Thursday, March 19, 2015

Ke Jakarta Aku Datang, Taeyang! (Bagian ketiga)

“Berbulan-bulan menanti, berhari-hari teracuni, berjam-jam duduk dan berdiri, dua jam menari, sebulan kemudian terdokumentasi.”

Hai, Anda berada di posting ketiga saya tentang konser Taeyang di Jakarta. Ini cerita saya dari Surabaya menuju ke Jakarta. Tepat sebelum konser Taeyang saya harus lembur dan benar-benar bekerja ekstra keras. Ada pekerjaan penting yang harus selesai sebelum hari Jumat. Konser di hari Sabtu dan di hari Kamis dari pagi sampai malam saya masih harus pergi ke sana kemari mengurus pekerjaan dan hal lain.

Oh ya ada yang saya lupa ceritakan, sekiranya di Jakarta saya akan bertemu teman baik saya. Saya sudah memberitahukan kepadanya tentang rencana kedatangan saya. Dan karena tidak ada kabar berita darinya menjelang konser saya memberanikan diri untuk bertanya kembali. Dulu dia dan pacarnya yang membantu saya di Jakarta ketika saya nonton pertandingan amal sepakbola tim Park Ji Sung dan Running Man melawan tim Indonesia all stars. Karena murid saya yang akan ikut tidak mungkin saya tinggalkan seorang diri ketika saya nonton konser jadi saya harus mencari “baby sitter” untuknya haha.

Baru saya tahu kemudian bahwa teman baik saya ini sedang ada masalah dengan pacarnya (sekarang mantan pacar). Dia patah hati. Waduh..”tepat sekali” momennya. Saya cemas dan sangat berharap paling tidak dia bisa meluangkan waktu untuk menemani mantan murid saya. Untungnya dia bersedia.

H-1 saya baru menyiapkan apa yang saya bawa. Saya hanya membawa tas jinjing dan tas kecil yang saya masukkan di dalamnya. Saya hanya akan membawa sling bag yang mini berisi crown stick dan beberapa hal kecil saja. Saya ingin jingkrak-jingkrak dengan bebas di konser. Tas jinjing akan dibawa Dewi, si mantan murid itu. Sekitar pukul 19:00 kami meninggalkan rumah dan bertaxi menuju stasiun Pasar Turi. Kereta akan berangkat pukul 20:45. Kami tiba pukul 19:40 dan masih punya banyak waktu. Jadi saya memutuskan untuk mengisi perut. Saya harus makan sebanyak mungkin karena keesokan harinya hal besar yang melelahkan menunggu.

Saya membawa banyak buah untuk bekal di kereta karena saya tidak suka roti dan saya makan mi instan sebelum kereta berangkat. Hebatnya kereta udah masuk di stasiun pukul 20:00 ketika saya melahap mi instan panas saya. Dengan sedikit tergopoh karena pikiran mulai kurang konsentrasi saking inginnya sampai, saya menghabiskan mi segera dan masuk stasiun. Setelah mencari gerbong, saya duduk manis dan Dewi mulai jeprat-jepret di dalam stasiun. Ini adalah perjalanan panjangnya dengan kereta api.

Saya dan Dewi (berjaket merah) di dalam KA Ekonomi AC Kertajaya

Kereta api ekonomi AC Kertajaya yang nyaman berjalan pasti sampai Stasiun Pasar Senen Jakarta dan berhenti banyak sekali di stasiun-stasiun. Padalah seingat saya pada perjalanan dengan kereta api yang sama arah sebaliknya kereta sangat jarang berhenti. Nah inilah perjalanan selama hampir 11 jam yang membuat saya duduk lama sekali.  Lamanya saya duduk ini akan diganjar habis dengan lama berdiri di konser J

Saya tiba di Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 07:45. Mengisi perut di warung sekitar Stasiun yang nasi dan harganya sangat amat mengecewakan. Tapi penjualnya ramah sekali.

Oh ya masalah lain yang saya punya selain jatuhnya Air Asia, teman baik saya yang patah hati, adalah banjir Jakarta. Saya sempat khawatir jalan menuju stadion akan terganggu. Cuaca juga mendung romantic di pagi hari. Wah… saya hanya bisa berharap dan berdoa semuanya lancar. Karena saya takut jalanan akan macet maka saya memutuskan untuk naik Bianglala AC 44 jurusan Ciledug – Blok M yang dulu juga saya naiki tapi dari arah Ciledug ke kota.

Pergi ke stadion Senayan dari Stasiun Pasar Senen mudah sekali. Tinggal keluar stasiun dan menunggu Bus AC ini datang. Saya sangat beruntung belum sampai 3 menit bus datang dan saya naik langsung ke bus setelah titip pesan pada kenek untuk diturunkan di Senayan. Tarifnya Cuma naik 500 rupiah dari 6 bulan yang lalu saya terakhir naik. Dari 7000 rupiah ke 7500 rupiah. Saya memantau GPS untuk tahu seberapa jauh saya akan turun. Kami melewati banyak tempat penting di kota. Sampai lewat Istana Negara dan juga sisi Monas. Dewi bisa puas melihat kiri-kanan walaupun jendela bus tertutup stiker besar. Sampai sekiranya mendekati Senayan sesuai GPS saya minta Dewi untuk berdiri dan kami berdua mendekati pintu keluar.

Nah ini masalahnya, kondektur bertanya sesuatu yang saya kurang dengar dengan jelas. Dewi mengiyakan, dia turun, saya ragu tapi tetap turun. Dan tahukah Anda kami turun di mana? Di Kampus UNIKA Atma Jaya. What??? Loh masih jauh. Oh my god. Dari peta GPS sih tampak dekat tapi setelah dilihat di sisi jalan raya dengan jembatan penyeberangan dan jembatan menuju halte tunggu busway yang malang melintang itu saya puyeng juga!

Tapi, ketika “tersesat” yang penting tenangkan diri dan berjalan saja. Saya berjalan sambal menengok haru smengambil arah mana. Yang jelas harus jalan lurus tapi ke cabang jalan seberang. Masalahnya terpisah gedung tinggi dan tidak mungkin diseberangi. Jadi setelah jalan sana sini, naik turun jembatan penyeberangan sambal bertanya, karena saya tidak melihat papan jalan ynag menunjukkan arah Senayan, kami sampai juga di Senayan. Kami berjalan kurang lebih 30 menit berpeluh dan saya sedikit mengomel tapi tak berdaya. Dewi juga merasa bersalah tapi tetap santai bahagia. Ah…pengalaman, jalan pagi di Jakarta.

Sampai di kompleks Senayan yang sama dengan yang saya kunjungi 6 bulan yang lalu saya bertanya di mana Tennis Indoor Senayan, jawaban Pak Satpamnya, “Wah jauh banget Mbak. Jalan lurus ke arah pintu keluar belok kanan lurus terus. Di pojokan hampir jalan habis nanti belok kanan masuk.” Baiklah, saya akan berjalan lagi di tempat yang “jauh banget” itu. Saya mengabaikan tukang ojek yang menawarkan jasa. Saya sudah pernah jalan 2,5 kali dari Taman Bungkul sampai Pelabuhan Kalimas Surabaya yang jaraknya kurang lebih 30 km itu jadi jarak yang bapak satpam bilang “jauh banget” itu pasti hanyalah jarak yang “masuk akal”. Dan…ya jauh juga ha ha. Kami berjalan sekitar 20 menit. Dewi ingin sekali berfoto-foto dan saya ingin segera sampai. Maaf Dewi, saya yang berkuasa ha ha. Akhirnya kami sampai juga.

Begitu saya melihat umbul-umbul a.k.a banner Taeyang RISE Solo Concert Jakarta 2015 langsung saya semangat. Oke..kita sudah sampai. Tennis Indoor belum terlihat. Masih terlihat parkiran mobil yang belum banyak. Di banner tertulis bahwa open gate jam 17:30 dan soundcheck pukul 15:30. Apa? Masih menunggu 6 jam lagi? Well… itu resikonya datang langsung dari stadion ha ha. Dewi sudah lemas tak bertenaga karena dia masih lapar, ingin melarikan diri menikmati keindahan Jakarta dan saya sibuk observasi keadaan sekitar.

Tennis Indoor Senayan itu, gedungnya, jelek. Tidak bagus. Oh saying sekali. Paling tidak warnanya lebih cerah dan terlihat seperti venue konser internasional lah. Saya melihat booth penjualan tiket. Saya menghampiri dan melihat sosok yang sepertinya saya kenal. Ya, ada Tike Priatnakusumah si selebriti itu yang juga membantu promotor. Sempat berniat ingin minta foto bareng tapi..ah sudahlah batal saja. Saya menukarkan bukti pembelian tiket plus surat kuasa plus KTP bos plus kartu kredit bos. Kemudian ditukar dengan tiket asli. Dan kemudian saya masih membeli lagi tiket fast track yang dijanjikan promotor akan bisa masuk lebih cpeat 30 menit. Harga tiketnya 300 ribu. Dengan harapan masuk lebih awal berarti pandangan lebih jelas, saya beli juga tiket fast track itu.
Fan yang datang saat itu tidak teralu banyak. Sebenarnya sampai siang hari sekitar pukul 2 siang tidak terlalu banyak fans yang datang. Pantas saja promotor mengeluh sepi. Saya kira akan membludak banjir penonton.



Tiket Konser
Ticket box


Saya duduk menunggu bersama Dewi di dekat kerumunan penjual. Banyak sekali souvenir yang ditawarkan. Menarik! Ingin beli tapi tahan dompet. Penjual di sebelah saya mengeluhkan betapa sepinya konser ini dibandingkan konser K-pop artis macam Super Junior dan EXO yang pernah datang dan dipenuhi anak-anak SMA ABG yang kabarnya lebih royal daripada penggemar Taeyang yang sudah dewasa dan tidak asal jajan ini he he. Ada juga cerita dari penjual yang menceritakan betapa terkejutnya dia karena di konser BIGBANG sebelumnya dia dikejar-kejar oleh pihak manajemen karena menjual merchandise KW alias tiruan. Rupanya di konser BIGBANG sebelumnya pihak manajemen BIGBANG bersama menjual merchandise asli dan si penjual dijebak oleh “bule Korea: yang tak lain dan tak bukan adalah dari pihak YG Entertainment – manajemen BIGBANG. Dia dikejar dan lari pontang-panting tapi berhasil lolos.



Dalam penantian mulainya konser menukarkan bukti donasi dengan kipas yang akan diangkat bersamaan di tengah konser itu. Saya cari panitia dan ketemu. Kipasnya ternyata benar-benar kipas kertas. Parahnya, dan kasiannya, kipas yang akan dibagikan pada penonton lain salah cetak. Kualitas kertasnya tidak bagus dan tipis. Panitia menjelaskan bahwa hanya separuh dari uang donasi yang digunakan. Sisa donasi digunakan untuk membeli souvenir untuk Taeyang. Menurut informasi, souvenir ini sudah dititipkan pada staf promotor dan semoga benar-benar sampai di tangan Taeyang. Jika dia menerimanya maka ada uang saya beberapa ribu di sana ha ha.


Bersama Dewi yang walaupun galau untuk urusan foto tetap eksis. Saya memegang hand fan kertas
dari kegiatan donasi.


Lama duduk berpanas ria sambal berusaha menghibur hati Dewi yang galau, akhirnya waktu sholat Dhuhur datang. Saya sholat dan kami beristirahat di dalam musholla yang Alhamdulillah dekat saja dari venue. Bersebelahan langsung. Saya melihat beberapa staf juga sholat, staf YG tidak ada yang muslim jadi tidak ada yang sholat, andai Taeyang sholat juga ha ha…harapan semu se-semu-semunya wkwkwkwkwk.
Mengisi perut dengan nasi goreng enak
porsi kecil, harga premium

Sekitar pukul 12:30 saya menghubungi teman saya dan dia menyanggupi akan mengantar Dewi jalan-jalan keliling Jakarta di sekitaran Monas tentunya karena tidak ada lagi si pacar dengan mobilnya yang sebelumnya bisa mengantarkan kami keliling-keliling. Ah untuk bantuannya ini saja saya sudah berterima kasih sebesar-besarnya. Karena teman saya masih harus bekerja sampai pukul 2 Dewi masih harus bersabar. Pukul 1 siang saya keluar dari musholla dan saya makan di warung tenda dekat ticket box. Saya harus makan, harus ada energi atau jika tidak saya pingsan.

Pukul 2 kurang Dewi pamit mengojek untuk bertemu teman saya dan saya melangkah masuk entrance gate. Dibandingkan acara Asia Dream Cup 2014 pemeriksaan tiket lebih baik. Tiket diperiksa dengan teliti dan barcode discan. Tapi…pengaturan barisan kacau balau. Harusnya pihak panitia sudah memilah penonton yang masuk ke dalam halaman venue. Banyak yang sudah mengantri dari pagi termasuk kawan yang saya temui di teras Tennis Indoor. Mereka sudah datang mulai jam 8 pagi. Duduk mengantri dan kemudian antrian buyar dan terjadi ketegangan yang sangat tegang sebelum kami masuk.

Jadi, seorang staf keamanan berbadan tinggi besar sebut saja Pak A, membawa megaphone dan berteriak-teriak yang tidak saya dengar. Fans menggerombol di dekat sisi masuk menjauh dari teras. Rupanya mereka adalah pemenang nonton soundcheck gratis. Saya dapat mendengar dari luar mereka teriak histeris dari dalam venue dan saya mendengar suara musik dan suara Taeyang! Masih belum percaya dia benar-benar datang.

Saya dan dua teman baru saya, bertemu dalam antrian menunggu konser dimulai

Setelah penonton soundcheck keluar lagi tidak lama ada kerumunan lagi. Ada 2 bule cewek Korea yang dikerumuni. Oh mereka ini adalah staf dari fan club Taeyang di Korea yang membagikan kipas dan pin. Fans mengantri? Oh hampir mustahil! Mereka dikerumuni dank arena tak berdaya akhirnya mereka tidak mau membagi dan meminta penonton mengantri. Mereka pindah tempat berdiri dan saya ikuti saja. Saya ikut mengantri dan..saya dapatkan kipas dan pin-nya. Langsung dari Korea. Hanya setelah beberapa orang sesudah saya, kipas dan pin habis. Oh beruntungnya saya.


Kipas tangan atau lebih tepatny aplakat plastik dari Fan Group Taeyang asli dari Korea loh.
Ini bagian depan dan belakang plakatnya


Masalah muncul setelahnya. Tepat ketika kami harusnya masuk setelah penonton soundcheck keluar. Saya tidak terlalu kecewa tidak nonton soundcheck karena di jadwal jarak antar asoundheck dan open gate hanya 1.5 jam jadi saya rasa soundcheck tidak akan lebih dari 30 menit. Dan benar saja kira-kira janya 20 menit penonton yang beruntung itu bisa nonton Taeyang check sound sebelum konser. Setelah mereka keluar penonton campur aduk lagi. Tidak ada pemisah barisan dan petunjuk di mana penonton harus mengantri. Harusnya panitia sudah membuat pembatas barisan untuk penonton berdasarkan kelasnya, terutama yang punya tiket fast track. Oleh panitia dijanjikan yang ounya tiket fast track bisa masuk 30 menit lebih awal. Nah tiket fast track ini dijual banyak sekali untuk semua kelas kecuali VIP yang bernomor. Saya tidak tahu pasti siapa yang dimasukkan terlebih dulu ke dalam venue oleh Pak A.

Pak A dengan megaphone yang suaranya tidak mega itu menyuruh kami berbaris sambal berteriak fast track festival fast track festival. Kami berbaris tabrak menabrak dan kemudiad dia bilang barisan dibagi dua. Kami membagi diri jadi 2 barisan kiri dan kanan. Kami berdiri lama sekali. Petugas menata barisan. Kelompok lain dari kelas lain juga dibariskan. Oh…bukankah lebih adil dan rapi jika batas barian sudah ada jadi mereka yang sudah antri dari pagi baik dengan atau tanpa tiket fast tracknya bisa duduk manis atau berdiri tenang mengantri. Amburadul kami jadinya.  
Petugas memeriksa bawaan kami karena makanan dan air minum tidak boleh dibawa masuk. Dan pemeriksaan dilakukan sekitar hampir 40 menit sebelum masuk dan saya serta penonton lain mulai haus. Saya rasa harusnya sebelum masuk baru dicek sehingga paling tidak kami bisa minum dan menghimpun energi.

Kekacauan ini belum dimulai karena tidak lama ketika mulai ada penonton yang dimasukkan ke dalam venue teriakan protes diteriakkan. Dari yang saya dengar Pak A memasukkan barisan penonton yang tadinya penonton soundcheck yang tidak punya tiket fast track. Entah bagaimana si mbak itu tahu tapi dia beserta penonton lain jauh di depan saya memaki-maki protes. Dibentak kembali oleh Pak A dan saling bentak dengan sengit terjadi. Intinya kami yang fast track festival ini berhak masuk duluan tapi mengapa kelas lain yang tidak fast track malah dimasukkan. Sampai gemetaran saya, antara ngeri dengar bentak-bentakan itu, lemas berdiri, dan deg-degan ingin masuk. 

Adu mulut ini berlangsung sekitar 10 menit disusul protes-protes selama kurang lebih 10 menit lagi jadi totalnya sekitar 20 menitan. Staf Taeynag dari YG Entertainment sampai keluar dan dengan muka santainya ikut nimbrung bercakap-cakap mendengar masalah. Saya tidak melihat dengan jelas tapi salut untuk si Mbak yang berteriak dan membentak balik Pak A yang tidak adil itu.

Parahnya Pak A kemudian mepersilakan barisan fast track festival barisan sisi kiri untuk masuk duluan, tentu saja saya dan lainnya di barisan sisi kanan protes. Dia membagi barisan yang awalnya satu baris jadi dua baris dan mengapa yang sisi kiri dimasukkan duluan. Oh Pak A ini super menyebalkan. Akhirnya 2 petugas polisi yang seragam dinasnya tidak sementereng Pak A dan kawannya datang. Ini baru adil. Dia mempersilakan 5 orang dari sisi kiri masuk disusul 5 orang dari sisi kanan begitu bergantian. Ah mengapa Pak A tidak berpikir dan hanya bisa berteriak memekakkan telinga. Sebal!

Ketika giliran saya, saya masuk melewati 1 pintu metal detector. 2 tiket tanpa diperiksa langsung disobek. Saya berlari da nada petugas tepat di pintu masuk venue. Kepulan asap putih dari pendingin udara menyeruak dan sudah banyak sekali orang di depan panggung. Saya berdiri di sisi kanan panggung. Sisi tengah sudah penuh dan saya hitung saya di baris ke empat dair depan. Ah lumayan piker saya. Lumayan atau tidak apapun yang terjadi ya harus dinikmati. Inilah konser. Jika tak duduk di kursi bernomor mungkin Anda akan di barisan depan atau di barisang belakang. Just enjoy… itu pesan Christian Sugiono untuk penonton konser. Well..jika tidak terjadi kehebohan barisan yang akan masuk venue sih saya masih enjoy. Tapi ketika sudah di depan panggung saya tidak lagi ingat apa yang terjadi sebelumnya.

Saya di dalam venue. Gambr blur karena saya sudah gemetaran gugup ha ha.
Barisan kursi kuning di belakang saya adalah kursi untuk penonton tribun

Tepat pilihan saya, sisi tribun VIP jauh di belakang. Panggungnya kecil saja macam panggung Pentas Seni sekolah tapi giant screen di depan serta di kanan dan kiri atas lumayan membantu. Cerita konser akan saya ceritakan di posting saya keempat. Perlu Anda tahu, hanya menuliskan kembali ingatan saya akan konser saja sudah membuat saya deg-degan lagi he he. Kegilaan ini…sungguh konyol ha ha. Lanjut baca di post ini ya.





Sebelum Berkonser (Bagian 2)

“Berbulan-bulan menanti, berhari-hari teracuni, berjam-jam duduk dan berdiri, dua jam menari, sebulan kemudian terdokumentasi.”

Kutipan ini saya pakai kembali di posting saya untuk mengingatkan pada Anda betapa kegilaan pada bintang idola itu seperti racun tapi manis sekali ha ha. Jadi bagian penantian dan keracunansudah Anda baca di bagian pertama. Sekarang saya akan menceritakan hal-hal yang saya lakukan sebelum konser.

Jauh sebelum tanggal konser saya sudah menyusun rencana perjalanan dengan sangat detil. Semuanya di kepala! Saya juga sudah menyebarkan berita rencana kepergian saya untuk mencari teman seperjalanan. Walaupun tidak ada teman saya sudah bertekad untuk berangkat sendiri. Tiket kereta dan pesawat sudah saya cek. Saya memutuskan untuk berangkat naik kereta untuk menghemat ongkos dan juga saya berniat pulang naik pesawat agar tidak terlalu capek di jalan. Menginap di mana? Menginap di bandara! Hemat! Ha ha.

Teman sudah saya dapat. Salah satu mantan siswa saya ingin jalan-jalan ke Jakarta. Dia bukan penggemar Korea jadi saya akan nonton konser sendiri. Tidak masalah. Setelah dia memberikan kepastian saya langsung membeli tiket kereta dan jarak seminggu sesudahnya saya membeli tiket pesawat. Saya membeli tiket Air Asia dan sekitar hampir 2 minggu sesudahnya muncul berita hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 rute Surabaya – Singapura. Saya mendapat kabar dari kakak saya via pesan singkat. Wel.. saya bohong jika saya bilang tidak khawatir. Saya sedikit deg-degan dan kemudian pasrah saja. Tidak semua pesawat atau lebih tepatnya tidak semua penerbangan bernasib sama dengan si QZ 8501 yang hilang dan kemudian diketahui jatuh itu. Masalahnya adalah peristiwa jatuhnya Air Asia diblow up dan diberitakan tak henti-hentinya dari pagi hingga paginya lagi. Selama berhari-hari, berminggu-minggu kemudian. Saya berdoa semoga perjalanan diberikan kelancaran, itu saja. Maut tak dapat ditolak.

Imbas dari jatuhnya QZ 8501 adalah harga tiket turun dari sekitar 380 ribu di website jadi sekitar 320 ribu sekitar 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan saya. Dan sekitar seminggu sebelum tanggal keberangkatan saya mendapat pesan singkat dari Air Asia dalam bahasa Inggris yang menginformasikan bahwa penerbangan saya pada pukul 05.30 ditiadakan dan dialihkan ke pukul 07.20. Ups…apakah itu akibat investigasi pemerintah tentang penerbangan-penerbangan yang menyalahi jadwal ijin terbang? Saya tidak tahu pasti yang jelas saya mengkonfirmasikan ulang pada pihak Air Asia via live chat yang sangat membantu. Saya cukup puas dengan respon cepat mereka walaupun via live chat. Mereka mengirimkan ulang tiket pesawat dengan jadwal baru, walaupun tiket yang lama masih bisa dipakai.

Pemberitahuan penghapusan penerbangan QZ7696 via sms dari pihak Air Asia

Selain tiket kereta dan pesawat tentunya hal yang tidak boleh dilewatkan adalah kostum! Baju untuk nonton konser. Para pedagang online dengan cermat dan pintarnya sudah memantau beberapa tweet para penggemar sehingga mereka menawarkan barang dagangannya. Jadilah saya membeli T-shirt dengan logo RISE album terbaru Taeyang di bagian dada depan seharga 90 ribu.

Saya berkaos RISE Taeyang, sayang kualitas kaos tidak setebal yang saya harapkan.

Selain kaos saya sebenarnya ingin punya crown stick BIGBANG yang jadi benda “wajib” untuk diayun-ayunkan sepanjang konser. Walaupun saya sempat berpikir ah..buat apa toh yang penting datang dan menikmati akhirnya saya beli juga he he. Pihak manajemen BIGBANG sangat pintar berbisnis! Crown stick pun ada generasinya bukan hanya smartphone. Yang saya punya generasi 2, versi lama, yang saya beli setelah tanpa sengaja membaca tweet salah seorang admin fan group YG Indonesia. Saya beli seharga 175 ribu beserta ongkos kirimnya pas 200 ribu. Jadi tiket kereta, tiket pesawat, kaos, dan crown stick sudah siap. Sebenarnya justru tiket konser yang belum saya punya ha ha. Yang sudah siap hanyalah bukti pembelian yang harus ditukar dengan tiket asli. Saya sempat melihat postingan para fans yang sudah membeli tiket dan memamerkannya di twitter. Ingin sekali memegang dan melihat wujud aslinya. Saya masih harus bersabar.

Hal lain yang saya lakukan sebelum konser adalah memantau tweet dari:
  1.  Promotor konser – memantau perubahan jadwal atau informasi lain.
  2.  Penjual tiket – sekiranya ada perubahan atau info lain juga.
  3.  Fan group dan saya mendapat informasi adanya proyek khusus. Mereka mengumpulkan donasi untuk membuat kipas tangan yang natinya akan diangkat bersamaan ketika salah satu lagu dinyanyikan di konser. Betapa kreatifnya! Donasi minimal sebesar 25.000 dan pendonasi akan mendapat satu kipas tangan. Saya mendaftar juga untuk berdonasi. Sebenarnya lagu yang dipilih bukan merupakan lagu favorit saya. Bahkan sebenarnya lagu ini yang paling tidak saya suka di album Taeyang, saya tidak hafal sedikitpun. Tapi demi kebersamaan dan sekali lagi saya ingin benar-benar total di konser ini, maka saya berdonasi dan mencoba mengingat-ingat yang mana lagunya Saya tidak ingin malu salah mengangkat kipas ha ha.

Kipas hasil donasi. Hasil jadi persis seperti ini. Sayang kurang sip kipasnya.Tapi saya salut dengan ide
panitia dari Bigbang Indonesia


Dari mengikuti tweets ini saya membaca informasi salah satu fan group Taeyang dari Korea akan datang dan membagikan pin serta kipas tangan gratis untuk para fans. Tentu saja jumlahnya terbatas. Jadi saya selalu memantau informasi tentang ini. Saya penasaran apa yang akan dibagikan he he.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Mari menuju Jakarta. Lanjut ke posting ini ya.

Deg-degan Taeyang (Bagian 1)

“Berbulan-bulan menanti, berhari-hari teracuni, berjam-jam duduk dan berdiri, dua jam menari, sebulan kemudian terdokumentasi.”

Ijinkan saya membuat kutipan untuk mengawali tulisan saya kali ini. Khusus penggemar K-pop ini mungkin mneraik, buat Anda penggemar K-pop, baca sajalah. Toh semua yang ada di blog ini kan tentang saya dan semua yang saya alami. Jika Anda sudah berada di halaman ini, buat apa mundur, silakan dinikmati J
Usia saya memang tidak lagi remaja, tapi kegemaran saya akan idol group BIGBANG sepertinya tidak akan terobati. Saya tidak akan membahas panjang lebar mengapa saya menyukai grup tersebut. Kali ini saya hanya berbagi cerita tentang pengalaman pertama saya nonton konser solo anggota BIGBANG yang bernama Taeyang.

Tahun lalu sekitar bulan Juni 2014 Taeyang, personil BIGBANG yang bersuara emas ini meluncurkan album solo keduanya yang berjudul RISE. Nama panggung Taeyang sendiri dalam bahasa Korea artinya matahari. 4 tahun setelah meluncurkan album pertamanya dia benar-benar terbit dan bersinar, sesuai logo album dan nama albumnya RISE. Saya suka hampir semua lagu di album itu. Sebesar apapun rasa cinta saya padanya toh tetap saja saya tidak mampu menghafalkan lirik 1 lagu secara utuh, apalagi 1 album ha ha.

Saya mengikuti berita tentang konsernya di ASIA yang sebenarnya cuma dilangsungkan di Seoul, Korea Negara asalnya dan jika tidak salah di 4 kota Jepang lainnya. Ini to yang dinamakan Asia? Ha ha. Ketika iklan dan promosi tentang konser ASIA-nya meledak saya sudah sempat cemas, apakah saya punya cukup uang dan waktu untuk menabung untuk bisa pergi ke konser tersebut. Beruntung konser hanya terselenggara di “ASIA”. Sekitar 2 bulan setelahnya promosi, kabar akan konser INTERNASIONAL alias WORLD TOUR mulai disebarkan oleh pihak manajemen. Di saat itulah saya mulai panik. Setengah berharap Indonesia akan masuk daftar dan setengah berharap konser tidak dilangsungkan dalam waktu dekat. Ketika saya tahu Indonesia masuk dalam daftar saya langsung senang plus tidak bisa tidur. Perlu Anda tahu, berdasarkan tes kepribadian saya adalah tipe mediator (INFP) yang imajinatif dan lebih sibuk memikirkan hal-hal yang sifatnya imajiner dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Jadi bukannya saya sibuk memikirkan mengatur jadwal kerja, menghitung keuangan dengan cermat, dan lainnya saya malah mulai membayangkan perjalanan saya kira-kira seperti apa, bentuk panggungnya seperti apa dll.

Pada aplikasi jadwal konser yang kemudian terupload di Facebook resmi Taeyang, nama Indonesia tercantum setelah Singapura tanpa tanggal, waktu, dan tempat konser. Saya mulai membuat prediksi kapan konser akan dilaksanakan dengan melihat pola waktu konser pada jadwal di Negara lain yang sudah ada. Saya lihat konser dilaksanakan di hari Sabtu atau Minggu. Maka saya memprediksi konser akan berlangsung di bulan Februari. Sambil tetap berharap konser dilaksanakan di bulan Maret setelah gajian atau di akhir Maret yang tampaknya tidak mungkin J

jadwal konser di aplikasi FB Taeyang

Hari demi hari saya ikuti informasinya, sampai di bulan November muncul jadwal konser di China yang jatuh pada bulan Januari. Melihat daftar jumlah Negara dan waktu konser saya langsung mengira bahwa konser pasti akan dilaksanakan pada hari Sabtu bertepatan dengan Valentine’s Day, dan tidak mungkin mundur karena pada tanggal 19 Februari adalah Hari Raya Imlek yang juga dirayakan oleh orang Korea. Jadi prediksi saya adalah pada tanggal 14 Februari. Dengan dugaan tak berdasar ini saya makin mantab untuk pergi ke konser dan mudah mengkalkulasi dana yang harus saya kumpulkan. Niat saya Cuma 1, nonton di kelas VIP.

Saya mulai rajin mengikuti aneka forum fan dan event organizer yang sekiranya ditunjuk menjadi partner untuk konser Taeyang. Dan akhirnya setelah berbulan-bulan menguntit semua media social dan menunggu promosi konser datang. Jadwal muncul dan EO yang sudah ditunjuk sebagai partner mulai memberikan aba-aba pada semua penggemar di social media untuk bersiap-siap menghadapi konser. Sesuai waktu yang dijanjikan pihak EO, Synergism Entertainment membuat posting harga tiket dan lokasi/venue konser. Lokasinya di Tennis Indoor Senayan dan harga tiketnya mencengangkan!

Tiket K-pop yang saya tahu bisanya berkisar antara 500,000 untuk kelas paling murah dan 2 juta untuk VIP. Kali ini tiket paling murah dijual seharga 1,250,000 untuk duduk di kelas tribun di sisi kiri dan kanan panggung. 1,750,000 untuk kelas festival, berdiri di depan panggung, dan kelas VIP seharga 2,5 juta yang bisa duduk di belakang kelas festival. Wow! Saya kaget dengan harganya. 2,5 juta untuk VIP, oh tidak. Budget saya untuk konser ini tidak melebihi 2 juta rupiah. Saya masih harus memperhitungkan biaya akomodasi ke Jakarta juga. Hal ini membuat saya gugup dan kepala mulai berhitung matematis yang hasilnya tetap saja membuat pening he he.

Seating plan yang beda jauh dengan kenyataannya, Karena penonton tidak banyak maka
panggung tidak seperti yang digambarkan di info iklan ini.

Saya sempat berpikir untuk nekad membeli tiket untuk kelas VIP. Tidak erbayang di usia saya yang 30 tahun saya harus berdiri selama 2 jam berhimpitan dengan gadis-gadis muda lainnya. Oh..ya saya tidak setua itu he he. Setelah saya melihat venue konser dari denahnya dan membaca beberapa tuisan di blog tentang konser lain yang diadakan di Tennis Indoor Senayan saya berkesimpulan bahwa nonton di VIP terlalu jauh dari panggung. Saya juga sempat membaca blog Christian Sugiono, suami Titi Kamal yang menyarankan untuk nonton di kelas festival. Bisa bebas berjoget dan mengekspresikan diri walaupun kemungkinan kualitas suara tidak terlalu bagus karena suara yang didengar belum “ter-mixing” dengan baik karena suara langsung dari band. Selain itu resiko tidak bisa melihat penyanyi dengan jelas juga pasti ada. Saya bisa membayangkan konser Taeyang dengan penari latarnya pasti tidak bisa tampak sempurna, beda dengan mereka yang duduk di VIP. Tapi ah..saya ingin benar-benar larut dalam suasana konser bukan sekedar duduk dan menikmati konser. Di konser ini saya harus “all out”, jadilah saya berusaha mengumpulkan uang untuk membeli tiket konser.

Rejeki memang tidak lari ke mana-mana, tapi kalo bukan rejeki juga pasti tidak akan sampai di tangan kita. Saya berencana meminjam kartu kredit atasan saya jadi saya bisa lebih leluasa mengatur keuangan saya dan tidak akan tersedot hanya untuk konser ini. Kabar baiknya adalah atasan saya bilang bahwa saya tidak perlu membayar konser ini, ya tiket konser ini gratis untuk saya dari si bos. Ini bonus saya kata beliau. Alhamdulillah! Hore!!! Dari hari H semenjak penjualan tiket dikeluarkan saya langsung berburu dengan data kartu kredit dari atasan. Website oenjualan online macet, traffic sangat tinggi. Wuih…siapa bilang harga tiket yang saya sebut itu terlalu tinggi? Buktinya ratusan orang menyerbu. Toh ada masalah dengan kartu kredit atasan saya sehingga sampai kurang lebih H+4 dari penjualan pertama saya baru berhasil membelinya. Selama proses ini saya tdak bisa tidur tenang. Saya takut kehabisan tiket ha ha ha. Si bos sih dengan santainya berkata dengan harga setinggi itu tidak mungkin sold out cepat. Kecuali kelas yang paling murah. Ah tetap saja saya deg-degan tidak karuan.

Saya dan bukti pembelian tiket :)

Sampai ketika bukti pembelian, yang kemudian harus ditukar dengan tiket asli di hari H, ada di tangan saya, masih juga saya dihantui Taeyang. Ha ha saya mimpi 2 kali. Mimpinya terlalu nyata dan menegangkan. Mimpi pertama adalah saya datang ke acara. Venue acara kecil, tidak terlalu besar. Parahnya saya tdiak bisa masuk karena saya tidak membawa kartu kredit atasan saya! Sekedar diketahui untuk pembelian online dengan kartu kredit harus membawa surat kuasa, kartu kredit asli si pemilik, dan juga KTP asli pemilik. Nah di mimpi saya kartu kredit dan KTP tidak saya bawa. Saya melongo dan nelangsa di mimpi saya. Sedih sudah sampai di Jakarta tapi tidak membawa persyaratan itu. Di mimpi saya, petugas tidka bisa membantu. Pokoknya saya super sedih dan panik. Sial! Ketika saya bangun, saya sedikit ketakutan. Oh semoga ini bukan pertanda jelek. Kenyataannya? Saya hampir lupa membawa KTP dan kartu kredit itu! Untung diingatkan atasan saya. Saya mengambilnya di siang hari sebelum keberangkatan saya. Oh Tuhan..betapa… ha ha

Mimpi kedua akan saya ceritakan di posting saya lainnya karena yang ini berkaitan dengan kenyataan. Rejeki yang tidak sampai di tangan saya adalah, saya tidak mendapat undian untuk memenangkanacara Meet and Greet alias ketemu Taeyang dan juga acara soundcheck alias melihat gladi bersih tepat sebelum acara dimulai. Semua pembeli diundi untuk mendapat kesempatan ini tapi oleh pihak promotor porsi tambahan untuk pemenang undian ditambah mendekati hari H ketika penjualan tiket masih jauh dari yang diharapkan. Saya sempat membaca keluhan promotor di Twitter tentang sepinya penjualan. Saya makin panik. Saya takut konser dibatalkan seperti konser K-pop lain yang dijadwalkan akan dilaksanakan bulan Desember tahun 2014. Masalahnya saya sudah membeli tiket pesawat dan tiket kereta api. Dalam semua kecemasan dan doa-doa saya he he, untunglah konser tetap berjalan sesuai dengan yang dijadwalkan.

Jadi selama sebulan lebih menunggu konser Taeyang yang jatu tepat di hari kasih sayangtidur saya tidak tenang, pekerjaan terganggu karena pikiran saya sudah melayang-layang kesana kemari, dan di waktu luang saya lamunan saya menuju ke konser dan konser. Seperti biasa mendekati konser saya malah tidur nyenyak dan pikiran saya secara otomatis berhenti memikirkan Taeyang. Itu karena saya sudah capek menunggu dan menginginkan konser ha ha. Persiapan konser akan saya tulis di posting ini.







Monday, March 16, 2015

Bakso Sayang Bu Etik

Tulisan ini wajib saya buat karena besar kemungkinan, bahkan 88% yakin bahwa setelah bulan Juli tahun ini, Bakso Ruwet Bakso Sayang Bu Etik tinggal kenangan. Panjang ya namanya? Ya, karena 3 nama itu memang secara resmi terpajang di banner warung bakso. BAKSO RUWET, BAKSO SAYANG, BU ETIK

Ya, ini adalah tulisan tentang bakso. Bakso terenak yang pernah saya makan di Surabaya ha ha. Saya sudah mencoba 3 bakso yang terkenal maha dahsyat dan legendaris seperti :
  • Bakso Rindu Malam yang rasanya menurut saya biasa saja tapi ramai luar biasa.
  • Bakso  yang menurut mantan dosen saya Romo Alex adalah yang terenak di Surabaya tapi buat saya juga biasa saja.
  • Bakso Pratama yang mengular dan saya sangat kecewa dengan rasa kuahnya, isinya juga biasa saja.

Buat saya yang paling enak dan tidak terkalahkan adalah Bakso Sayang Bu Etik.
Dahulu kala, ketika saya masih kuliah sekitar semester 3 atau 4, seorang teman saya yang SMA-nya bersekolah di SMAN 5 Surabaya mengenalkan saya pada Bakso Sayang Bu Etik. Dulu warung baksonya hanya warung PKL berterpal dengan kurang lebih 3 meja yang selalu penuh sesak. Lokasinya tepat di seberang jalan depan SMAN 1,  Jalan Wijaya Kusuma dekat perempatan lampu merah yang sekarang ada restoran A&W nya itu. Terakhir kali saya beli harga seporsi bakso kira-kira 9000 rupiah sekitar tahun 2002/2003.

Apa istimewanya bakso ini? Rasa bola dagingnya enak sekali, terasa dagingnya bukan campurannya, kuahnya sangat gurih dan tetap bening, dan Anda bisa pilih pendampingnya antara paru, usus, atau kikil rebus yang semuanya empuk dan dipotong besar-besar. Kuahnya diberi banyak bawang goreng dan banyak daun bawang. Percayalah, dengan daun bawang yang diberikan banyak, bukan cuma sejumput dan dipadukan dengan limpahan bawang goreng membuat kuah Bakso Sayang Bu Etik sedap gurih tak terkira.

Warung Bakso
Saya lupa tepatnya kapan, mungkin sekitar tahun 2005-2006 Pemkot Surabaya getol membersihkan trotoar dari PKL. Walhasil warung Bakso Sayang Bu Etik yang dulu hanya buka Senin-Jumat di hari kerja orang kantor saja, (seingat saya Sabtu tutup)  juga ikut tergusur. Saya berusaha berputar di sekitar kawasan SMA kompleks dan tidak saya temukan juga. Warung mi ayam – Mi Pitik yang juga jadi favorit saya, yang dulu bersebelahan dengan Bakso Sayang Bu Etik berhasi saya temukan beberapa tahun yang lalu tapi tidak demikian dengan Bakso Sayang Bu Etik. Entah…mungkin saya yang kurang cermat mencari atau karena saya pindah di daerah Surabaya Barat yang membuat saya terbatas waktu mencari jejak Bakso Sayang Bu Etik.

