pagi. Tenda-tenda promosi dari pihak sponsor juga masih baru dipasang. Saya sudah mencari gerbang masuk saya sesuai dengan kelas tiket yang saya pegang. Setelah puas mengamati satu sisi stadion saja saya melihat sekitar 4 orang duduk di ja;an di depan gerbang dalam. Mereka menunggu dari arah luar stadion. Setelah mendengar cerita ternyata mereka adalah yang berpengalaman nonton konser K-Pop Korea dan berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya penonton yang berada di dalam halaman di dalam gerbang dalam stadion akan diusir keluar. Mereka diminta mengantri lagi sebelum masuk rapi satu-satu ke dalam pintu stadion. Saya ikut saja mengantri. Semakin siang semakin banyak penonton datang. Mereka berseliweran di halaman dalam stadion sementara saya duduk bersila di tanah. Saya sudah mencium gelagat aneh, ah harusnya saya percaya insting saya. Area halaman penuh dan tidak ada petugas keamanan yang mengusir mereka keluar untuk mengantri.

Saya berpose di depan gerbang tempat saya harus masuk nantinya



Stadion yang masih sepi dan tenda sponsor yang baru dipasang.
Ini yang saya sebut halaman sisi dalam

Duduk mengantri untuk masuk ke sisi dalam stadion setelah sebelumnya
saya sudah dari sana. Laki-laki berpakaian hitam adalah
panitia acara
Waktu berjalan cukup lambat. Menunggu memang "menyakitkan". Para calon penonton ulai berteriak heboh ingin masuk ke halaman stadion sementara yang didalam diteriaki diminta untuk keluar dan mengantri. Hampir pukul 3 gerbang pagar dengan hanya 2 orang penjaga berbaju hitam membuka pintu dan mulailah antrian diserobot kiri kanan dan berebut lari masuk. Wuiiih..ributnya...untung cuma satu pintu. Saya antri lagi di pintu masuk stadion sesuai kelas saya, VIP Barat. Dan...saya di antrian tengah. Saya emngantri lagi berdiri dan duduk hampir 2 jam. Bedanya di antrian ini tidak ada yang berteriak-teriak heboh minta masuk. Tiket-tiket mulai disiapkan dan bahkan ada yang menyimpannya dalam map (e-tiket) karena dari infor pihak penyelenggara tiket tidak boleh sobek dan harus terbaca dengan jelas.  Tiketnya ber-barcode. Tetapi apa yang terjadi? Saya pikir tiket bakal discan satu-satu ternyata cuma disobek ujungnya saja. Infonya tidak boleh bawa makan dan minum di dalam stadion dan tas akan diperiksa tapi nyatanya tas plastik berisi makanan ringan milik Shinta saya juga tidak diperiksa. Tapi karena isinya tinggal 1 kue maka ditinggal. Penonton masuk bergerombol, bukan satu-satu.

Masuk ke dalam stadion tampak bangunan yang kurang terawat. Saya menaiki beberapa tangga dan dari awal sudah berikrar untuk tidak akan ke kamar kecil. Saya tidak tega melihat penampakannya walaupun ini asumsi saja setelah membaca beberapa cerita teman-teman yang menulis di blog. Setelah itu saya sampai di tempat duduk saya dan berusaha mencari yang pas. Tidak bisa mendapat barisan depan tapi buat saya cukuplah di barisan tempat saya duduk itu. Kursi stadion hanya papan kayu bercat yang diberi sekat kecil untuk memastikan pantat kita menempati bagiannya ha ha. Saya pikir untuk yang VIP paling tidak berkursi dengan sandaran ha ha...mimpi!!!

Ini adalah penanda yang ada di sekitar stadion. Rupanya satu sektor di
VIP Timur khusus untuk siswa dan staf sekolah Jakarta International Korea School


Saya dengan balon tepuk gratis yang disediakan oleh panitia.
Saya datang lumayan awal di dalam stadion karena sisi lain stadion masih sepi.
Bahkan beberapa deret kursi di belakang saya masih sepi  

Senangnya sih lapangan terlihat seperti permadani hijau dan terlihat kecil. Tidak seluas seperti jika nonton di TV. Sambil menunggu acara berlangsung diputar lagu-lagu Korea yang hebatnya bisa dinyanyikan oleh semua penonton yang mayoritas perempuan. Saya menunggu sembari berpeluh hebat karena tepat saya menghadap ke barat di mana matahari terik sedang mulai tenggelam. Penjual minuman datang menjajakan dagangan yang langsung diserbu. Sebotol iar mineral yang biasanya Rp.3000 dijual Rp.10,000. Dan hari itu saya menghabiskan Rp. 40,000 hanya untuk minuman!

Stadion tidak terisi penuh  terutama di bagian tribun. Tetapi di kelas VVIP, VIP, Kelas I dan II tampak penuh. Saya bersama ribuan penonton lainnya bersorak sorai dan menyemangati tim Park Ji Sung cs dan tim Indonesia. Dari tim Indonesia tidak banyak pemain yang saya tahu. Layar besar stadion tidak menayangkan secara real time jadi saya membelalakkan mata ikut bersorak sorai. Mungkin karena bukan penonton bola profesional yang bisa menyanyikan mars klub jadi gemuruh suara pendukung tidak seheboh yang saya bayangkan. Menurut beberapa artikel yang saya baca nonton langsung bisa bikin merinding karena suara pendukung dan sorakan ketika gol dibuat benar-benar tiada bandingan. Sekali lagi saya salah. Karena ketika sampai di rumah saya langsung cek di YouTube dan pertandingan yang disiarkan di TV ini diupload. Ternyata stadion riuh ramai oleh teriakan, sorakan, dukungan, dan histeria penonton yang umumnya wanita ini. Saya baru sadar ternyata salah satu penyumbang kehebohan itu suara saya ha ha.










Saya berteriak-teriak puas selama pertandingan. Bahkan menyanyi bersama saat istirahat turun minum dan saat pertandingan berakhir. Setelah pertandingan berakhir ada hiburan 2 lagu dari band perempuan Korea - Crayon Pop sebagai bintang tamu. Saya ikut menyanyi dan berjoget bersama. Senang sekali karena satu stadion isinya penggemar K-pop ha ha. Tidak ada yang pro satu tim. Semua mendukung kedua tim. Apapun hasilnya semua puas karena ini pertandingan persahabatan, pertandingan hip hip hura. Andai saja pertandingan sepak bola yang sebenarnya juga se-bersahabat seperti yang satu ini mungkin saya akan dengan senang hati nonton secara langsung di stadion walaupun saya bukan penggemar berat sepak bola. Di tempat saya tinggal di Surabaya stadion Bung Tomo letaknya tidak terlalu jauh. Dan saat Park Ji Sung melakukan laga persahabatan bersama timnya Queen Park Rangers melawan Persebaya di tahun 2012 tidak ada keinginan saya untuk nonton karena takut dengan "gilang" bonek dan suporter lainnya. Padahal itu juga laga persahabatan dan saya yakin harganya lebih bersahabat di kantong.

Lampu stadion yang mulai nyala tanda malam menyapa.


Hiburan penuup grup Crayon Pop yang kecil terlihat di tengah lapangan
dan memunggungi sektor tempat saya duduk


Semoga menonton sepak bola tim-tim Indonesia bisa senyaman nonton Running Man Members versus Tim Indonesia :)

1 comment: