Monday, March 16, 2015

Bakso Sayang Bu Etik

Tulisan ini wajib saya buat karena besar kemungkinan, bahkan 88% yakin bahwa setelah bulan Juli tahun ini, Bakso Ruwet Bakso Sayang Bu Etik tinggal kenangan. Panjang ya namanya? Ya, karena 3 nama itu memang secara resmi terpajang di banner warung bakso. BAKSO RUWET, BAKSO SAYANG, BU ETIK

Ya, ini adalah tulisan tentang bakso. Bakso terenak yang pernah saya makan di Surabaya ha ha. Saya sudah mencoba 3 bakso yang terkenal maha dahsyat dan legendaris seperti :
  • Bakso Rindu Malam yang rasanya menurut saya biasa saja tapi ramai luar biasa.
  • Bakso  yang menurut mantan dosen saya Romo Alex adalah yang terenak di Surabaya tapi buat saya juga biasa saja.
  • Bakso Pratama yang mengular dan saya sangat kecewa dengan rasa kuahnya, isinya juga biasa saja.

Buat saya yang paling enak dan tidak terkalahkan adalah Bakso Sayang Bu Etik.
Dahulu kala, ketika saya masih kuliah sekitar semester 3 atau 4, seorang teman saya yang SMA-nya bersekolah di SMAN 5 Surabaya mengenalkan saya pada Bakso Sayang Bu Etik. Dulu warung baksonya hanya warung PKL berterpal dengan kurang lebih 3 meja yang selalu penuh sesak. Lokasinya tepat di seberang jalan depan SMAN 1,  Jalan Wijaya Kusuma dekat perempatan lampu merah yang sekarang ada restoran A&W nya itu. Terakhir kali saya beli harga seporsi bakso kira-kira 9000 rupiah sekitar tahun 2002/2003.

Apa istimewanya bakso ini? Rasa bola dagingnya enak sekali, terasa dagingnya bukan campurannya, kuahnya sangat gurih dan tetap bening, dan Anda bisa pilih pendampingnya antara paru, usus, atau kikil rebus yang semuanya empuk dan dipotong besar-besar. Kuahnya diberi banyak bawang goreng dan banyak daun bawang. Percayalah, dengan daun bawang yang diberikan banyak, bukan cuma sejumput dan dipadukan dengan limpahan bawang goreng membuat kuah Bakso Sayang Bu Etik sedap gurih tak terkira.

Warung Bakso
Saya lupa tepatnya kapan, mungkin sekitar tahun 2005-2006 Pemkot Surabaya getol membersihkan trotoar dari PKL. Walhasil warung Bakso Sayang Bu Etik yang dulu hanya buka Senin-Jumat di hari kerja orang kantor saja, (seingat saya Sabtu tutup)  juga ikut tergusur. Saya berusaha berputar di sekitar kawasan SMA kompleks dan tidak saya temukan juga. Warung mi ayam – Mi Pitik yang juga jadi favorit saya, yang dulu bersebelahan dengan Bakso Sayang Bu Etik berhasi saya temukan beberapa tahun yang lalu tapi tidak demikian dengan Bakso Sayang Bu Etik. Entah…mungkin saya yang kurang cermat mencari atau karena saya pindah di daerah Surabaya Barat yang membuat saya terbatas waktu mencari jejak Bakso Sayang Bu Etik.

Nasib memang mempertemukan saya dengan Bakso Sayang Bu Etik. Suatu hari ketika saya dan atasan sedang ada keperluan, beliau ingin mengajak saya makan siang. Kami lewat di Jalan Wali Kota Mustajab. Dari arah depan Gedung Kotamadya Surabaya tepat sebelum Mall Grand City kami berbelok ke kiri ke arah Jl. Wijaya Kusuma. Tidak jauh setelah berbelok, tepat di depan café wafel Glamrock, sekitar 50 m, saat itulah saya melihat di kanan jalan warung Bakso Sayang Bu Etik. Khas tempo dulu. Berwarna oranye sponsor dari produk the. Saya berseru penuh semangat dan atasan langsung menangkap keinginan saya makan di warung Bakso Sayang Bu Etik.

Kami turun dan memesan 2 porsi bakso. Saya bakso dengan paru, dan atasan bakso dengan kikil. Sekitar 5 menit kemudian datanglah  bakso saya. Semangkuk penuh berisi bakso halus dan kasar plus potongan jumbo paru sapi rebus yang empuk ditaburi irisan daun bawang dan bawang goreng. Saya makan sambil tersenyum bahagia. Seperti menemukan cinta saya yang hilang entah di mana. Kuahnya, bola dagingnya, interior warungnya yang sederhana, gerobak baksonya, sampai sapaan penjualnya yang selalu memanggil “sayang” pada pengunjung wanitanya persis sama dengan lebih dari 10 tahun yang lalu. Yang berbeda Cuma penjualnya. Si mbak yang menjual adalah anak dari Bu Etik. Saya tidak tahu Bu Etik di mana. Mungkin di belakang layar.

Warungnya lebih besar tentu saja dibandingkan dengan warung tenda karena bangunannya permanen. Memakai bagian depan rumah. Hanya ada sekitar 3 meja panjang dengan 2 kursi panjang di amsing-masing mejanya. Bangunannya tidak dicat terang, kusam saja. Papan nama besar persis sama dengan yang dipajang ketiak pertama kali saya jadi pembeli Bakso Sayang Bu Etik lebih dari 10 tahun yang lalu, bedanya papan ini sudah menguning. Pembelinya tidak banyak. Tidak penuh sesak seperti dulu di warung yang sempit. Cukup ramai ada sekitar 6 orang yang sedang makan dan banyak orang bergantian datang membeli bakso untuk dibungkus. Satu gerobak bakso yang berisi penuh bola daging, kuah, jerohan sapi, dan gorengan ini ludes dalam waktu sekitar 8-9 jam sejak buka setiap harinya.

Bakso plus paru rebus



Puas sekali makan bakso berporsi besar itu. Mangkuk penuh terisi dan perut kenyang. Atasan saya yang baru makan pertama kali langsung puas, kecuali dengan harganya ha ha. 2 porsi bakso campur (paru dan kikil) plus 2 gelas es jeruk manis dihargai 56.000. Saya kurang tahu jelas berapa harga seporsinya yang jelas ketika memesan 4 bakso plus gorengan (siomay gulung goreng) – tanpa jerohan paru dkk dengan 1 the botol dan 1 air mineral  dihargai 103.000. Mahal tapi setimpal.

Ketika saya dan atasan akan meninggalkan tempat saya berkata pada penjualnya bahwa saya sudah lama mencari bakso tersebut. Saya bertanya jam berapa dia buka dan apakah buka di hari Minggu. Saat itulah si penjual menginformasikan hal yang tidak pernah ingin saya dengar. Dia berkata bahwa:
  •  Buka setiap hari sekitar jam 8 pagi.
  •  Hari Minggu  tetap buka (khusus Minggu warung malah buka jam 7 pagi)
  • WARUNG HANYA AKAN BUKA SAMPAI BULAN JULI 2015              .

Hah? Setengah tidak percaya rasanya. Setelah bertemu saya harus berpisah lagi dengan Bakso Sayang Bu Etik. Penjual berkata bahwa dia akan pindah ke Sidoarjo, ke kampung asanya. Warung tutup karena kontrak tidak diperpanjang oleh pemilik rumah. Rumah penjual berada tepat di belakang warung sehingga dia akan pindah sekeluarga. Ketika saya tanyakan kemungkinan dia akan buka di tempat lain, di dengan tegas menjawab tidak akan buka di tempat lain. Misteri besar…dengan penjualannya yang fantastis, sejarah berdagangnya, barisan penggemar setianya, mengapa bakso ini harus pindah. Oh mengapa?

Misi saya kemudian adalah makan speuasnya Bakso Sayang Bu Etik sebelum bakso ini benar-benar “hilang”. Saya melaksanakan misi saya tersbeut. Sudah 3 bulan saya rutin membeli di warung Bakso Sayang Bu Etik dari kunjungan terakhir saya dengan atasan. Karena jaraknya dan waktu luang saya maka sebulan hanya bisa saya kunjungi sekali. Bulan ini akan saya kunjungi 2x, itu rencana saya.

Jika Anda penasaran, menganggap tulisan saya berlebihan, merasa bakso favorit Anda lebih enak, ayo coba kunjungi Bakso Sayang Bu Etik. Sebelum bakso ini tutup usaha, Anda punya waktu sampai bulan Juli 2015. Ha ha…ada deadline-nya loh. Anda boleh berpendapat bahawa rasa bakso ini biasa saja. Beda orang beda selera. Tapi dari semua orang yang saya kenal dan saya ajak ke bakso ini, semua langsung suka hanya pada sendokan kuah pertama sebelum mereka menyentuh bola dagingnya. Sebelum Bakso Sayang Bu Etik pergi untuk selamanya, mari dicoba J





19 comments:

  1. Karena kangen bakso ruwet setelah pindah ke luar kota surabaya sekitar 2 tahunan saya bela2in nyari ke surabaya ternyata ada tulisan di Jual warungnya.saya harus nyari kemana lagi si bakso ruwet INI...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia Mba Pepy, terakhir kali chat sama si Ibu dia bilang pulang ke kampungnya di Sidoarjo. Lupa tepatnya di daerah mana. Terus saya desak apakah ada niatan buka warung, dan tampaknya si mbak anakanya Bu Etik yang jualin bilang kalo ga buka lagi. Berhenti dan istirahat dulu katanya begitu T_T

      Delete
    2. Klo ada yang tau,pindah di sidoarjo daerah mana ya baksonya....

      Bagi alamatnya ya...

      Delete
    3. Klo ada yang tau,pindah di sidoarjo daerah mana ya baksonya....

      Bagi alamatnya ya...

      Delete
  2. Waduh sayangnya kok udah ga jualan lagi, pantes bbrp kali lewat sana kok tutup terus... Sy jg penggemar berat bakso ini dr SMA tp berhub skrg dah kepala 3 takut kolesterol jg, n rumah jauh di sby barat jd ga bs sering2 hiks trus gmn klo kangen berat sma bakso ini yah ? Hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia...tak ada tandingan nih si Bakso Ruwet. Hiks hiks aja deh T_T

      Delete
  3. Replies
    1. Begitulah, mungkin karena full bakso, full daging dan full sensasinya kali ya. Lol

      Delete
    2. Ga ada duanya deh??? Sayang ga tau pindah kmn ya

      Delete
    3. Bener banget ini bakso hilang tanpa jejak. Sediiih

      Delete
  4. Haduh di bela belain mampir ke surabaya ternyata sudah dijual tempatnya.
    Ngga ada kontaknya mbak? siapa tau jualan lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia mbak, ga ada kontak. Wong saya nanyain langsung ke yang jualan aja jawabnya "ya brenti dulu mbak. kalo kangen ya tar pesen aja. tapi ya ga tahu tar. pengen istirahat di sidoarjo" begitulah, mewek pol T_T

      Delete
  5. Ternyata memang sdh nggak ada ya? Katanya pindah ke stan kuliner di sekitar SMA komplek. Tapi nggak ada, benar2 sudah hilang... sepakat mbak kalau ini bakso terdahsyat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih ada. Saya ketemu di food court aiola jl. Slamet dekat sma 9 surabaya. Tapi gerobaknya ada di belakang mojok

      Delete
    2. Masih ada. Saya ketemu di food court aiola jl. Slamet dekat sma 9 surabaya. Tapi gerobaknya ada di belakang mojok

      Delete
    3. Di aiola juga sudah tidak ada. Oh sedihnya

      Delete
  6. betul2 tidak ada info lagi ya? setelah aiola, gak ada jejak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tampaknya begitu. Jika ada info pasti saya share :)

      Delete