Nasib memang mempertemukan saya dengan Bakso Sayang Bu Etik. Suatu hari ketika saya dan atasan sedang ada keperluan, beliau ingin mengajak saya makan siang. Kami lewat di Jalan Wali Kota Mustajab. Dari arah depan Gedung Kotamadya Surabaya tepat sebelum Mall Grand City kami berbelok ke kiri ke arah Jl. Wijaya Kusuma. Tidak jauh setelah berbelok, tepat di depan café wafel Glamrock, sekitar 50 m, saat itulah saya melihat di kanan jalan warung Bakso Sayang Bu Etik. Khas tempo dulu. Berwarna oranye sponsor dari produk the. Saya berseru penuh semangat dan atasan langsung menangkap keinginan saya makan di warung Bakso Sayang Bu Etik.

Kami turun dan memesan 2 porsi bakso. Saya bakso dengan paru, dan atasan bakso dengan kikil. Sekitar 5 menit kemudian datanglah  bakso saya. Semangkuk penuh berisi bakso halus dan kasar plus potongan jumbo paru sapi rebus yang empuk ditaburi irisan daun bawang dan bawang goreng. Saya makan sambil tersenyum bahagia. Seperti menemukan cinta saya yang hilang entah di mana. Kuahnya, bola dagingnya, interior warungnya yang sederhana, gerobak baksonya, sampai sapaan penjualnya yang selalu memanggil “sayang” pada pengunjung wanitanya persis sama dengan lebih dari 10 tahun yang lalu. Yang berbeda Cuma penjualnya. Si mbak yang menjual adalah anak dari Bu Etik. Saya tidak tahu Bu Etik di mana. Mungkin di belakang layar.

Warungnya lebih besar tentu saja dibandingkan dengan warung tenda karena bangunannya permanen. Memakai bagian depan rumah. Hanya ada sekitar 3 meja panjang dengan 2 kursi panjang di amsing-masing mejanya. Bangunannya tidak dicat terang, kusam saja. Papan nama besar persis sama dengan yang dipajang ketiak pertama kali saya jadi pembeli Bakso Sayang Bu Etik lebih dari 10 tahun yang lalu, bedanya papan ini sudah menguning. Pembelinya tidak banyak. Tidak penuh sesak seperti dulu di warung yang sempit. Cukup ramai ada sekitar 6 orang yang sedang makan dan banyak orang bergantian datang membeli bakso untuk dibungkus. Satu gerobak bakso yang berisi penuh bola daging, kuah, jerohan sapi, dan gorengan ini ludes dalam waktu sekitar 8-9 jam sejak buka setiap harinya.

Bakso plus paru rebus



Puas sekali makan bakso berporsi besar itu. Mangkuk penuh terisi dan perut kenyang. Atasan saya yang baru makan pertama kali langsung puas, kecuali dengan harganya ha ha. 2 porsi bakso campur (paru dan kikil) plus 2 gelas es jeruk manis dihargai 56.000. Saya kurang tahu jelas berapa harga seporsinya yang jelas ketika memesan 4 bakso plus gorengan (siomay gulung goreng) – tanpa jerohan paru dkk dengan 1 the botol dan 1 air mineral  dihargai 103.000. Mahal tapi setimpal.

Ketika saya dan atasan akan meninggalkan tempat saya berkata pada penjualnya bahwa saya sudah lama mencari bakso tersebut. Saya bertanya jam berapa dia buka dan apakah buka di hari Minggu. Saat itulah si penjual menginformasikan hal yang tidak pernah ingin saya dengar. Dia berkata bahwa:
  •  Buka setiap hari sekitar jam 8 pagi.
  •  Hari Minggu  tetap buka (khusus Minggu warung malah buka jam 7 pagi)
  • WARUNG HANYA AKAN BUKA SAMPAI BULAN JULI 2015              .

Hah? Setengah tidak percaya rasanya. Setelah bertemu saya harus berpisah lagi dengan Bakso Sayang Bu Etik. Penjual berkata bahwa dia akan pindah ke Sidoarjo, ke kampung asanya. Warung tutup karena kontrak tidak diperpanjang oleh pemilik rumah. Rumah penjual berada tepat di belakang warung sehingga dia akan pindah sekeluarga. Ketika saya tanyakan kemungkinan dia akan buka di tempat lain, di dengan tegas menjawab tidak akan buka di tempat lain. Misteri besar…dengan penjualannya yang fantastis, sejarah berdagangnya, barisan penggemar setianya, mengapa bakso ini harus pindah. Oh mengapa?

Misi saya kemudian adalah makan speuasnya Bakso Sayang Bu Etik sebelum bakso ini benar-benar “hilang”. Saya melaksanakan misi saya tersbeut. Sudah 3 bulan saya rutin membeli di warung Bakso Sayang Bu Etik dari kunjungan terakhir saya dengan atasan. Karena jaraknya dan waktu luang saya maka sebulan hanya bisa saya kunjungi sekali. Bulan ini akan saya kunjungi 2x, itu rencana saya.

Jika Anda penasaran, menganggap tulisan saya berlebihan, merasa bakso favorit Anda lebih enak, ayo coba kunjungi Bakso Sayang Bu Etik. Sebelum bakso ini tutup usaha, Anda punya waktu sampai bulan Juli 2015. Ha ha…ada deadline-nya loh. Anda boleh berpendapat bahawa rasa bakso ini biasa saja. Beda orang beda selera. Tapi dari semua orang yang saya kenal dan saya ajak ke bakso ini, semua langsung suka hanya pada sendokan kuah pertama sebelum mereka menyentuh bola dagingnya. Sebelum Bakso Sayang Bu Etik pergi untuk selamanya, mari dicoba J